BAHAN DISKUSI YANG BAGUS. Diunduh dari fesbuk 
(18-11-2016)https://www.facebook.com/notes/ken-ndaru/lenyapnya-tugas-demokratik-kelas-pekerja-dari-analisis-kelas/10154173153028196
RemoveLenyapnya Tugas Demokratik Kelas Pekerja dari Analisis KelasKen 
Ndaru·Friday, November 18, 2016

Pembuka
Beruntung sekali aku menunda keluarnya tulisan ini, tulisan yang kerangkanya 
sudah kupersiapkan semenjak sebelum aksi sayap kanan tanggal 4 November lalu. 
Apa yang terjadi pasca 4 November, termasuk komentar-komentar dan pernyataan 
sikap dari organisasi sayap kiri terkait aksi tersebut, memberi banyak data 
baru mengenai tesis yang aku terakan dalam judul tulisan ini. Dan apa yang aku 
temui pasca 4 November menguatkan hipotesisku mengenai lenyapnya tugas 
demokratik kelas pekerja dari analisis kelas. Mari aku perlihatkan bagaimana 
Tugas Demokratik ini absen dalam analis kelas, berangkat dari tulisan-tulisan 
yang akan aku bedah di sini.
Satu
Pertama, tulisan Ian Wilson yang berjudul Making Enemies out of Friend. 
Sementara tulisan ini dengan tepat menunjuk rejim penataan kota borjuis, yang 
dipimpin Ahok, sebagai sumber ketidakpuasan yang membludak dalam aksi 4 
November, penulisnya gagal memahami bahwa ketidakpuasan ini bukan hanya terjadi 
di Ibukota. Penting dipahami bahwa dinamika arus bawah sampai ke 
pelosok-pelosok Indonesia sekarang ini sudah dikuasai oleh propaganda ekstrim 
kanan. Pembicaraan di kampung-kampung di Sumatera, Jawa, Kalimantan mengenai 
penodaan agama ini berlangsung keras dan seru. Grup WhatsApp di komplek-komplek 
baik yang kelas atas maupun RSSS dipenuhi pertikaian antar warga mengenai 
apakah Ahok memang menghina agama. Massa sedang bicara politik. Politik dan 
ideologi tengah diperdebatkan dengan hangat oleh orang-orang yang selama ini 
hanya tahu bekerja dan bekerja; lahir, sekolah, kawin, punya anak, lalu mati. 
Sebagai orang yang mengusung politik kelas, fakta ini yang seharusnya menjadi 
fokus. Ini peluang kita. Susah mengajak orang berminat pada soal-soal politik. 
Sekarang, pertarungan antar faksi borjuasi mengantar rakyat berminat secara 
spontan pada politik. Di sinilah kesiapan organisasi diuji. Jika ia senantiasa 
menyiapkan diri untuk bicara politik kelas, ia akan siap memanfaatkan peluang 
yang datang spontan seperti ini. Dan, krutacking flaaknard, momen ini justru 
menunjukkan bahwa gerakan kiri tidak siap mengusung politik kelas. Kegagapannya 
akan aku kupas di bagian interlude.Dan Ian Wilson lupa (aku berbaik sangka) 
menyebutkan bahwa pada saat ini praktis diskursus politik dan ideologi telah 
dikuasai oleh kelompok kanan. Ian Wilson juga lupa menyebutkan bahwa pada saat 
ini, massa rakyat sampai di kampung-kampung tengah bicara politik. Pada titik 
inilah aku akan mengingatkan bahwa gerakan kelas pekerja memiliki TUGAS 
DEMOKRATIK. Tugas Demokratik merupakan bagian integral dari perjuangan kelas 
pekerja; karena ialah kelas yang berkepentingan paling besar bagi terciptanya 
demokrasi sepenuh-penuhnya. Tanpa demokrasi, kekuatan produktif akan terus 
digerogoti korupsi, pungutan paksa dan bentuk-bentuk penyalahgunaan kekuasaan 
lainnya. Tanpa demokrasi dan transparansi, kekuatan produktif akan 
diselewengkan sehingga merusak lingkungan dan memelihara diskriminasi berdasar 
gender atau identitas. Kita berhadapan dengan rejim penggusuran  radikalisasi 
di antara korban dan sanak-keluarganya  radikalisasi disambut oleh ekstrimis 
sayap kanan  massa terseret oleh propaganda sayap kanan  lalu apa? Lalu kita 
berseru agar pemerintah memperhatikan nasib mereka yang tergusur? Really? Atau 
kita serukan agar gerakan kiri makin getol memperjuangkan nasib mereka yang 
tergusur?Kedua jalan ini sama-sama mengabaikan Tugas Demokratik. Tugas menjaga 
dan memperluas demokrasi. Pengabaian terhadap tugas demokratik inilah salah 
satu ciri pokok EKONOMISME (yang per definisi adalah “pemisahan antara tugas 
social ekonomi dan tugas social demokrasi”). Dalam kerja social-ekonomi, kita 
melakukan kerja memperluas ruang demokrasi. Sebaliknya, dalam kerja demokratik, 
kita perluas hak ekonomi rakyat.Tulisan Ian Wilson juga abai menganalisa: siapa 
di antara kedua faksi yang tengah bertarung di momen 4 November ini yang paling 
berbahaya bagi demokrasi. Bahaya dari pendekatan seperti ini adalah kemungkinan 
timbulnya pemikiran di kalangan kiri bahwa demi “melawan rejim penggusuran” 
bergabung dengan ekstrimis kanan dapat dibenarkan. Aku belum menemukan jejak 
dokumen yang menunjukkan adanya kelompok di kiri yang bergabung dengan aksi 4 
November. Namun, pertukaran pendapat individual menunjukkan bahwa pemikiran itu 
telah muncul di kalangan yang mengaku kiri. 
