Tentu bung boleh-boleh saja berpendapat begitu, karena itu masalah penilian kwalitas dan warna Diktatur Proletariat yang sekarang dijalankan di RRT saja. Yang PASTI PKT tidak sepenuhnya mengikuti Stalin dan Mao (1956-1978), tapi juga tidak sepenuhnya jalankan pemikiran Sosial-Demokrat, dan PKT masih tetap menganggap dan memperlakukan dirinya Marxis-Maois dan berusaha keras memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak tidak hanya di Tiongkok tapi juga didunia, ...! Tidak hanya memperkenankan kapitalis hidup, tumbuh dan berkembang, tapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan lebih baik! Membuat keseimbangan sebaik munkin dengan TETAP mendorong maju laju ekonomi nasionalnya! Biarlah PKT menempuh jalannya yang dianggap BENAR itu, siapa SALAH, siapa BENAR sesungguhnya tetap harus dibuktikan dalam PRAKTEK!
Ikut sertanya sementara billiuner dalam pemerintahan bahkan ada juga yang anggota PKT, itu karena mereka menganggap kapitalis ditingkat perjuangan sekarang ini bukan sasaran Revolusi, tapi masuk dalam kategori RAKYAT. Itulah konsekwensinya, jadi siapa saja yang dnyatakan elemen termaju dalam masyarakat sudah seharusnya bisa menjadi anggota partai. Dan keterlibatan kapitalis dalam PKT dan Pemerintah apakah bisa dikatakan yang dominasi dan TENTU yang lebih PENTING harus melihat bagaimana pemikiran politik kapitalis itu sendiri? Kan, keberadaan mereka tidak lagi mewakili klas kapitalis lagi, sekalipun mereka masih berprofesi sebagai pengusaha. Yang masih menjadi pertanyaan, bagaimana cara mereka/PKT memperkecil kesenjangan sosial, memperkecil lebih lanjut perbedaan kaya dan miskin setelah mereka berhasil mengangkat/menyelesaikan kemiskinan di Tiongkok itu. Karena kenyataan yang terjadi, kecepatan segelintir kapitalis menjadi lebih kaya jauh lebih cepat ketimbang peningkatan kesejahteraan rakyat banyak, ... Salam, ChanCT From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, November 18, 2016 11:52 PM To: Yahoogroups Subject: Re: Fw: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Bung Chan, saya rasa diktator proletariat di Tiongkok yg anda sebut2 itu sudah tidak ada lagi. Dengan nyata kita bisa lihat NPC dipenuhi billionaires dan millionaires yg jelas bukan kelompok proletariat. ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : Dari diskusi bung Nesare dan Bung Sie Tik terakhir ini, saya mendapatkan pengertian EKONOMI sebagai ILMU yang berlaku dan bisa digunakan dalam sistim kapitalisme maupun sosialisme, ... dalam banyak tulisan pakar-pakar TIongkok, saya juga mendapatkan bahwa sebetulnya ekonomi-pasar itu bukan monopoli sistem kapitalisme tapi juga harus berlaku dan terjadi dalam sistem sosialis, yang berbeda, dalam sistem kapitalisme pasar dibarkan liberal dan itu akan melahirkan kapitalis-monopoli, sedang dalam sistem sosialisme NEGARA ikut campur mengendalikan pasar jangan sampai merugikan rakyat banyak! Sedikit koreksi untuk bung Sie Tik dalam menanggapi pemikiran saya: “bahwa dng NEP Lenin mengembangkan kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai negara.” Darimana saya bisa berpendapat begitu? Lha, jelas yang dimaksudkan NEP oleh Lenin itu Kapitalisme Negara dibawah diktatur proletariat. Sekalipun kenyataan kapitalis diperkenankan hidup, tumbuh dan berkembang dibawah kendali diktatur proletariat, ... dan, inipun akibat setelah Rev. Okt. kapitalis dibabatin dan ekonomi mengalami kesulitan sampai roti pun tiada, ... saya yakin, kalau ekonomi tidak terjepit Lenin tentunya tidak akan mengoreksi kesalahan awal dan kembali memperkenankan kapitalis hidup keembali di Sovyet! Memang cukup menarik, apa yang dikisahkan kapitalis-kapitalis nakal itu dalam mensabotase kelancaran distribusi barang dagangan untuk meraih keuntungan lebih besar dengan menimbun barang