Bung Chan, saya rasa diktator proletariat di Tiongkok yg anda sebut2 itu sudah 
tidak ada lagi. Dengan nyata kita bisa lihat NPC dipenuhi billionaires dan 
millionaires yg jelas bukan kelompok proletariat.
---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

Dari diskusi bung Nesare dan Bung Sie Tik terakhir ini, saya mendapatkan 
pengertian EKONOMI sebagai ILMU yang berlaku dan bisa digunakan dalam sistim 
kapitalisme maupun sosialisme, ... dalam banyak tulisan pakar-pakar TIongkok, 
saya juga mendapatkan bahwa sebetulnya ekonomi-pasar itu bukan monopoli sistem 
kapitalisme tapi juga harus berlaku dan terjadi dalam sistem sosialis, yang 
berbeda, dalam sistem kapitalisme pasar dibarkan liberal dan itu akan 
melahirkan kapitalis-monopoli, sedang dalam sistem sosialisme NEGARA ikut 
campur mengendalikan pasar jangan sampai merugikan rakyat banyak! Sedikit 
koreksi untuk bung Sie Tik dalam menanggapi pemikiran saya: “bahwa dng NEP 
Lenin mengembangkan kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai 
negara.”  Darimana saya bisa berpendapat begitu? Lha, jelas yang dimaksudkan 
NEP oleh Lenin itu Kapitalisme Negara dibawah diktatur proletariat. Sekalipun 
kenyataan kapitalis diperkenankan hidup, tumbuh dan berkembang dibawah kendali 
diktatur proletariat, ... dan, inipun akibat setelah Rev. Okt. kapitalis 
dibabatin dan ekonomi mengalami kesulitan sampai roti pun tiada, ... saya 
yakin, kalau ekonomi tidak terjepit Lenin tentunya tidak akan mengoreksi 
kesalahan awal dan kembali memperkenankan kapitalis hidup keembali di Sovyet! 
Memang cukup menarik, apa yang dikisahkan kapitalis-kapitalis nakal itu dalam 
mensabotase kelancaran distribusi barang dagangan untuk meraih keuntungan lebih 
besar dengan menimbun barang dagangannya. Itu juga terjadi diawal kemerdekaan 
RRT, khususnya kapitalis-kapitalis di Shanghai. Banyak kisah bagaimana Chen Yi 
(Marskal yang kemudian terkenal menjadi Menlu RRT) yang asal klasnya kapitalis 
itu harus TEGAS melawan sabaotase kapitalis-kapitalis Shanghai. Dari pengalaman 
konkrit yang dihadapi RRT itulah, mungkin Deng sampai akhir hidupnya BERKERAS 
mempertahankan Diktatur Proletariat, dibawah pimpinan PKT, bahkan kemudian 
tidak memisahkan kekuasaan Partai dan Pemerintah, ... sampai sekarang ini. 
Justru disinilah perbedaan PKT yang berkuasa sekarang ini dengan pemikiran 
kelompok Sosial-Demokrat yang hendak segera saja membuka lebar DEMOKRASI, 
memperkenankan PARPOL lahir dan bersaing dengan PKT bahkan tidak mementingkan 
kekuasaan Diktatur Proletariat! Salam,ChanCT  From: [email protected]: Friday, 
November 18, 2016 6:03 PM  Sie tik: Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya 
membatasi perkembangan ekonomi borjuasi kapitalis, karenanya borjuasi merasa 
perlu menumbangkan kekuasan kelas feodal dan melakukan revolusi borjuisNesare: 
belum pernah saya mendengar ekonomi feudal. Ekonomi dalam feodalisme ada 
seperti juga ekonomi dalam kapitalisme, sosialisme dll. Jadi tidak ada 
kapitalisme dalam ekonomi. Yang ada capital dalam ekonomi yang artinya modal. 