Dua
Kedua, tulisan kawan Dicky Dwi Ananta yang berjudul Merebut Hak Atas Kota: 
Catatan Perlawanan Pegiat Usaha Stasiun Pos Duri. Tulisan ini dengan rapi 
mendokumentasikan perlawanan warga Pos Duri yang menghadapi penggusuran. 
Sebagai sebuah dokumentasi, ini lebih dari memadai. Tapi, sebagai tulisan 
politik, pertanyaannya adalah: pelajaran apa yang dapat dipetik dari kekalahan 
perlawanan Pos Duri?Sebuah catatan sejarah bagi kita bukan sekadar 
administrasi, ia adalah bekal untuk membenahi apa yang masih kurang dan 
memperkuat daya dobrak. Salah satu tradisi yang luar biasa dari kapitalisme 
adalah bahwa mereka punya catatan sejarah yang lengkap, yang senantiasa mereka 
pelajari. Dengan demikian, kapitalisme terus-menerus dapat menyesuaikan diri 
dengan perubahan. Dengan terus belajar dari kekalahan dan kesalahan, 
kapitalisme bisa maju terus—bahkan membalik kekalahan menjadi kemenangan.Tentu 
saja catatan sejarah itu tidak mereka buka pada massa, sehingga massa rakyat 
tidak dapat ikut belajar bersama mereka. Ini jelas berlawanan dengan apa yang 
kita yakini: bahwa massa rakyat harus dapat belajar dan melahirkan ilmu 
pengetahuannya sendiri. Dan persis di sini, tulisan kawan Dicky timpang. Ia 
hanya merupakan catatan kronologis, tanpa evaluasi mengenai kesalahan ataupun 
ketepatan taktik. Ia tidak menunjukkan arah ke depan, kecuali mengajak untuk 
mengulangi langkah yang sama dengan yang pernah ditempuh—dan gagal. 
Satu-satunya petunjuk mengenai visi ideologis adalah “hak untuk kota harus 
direbut”, titik. Berhenti pada slogan. Kita tidak tahu kenapa kalah, lalu 
mengeluarkan slogan sebagai jawaban. Padahal persis di sini ada peluang kita 
untuk bicara politik pada rakyat yang sedang berlawan. Apa itu hak, siapa yang 
merumuskan hak? Kalau apa yang kita anggap sebagai hak belum tercantum dalam UU 
atau peraturan lain, apa yang harus kita lakukan? Kalau sudah tercantum tapi 
tidak dilaksanakan, bagaimana?Karena kita tidak pernah belajar dari kekalahan, 
kita terjebak dalam siklus aksi-kalah-jalur hukum-kalah lagi. Atau kalaupun 
menang di jalur hukum, keputusan pengadilan tetap tidak dijalankan. Berapa kali 
sudah siklus ini terjadi dalam semua kasus perjuangan rakyat di Indonesia dalam 
kurun pasca Orde Baru?Satu kutipan yang diatribusikan pada Einstein (walau 
mungkin bukan dia yang mengatakannya) bilang begini: “Mengulang-ulang hal yang 
sama dan mengharapkan hasil yang berbeda adalah kegilaan.” Ini kutanya 
sungguh-sungguh: berapa persen peluang kemenangan perjuangan rakyat ketika 
siklus aksi-kalah-gugatan hukum dijalankan?I AM GROOT! Kita harus bongkar 
siklus ini. Harus kita preteli. Lalu kita susun ulang dengan injeksi elemen 
baru—yang akan memungkinkan massa rakyat melangkah mengatasi dan melampaui 
(above and beyond) kepentingan sektoralnya sendiri. Dalam pengertian paling 
praktis, melatih gerakan rakyat untuk mulai mengambil semua ruang kekuasaan 
yang tersedia—mulai dari RT/RW, musrenbang, dewan pengupahan, dewan ini-itu, 
bahkan sampai ke dewan gereja dan dewan kesejahteraan masjid. Tugas organisasi 
politiklah untuk merumuskan elemen ini. Slogan penting. Namun, ini musti kita 
camkan baik-baik, slogan adalah perintah tempur. Ia tidak mengatakan 
“kemerdekaan adalah hak segala bangsa”, melainkan “merdeka atau mati!”. 
Persoalan “Rakyat punya hak atas kota” merupakan hal yang harus dibahas di 
rapat-rapat organisasi; tapi sebuah tulisan politik harus lebih spesifik: 
“rebut musrenbang”, atau semacamnya. Sekali lagi, Tugas Demokratik tidak boleh 
dipisahkan dari Tugas Sosial-Ekonomi. Mengulang lagi untuk kesekian kalinya: 
pemisahan antara Tugas Demokratik dan Tugas Sosial-Ekonomi adalah ciri dasar 
EKONOMISME. 
