http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37967237
Kasus Ahok: mengapa partai-partai pendukung 'tak lakukan pembelaan?'
Jerome Wirawan BBC Indonesia 
  a.. 14 November 2016

Image copyright Tatan Syuflana/AP Image caption Elektabilitas Ahok saat ini 
mencapai 24,6%, menurut Lembaga Survei Indonesia. 
Barisan massa meneriakkan yel-yel penolakan terhadap Gubernur DKI Jakarta, 
Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, di Rawa Belong, Jakarta Barat, 2 November 
lalu. 

Ahok kemudian dibawa aparat menggunakan mobil angkutan umum untuk menghindari 
bentrokan. 

Selang tujuh hari kemudian, aksi serupa berlangsung di kawasan Kembangan, 
Jakarta Barat. Saat itu, massa menolak kehadiran Wakil Gubernur DKI Jakarta, 
Djarot Saiful Hidayat. 

Mantan wali kota Blitar tersebut sempat menemui salah seorang demonstran dan 
berkata bahwa mereka tidak usah memilih Ahok-Djarot saat pilkada Februari 2017 
mendatang, namun jangan menghalangi kedatangannya.

Demonstran tersebut balas mengatakan, "Ini bukan masalah pilkada, Pak. Ini 
masalah penistaan agama."

Dua insiden penolakan itu terjadi sebulan setelah video pidato Ahok beredar di 
media sosial. Dalam pidato itu, Ahok menyebutkan Surat Al Maidah 51. 

Elektabilitas menurun
Lalu apa kaitan antara insiden penghadangan dan pidato Ahok?

Menurut Denny JA, selaku pendiri Lembaga Survei Indonesia, jajak pendapat 
terbaru mereka menunjukkan lebih dari 73% warga Jakarta tidak setuju dengan 
ucapan Ahok. 

"Mereka marah dengan cara tidak memilih Ahok," kata Denny JA kepada BBC 
Indonesia.

  a.. Pelaporan Ahok atas tuduhan menghina agama dan pemilih 
  b.. Akankah Ahok 'dikorbankan' untuk meredakan suhu politik? 
  c.. Walau yakin dengan janji presiden, pemimpin ormas Islam tak jamin protes 
Ahok tak terulang
Denny JA oleh para pendukung Ahok dinilai condong ke salah satu pesaing Ahok.

Denny JA mengatakan, berdasarkan survei yang mewawancarai 440 responden warga 
Jakarta dengan metode pengambilan sampel secara acak, elektabilitas Ahok 
mencapai 24,6%.

Persentase ini turun 6,8% dari survei yang sama pada bulan Oktober 2016, yaitu 
sebesar 31,4%. 

"Ahok ini secara konsisten turun terus-menerus (elektabilitasnya). Banyak 
faktor penyebabnya. Salah satunya, di era sebulan terakhir, adalah Surat Al 
Maidah," ujar Denny JA, seraya mengingatkan bahwa marjin kesalahan dalam survei 
mencapai 4,8%. 



Image copyright Reuters Image caption Demonstrasi menuntut proses hukum 
terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, pada 4 
November lalu. 
'Naik-turun itu wajar'
Penurunan elektabilitas Ahok-Djarot rupanya tidak ditanggapi tim kampanye 
pasangan itu dengan sikap kekhawatiran. 

"Biasa saja. Yang namanya survei, naik-turun itu wajar. Apalagi nanti mendekati 
hari pemilihan, naik-turun itu wajar," kata Joyce Triatman, anggota tim 
kampanye Ahok-Djarot.

Menurutnya, penurunan elektabilitas itu juga lumrah apabila dikaitkan dengan 
kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Ahok.

"Pak Ahok sedang diserang atau sedang mendapatkan tekanan publik seperti ini. 
Jadi kami juga tidak kebakaran jenggot, istilahnya, untuk menaikkan 
elektabilitas atau apapun itu sebutannya," tambah Joyce.

Ditanya apa tindakan tim kampanye Ahok-Djarot setelah pasangan itu dihadang 
massa, Joyce mengaku punya strategi.

"Salah satu strategi yang akan dilakukan adalah Pak Ahok akan menerima 
masyarakat setiap harinya di Rumah Lembang. Di balik posisinya, jadi masyarakat 
yang datang menemui Pak Ahok," katanya.

Ketika tim kampanye pasangan Ahok-Djarot mendapat tekanan publik, partai-partai 
pendukungnya tampak tidak berupaya mendorong elektabilitas. 

Ketua Partai Nasdem, Surya Paloh, misalnya, menyatakan bakal mengevaluasi 
dukungan ke Ahok jika dia menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama. 

Adapun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, melalui surat perintah Megawati 
Soekarnoputri kepada para kader partai, menghindari konflik yang menggunakan 
isu agama.

"Kami tidak akan mau dipancing, kami menahan diri. Jadi kita ingin tahapan 
pilkada tetap berjalan seperti biasa, jangan sampai dikategorikan kacau dan 
pilkada digagalkan," kata Eva Sundari, politisi senior PDI P.

Image caption Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, melalui surat perintah 
Megawati Soekarnoputri kepada para kader partai, menghindari konflik yang 
menggunakan isu agama. 


Cari aman?
Tindakan partai-partai pendukung pasangan Ahok-Djarot, menurut Muhammad Asfar 
selaku dosen politik Universitas Airlangga, Surabaya, dapat dipahami sebagai 
bagian dari strategi agar tidak terkena imbas kasus SARA yang menimpa Ahok. 

"Yang dijaga betul oleh partai-partai pendukung Ahok adalah jangan sampai kasus 
(dugaan penistaan agama) menjadi kontraproduktif terhadap partai. Kalau partai 
berada di garis depan, akan ada penilaian bahwa partai mendukung Ahok secara 
membabi buta," kata Asfar.

Apakah partai-partai pendukung Ahok sedang 'mencari aman' agar tidak menjadi 
sasaran kemarahan umat Muslim?

"Ya, bisa dibilang begitu. Seperti yang terlihat pada 4 November, isu Ahok ini 
bukan hanya masalah Jakarta, tapi juga jadi masalah nasional. Nah, itu yang 
sedang dijaga elite-elite partai, jangan sampai mereka dianggap tidak sensitif 
terhadap masalah ini. Makanya partai-partai pendukung Ahok-Djarot seakan-akan 
berada pada jarak antara Ahok dan masyarakat," ujar Asfar.

Ahok telah menjalani pemeriksaan di Mabes Polri, Jakarta, dalam kasus dugaan 
penistaan agama pada 7 November lalu. 

Presiden Joko Widodo berulang kali menyatakan tidak akan mengintervensi proses 
hukum tersebut.

Kirim email ke