Kapitalisme, feudalism, sosialisme itu semua adalah isme isme dimana ekonomi 
berada. Jadi borjuis ini bisa ada dimana2 baik difeodalisme, kapitalisme maupun 
sosialisme walaupun artinya berbeda2. Sie tik: Dlm hal mana bung Tjing 
menganggap bahwa dng NEP Lenin mengembangkan kapitalisme dan Lenin membiarkan 
kapitalis menguasai negara. Padahal  dlm NEP negara yg dimaksud Lenin adalah 
diktatur proletariat, Karenanya pembubaran komune di RRT oleh Deng dianggap 
Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal Lenin justru menekankan pentingnya koperasi 
pada saat itu.Nesare: saya tidak pusing  penggunaan kata2: mengembangkan, 
menggunakan atau istilah lain bisa saja dipakai. Saya juga setuju lenin 
menggunakan NEP dalam koridor diktatur proletariatnya. Deng juga masih begitu 
ada polit bironya walaupun semakin kendor dan rapuh tetapi ini saya lihat 
karena korupsinya. Korupsi ini adalah system pemerintahannya. Andaikata Lenin 
saat itu berhadapan dengan diktatur proletariat yang misalnya korupsi, 
bergajul, ego, mikir kelompok sendiri dll, saya lihat dia bisa melakukan apa 
saja. membunuhpun bisa. Begitu juga stalin. Tetapi kalau bung Karno tidak. Ini 
opini saya. Ini yang saya tekankan pentingnya manusianya bukan sistemnya. Sie 
tik: Karena jelas sekali bahwa gagasan Lenin adalah untuk memperkuat 
persekutuan buruh-tani dan diktatur proletariat  agar bisa melangkah ke 
sosialisme. Sedangkan Deng memanipulasi gagasan ini demi melaksanakan restorasi 
kapitalisme.Nesare: jangan berhenti sampai lenin fokusnya ke buruh. Lenin 
bilang: goal of socialism is communism, bukan buruh. Sie tik: Jadi  bukan 
sekadar pemerataan se-mata2. Mungkin bung tidak tau bahwa seorang buruh tambang 
dlm nomenklatur gajinya berada diatas gaji dokter, karena buruh tambang 
dianggap lebih berat tugasnya dan rentan terhadap penyakit2 professional 
tertentu  serta kemungkinan aksiden yg berbahaya dlm profesinya. Demikian juga 
distribusi  kebutuhan mereka lebih baik dari sektor2 lain . Suatu diskriminasi 
positif.Nesare: mungkin yg bung ingin katakan itu adalah meritokrasi atas 
perbedaan manusia2 itu. Itu bukan diskriminasi. Istilah meritocracy itu adalah: 
equal opportunity dan bertolak belakang dengan diskriminasi yang tidak/bukan 
equal opportunity.Positive discrimination bisa dilaksanakan tetapi tetap tidak 
mencerminkan equality karena diskriminasi yg dilakukan adalah berdasarkan 
gender, agama, umur, ras dll. Jadi berbeda kalau skill, tanggung jawab dll 
dalam pekerjaan itu adalah ukuran meritokrasi. Dan meritokrasi ini adalah dasar 
asumsi dari individualism bukan kolektifitas. Sie tik: Mao dlm karyanya 
Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 1949):Dalam perjuangan sekarang ini 
Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis nasional. Politik kita sekarang ini 
mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi tidak bermaksud memusnahkan 
Kapitalisme.Nesare: ya maupun tidak akan bisa. Itulah realitasnya. Kenapa perlu 
diberantas? Kenapa perlu dibunuh dan dimusnahkan? Sebaiknya dimanfaatkan. Ini 
yang saya tangkap dari opininya chan dan juga bung. Masalah perdebatan sesama 
orang kiri itu sebetulnya adalah perbedaan letak kirinya saja. semakin kiri 
orang itu semakin kekolektifitas. Semakin kekanan orang itu semakin ke 
individualism. Ini opini saya. Terlalu terpaku sama isme isme ini juga dan 
tanpa mengabaikan aspek lain ya tidak banyak manfaatnya. Misalnya unsur agama. 