Tiga
Interlude. Sebelum melangkah ke tulisan lainnya, aku mau berjeda sejenak untuk 
lebih mencermati Ekonomisme. Ekonomisme adalah istilah yang dicetuskan Lenin 
dalam perdebatannya dengan Karl Kautsky mengenai TUGAS, dalam pengertian 
tindakan organisasional, sebuah partai kelas pekerja. Kautsky (dan pengikutnya 
di Rusia) menandaskan bahwa partai kelas hanya perlu memperjuangkan upah dan 
kesejahteraan—bahwa jika gerakan kesejahteraan ini sudah cukup besar, kesadaran 
sosialis akan tumbuh dengan sendirinya. Kautsky percaya bahwa “lompatan 
kesadaran” akan terjadi jika aksi-aksi social-ekonomi dapat didorong ke 
puncaknya. Lenin, di lain pihak, mengakui watak ganda dari serikat rakyat. Di 
satu sisi, serikat rakyat pekerja adalah lapangan di mana perjuangan kolektif 
dapat ditumbuhkan. Sekalipun dalam keadaan terpukul, serikat rakyat adalah 
bentuk pertahanan terakhir rakyat pekerja terhadap penindasan. Namun, ini yang 
perlu kita perhatikan, Lenin memahami juga bahwa sebagus-bagusnya sebuah 
serikat, ia hanya dapat bekerja di dalam BATASAN KAPITALISME. Bukankah 
kontradiktif ketika kita memperjuangkan agar upah terus naik, padahal kita 
sedang memperjuangkan penghapusan upah? Bukankah kontradiktif ketika kita 
memperjuangkan agar orang dapat memiliki tanah, padahal kita tengah 
memperjuangkan agar tanah menjadi alat produksi yang dimiliki bersama?Lenin 
memecahkan kontradiksi ini dengan konsep “injeksi kesadaran”. Di sinilah TUGAS 
DEMOKRATIK kelas pekerja menjadi koentji. Dengan “memaksa” kader-kader termaju 
dari kelas pekerja untuk keluar dari zona nyamannya, untuk mengurusi hal-hal 
yang tidak ada kaitanya langsung dengan upah dan tanah. Dalam Tugas Demokratik 
ini, kader-kader partai menggunakan isu-isu social ekonomi untuk menjelaskan 
isu-isu demokratik: kekebasan pers, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, 
dll. Menggemakan apa yang dilakukan Marx di tahun 1848, Lenin percaya bahwa 
hanya kelas pekerjalah satu-satunya kekuatan yang mampu memperjuangkan 
demokrasi sampai tuntas. Faksi-faksi progresif borjuasi dan kelas menengah 
adalah kelompok yang rentan goyah, karena mereka tidak hendak memberi demokrasi 
sepenuhnya pada kelas pekerja. Bahkan, karena situasi khusus kesejarahan Rusia, 
Lenin mengatakan bahwa beban demokratisasi Rusia harus dipanggul oleh kelas 
pekerja. Namun, bersetia dengan watak dialektik dari perjuangan kelas, Lenin 
juga mengatakan bahwa, sebagai bagian dari kerja harian (hanya dalam tataran 
taktis, sementara dan dalam isu tertentu) kelas pekerja harus memberi dukungan 
pada borjuasi progresif untuk melawan borjuasi reaksioner. Dukungan ini 
diberikan TANPA mengharapkan balasan atau kompromi, dan dalam kebebasan 
sepenuhnya untuk terus menghajar borjuasi progresif dalam isu lainnya. Inilah 
TUGAS DEMOKRATIK kelas pekerja. Yang dipahami benar oleh Lenin, sehingga dia 
memerintahkan partainya untuk berada di garda depan ketika Jenderal Kornilov 
hendak menggulingkan pemerintah sementara pimpinan Kerensky di bulan Agustus 
1917—padahal Kerensky telah melakukan begitu banyak penangkapan dan pembunuhan 
terhadap kader Bolsheviks, sejak dia berkuasa pasca Revolusi Oktober. Demikian 
juga Mao Tse Tung mengadakan gencatan senjata sepihak, lalu beraliansi dengan 
Chiang Kai Sek, demi mengusir fasis Jepang dari tanah Tiongkok. Padahal seluruh 
badan Chiang Kai Sek, sampai ke bulu-bulunya, bersimbah darah kader partai 
komunis. Mao sendiri nyaris gugur apabila dia telat 10 menit saja untuk 
meloloskan diri. I AM GROOT! Inilah Tugas Demokratik yang dipahami sempurna 
oleh dua pemimpin besar kelas pekerja ini. (Edit: Kerensky berkuasa sejak 
Revolusi Februari 1917, bukan Revolusi Oktober. Maap.)Dan, untuk memberi contoh 
negative, kita cukup menengok kembali penolakan KPD (Partai Komunis Jerman) 
untuk bersekutu dengan SPD (Partai Sosdem Jerman) demi membendung naiknya 
Hitler. KPD dengan ngawur menunjuk semua pihak yang berada di kanan mereka, 
dalam spectrum politik, sebagai fasis: NAZI sebagai fasis borjuis, SPD sebagai 
fasis social, dll dsb. SPD memang telah mengkhianati rakyat pekerja dengan 
menerapkan kebijakan pengetatan ekonomi—yang sangat memukul kelas pekerja dan 
mendorong banyak orang ke pelukan NAZI. Namun, NAZI adalah bahaya yang lebih 
besar daripada SPD, sehingga KPD seharusnya menyisihkan dulu pertikaiannya 
dengan SPD demi membendung Hitler. Akibatnya, KPD adalah yang pertama 
dihancurkan oleh Hitler dan tidak bisa bangun lagi sampai sekarang. Itu dulu. 