dagangannya. Itu juga terjadi diawal kemerdekaan RRT, khususnya kapitalis-kapitalis di Shanghai. Banyak kisah bagaimana Chen Yi (Marskal yang kemudian terkenal menjadi Menlu RRT) yang asal klasnya kapitalis itu harus TEGAS melawan sabaotase kapitalis-kapitalis Shanghai. Dari pengalaman konkrit yang dihadapi RRT itulah, mungkin Deng sampai akhir hidupnya BERKERAS mempertahankan Diktatur Proletariat, dibawah pimpinan PKT, bahkan kemudian tidak memisahkan kekuasaan Partai dan Pemerintah, ... sampai sekarang ini. Justru disinilah perbedaan PKT yang berkuasa sekarang ini dengan pemikiran kelompok Sosial-Demokrat yang hendak segera saja membuka lebar DEMOKRASI, memperkenankan PARPOL lahir dan bersaing dengan PKT bahkan tidak mementingkan kekuasaan Diktatur Proletariat! Salam, ChanCT From: nesare1@... Sent: Friday, November 18, 2016 6:03 PM Sie tik: Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya membatasi perkembangan ekonomi borjuasi kapitalis, karenanya borjuasi merasa perlu menumbangkan kekuasan kelas feodal dan melakukan revolusi borjuis Nesare: belum pernah saya mendengar ekonomi feudal. Ekonomi dalam feodalisme ada seperti juga ekonomi dalam kapitalisme, sosialisme dll. Jadi tidak ada kapitalisme dalam ekonomi. Yang ada capital dalam ekonomi yang artinya modal. Kapitalisme, feudalism, sosialisme itu semua adalah isme isme dimana ekonomi berada. Jadi borjuis ini bisa ada dimana2 baik difeodalisme, kapitalisme maupun sosialisme walaupun artinya berbeda2. Sie tik: Dlm hal mana bung Tjing menganggap bahwa dng NEP Lenin mengembangkan kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai negara. Padahal dlm NEP negara yg dimaksud Lenin adalah diktatur proletariat, Karenanya pembubaran komune di RRT oleh Deng dianggap Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal Lenin justru menekankan pentingnya koperasi pada saat itu. Nesare: saya tidak pusing penggunaan kata2: mengembangkan, menggunakan atau istilah lain bisa saja dipakai. Saya juga setuju lenin menggunakan NEP dalam koridor diktatur proletariatnya. Deng juga masih begitu ada polit bironya walaupun semakin kendor dan rapuh tetapi ini saya lihat karena korupsinya. Korupsi ini adalah system pemerintahannya. Andaikata Lenin saat itu berhadapan dengan diktatur proletariat yang misalnya korupsi, bergajul, ego, mikir kelompok sendiri dll, saya lihat dia bisa melakukan apa saja. membunuhpun bisa. Begitu juga stalin. Tetapi kalau bung Karno tidak. Ini opini saya. Ini yang saya tekankan pentingnya manusianya bukan sistemnya. Sie tik: Karena jelas sekali bahwa gagasan Lenin adalah untuk memperkuat persekutuan buruh-tani dan diktatur proletariat agar bisa melangkah ke sosialisme. Sedangkan Deng memanipulasi gagasan ini demi melaksanakan restorasi kapitalisme. Nesare: jangan berhenti sampai lenin fokusnya ke buruh. Lenin bilang: goal of socialism is communism, bukan buruh. Sie tik: Jadi bukan sekadar pemerataan se-mata2. Mungkin bung tidak tau bahwa seorang buruh tambang dlm nomenklatur gajinya berada diatas gaji dokter, karena buruh tambang dianggap lebih berat tugasnya dan rentan terhadap penyakit2 professional tertentu serta kemungkinan aksiden yg berbahaya dlm profesinya. Demikian juga distribusi kebutuhan mereka lebih baik dari sektor2 lain . Suatu diskriminasi positif. Nesare: mungkin yg bung ingin katakan itu adalah meritokrasi atas perbedaan manusia2 itu. Itu bukan diskriminasi. Istilah meritocracy itu adalah: equal opportunity dan bertolak belakang dengan diskriminasi yang tidak/bukan equal opportunity. Positive discrimination bisa dilaksanakan tetapi tetap tidak mencerminkan equality karena diskriminasi yg dilakukan adalah berdasarkan gender, agama, umur, ras dll. Jadi berbeda kalau skill, tanggung jawab dll dalam pekerjaan itu adalah