Bagaimana disuatu negara kalau kelompok konservatif agama menang dan mendirikan 
negara teokrasi, kan jelas sekali sosialisme maupun kapitalisme akan dibabat 
habis. Tapi ekonomi, hukum, kedokteran dll tidak akan bisa dimusnahkan. Sie 
tik: Kedua PM Belanda tsb, juga demikian , karena tanggung jawab menteri2 
kabinet jauh lebih besar dan berat dari  seorang CEO perusahaan, jadi tidak 
fair dlm hal ini, kalau dilihat dari segi pertanggungan jawab sosial.Nesare: ya 
memang tidak ada bedanya mercedez buat anggota politburo dengan menteri dan CEO 
ini karena ini meritokrasi bukan komunal/pemerataan. Saya kira masalah ini 
tergantung penerapannya. System sosialisme apa yang diinginkan. Kalau 
penekanannya semakin ke meritokrasi artinya individualisme lebih diperhatikan, 
ya geraknya kekanan. Begitu juga sebaliknya semakin ke pemerataan, semakin 
kekiri. Orangnya yang menentukan sistemnya. Sistemnya bisa dibuat tetapi 
tergantung orangnya yang mengendalikan akan kemana system itu. Sie tik: sekali 
lagi itu adalah hak Bung untuk beranggapan bahwa peranan pikiran individu tiap 
orang terlepas dari  kepentingan ekonomi kelasnya atau golongannyaNesare: 
ketika saya menulis manusia itu berbeda ya termasuk perbedaan dalam 
ekonomisnya, status sosialnya, pendidikannya dll. Sie tik: Tapi kita lihat 
ketika ada penggusuran di Jakarta toch kepentingan perorangan bisa dimobilisasi 
menjadi kepentingan kolektif?Nesare: bisa saja. Tetapi tidak bisa mengatakannya 
benar atau salah kan. Sebaliknya juga bisa bahwa kepentingan kolektif berganti 
wajah menjadi kepentingan individu. Inilah dasar argument saya melihat system 
apapun akan bisa bagus dan jelek tergantung penerapannya. Sie tik: perjalanan 
menuju cita2 masyarakat sosialis memang masih jauh dan perlu dipikirkan lebih 
mendalam sebab2 keruntuhan negara sosialis pertama yg kemudian menyebabkan 
runtuhnya kubu sosialis. Mungkin ada orang2 yg kompeten mengenai masalah 
ini.Nesare: bukunya sudah banyak sekali dalam mengupas kalahnya sosialisme. 
Ilmu yang mempelajarinya pun banyak dari ilmu  politik, sosiologi, anthropology 
dll. Di comparative study lebih2 lagi dimana setiap negara punya ahli yang 
mempelajari runtuhnya sosialisme dinegaranya masing2. Kekalahan ini fakta. 
Tetapi fakta ini adalah dalam level pelaksanaan. Masalahnya lebih mendasar dari 
sekedar kalah saja, tetapi ada faktor2 diluar control dari sosialisme itu 
sendiri. Maksudnya ada variable2 yang mempengaruhi jalannya sosialisme itu. Di 
RI, soekarno kalah dalam menerapkan system ekonominya dimana inflasi terbang 
sampai pernah menyentuk diatas 230% , economic growth malahan pernah minus 
antara 1962 – 1965. Faktornya apa? pramudya anantatur bilang “kita dikepung”. 
Ekonomi sosialismenya bung Karno itu jelas sekali sejak merdeka program 
pinjaman nasional, konperensi ekonomi, rekonstruksi dan rasionalisasi  angkatan 
perang (Rera) s/d demokrasi terpimpin berakhir 1967 ekonominya sangat 
etatisme/serba pemerintah pusat. Begitu juga jatuhnya negara2 sosialisme juga 
begitu. Ini dalam level aplikasi. Idenya sosialisme sendiri tidak akan mati. 
Sekarang dunia bergerak kekiri seperti green party ada dimana2. Begitu juga 
labor union juga selalu ada. Semakin maju/kaya negara itu semakin akan kekiri 
geraknya. Yang repot adalah negara yang belum maju/masih miskin, kesadaran kiri 
ini terhapuskan oleh urusan perut, agama dll. Inilah fakta dilevel aplikasi. 
Kalau kita lihat sekarang ini divenuzuela yg dulunya program2 kiri bisa 
berjalan krn duitnya dari ada krn harga minyak tinggi. Sekarang berantakan 
karena harga minyak jatuh. Kasihan sekali orang2 venezuela sekarang ini. Sie 
tik: yg saya permasalahan disini adalah pengertian istilah kabir  yg digunakan 
bung Tjing untuk pelaku2 kejahatan ekonomi dikalangan pejabat negeri 
sosialis.Nesare: ya belum terjadi saja krn negeri sosialisnya runtuh. Apakah 
bung tidak bisa melihat para koruptor itu bisa menjadi kabir? Saya melihatnya 
bisa. Itulah manusia. Inilah penekanan saya ke manusianya bukan sistemnya. 