Mudah-mudahan uraian serba ringkas ini bisa memicu keingintahuan lebih sehingga 
diskusinya bergulir. Kita kembali ke tulisan-tulisan yang harus dibedah.
Empat
Tulisan ketiga yang harus kita bahas adalah karya Azhar Irfansyah dan Muhammad 
Azka Fahriza, di situs Islam Bergerak, yang berjudul Mendudukkan Kembali 
Prasangka Negatif atas Gerakan Islam. Tulisan ini lebih sulit dibahas, justru 
karena kita belum pernah secara serius memperbincangkan kedudukan agama dalam 
perjuangan kelas, baik dalam kerangka tugas social-demokratik ataupun dalam 
tugas politiknya. Aku pernah bingung, kenapa Marx memilih kata “candu bagi 
rakyat” (das Opium des Volkes) untuk menggambarkan agama. Seakan-akan Marx 
adalah orang yang tidak punya kepekaan politik, masa dia tidak tahu bahwa 
“ayat” ini akan dipelintir oleh musuh-musuh gerakan rakyat? Ternyata, menimbang 
konteks sejarahnya, juga keseluruhan tulisan di mana “ayat” itu termaktub, 
pemilihan kata “opium” itu sangat tepat. Jadi begini: opium itu dalam kadar 
tertentu adalah obat. Ia dapat meredakan rasa sakit, ia bahkan dapat 
menyembuhkan sama sekali beberapa penyakit. Di samping itu, para seniman secara 
regular menggunakan opium sebagai sumber inspirasi. Marx sendiri adalah 
pengguna opium. Dia menggunakan opium agar dapat terus bekerja menulis Das 
Kapital. Opium memberinya kejelasan pikiran, imajinasi dan visi 
besarnya.Perumpamaan agama sebagai “candu bagi rakyat” adalah pengungkapan 
watak kontradiktif agama. Di satu sisi, agama adalah suara rakyat yang ditindas 
dan ekspresi keinginan untuk bebas dari penindasan. Di sisi lain, agama 
digunakan oleh kelas berkuasa untuk meninabobokan massa rakyat agar lupa pada 
penindasan yang dialaminya. Nampaknya, tulisan ini mengarah ke sisi pertama, 
yakni satu upaya untuk menggali sisi emansipatoris dari sebuah agama. 
Mudah-mudahan dugaan ini benar, dan Islam dapat menjadi sekutu gerakan rakyat 
dalam meraih keadilan dan demokrasi. Namun demikian, watak kontradiktif agama 
tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam serikat buruh, setiap orang 
(setidaknya dalam prinsip) memiliki hak yang sama untuk memimpin dan dipimpin. 
Demikian pula dengan serikat-serikat lain, baik kaum miskin kota, perempuan, 
atau lainnya. Tiap rujukan tekstual dapat diperdebatkan makna dan tafsir 
kontemporernya. Bisakah ini terjadi di dalam kelompok Islam politik? Inilah 
pertanyaan utama ketika orang mengusung identitas agama untuk berpolitik: 
bisakah demokrasi internal diterapkan (setidaknya secara prinsip) dari atas 
sampai ke bawah? Bisakah tafsir diperdebatkan oleh rank and file? Kita tahu, 
mustahil menerapkan demokrasi 100%; kapasitas kepemimpinan dan intelektual 
harus dibangun sebelum demokrasi bisa mencapai kedewasaan. Namun, secara 
prinsip, secara konstitusional, hak untuk setara dalam kesempatan memimpin dan 
dipimpin, serta untuk mempertanyakan dan menggugat keputusan (=tafsir) pemimpin 
harus dijamin. Bisakah ini berlangsung dalam sebuah organisasi yang menggunakan 
agama sebagai identitas politik?
Lima
 Tulisan keempat… sebenarnya aku sudah capek. Tapi kita sekarang ada di 
persimpangan jalan. Yang satu mengarah ke rimba lebat, yang satu lagi mengarah 
ke padang rumput luas. Keduanya mengandung bahayanya sendiri tapi dulu, dulu 
sekali, nenek-moyang manusia memilih keluar dari hutan dan memasuki padang 
rumput. Sebagai konsekuensi pilihan itu, mereka berevolusi menjadi manusia. 
Sekian banyak tulisan yang harus dibahas ini menunjukkan keengganan untuk 
meninggalkan hutan, memiih bergelayutan daripada berjalan tegak. Karena nyaman. 