ukuran meritokrasi. Dan meritokrasi ini adalah dasar asumsi dari individualism bukan kolektifitas. Sie tik: Mao dlm karyanya Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 1949): Dalam perjuangan sekarang ini Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis nasional. Politik kita sekarang ini mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi tidak bermaksud memusnahkan Kapitalisme. Nesare: ya maupun tidak akan bisa. Itulah realitasnya. Kenapa perlu diberantas? Kenapa perlu dibunuh dan dimusnahkan? Sebaiknya dimanfaatkan. Ini yang saya tangkap dari opininya chan dan juga bung. Masalah perdebatan sesama orang kiri itu sebetulnya adalah perbedaan letak kirinya saja. semakin kiri orang itu semakin kekolektifitas. Semakin kekanan orang itu semakin ke individualism. Ini opini saya. Terlalu terpaku sama isme isme ini juga dan tanpa mengabaikan aspek lain ya tidak banyak manfaatnya. Misalnya unsur agama. Bagaimana disuatu negara kalau kelompok konservatif agama menang dan mendirikan negara teokrasi, kan jelas sekali sosialisme maupun kapitalisme akan dibabat habis. Tapi ekonomi, hukum, kedokteran dll tidak akan bisa dimusnahkan. Sie tik: Kedua PM Belanda tsb, juga demikian , karena tanggung jawab menteri2 kabinet jauh lebih besar dan berat dari seorang CEO perusahaan, jadi tidak fair dlm hal ini, kalau dilihat dari segi pertanggungan jawab sosial. Nesare: ya memang tidak ada bedanya mercedez buat anggota politburo dengan menteri dan CEO ini karena ini meritokrasi bukan komunal/pemerataan. Saya kira masalah ini tergantung penerapannya. System sosialisme apa yang diinginkan. Kalau penekanannya semakin ke meritokrasi artinya individualisme lebih diperhatikan, ya geraknya kekanan. Begitu juga sebaliknya semakin ke pemerataan, semakin kekiri. Orangnya yang menentukan sistemnya. Sistemnya bisa dibuat tetapi tergantung orangnya yang mengendalikan akan kemana system itu. Sie tik: sekali lagi itu adalah hak Bung untuk beranggapan bahwa peranan pikiran individu tiap orang terlepas dari kepentingan ekonomi kelasnya atau golongannya Nesare: ketika saya menulis manusia itu berbeda ya termasuk perbedaan dalam ekonomisnya, status sosialnya, pendidikannya dll. Sie tik: Tapi kita lihat ketika ada penggusuran di Jakarta toch kepentingan perorangan bisa dimobilisasi menjadi kepentingan kolektif? Nesare: bisa saja. Tetapi tidak bisa mengatakannya benar atau salah kan. Sebaliknya juga bisa bahwa kepentingan kolektif berganti wajah menjadi kepentingan individu. Inilah dasar argument saya melihat system apapun akan bisa bagus dan jelek tergantung penerapannya. Sie tik: perjalanan menuju cita2 masyarakat sosialis memang masih jauh dan perlu dipikirkan lebih mendalam sebab2 keruntuhan negara sosialis pertama yg kemudian menyebabkan runtuhnya kubu sosialis. Mungkin ada orang2 yg kompeten mengenai masalah ini. Nesare: bukunya sudah banyak sekali dalam mengupas kalahnya sosialisme. Ilmu yang mempelajarinya pun banyak dari ilmu politik, sosiologi, anthropology dll. Di comparative study lebih2 lagi dimana setiap negara punya ahli yang mempelajari runtuhnya sosialisme dinegaranya masing2. Kekalahan ini fakta. Tetapi fakta ini adalah dalam level pelaksanaan. Masalahnya lebih mendasar dari sekedar kalah saja, tetapi ada faktor2 diluar control dari sosialisme itu sendiri. Maksudnya ada variable2 yang mempengaruhi jalannya sosialisme itu. Di RI, soekarno kalah dalam menerapkan system ekonominya dimana inflasi terbang sampai pernah menyentuk diatas 230% , economic growth malahan pernah minus antara 1962 – 1965. Faktornya apa? pramudya anantatur bilang “kita dikepung”. Ekonomi sosialismenya bung Karno itu jelas sekali sejak merdeka program pinjaman nasional, konperensi ekonomi, rekonstruksi dan rasionalisasi angkatan perang (Rera) s/d