Ketika orang bisa/berani membunuh, masalah menjadi kabir itu menjadi masalah yg 
mudah. Ketika negara baru merdeka baru melek berdiri, pemimpinnya yang 
dielu2kan ini seperti lenin, stalin, mao dll itu tidak ubahnya seperti Tuhan. 
Mungkin istilah kabir tidak akan ada, tetapi tindakannya bisa saja terjadi 
karena itu masalah melindungi kepentingan. Kalau kita pelajari pengakuan polpot 
sampai meninggalpun dia tidak merasa bersalah telah membunuh segini banyak 
orang. Dia bilang “akan saya lakukan”, “musuh saya juga akan melakukan yang 
sama”. Inilah manusia. Sekali lagi bukan sistemnya. SalamNesare  From: Sie Tik 
Tan [mailto:sietik.tan@...] 
Sent: Thursday, November 17, 2016 3:33 PM
To: nesare1@...
Cc: Tiong Tjing Siauw <SADAR@...>
Subject: Re: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Bung Nesare, terimakasih 
atas tanggapan bung, jawaban saya bisa bung baca dibawah ini setelah tanggapan 
bung pada masalah yg bersangkutan.  Rupanya PC saya ngak baik jadi kalau saya 
menjawab dng menyisipkan seperti yg bung lakukan, lambat sekali  jalannya. 
Entah apakah sudah terlalu sarat ? Jadi kali ini saya gunakan tablet, ternyata 
lebih gampang.Jawaban saya  ( St ) itu saya tik dng huruf miring 
.Salam,TikVerstuurd vanaf mijn iPad
Op 16 nov. 2016 om 12:14 heeft <nesare1@...> <nesare1@...> het volgende 
geschreven:

Sie tik: Jadi bagi kapitalis Jepang tsb, yg penting adalah sebanyak mungkin 
dana yg masuk dan berada dlm kontrolnya, karena itu faktor psikologi juga 
digunakan dan ini memang salah satu keunggulan bisnis kapitalisme.Nesare: betul 
kalau bisnis ekonomi diterapkan di system kapitalisme. Betulnya sama kalau 
bisnis ekonomi diterapkan disistem sosialisme. Bung masih belum mengerti maksud 
saya ketika saya menekankan bahwa bisnis ekonomi itu bukan miliknya kapitalisme 
saja. bisnis ekonomi itu adalah ilmu, seperti ilmu hukum, ilmu teknik, ilmu 
kedokteran dimana bisa diterapkan disistem apapun termasuk kapitalisme dan 
sosialisme.
 St: betul sewajarnya begitu karena ilmu adalah karya dan milik masyarakat 
manusia. Hanya saja kadang ada kepentingan dan hal2 specifik tertentu yg 
mempersulit pentrapannya. Pengalaman sejarah juga menunjukkan bahwa ilmu2 
sosial dan juga ekonomi mempunyai suatu keberpihakan pada golongan masyarakat 
tertentu dan dng demikian juga pada sistim tertentu.
Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya membatasi perkembangan ekonomi borjuasi 
kapitalis, karenanya borjuasi merasa perlu menumbangkan kekuasan kelas feodal 
dan melakukan revolusi borjuis. Pada ilmu Sastra-budaya juga demikian banyak 
karya2 yg menentang sistim yg berlaku, Boris Pasternak dng Dr. Zhivago  
dilarang di Sovjet, pada gilirannya karya2 penulis2 Barat yg dianggap aliran 
realisme dan mengupas segi2 negatif pola kehidupan degenaratif , konservatif 
dan diskriminatif masyarakat Barat , seperti Dumas, Flobert, Dickens , 
Servantes dll tetap dicetaknya.Hukum juga pelaksanaannya biasanya digunakan 
untuk kepentingan yg berkuasa atau golongan tertentu. Seperti UU Penanaman 
Modal Asing di Indonesia yg digagas oleh pakar2 ekonomi Indonesia dng " 
bantuan" kaum kapitalis USA pada awal rejim Suharto. Tentu hanya berlaku untuk 
Indonesia dan tidak bisa ditrapkan di USA untuk mengatur investasi RRT disana. 
Hukum perpajakan juga demikian karenanya bisa ada sorga2 pajak dimana berarti 
juga suatu bentuk bisnis ekonomi kapitalis yg saat ini disebagaian besar 
negeri2 kapitalis tidak diberlakukan tapi di-negeri2 tertentu diberlakukan. 