Aku menunggu orang lain untuk mengingatkan, dan tidak ada yang muncul. Jadi… 
sehabis curhat colongan ini….Tulisan keempat berasal dari Iqra Anugrah dan 
Fathimah Fildzah Izzati, yang berjudul Aksi Massa dalam Perspektif Islam 
Progresif. Pertama kali membaca tulisan ini, aku senang. Akhirnya ada tulisan 
yang cukup dalam membahas gejala yang ada di depan mata. Sayangnya, begitu aku 
menamatkan baca, aku malah merasa tidak puas. Berkali-kali aku baca tulisan itu 
untuk menemukan sumber ketidakpuasanku. Dan, setelah lebih dari sepuluh kali 
baca, aku menemukan setidaknya dua masalah dalam tulisan ini. 1) Penggolongan 
FPI, HTI, dll sebagai “sectarian”. Istilah ini terlalu umum. Semua kelompok 
yang memandang dirinya sebagai paling benar, dan menolak bergaul dengan 
kelompok lain yang dia pandang hina, adalah sectarian. Tapi tidak semua 
sectarian berbahaya bagi demokrasi. Kita kenal, dari Islam sendiri, ada 
Ahmadiyah atau Darul Arqam, yang sangat sectarian. Tapi mereka tidak berbahaya 
bagi demokrasi. Mereka mengurusi dirinya sendiri, dan puas dengan versi mereka 
sendiri tentang kebenaran. Ini sangat berbeda dengan FPI, HTI dan sejenisnya. 
Mereka agresif menyebarkan versi mereka tentang kebenaran, lewat represi dan 
supresi terhadap siapapun yang berani menentang mereka.Pembedaan ini penting, 
karena tindakan politik yang dibutuhkan untuk menangani ideologi sectarian 
berbeda dengan yang dibutuhkan untuk melawan ideologi kebencian. Tulisan ini, 
di bagian akhir, mengakui bahwa FPI berwatak fundamentalis-vigilantis. Namun, 
karena terlambat datangnya pengakuan ini, tidak ada uraian yang memadai 
mengenainya. Pada gilirannya, anjuran yang dibuat juga tidak lengkap. 
Menghadapi ideologi sectarian, kita perlu merangkul. Kita perlu membangun 
dialog, agar mereka membuka selubung yang memagari cara pandang mereka; 
mendorong mereka membuka diri, sekaligus melatih semua orang lain untuk 
menerima mereka. Ideologi kebencian tidak bisa hanya dirangkul. Ia harus juga 
dibentur. Tidak ada ceritanya, dari catatan sejarah dunia selama berabad-abad, 
bahwa kebencian bisa dilunakkan hanya dengan cinta. Kebencian harus dikalahkan 
terlebih dahulu; setelah tulang punggung mereka lumpuh, baru kita ulurkan 
tangan dan kita sentuh dengan kasih dan logika. Tapi, sebelum kebencian 
dikalahkan, logika sebagus apapun atau kasih setulus apapun akan memantul saja 
pada perisai ideologi mereka yang kebal akal sehat. ((Catatan: Aku tidak setuju 
dengan istilah fundamentalis-vigilantis, aku berpendapat mereka bukan sekedar 
preman bayaran melainkan ideologis. Sehingga kesimpulanku adalah: mereka ini 
fasis-klergi. Tapi mari kita cari data lebih jauh untuk memastikan mana 
kategorisasi yang lebih tepat.))2) Persoalan lain terletak pada uraian tentang 
kontradiksi, di mana dinyatakan bahwa “antagonisme sosial hanya terjadi akibat 
pertentangan kepentingan antara kelas yang menindas dan kelas yang ditindas.” 