demokrasi terpimpin berakhir 1967 ekonominya sangat etatisme/serba pemerintah pusat. Begitu juga jatuhnya negara2 sosialisme juga begitu. Ini dalam level aplikasi. Idenya sosialisme sendiri tidak akan mati. Sekarang dunia bergerak kekiri seperti green party ada dimana2. Begitu juga labor union juga selalu ada. Semakin maju/kaya negara itu semakin akan kekiri geraknya. Yang repot adalah negara yang belum maju/masih miskin, kesadaran kiri ini terhapuskan oleh urusan perut, agama dll. Inilah fakta dilevel aplikasi. Kalau kita lihat sekarang ini divenuzuela yg dulunya program2 kiri bisa berjalan krn duitnya dari ada krn harga minyak tinggi. Sekarang berantakan karena harga minyak jatuh. Kasihan sekali orang2 venezuela sekarang ini. Sie tik: yg saya permasalahan disini adalah pengertian istilah kabir yg digunakan bung Tjing untuk pelaku2 kejahatan ekonomi dikalangan pejabat negeri sosialis. Nesare: ya belum terjadi saja krn negeri sosialisnya runtuh. Apakah bung tidak bisa melihat para koruptor itu bisa menjadi kabir? Saya melihatnya bisa. Itulah manusia. Inilah penekanan saya ke manusianya bukan sistemnya. Ketika orang bisa/berani membunuh, masalah menjadi kabir itu menjadi masalah yg mudah. Ketika negara baru merdeka baru melek berdiri, pemimpinnya yang dielu2kan ini seperti lenin, stalin, mao dll itu tidak ubahnya seperti Tuhan. Mungkin istilah kabir tidak akan ada, tetapi tindakannya bisa saja terjadi karena itu masalah melindungi kepentingan. Kalau kita pelajari pengakuan polpot sampai meninggalpun dia tidak merasa bersalah telah membunuh segini banyak orang. Dia bilang “akan saya lakukan”, “musuh saya juga akan melakukan yang sama”. Inilah manusia. Sekali lagi bukan sistemnya. Salam Nesare From: Sie Tik Tan [mailto:sietik.tan@...] Sent: Thursday, November 17, 2016 3:33 PM To: nesare1@... Cc: Tiong Tjing Siauw <SADAR@...> Subject: Re: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Bung Nesare, terimakasih atas tanggapan bung, jawaban saya bisa bung baca dibawah ini setelah tanggapan bung pada masalah yg bersangkutan. Rupanya PC saya ngak baik jadi kalau saya menjawab dng menyisipkan seperti yg bung lakukan, lambat sekali jalannya. Entah apakah sudah terlalu sarat ? Jadi kali ini saya gunakan tablet, ternyata lebih gampang. Jawaban saya ( St ) itu saya tik dng huruf miring . Salam, Tik Verstuurd vanaf mijn iPad Op 16 nov. 2016 om 12:14 heeft <nesare1@...> <nesare1@...> het volgende geschreven: Sie tik: Jadi bagi kapitalis Jepang tsb, yg penting adalah sebanyak mungkin dana yg masuk dan berada dlm kontrolnya, karena itu faktor psikologi juga digunakan dan ini memang salah satu keunggulan bisnis kapitalisme. Nesare: betul kalau bisnis ekonomi diterapkan di system kapitalisme. Betulnya sama kalau bisnis ekonomi diterapkan disistem sosialisme. Bung masih belum mengerti maksud saya ketika saya menekankan bahwa bisnis ekonomi itu bukan miliknya kapitalisme saja. bisnis ekonomi itu adalah ilmu, seperti ilmu hukum, ilmu teknik, ilmu kedokteran dimana bisa diterapkan disistem apapun termasuk kapitalisme dan sosialisme. St: betul sewajarnya begitu karena ilmu adalah karya dan milik masyarakat manusia. Hanya saja kadang ada kepentingan dan hal2 specifik tertentu yg mempersulit pentrapannya. Pengalaman sejarah juga menunjukkan bahwa ilmu2 sosial dan juga ekonomi mempunyai suatu keberpihakan pada golongan masyarakat tertentu dan dng demikian juga pada sistim tertentu. Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya membatasi perkembangan ekonomi borjuasi kapitalis, karenanya borjuasi merasa perlu menumbangkan kekuasan kelas feodal dan melakukan revolusi borjuis. Pada ilmu Sastra-budaya juga demikian banyak karya2 yg menentang sistim yg berlaku, Boris Pasternak dng Dr. Zhivago dilarang di Sovjet, pada gilirannya karya2 penulis2 Barat yg dianggap aliran realisme dan mengupas segi2 negatif pola kehidupan degenaratif , konservatif dan diskriminatif masyarakat Barat , seperti Dumas, Flobert, Dickens , Servantes dll tetap dicetaknya. Hukum juga pelaksanaannya biasanya digunakan untuk kepentingan yg berkuasa atau golongan tertentu. Seperti UU Penanaman Modal Asing di Indonesia yg digagas oleh pakar2 ekonomi Indonesia dng " bantuan" kaum kapitalis USA pada awal rejim Suharto. Tentu hanya berlaku untuk Indonesia dan tidak bisa ditrapkan di USA untuk mengatur investasi RRT disana. Hukum perpajakan juga demikian karenanya bisa ada sorga2 pajak dimana berarti juga suatu bentuk bisnis ekonomi kapitalis yg saat ini disebagaian besar negeri2 kapitalis tidak diberlakukan tapi di-negeri2 tertentu diberlakukan. Juga disosialisme ada gagasan ekonomi sosialis, tentu hukum tentang perusahaan swasta tidak ada. Karenanya Lenin juga selektif dlm mentrapkan bisnis tsb sebagai ilmu. Selain itu dng adanya hukum hak patent dan hak cipta , pentrapan suatu product ilmu mendapat pembatasan, kecuali kalau bayar royalty , jadi mengandung suatu bentuk kepentingan, seorang ilmuwan menulis makalah tanpa menyebutkan bagaian2 yg diambilnya dari karya orang lain , bisa dituntut dng Pasal plagiat. Demikian juga kalau ditinjau dari segi idiologi/ isme yg dianut suatu sistim masyarakat, pelaksanaan kesehatan dan pendidikan dinegeri sosialis bebas biaya, di negeri kapitalis merupakan sarana komersialisasi. Apalagi dibidang farmasi dan industri, karenanya ada spionage industri. Penyelidikan dng cel2 embrio manusia yg tidak dimanfaatkan lagi dari proses inseminasi di Belanda dilarang, tapi dibeberapa negara lain diperbolehkan, karena dng demikian penyelidikan menjadi lebih specifik untuk masalah kesehatan manusia, sebab kalau menggunakan cel2 hewan tetap saja ada perbedaan biologisnya. Dibidang teknologi saya jadi teringat wawancaranya genderal Kalashnikov , beberapa tahun yl, dia bilang kalau saja dia ketika menciptakan teknologi senjatanya berada dlm sistim kapitalis dan untuk tiap pucuk senjatanya kalau dipatentkan bisa untung 1$ saja, maka dia sudah jadi multimilyuner. Ngak usah lagi membuat vodka dng namanya sebagai merk dagang, untuk bisa menambah pensiunnya setelah Sovjet jatuh. Tapi karena dia hidup dinegeri sosialis, ya penghasilannya hanya dari tugasnya saja dlm tentera Sovjet, dan teknologinya walau digunakan oleh negeri sosialis lainnya juga tanpa kebijakan royalty. Sampai sekarangpun produksi senjata tsb dilakukan oleh negeri2 ex sosialis tanpa bayar royalty . Sie tik: . Padahal bisnis ekonomi itu memang sudah ada dlm kapitalisme sebagai hasil inovasi mereka untuk mengembangkan perekonomiannya Nesare: disini kelihatan bung mengidentikkan/menyamakan bisnis ekonomi adalah system kapitalisme. Disini salahnya. Kenapa salah? Saya yakin ini dikarenakan bung hanya melihat kejelekan kapitalisme yang berkembang seperti sekarang ini. Bung menjadi bias. Bung tidak/belum bisa menerima ketika Lenin menerapkan NEP itu. Lebih lanjut ketika saya menulis “orangnya bukan sistemnya”, itu saya ingin bilang sebagus apapun sistemnya, kalau orangnya jelek, jalan sistemnya juga akan jelek apalagi system nya baru mulai mau berjalan. Analoginya dengan demokrasi. Demokrasi bisa berjalan di negara2 maju tetapi dinegara2 berkembang dan miskin, demokrasi bisa menjadi boomerang. St: sepengetahuan saya yg awam tentang ekonomi, bisnis ekonomi sebagai ilmu juga berkembang, pada sistim masyarakat komune primitif yg kemudian juga terbagi dlm komunitas pertanian dan komunitas peternakan tentunya mempunyai kegiatan ekonomi tertentu dng dasar pertukaran ketika uang belum dikenal dan tentu belum ada pengertian saham atau obligasi. Jadi dng perkembangan masyarakat itu sendiri