Juga disosialisme ada gagasan ekonomi sosialis, tentu hukum tentang perusahaan 
swasta tidak ada. Karenanya Lenin juga selektif  dlm mentrapkan  bisnis tsb  
sebagai ilmu.Selain itu dng adanya hukum hak patent dan hak cipta , pentrapan 
suatu product ilmu mendapat pembatasan, kecuali kalau bayar royalty , jadi 
mengandung suatu bentuk kepentingan, seorang ilmuwan menulis makalah tanpa 
menyebutkan bagaian2 yg diambilnya dari karya orang lain , bisa dituntut dng 
Pasal plagiat. Demikian juga kalau ditinjau dari segi idiologi/ isme yg dianut 
suatu sistim masyarakat, pelaksanaan kesehatan dan pendidikan dinegeri sosialis 
bebas biaya, di negeri kapitalis merupakan sarana komersialisasi. Apalagi 
dibidang farmasi dan industri, karenanya ada spionage industri. Penyelidikan 
dng cel2 embrio manusia yg tidak dimanfaatkan lagi  dari proses inseminasi  di 
Belanda  dilarang, tapi dibeberapa negara lain diperbolehkan, karena dng 
demikian penyelidikan menjadi lebih specifik untuk masalah kesehatan manusia, 
sebab kalau menggunakan cel2 hewan tetap saja ada perbedaan 
biologisnya.Dibidang teknologi saya jadi teringat wawancaranya genderal  
Kalashnikov , beberapa tahun yl, dia bilang kalau saja dia ketika menciptakan 
teknologi senjatanya berada dlm sistim kapitalis dan untuk tiap pucuk 
senjatanya  kalau dipatentkan bisa untung 1$ saja, maka dia sudah jadi 
multimilyuner. Ngak usah lagi membuat vodka dng namanya sebagai merk dagang, 
untuk bisa menambah pensiunnya setelah Sovjet jatuh. Tapi karena dia hidup 
dinegeri sosialis, ya penghasilannya hanya dari tugasnya saja dlm tentera 
Sovjet, dan teknologinya walau digunakan oleh negeri sosialis lainnya juga 
tanpa kebijakan royalty. Sampai sekarangpun produksi senjata tsb dilakukan oleh 
negeri2 ex sosialis tanpa bayar royalty .


 Sie tik: . Padahal bisnis ekonomi itu memang sudah ada dlm kapitalisme sebagai 
hasil inovasi mereka untuk mengembangkan perekonomiannyaNesare: disini 
kelihatan bung mengidentikkan/menyamakan bisnis ekonomi adalah system 
kapitalisme. Disini salahnya. Kenapa salah? Saya yakin ini dikarenakan bung 
hanya melihat kejelekan kapitalisme yang berkembang seperti sekarang ini. Bung 
menjadi bias. Bung tidak/belum bisa menerima ketika Lenin menerapkan NEP itu. 
Lebih lanjut ketika saya menulis “orangnya bukan sistemnya”, itu saya ingin 
bilang sebagus apapun sistemnya, kalau orangnya jelek, jalan sistemnya juga 
akan jelek apalagi system nya baru mulai mau berjalan. Analoginya dengan 
demokrasi. Demokrasi bisa berjalan di negara2 maju tetapi dinegara2 berkembang 
dan miskin, demokrasi bisa menjadi boomerang.
