Kebanyakan industri yang ada di NKRI adalah industri “labour intensive”, jadi kalau keadaan politik tidak menuntungkan bagi pemilik modal perusahaan, buruh tuntut upah mereka dinaikan, maka perusahaan akan angkat kaki dan pindah ke negeri lain yang lebih menguntungkan bagi mereka. Perusahaan-perusahaan atau industri labour intensive ini biasanya berada dalam wilayah Free Trade Zone (FTZ) atau Economic Exclusive Zone (EEZ), kalau tak salah ingat istilahnya dalam bahasa Indonesia “Kawasan Ekonomi Khusus”. Industri jenis ini menurut majalah Far Eastern Economic Review (sekarang sudah tidak terbit) adalah “foot loose industry”, karena itu mudah saja dipindahkan ke negeri lain.
http://www.beritasatu.com/ekonomi/399618-deindustrialisasi-ancam-ekonomi-indonesia.html Rabu, 16 November 2016 | 22:03 Deindustrialisasi Ancam Ekonomi Indonesia Ilustrasi industri manufaktur (SP ) Jakarta – Gejala deindustrialisasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir mengancam ekonomi Indonesia. Sebab, peran manufaktur dalam menggenjot ekspor dan menyerap tenaga kerja terus berkurang. Oleh sebab itu, para pemangku kepentingan, antara lain pemerintah, perusahaan, termasuk masyarakat harus bahu-membahu mendorong terjadinya reindustrialisasi. Sinergi ini bakal membuat Indonesia menjadi bangsa pemenang di sektor industri sekaligus mencegah deindustrialisasi. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni-Institut Teknologi Bandung (ITB) Ridwan Djamaluddin menyatakan, kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus terkikis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun lalu, jumlahnya hanya 18%, jauh di bawah posisi tertinggi pada 2004 sebesar 28%. “IA-ITB akan berkontribusi dalam membangun industri di Indonesia. Kami ingin Indonesia bisa menjadi bangsa pemenang di sektor industri yang memiliki daya saing kuat, menguasai teknologi, serta mewujudkan ketahanan ekonomi nasional,” ujar dia di Jakarta, Rabu (16/11). Dalam merealisasikan niat tersebut, IA-ITB akan menggelar pertemuan Indonesianisme Summit di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, 10 Desember mendatang. Melalui pertemuan ini, IA-ITB bertekad mendorong pemerintah dan swasta untuk menjadi bangsa pemenang dalam sektor industri, khususnya dalam bidang energi, infrastruktur dan transportasi yang mendukung industri berbasis budaya, industri kreatif, serta industri digital. Ridwan Djamaluddin menjelaskan, fokus utama Indonesianisme Summit adalah menghasilkan masukan mengenai strategi industri inti yang sesuai dengan DNA Indonesia untuk disampaikan kepada pemerintah, selain sebagai ajang pembentukan jejaring industri, manufaktur dan infrastruktur antara pemerintah, BUMN, korporasi swasta, serta teknopreneur. Sejauh ini, yang sudah menyatakan bersedia hadir Menteri Perindustrian, Wamen ESDM, Menteri Pariwisata. IA ITB juga tengah memproses kehadiran Presiden Joko Widodo, Menteri Sekretaris Kabinet, Menteri Perhubungan, Menteri PUPR, Panglima TNI, dan Kapolri. “Kami mencoba memetakan keunggulan Indonesia. Kalau Indonesia belum memiliki peta jalan reindustrialisasi, kita akan masuk. Intinya, kami mencari industri mana yang cocok dikembangkan agar kita bisa menang. Mungkin yang sekarang paling mendesak adalah industri substitusi impor,” papar dia.