maka inovasi2 yg terjadi dlm bisnis ekonomi juga berkembang. Kalau ngak salah sejarah saham mulai kira2 sejak jaman Romawi dan berkembang pesat diabad pertengahan dng adanya VOC, Republik (dagang) Venesia dll. Perbankan juga begitu bukan? Mulai dr bentuk mindering dan dagang uang, sampai2 Jesus mengobral-abrik pasar uang disekeliling gereja. Jadi tiap masyarakat sesuai dng perkembangannya dan perkembangan ekonominya juga inovasi bisnisnya berkembang, itu pengertian saya ketika menyatakan bahwa bisnis ekonomi yg dianjurkan Lenin dipelajari itu memang sudah ada dlm masyarakat kapitalis. Bung kembali menyinggung NEP yg dilaksanakan Lenin, entah apakah bung mengikuti pembicaraan soal ini dimana saya &teman2 menyanggah argumentasi bung Tjing soal NEP? Dlm hal mana bung Tjing menganggap bahwa dng NEP Lenin mengembangkan kapitalisme dan malahan begitu antusiasnya bung Tjing yg waktu itu baru tau adanya gagasan NEP dan kapitalisme negara sehingga menurut logikanya Lenin membiarkan kapitalis menguasai negara. Padahal dlm NEP negara yg dimaksud Lenin adalah diktatur proletariat, dan tujuannya seperti juga bung tandaskan di tanggapan bung yl, adalah untuk mencapai sosialisme. Karenanya pembubaran komune di RRT oleh Deng dianggap Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal Lenin justru menekankan pentingnya koperasi pada saat itu. Sampai emailnya yg belum lama ini bung Tjing masih bersiteguh bahwa Lenin maupun Mao membenarkan kapitalis berkembang. Walau saya sudah lampirkan cuplikan karya Lenin dan Mao mengenai masa peralihan dari kapitalisme ke sosialisme tsb serperti dibawah ini beberapa kali. Mao dlm karyanya Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 1949): Dalam perjuangan sekarang ini Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis nasional. Politik kita sekarang ini mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi tidak bermaksud memusnahkan Kapitalisme. Dari artikel yg sama ada pernyataan Mao sebagai berikut: Apabila Sosialisme sudah tercapai, atau dengan kata lain, apabila perusahaan-perusahaan milik perseorangan sudah dinasionalisasi, maka golongan Borjuis nasional akan dapat dididik dan mendapat pengulangan pendidikan yang lebih jauh lagi. Lenin THE Tax in Kind (The Significance Of The New Policy And Its Conditions)[1] -------------------------------------------------------------------------------- Written: Completed on 21 April, 1921 (started in March) First Published: Published in pamphlet form in May 1921; Published according to the pamphlet text collated with the manuscript But what does the word “transition” mean? Does it not mean, as applied to an economy, that the present system contains elements, particles, fragments of both capitalism and socialism? Everyone will admit that it does. But not all who admit this take the trouble to consider what elements actually constitute the various socio-economic structures that exist in Russia at the present time. And this is the crux of the question. Let us enumerate these elements: (1)patriarchal, i.e., to a considerable extent natural, peasant farming; (2)small commodity production (this includcs the majority of those peasants who sell their grain); (3)private capitalism; (4)state capitalism; (5)socialism. Lebih lanjut...... It is in this field that the main struggle is being waged. Between what elements is this struggle being waged if we are to speak in terms of economic categories such as “state capitalism”? Between the fourth and fifth in the order in which I have just enumerated them? Of course not. It is not state capitalism that is at war with socialism, but the petty bourgeoisie plus private capitalism fighting together against state capitalism and socialism. The petty bourgeoisie oppose every kind of state