Secara umum, ini benar. Namun, kita juga musti ingat bahwa di dalam tiap 
keumuman ada kekhususan. Mao Zedong-lah yang menguraikan soal kekhususan 
kontradiksi ini secara terperinci. Di dalam pertentangan antara kelas penindas 
dan kelas tertindas ada pertarungan antara borjuasi “bersih” dengan borjuasi 
korup, pertarungan antara metode akumulasi modern dengan akumulasi rente, 
pertarungan antar pekerja untuk mengisi lowongan pekerjaan, pertarungan antara 
kaum perempuan yang menginginkan emansipasi dengan laki-laki patriarkis, bahkan 
pertarungan rebutan basis antar dua serikat buruh.Seringkali, kontradiksi yang 
non-pokok ini bersifat dangkal dan tidak penting tapi terjadi secara 
antagonistic—menimbulkan rasa permusuhan yang mendalam di antara kubu-kubu yang 
bertarung. Jakmania kontra Viking, atau OI vs Punk adalah contoh yang baik 
untuk kontradiksi yang tak penting ini. Walau tidak penting, kontradiksi ini 
nyata ada. Sekali waktu, di antara kontradiksi non-pokok ini muncul pertikaian 
yang penting. Kita lihat bagaimana borjuasi lama, yang akumulasinya terutama 
berdasarkan rente, bertarung dengan borjuasi yang baru naik, yang akumulasinya 
berdasarkan rejim infrastruktur. Keduanya adalah penindas. Kita harus berbuat 
apa? Duduk saja di pinggir lapangan menunggu siapa yang akan menang? Atau kita 
harus memilih mana faksi yang lebih berbahaya dan menyingkirkannya dulu?Sekian 
banyak pertanyaan mungkin tidak relevan untuk diajukan sekaligus. Hanya saja, 
pada hematku, perkenalan terhadap kompleksitas kontradiksi seharusnya dilakukan 
sedini mungkin. Ini untuk mencegah pemahaman yang one-sided, mencegah orang 
melihat kontradiksi dengan kacamata kuda dan, yang terpenting, mencegah orang 
agar tidak berusaha memecahkan kontradiksi dengan memakai template. 3) Poin 
ketiga mirip dengan poin pertama di atas: apa yang dinyatakan di badan tulisan 
berbeda dengan yang dinyatakan di bagian akhirnya. Di badan tulisan dinyatakan 
bahwa Islam Politik didominasi oleh aspek habluminallah, hanya menyisakan 
sedikit ruang bagi habluminannas. Sementara di bagian akhir justru dinyatakan 
bahwa kita harus menggerus narasi “keadilan social semu” yang kini mendominasi 
Islam Politik. Aku jadi sempat berspekulasi bahwa tulisan ini dibagi dua, 
dengan bagian awal dan akhir ditulis oleh orang yang berbeda—sehingga ada 
ketidaksepakatan mengenai kategorisasi yang dipergunakan. Aku bersepakat dengan 
apa yang dinyatakan di bagian akhir, dengan catatan. Dari apa yang aku lihat, 
kelompok fundamentalis bisa mendominasi wacana Islam Politik saat ini karena ia 
menyajikan sebuah cara pandang atas dunia yang komprehensif. Tidak selalu 
konsisten, banyak dangkal dan ngawur, tapi menyentuh nyaris semua aspek 
kehidupan. Dari mulai cara berpakaian sampai tata-cara ML, dari mulai pemisahan 
tempat duduk saat kuliah sampai doa setelah kencing, semua diatur lewat aturan 
moral yang ketat. Kita seringkali mengernyit mendengar “pengaturan moral”. 
Namun, analisis materialis sekalipun akan setuju bahwa moral adalah bagian 
integral dari sebuah struktur social masyarakat. Moralitas adalah pranata 
social bagi masyarakat untuk mengejawantahkan cara pandangnya atas dunia. Tanpa 
moralitas, tatanan social akan runtuh. Identifikasi mengenai watak narasi yang 
dikembangkan oleh kelompok fundamentalis-vigilantis ini penting karena kita 
harus menandinginya. Apabila identifikasinya tepat, maka adu narasi tidak akan 
menggoyahkan posisi ideologis anggota mereka. Yang kita butuhkan adalah 
pertarungan pembentukan moral baru—moral yang berkeadilan, moral demokratis, 
moral anti-penindasan dan kediktatoran. Seperti apa wujudnya? Mari kita 
bicarakan. Dan dalam hal ini, Islam Bergerak ada dalam posisi yang 
menguntungkan untuk bicara soal moral. Bisakah kita membuat pembahasan khusus 
mengenai “moral pembebasan” dari sudut pandang Islam?
Enam
Setelah dirangkumkan, kegamangan dalam menempatkan kelompok sayap kanan secara 
tepat dalam konstelasi politik berakibat kurang tajamnya kesimpulan mengenai 
TUGAS DEMOKRATIK yang harus diemban oleh Islam progresif. Tulisan ini tidak 
berani secara tegas mengatakan bahwa fundamentalisme sayap kanan ini harus 
dihancurkan. Tulisan ini juga tidak sampai pada seruan yang, pada hematku, akan 
memberi Islam progresif kesempatan memberi sumbangan tak ternilai pada gerakan 
kelas: pembangunan struktur moral pembebasan. Dan, setelah empat tulisan, kita 
ternyata selalu kembali pada tema pokok: lenyapnya TUGAS DEMOKRATIK dari 
Analisa Kelas yang kita lakukan. Analisis kelas kita masih tajam, malah makin 
kaya dengan data. Sayangnya, justru ada komponen yang lenyap. Analisis kelas 
itu jadi timpang, tertatih-tatih terseret ke pinggir jurang EKONOMISME. Kita 
semua mengejar kesejahteraan. Yang perlu kita lakukan adalah ingat bahwa 
DIALEKTIKA mendiktekan bahwa segala sesuatu yang didorong ke titik ekstrim, 
atau diperlakukan secara sepihak, akan berbalik kualitasnya. Mendorong 
perjuangan social ekonomi tanpa menunaikan tugas demokratik, adalah resep pasti 
menuju bencana. 
Tujuh-1
Di bagian terakhir ini, aku mau bandingkan dua pernyataan sikap mengenai 
pemboman gereja Oikomene Samarinda, yang dikeluarkan oleh KPRI dan KPO-PRP, dua 
dari beberapa organisasi yang mengaku sebagai representasi dari politik kelas 
di Indonesia. Pertama kita bedah dulu pernyataan sikap KPRI, sebuah organisasi 
kelas yang telah melahirkan banyak konsep dan tengah mempersiapkan pembangunan 
satu partai politik berbasis kelas. Pernyataan sikap yang dimuat di website 
KPRI ini berjudul Mengutuk Keras Tindakan Peledakan Bom Molotov di Gereja 
Oikumene, Samarinda.Pertama-tama, rasanya tidak akan ada orang yang mengaku 
kiri tapi menolak pernyataan bahwa vigilantisme adalah alat kelas berkuasa 
untuk memuluskan program politik dan ekonomi mereka. Maaf, kalimatnya panjang. 