St: sepengetahuan saya yg awam tentang ekonomi, bisnis ekonomi sebagai ilmu 
juga berkembang, pada sistim masyarakat komune primitif yg kemudian juga 
terbagi dlm komunitas pertanian dan komunitas peternakan tentunya mempunyai 
kegiatan ekonomi tertentu dng dasar pertukaran ketika uang belum dikenal dan 
tentu belum ada pengertian saham atau obligasi. Jadi dng perkembangan 
masyarakat itu sendiri maka inovasi2 yg terjadi dlm bisnis ekonomi juga 
berkembang. Kalau ngak salah sejarah saham mulai kira2 sejak jaman Romawi dan 
berkembang pesat diabad pertengahan  dng adanya VOC, Republik (dagang) Venesia 
dll. Perbankan juga begitu bukan? Mulai dr bentuk mindering dan dagang uang, 
sampai2 Jesus mengobral-abrik pasar uang disekeliling gereja. Jadi tiap 
masyarakat sesuai dng perkembangannya dan perkembangan ekonominya juga inovasi 
bisnisnya berkembang, itu pengertian saya ketika menyatakan bahwa bisnis 
ekonomi yg dianjurkan Lenin dipelajari itu memang sudah ada dlm masyarakat 
kapitalis.Bung kembali menyinggung NEP yg dilaksanakan Lenin, entah apakah bung 
mengikuti pembicaraan soal ini dimana saya &teman2 menyanggah argumentasi bung 
Tjing soal NEP?  Dlm hal mana bung Tjing menganggap bahwa dng NEP Lenin 
mengembangkan kapitalisme dan malahan begitu antusiasnya bung Tjing yg waktu 
itu baru tau adanya gagasan NEP dan kapitalisme negara sehingga menurut 
logikanya  Lenin membiarkan kapitalis menguasai negara. Padahal  dlm NEP negara 
yg dimaksud Lenin adalah diktatur proletariat, dan tujuannya seperti juga bung 
tandaskan di tanggapan bung yl, adalah untuk mencapai sosialisme. Karenanya 
pembubaran komune di RRT oleh Deng dianggap Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal 
Lenin justru menekankan pentingnya koperasi pada saat itu. Sampai emailnya yg 
belum lama ini bung Tjing masih bersiteguh bahwa Lenin maupun Mao membenarkan 
kapitalis berkembang. Walau saya sudah lampirkan cuplikan karya Lenin dan Mao 
mengenai masa peralihan dari kapitalisme ke sosialisme tsb serperti dibawah ini 
beberapa kali.  Mao dlm karyanya Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 
1949):Dalam perjuangan sekarang ini Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis 
nasional. Politik kita sekarang ini mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi 
tidak bermaksud memusnahkan Kapitalisme.Dari artikel yg sama ada  pernyataan 
Mao sebagai berikut:Apabila Sosialisme sudah tercapai, atau dengan kata lain, 
apabila perusahaan-perusahaan milik perseorangan sudah dinasionalisasi, maka 
golongan Borjuis nasional akan dapat dididik dan mendapat pengulangan 
pendidikan yang lebih jauh lagi. Lenin THE Tax in Kind(The Significance Of The 
New Policy And Its Conditions)[1]Written: Completed on 21 April, 1921 (started 
in March)First Published: Published in pamphlet form in May 1921; Published 
according to the pamphlet text collated with the manuscriptBut what does the 
word “transition” mean? Does it not mean, as applied to an economy, that the 
present system contains elements, particles, fragments of both capitalism and 
socialism? Everyone will admit that it does. But not all who admit this take 
the trouble to consider what elements actually constitute the various 
socio-economic structures that exist in Russia at the present time. And this is 
the crux of the question.Let us enumerate these elements:(1)patriarchal, i.e., 
to a considerable extent natural, peasant farming;(2)small commodity production 
(this includcs the majority of those peasants who sell their grain);(3)private 
capitalism;(4)state capitalism;(5)socialism.Lebih lanjut......It is in this 
field that the main struggle is being waged. Between what elements is this 
struggle being waged if we are to speak in terms of economic categories such as 
“state capitalism”? Between the fourth and fifth in the order in which I have 
just enumerated them? Of course not. It is not state capitalism that is at war 
with socialism, but the petty bourgeoisie plus private capitalism fighting 
together against state capitalism and socialism. The petty bourgeoisie oppose 
every kind of state interference, accounting and control, whether it be 
state-capitalist or state-socialist. This is an unquestionable fact of reality 
whose misunderstanding lies at the root of many economic mistakes. The 
profiteer, the commercial racketeer, the disrupter of monopoly—these are our 
principal “internal” enemies, the enemies of the economic measures of the 
Soviet power.Bahkan dlm emailnya yg belum lama ini  bung Tjing menyatakan 
kesulitan pangan / roti  karena kapitalis dibabat , padahal dari kutipan Lenin 
diatas jelas kelas kapitalis masih berperan dalam kehidupan ekonomi. Untuk 
memperkuat argumentasinya bung Tjing mengacuh pada film tentang Lenin yg 
berkenaan dng krisis pangan tsb. Tapi rupanya dia tidak pernah membaca tulisan2 
Lenin untuk periode itu. Dimana Lenin menjelaskan usaha kelas kapitalis dan 
tuan tanah untuk menyabot perekonomian Sovjet, baik dng penimbunan gandum, 
speculasi diperas gelap , penyabotan transportasi KA dll. Sehingga Lenin 
melakukan kampanye pengumpulan gandum, bahkan dibeberapa tempat dikerahkan 
Tentera Merah untuk membongkar tempat2 penimbunan . Dan dng demikian bahaya 
kelaparan bisa dicegah, juga ketahanan Tentera Merah difront dijaga. Saat itu 
dilaksanakan apa yg disebut Lenin " komunisme ( saat) peperangan"  dimana semua 
gandum dikumpulkan untuk dibagi kembali dng merata.Jadi jelas yg saya dan 
teman2 tolak adalah manipulasi  pengertian NEP gagasan Lenin ( yg disertai 
gagasan koperasinya) oleh Deng serta pendukung2-nya. Karena jelas sekali bahwa 
gagasan Lenin adalah untuk memperkuat persekutuan buruh-tani dan diktatur 
proletariat  agar bisa melangkah ke sosialisme. Sedangkan Deng memanipulasi 
gagasan ini demi melaksanakan restorasi kapitalisme.