interference, accounting and control, whether it be state-capitalist or state-socialist. This is an unquestionable fact of reality whose misunderstanding lies at the root of many economic mistakes. The profiteer, the commercial racketeer, the disrupter of monopoly—these are our principal “internal” enemies, the enemies of the economic measures of the Soviet power. Bahkan dlm emailnya yg belum lama ini bung Tjing menyatakan kesulitan pangan / roti karena kapitalis dibabat , padahal dari kutipan Lenin diatas jelas kelas kapitalis masih berperan dalam kehidupan ekonomi. Untuk memperkuat argumentasinya bung Tjing mengacuh pada film tentang Lenin yg berkenaan dng krisis pangan tsb. Tapi rupanya dia tidak pernah membaca tulisan2 Lenin untuk periode itu. Dimana Lenin menjelaskan usaha kelas kapitalis dan tuan tanah untuk menyabot perekonomian Sovjet, baik dng penimbunan gandum, speculasi diperas gelap , penyabotan transportasi KA dll. Sehingga Lenin melakukan kampanye pengumpulan gandum, bahkan dibeberapa tempat dikerahkan Tentera Merah untuk membongkar tempat2 penimbunan . Dan dng demikian bahaya kelaparan bisa dicegah, juga ketahanan Tentera Merah difront dijaga. Saat itu dilaksanakan apa yg disebut Lenin " komunisme ( saat) peperangan" dimana semua gandum dikumpulkan untuk dibagi kembali dng merata.Jadi jelas yg saya dan teman2 tolak adalah manipulasi pengertian NEP gagasan Lenin ( yg disertai gagasan koperasinya) oleh Deng serta pendukung2-nya. Karena jelas sekali bahwa gagasan Lenin adalah untuk memperkuat persekutuan buruh-tani dan diktatur proletariat agar bisa melangkah ke sosialisme. Sedangkan Deng memanipulasi gagasan ini demi melaksanakan restorasi kapitalisme. Sie tik: Bahkan saya tulis bahwa dlm masyarakat sosialispun saat itu ada diskusi yg berkepanjangan mengenai hal kesejahteraan dan pemerataannya. Dalam hal ini yg dimaksud adalah dibatasinya kesenjangan diantara warga masyarakat. Nesare: kenapa harus ada diskusi berkepanjangan mengenai pemerataan dalam sosialisme? Dasar teori sosialisme adalah terletak di pemerataan kesejahteraan. Inilah hasil kolektifivisme yang menjadi dasar pemikiran sosialisme. Jadi kesenjangan social itu tidak harus dibicarakan lagi dalam sosialisme. Kalau seseorang mempermasalahkan pemerataan kesejahteraan ini mestinya dia bukan “sosialis” sejati. St: Dasar teori sosialisme adalah perjuangan kelas untuk menghapuskan penindasan manusia oleh manusia dan penindasan bangsa oleh bangsa lain. Dan untuk mencapainya sesuai dng gagasan M-L adalah pengambilan alihan kekuasan politik dari kelas penghisap kapitalis serta sisa2 feodal oleh kelas buruh dan sekutunya kelas tani serta kelas borjuasi kecil dibawah pimpinan partai kelas proletar dan dng kekuasan politik ini menghapuskan kepemilikan perorangan atas alat2 produksi. Serta dilaksanakannya distribusi yg adil kebutuhan masyarakat yg merupakan hasil produksi kolektif yg diraih tanpa penindasan manusia oleh manusia. Dan dng demikian kesenjangan kesejahteraan bisa dikontrol . Diatas juga ada kutipan Mao apa yg dimaksud dng sosialisme dng pengungkapannya yg sederhana. Disini bedanya pengertian sosialisme proletar dng sosialisme non-proletar, karena tidak percuma Marx dan Engles menulis pengertian sosialisme pada karya mereka Manifes Partai Komunis. Diskusi yg pernah terjadi dan berlangsung sebelum jatuhnya kubu sosialis yg saya maksud diatas adalah didasari oleh gagasan dlm sosialisme proletar: tiap warga masyarakat bekerja menurut kemampuan ( baik fisik maupun intelektual, Tik) dan mendapat imbalan menurut hasil kerjanya. Ini suatu diskusi yg luas dan mendalam karena meliputi tidak saja kemungkinan adanya kesenjangan dikalangan kelas pekerja, tapi juga tentang perbedaan antara kerja badan dng kerja otak, antara kota dan desa dan tidak