Panjangnya kalimat ini adalah alat bantu, untuk menekankan: betapa sulitnya 
bagi massa rakyat untuk menerima kebenaran pernyataan itu. Bukan sekedar 
panjangnya kalimat, massa yang melihat FPI sebagai “pembela agama” akan 
serta-merta menolak pernyataan bernada buruk tentang organisasi idola mereka. 
Kita perlu fakta. Dan, sejauh aku tahu, belum ada satu basis data nasional yang 
mendokumentasikan peran FPI, atau organisasi sejenis, dalam perampasan tanah 
rakyat, dalam penyerangan terhadap serikat buruh, atau pelanggaran hak rakyat 
lainnya. Datanya ada, terserak. Sebagai gerakan yang mendapuk diri sebagai 
“ilmiah”, basis data sangatlah penting. Pertama dan terutama adalah untuk 
mempertanggungjawabkan pernyataan kita sendiri. Selanjutnya adalah untuk 
meyakinkan orang-orang baik yang selama ini dibodohi pakai tampilan religius. 
Tentu kita tidak dapat menjangkau “steel hardened cadres”, yang sudah mematikan 
akal-budi mereka lewat kebencian. Tapi banyak orang baik, yang hanya tersesat 
karena tidak ada fakta tandingan untuk meruntuhkan hoax yang selama ini mereka 
makan melalui grup WA, media social, pengajian, obrolan di posyandu, dll. 
Kedua, pernyataan “Mengutuk keras berbagai tindakan teror dan kekerasan yang 
dilakukan oleh siapapun dan atas nama apapun (cetak miring dariku)”, bagiku, 
adalah pernyataan yang bermasalah. Apakah sudah ada kesepakatan ideologis bahwa 
gerakan kelas pekerja akan menjadi gerakan ala Gandhi? Gandhi sekalipun 
menyatakan “jika saya harus memilih antara menjadi pengecut atau melakukan 
kekerasan, saya akan memilih melakukan kekerasan.” Menjadi korban kekerasan itu 
menjatuhkan moral. Traumatik. Sampai sekarang pun aku senantiasa dihantui 
bayangan penyiksaan yang kualami selama dalam penahanan intelijen, pasca 27 
Juli 1996. Kenangan itu kini ada di pojok benak, tapi ia selalu kembali ketika 
melihat terjadinya kekerasan. Namun, bukan kekerasannya semata yang memunculkan 
trauma, tapi kenyataan bahwa kita tidak berdaya di hadapan kekerasan. Kita 
tidak bisa balas menyerang. Rasa tidak berdaya ini, menurut hematku, 
menghasilkan persekutuan antara buruh dengan fundamentalis—sebagaimana aku 
jabarkan di bagian berikutnya. Bolehkah gerakan kelas pekerja melakukan 
kekerasan, sedikitnya secara defensif? Ini pertanyaan yang butuh perdebatan 
panjang dan lama; yang tidak akan selesai-selesai karena tidak pernah kita 
mulai. Kedua masalah yang aku jabarkan di atas adalah bagian dari TUGAS 
DEMOKRATIK. Kita harus mengulurkan tangan menyelamatkan saudara-saudara kita, 
terutama di kalangan gerakan rakyat pekerja sendiri, yang mungkin termakan oleh 
propaganda kebencian. Pada mereka, haram bagi kita untuk memperlakukan mereka 
sebagai orang bodoh atau gila. Mereka tersesat, hanya itu, dan tugas organisasi 
kelas pekerja untuk menyelamatkan mereka. Di pihak lain, kita harus mencegah 
terjadinya demoralisasi di tengah serikat-serikat karena terus-menerus jadi 
korban kekerasan tanpa bisa melawan balik. Orang trauma mudah terseret ke dalam 
kebencian. Kita harus bicara serius mengenai filsafat dan prinsip ideologis 
mengenai penggunaan kekerasan—karena yang kita hadapi adalah kekuatan 
reaksioner yang tidak berpikir dua kali sebelum menggunakan kekerasan. 