Sie tik: Bahkan saya tulis bahwa dlm masyarakat sosialispun saat itu ada 
diskusi yg berkepanjangan mengenai hal kesejahteraan dan pemerataannya. Dalam 
hal ini yg dimaksud adalah dibatasinya kesenjangan diantara warga 
masyarakat.Nesare: kenapa harus ada diskusi berkepanjangan mengenai pemerataan 
dalam sosialisme? Dasar teori sosialisme adalah terletak di pemerataan 
kesejahteraan. Inilah hasil kolektifivisme yang menjadi dasar pemikiran 
sosialisme. Jadi kesenjangan social itu tidak harus dibicarakan lagi dalam 
sosialisme. Kalau seseorang mempermasalahkan pemerataan kesejahteraan ini 
mestinya dia bukan “sosialis” sejati.
St: Dasar teori sosialisme adalah perjuangan kelas untuk menghapuskan 
penindasan manusia oleh manusia dan penindasan bangsa oleh bangsa lain. Dan 
untuk mencapainya  sesuai dng gagasan M-L adalah pengambilan alihan kekuasan 
politik dari kelas penghisap kapitalis serta sisa2 feodal oleh kelas buruh dan 
sekutunya kelas tani  serta kelas borjuasi kecil  dibawah pimpinan partai kelas 
proletar dan dng kekuasan politik ini menghapuskan kepemilikan perorangan atas 
alat2 produksi. Serta dilaksanakannya distribusi yg adil kebutuhan masyarakat  
yg merupakan hasil produksi kolektif yg diraih tanpa  penindasan manusia oleh 
manusia. Dan dng demikian  kesenjangan kesejahteraan bisa dikontrol .Diatas 
juga ada kutipan Mao apa yg dimaksud dng sosialisme dng pengungkapannya yg 
sederhana. Disini bedanya pengertian sosialisme proletar dng sosialisme 
non-proletar, karena tidak percuma Marx dan Engles menulis pengertian 
sosialisme pada karya mereka Manifes Partai Komunis.Diskusi yg pernah terjadi 
dan berlangsung sebelum jatuhnya kubu sosialis yg saya maksud diatas adalah 
didasari oleh gagasan dlm sosialisme proletar: tiap warga masyarakat bekerja 
menurut kemampuan ( baik fisik maupun intelektual, Tik) dan mendapat imbalan 
menurut hasil kerjanya. Ini suatu diskusi yg luas dan mendalam karena meliputi  
tidak saja kemungkinan adanya kesenjangan dikalangan kelas pekerja, tapi juga 
tentang perbedaan antara kerja badan dng kerja otak, antara kota dan desa dan 
tidak kalah pentingnya antara stimulasi moral dan stimulasi material. Jadi  
bukan sekadar pemerataan se-mata2. Mungkin bung tidak tau bahwa seorang buruh 
tambang dlm nomenklatur gajinya berada diatas gaji dokter, karena buruh tambang 
dianggap lebih berat tugasnya dan rentan terhadap penyakit2 professional 
tertentu  serta kemungkinan aksiden yg berbahaya dlm profesinya. Demikian juga 
distribusi  kebutuhan mereka lebih baik dari sektor2 lain . Suatu diskriminasi 
positif.