kalah pentingnya antara stimulasi moral dan stimulasi material. Jadi bukan sekadar pemerataan se-mata2. Mungkin bung tidak tau bahwa seorang buruh tambang dlm nomenklatur gajinya berada diatas gaji dokter, karena buruh tambang dianggap lebih berat tugasnya dan rentan terhadap penyakit2 professional tertentu serta kemungkinan aksiden yg berbahaya dlm profesinya. Demikian juga distribusi kebutuhan mereka lebih baik dari sektor2 lain . Suatu diskriminasi positif. Sie tik: Bila bung Tjing bilang wajar seorang bosnya Heineken, J.F van Boxmeer dng pendapatan € 12,7 juta atau 353X pendapatan rata2 buruh € 35.951/tahun, lalu apa artinya satu Mercedes bagi anggauta CC? Nesare: jangan mengkontraskan boxmeer vs anggota CC. Ketika bung membandingkan mereka, bung telah terjebak dalam pemikiran sosialisme “pemerataan kesejahteraan” itu. Selanjutnya anggota CC akan berbondong2 untuk mempermasalahkan andil tenaga yang sudah dikeluarkan. Inilah basis/dasar pemikiran individualisme. St: lho, bung diatas mengatakan kalau seseorang mempermasalahkan pemerataan artinya bukan sosialis sejati, tapi disini bung bilang kalau membandingkan Boxmeer vis anggauta CC jadi terjebak dlm pemikiran sosialis " pemerataan kesejahteraan" . Lha, kalau PM Belanda Kok maupun Balkenende membandingkan pendapatan CEO dng menteri kabinet dan mengambil langkah2 pembatasan untuk CEO2 dibidang pelayanan publik , maka apakah ke dua PM tsb juga terjebak dlm pemikiran sosialisme " pemerataan kesejahteraan"? Dilain pihak bukanlah bung Tjing yg menuduh elit2 negara sosialis sebagai kabir dan melakukan pemerasan lebih kejam dari pada kapitalis , dimana menurutnya kapitalis sudah lepas tangan dari kebijakan eksekutif yg diserahkan kepada CEO2-nya? Jadi bila saya memperbandingkan kedua pihak yg memegang kewewenangan tertentu dlm kehidupan masyarakat dng tanggung jawabnya masing2 apakah tidak boleh? Pada email bung yg terdahulu dlm urusan imbalan bung juga menyatakan bahwa besar kecilnya tanggung jawabkan yg membedakan gaji pegawai . Kedua PM Belanda tsb, juga demikian , karena tanggung jawab menteri2 kabinet jauh lebih besar dan berat dari seorang CEO perusahaan, jadi tidak fair dlm hal ini, kalau dilihat dari segi pertanggungan jawab sosial. Sie tik: Ya, bahwa bung berpendapat yg terutama adalah orangnya dan bukan isme-nya, itu adalah hak bung. Tapi sejarah perkembangan manusia menunjukkan adanya pengkelompokan manusia selain berdasarkan ras/bangsa juga berdasarkan pandangan hidupnya yg didasari pada kepentingan ekonominya halmana menyebabkan adanya kelas2 dlm masyarakat, bahw tiap pribadi dlm kelas2 tsb mempunyai kepribadian dan sifatnya sendiri2 adalah jelas. Nesare: perbedaan atas manusia2 yang ada didunia inilah dasar pikirannya individualism. Manusia itu berbeda. Kolektifitisme itu menjadi susah karena perbedaan manusia ini. Ini tantangannya sosialisme yang saya lihat. St: sekali lagi itu adalah hak Bung untuk beranggapan bahwa peranan pikiran individu tiap orang terlepas dari kepentingan ekonomi kelasnya atau golongannya. Tapi kita lihat ketika ada penggusuran di Jakarta toch kepentingan perorangan bisa dimobilisasi menjadi kepentingan kolektif? Sejarah juga menunjukkan adanya usaha2 kolektif entah untuk menanggulangi ancaman bencana alam ataupun ancaman musuh terhadap kelompok manusia tsb, atau dlm melakukan pembangunan masyarakat entah apakah itu gagasan gotongroyong atau gagasan kesepakatan moral/ budi-pekerti. Itu karena manusia adalah mahluk sosial, jadi tidak seperti anggapan bahwa masyarakat hanya kumpulan individu egoïs se-mata2 tanpa adanya keterikatan satu dng lain dlm proses kehidupan terutama dlm proses produksi kebutuhan masyarakat, dimana adanya proses produksi inilah yg menyebabkan perkembangan masyarakat. J (Message over 64 KB, truncated)