Tujuh-2
KPO-PRP, di lain pihak, tidak mengeluarkan pernyataan sikap nasional—hanya ada 
satu tulisan di kolom Perspektif dalam bulletin Arah Juang di website 
mereka—yang berjudul Lawan Politik Rasis Dengan Politik Sosialis. Sepintas, 
tulisan ini sangat tajam menganalisa persoalan rasisme dan fundamentalisme di 
Indonesia. Solusi yang diajukan juga terbaca sangat revolusioner dan 
“politically correct”. Sampai kita menyadari bahwa tulisan ini adalah persis 
template dari solusi Trotsky untuk menghadapi Fasis Jerman. Karena ditulis 
mengikuti resep, tulisan ini abai mengidentifikasi agensi. Siapa yang akan 
“melancarkan mobilisasi massa untuk mempertahankan diskusi, seminar, 
ruang-ruang demokrasi serta tempat-tempat ibadah yang diserang”? Pada 
kenyataannya, rumah-rumah ibadah minoritas saat ini sudah banyak dijaga oleh GP 
ANSOR, sayap paramiliter dari NU. Kemampuan menggerakan kekuatan pemukul, yang 
sanggup melakukan kekerasan di mana perlu, adalah syarat untuk dapat secara 
efektif menjaga diri dari serangan. Dan, mari kita bersikap objektif. Sudah 
berapa kali serikat buruh di Indonesia melakukan mobilisasi untuk membela 
kepentingan kelompok lain? Yang kumaksud bukan aksi solidaritas, atau 
partisipasi dalam Hari Tani/Hari Nelayan/Hari Pendidikan Nasional; melainkan 
benar-benar mobilisasi untuk ikut berjaga dalam mencegah penggusuran, untuk 
mengepung kampus tertentu agar seorang aktivis tidak jadi di-DO, atau untuk 
membela hak LGBT? Aku tidak dapat menghitungnya, karena aku tidak pernah dengar 
tentang ini. Tapi mungkin aku salah. I AM GROOT! Bagaimana mungkin kelas 
pekerja bisa ujug-ujug melakukan mobilisasi demi membela kebebasan beragama, 
ketika ia tidak pernah dilatih untuk mempraktekkan kepedulian pada isu selain 
upah dan persoalan pabrik? Apalagi tulisan KPO-PRP ini hanya bersifat 
“perspektif”, bukan pernyataan sikap—apalagi instruksi. Tulisan ini juga abai 
membahas satu fenomena yang berkembang di beberapa basis serikat buruh. Aku 
belum tahu apakah ini adalah gejala umum, atau secara khusus hanya berlaku di 
serikat tertentu di wilayah geopolitik Jabodetabek: terjalinnya persekutuan 
antara gerakan buruh dengan premanisme. Aku memahami latar belakang gejala ini: 
serikat buruh seringkali berhadapan dengan represi perusahaan yang menggunakan 
preman untuk mengintimidasi buruh, atau bahkan dari komandan-komandan keamanan 
setempat. Untuk meringankan represi, serikat buruh mendekati para pemimpin 
preman lokal, menjalin kedekatan kultural agar mereka tidak terlalu galak 
ketika disewa perusahaan untuk mengintimidasi buruh. Tapi di beberapa tempat, 
serikat buruh mengambil langkah mendekati preman berjubah—dengan harapan preman 
berjubah ini dapat menangkal ancaman preman local. Jika gejala ini terbukti 
sebagai sebuah gejala nasional, bagaimana kita harapkan serikat buruh bisa jadi 
garda depan melawan kekuatan fundamentalis yang, harap digarisbawahi, banyak 
merekrut preman sebagai pemukul utamanya?Dan di sanalah kita dapati kemunculan 
sebuah kepala yang bertanduk dan bermuka jelek: tidak sejalannya teori dan 
praktek. Teori revolusioner ndakik-ndakik, tapi tidak dipraktekkan. Aku 
berusaha objektif dan melihat bahwa ini kesalahan semua orang—termasuk aku 
sendiri—di mana kita tidak pernah cukup berusaha untuk menjembatani teori dan 
praktek melalui operable concept. Pada prakteknya, operable concept seringkali 
diturunkan lagi dalam bentuk framework sebelum bisa dioperasikan dalam uji 
coba. Jika sebuah framework memberi hasil baik dalam uji coba, ia boleh 
dijadikan prosedur standar. Sampai hari ini, organisasi politik kelas punya 
banyak teori hebat tapi prakteknya dangkal dan ekonomis. Tapi aku masih memberi 
poin pada KPO-PRP. Setidaknya mereka tidak secara terbuka menganjurkan agar 
serikat buruh tidak ikut campur dalam “politik elit”. Sebagai kalangan yang 
mengaku memeluk filsafat ilmiah sebagai pegangan hidup, kita seharusnya malu 
karena tidak pernah menghasilkan telaah yang operasional untuk kekhususan 
Indonesia. Ada begitu banyak dokumen MIRI, yang pada dasarnya sama dengan 
perspektif KPO-PRP ini: menyalin resep tradisional nenek-moyang. I AM GROOT! 
Tidak heran gerakan kiri terus mengalami kemunduran pasca 1998. 
Penutup
Aku kira aku sudah cukup perlihatkan bagaimana gerakan kelas pekerja lalai 
mengikutkan TUGAS DEMOKRATIK dalam Analisa Ekonomi-Politik maupun Panduan 
Prakteknya. Aku menyerukan agar kita balikkan arah pendulum, agar kita semua 
bersedia belajar lagi. Belajar lagi berarti mengosongkan cawan, kembali menjadi 
murid, dan berusaha memahami TUGAS DEMOKRATIK kelas pekerja dengan rasa ingin 
tahu dan kegembiraan seorang murid yang tengah menimba ilmu maha kaya. I AM 
GROOT! Jakarta, 18 November 2016

Kirim email ke