 Sie tik: Bila bung Tjing bilang wajar seorang bosnya Heineken, J.F van Boxmeer 
dng pendapatan € 12,7 juta atau 353X pendapatan rata2 buruh € 35.951/tahun, 
lalu apa artinya satu Mercedes bagi anggauta CC?Nesare: jangan mengkontraskan 
boxmeer vs anggota CC. Ketika bung membandingkan mereka, bung telah terjebak 
dalam pemikiran sosialisme “pemerataan kesejahteraan” itu. Selanjutnya anggota 
CC akan berbondong2 untuk mempermasalahkan andil tenaga yang sudah dikeluarkan. 
Inilah basis/dasar pemikiran individualisme.
St: lho, bung diatas mengatakan kalau seseorang mempermasalahkan pemerataan  
artinya bukan sosialis sejati, tapi disini bung bilang kalau membandingkan 
Boxmeer vis anggauta CC  jadi terjebak dlm pemikiran sosialis " pemerataan 
kesejahteraan" . Lha, kalau PM Belanda Kok maupun Balkenende membandingkan 
pendapatan CEO dng menteri kabinet dan mengambil langkah2 pembatasan untuk CEO2 
dibidang pelayanan publik , maka apakah ke dua PM tsb juga terjebak dlm 
pemikiran sosialisme " pemerataan kesejahteraan"? Dilain pihak bukanlah bung 
Tjing yg menuduh elit2 negara sosialis sebagai kabir dan melakukan pemerasan 
lebih kejam dari pada kapitalis , dimana menurutnya kapitalis sudah lepas 
tangan dari kebijakan eksekutif yg diserahkan kepada CEO2-nya?  Jadi bila saya 
memperbandingkan kedua pihak yg memegang kewewenangan tertentu dlm kehidupan 
masyarakat dng tanggung jawabnya masing2 apakah tidak boleh?  Pada email bung 
yg terdahulu dlm urusan imbalan bung juga menyatakan bahwa besar kecilnya 
tanggung jawabkan yg membedakan gaji pegawai .Kedua PM Belanda tsb, juga 
demikian , karena tanggung jawab menteri2 kabinet jauh lebih besar dan berat 
dari  seorang CEO perusahaan, jadi tidak fair dlm hal ini, kalau dilihat dari 
segi pertanggungan jawab sosial.


 Sie tik: Ya, bahwa bung berpendapat yg terutama adalah orangnya dan bukan 
isme-nya, itu adalah hak bung. Tapi sejarah perkembangan manusia menunjukkan 
adanya pengkelompokan manusia selain berdasarkan ras/bangsa juga berdasarkan 
pandangan hidupnya yg didasari pada kepentingan ekonominya halmana menyebabkan 
adanya kelas2 dlm masyarakat, bahw tiap pribadi dlm kelas2 tsb mempunyai 
kepribadian dan sifatnya sendiri2 adalah jelas.Nesare: perbedaan atas manusia2 
yang ada didunia inilah dasar pikirannya individualism. Manusia itu berbeda. 
Kolektifitisme itu menjadi susah karena perbedaan manusia ini. Ini tantangannya 
sosialisme yang saya lihat.
 St: sekali lagi itu adalah hak Bung untuk beranggapan bahwa peranan pikiran 
individu tiap orang terlepas dari  kepentingan ekonomi kelasnya atau 
golongannya. Tapi kita lihat ketika ada penggusuran di Jakarta toch kepentingan 
perorangan bisa dimobilisasi menjadi kepentingan kolektif? Sejarah juga 
menunjukkan adanya usaha2 kolektif entah untuk menanggulangi ancaman bencana 
alam ataupun ancaman musuh terhadap kelompok manusia tsb, atau dlm melakukan 
pembangunan masyarakat entah apakah itu gagasan gotongroyong atau gagasan 
kesepakatan moral/ budi-pekerti. Itu karena manusia adalah mahluk sosial, jadi 
tidak seperti anggapan bahwa masyarakat hanya kumpulan individu egoïs se-mata2 
tanpa adanya keterikatan satu dng lain dlm proses kehidupan terutama dlm proses 
produksi kebutuhan masyarakat, dimana adanya proses produksi inilah yg 
menyebabkan perkembangan masyarakat. J

(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke