Di bali ada guru-guru bule dari belanda ngajar di sekolah SD, dimana guru guru ini dikontrak oleh pemda. Saya juga kaget kok di bali saja ada guru expatriate dari luar negeri. Hal ini saya tahu ketika ada anak tetangga dikasi les Bahasa inggris oleh bule, katanya dia dikontrak oleh pemda untuk mengajar di sekolah SD
From: Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] Sent: Thursday, November 17, 2016 1:14 PM To: '[email protected]' Subject: Pengajaran Dorong Siswa Menganalisis Selera Pasar Kenapa tidak focus pada dunia robot? Mengingat semua akan dikerjakan oleh robot Contoh : pelayan restouran, mesin cuci sekarang pakai robot, di pabrik 2 dll From: [email protected]<mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, November 17, 2016 12:02 PM To: IGI Cc: cfbe; sd-islam; koalisi-reformasi-pendidikan Subject: [**EXTERNAL**] [IGI] VOKASI : Pengajaran Dorong Siswa Menganalisis Selera Pasar VOKASI Pengajaran Dorong Siswa Menganalisis Selera Pasar 17 November 2016 KUDUS, KOMPAS CETAK — Revitalisasi pendidikan vokasi di SMK bidang tata busana dimulai dengan meningkatkan kompetensi guru. Pola ajar bukan sekadar merancang busana, melainkan juga menganalisis selera pasar. Lebih dari 100 guru dari sejumlah SMK di Indonesia mengikuti pelatihan tata busana bertajuk "Menuju SMK Go International", Rabu (16/11), di Kudus, Jawa Tengah. Para guru diberikan materi, antara lain tentang dasar-dasar desain, pengenalan gaya busana, tren fashion, dan praktik penyusunan koleksi. Kepala Subdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arie Wibowo Khurniawan mengatakan, strategi kurikulum SMK bidang tata busana harus diubah. Guru mengarahkan siswa membuat produk yang berdaya jual tinggi, tak sekadar kemampuan menjahit dan merancang busana. Inovasi dan kreativitas guru, kata Arie, harus selaras dengan kebutuhan industri fashion. Indonesia ditargetkan jadi pusat fashion dunia pada 2025. Lulusan yang terampil-berkualitas pun berpeluang mengatasi kekurangan lapangan kerja di Indonesia. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK menyebutkan, sistem pendidikan dan pelatihan vokasi saat ini diarahkan pada demand driven sehingga kurikulum, materi pembelajaran, praktik kerja, pengujian, serta sertifikasi dapat sesuai dengan permintaan dunia usaha dan industri terkait. Lebih dari 100 guru dari sejumlah SMK bidang tata busana di Indonesia mengikuti pelatihan tata busana bertajuk KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN Lebih dari 100 guru dari sejumlah SMK bidang tata busana di Indonesia mengikuti pelatihan tata busana bertajuk "Menuju SMK Go International", Rabu (16/11), di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kompetensi guru harus terus dipacu guna menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan industri fashion. Berdasarkan data Direktorat Pembinaan SMK Kemdikbud, terdapat 894 SMK bidang tata busana di Indonesia. Namun, belum satu pun SMK yang menjadi sekolah rujukan karena sejumlah kendala, termasuk kompetensi guru. Kategori yang ada saat ini adalah SMK calon rujukan. Desainer sekaligus Ketua Indonesian Fashion Chamber Ali Charisma mengatakan, pola ajar guru harus mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Sebab, dunia fashion turut berkembang sesuai perubahan zaman. Pembibitan desainer muda paling cocok dimulai dari jenjang pendidikan SMK. Siswa, kata Ali, punya keleluasaan untuk mempelajari tata busana selama 3 tahun di SMK. Pola pembelajaran pun bisa dibagi per tahun, misalnya, materi dasar tata busana pada tahun I, praktik produksi busana tahun kedua, dan uji coba kerja sama dengan industri di tahun ketiga. (KRN) Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 November 2016, di halaman 11 dengan judul "Pengajaran Dorong Siswa Menganalisis Selera Pasar".
