Read 8414 times | Diposting pada Rabu, 13 Januari 2010 00:00

Koes Plus: Dari Penjara Menjadi Legenda

Oleh:
ADDRESS:
Dandhy Dwi Laksono
   
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
 Feature5 min read
  
|  
|   |  
Koes Plus: Dari Penjara Menjadi Legenda
 By dandhy dwi laksono nukilan buku biografi Koes Plus mengisahkan perjalanan 
Koes Plus dari penjara di masa Orde Lama hingga menjadi l...  |  |

  |

 
   
Sumber Foto: Ist. Pengantar Redaksi: tulisan ini adalah nukilan salah satu bab 
di bakal buku biografi Koes Plus yang sedang dikerjakan penulis dan beberapa 
rekan. Judul tulisan ini  juga bukan judul sebenarnya. Buku yang tengah ditulis 
itu juga bercerita tentang operasi kontra-intelijen yang melibatkan Koes Plus, 
baik selama kampanye Ganyang Malaysia maupun di Timor Timur.Bung Karno ditahan 
di penjara Banceuy di dalam sel 1 x 1,7 meter. Koes Bersaudara menghuni sel 
isolasi 2 x 2 meter. Dan Ayin...?***Ketika sebelum proklamasi, Sukarno 
berorasi, “beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”, jelaslah 
bahwa empat orang di antaranya bukan dari jenis anak-anak pasangan Koeswojo dan 
Atmini. Khusus kepada Tony, Nomo, Yon, dan Yok, Sukarno yang kemudian menjadi 
presiden, menyiapkan pidato tersendiri yang dilontarkannya pada 17 Agustus 1965 
di depan Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia:

“Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu 
Indonesia kenapa mesti Elvis-elvisan?”

Ketika pidato itu diucapkan, keempat anak Koeswojo sudah hampir dua bulan 
mendekam di penjara Glodok (Jakarta) dan menghuni sel nomor 15 bersama tiga 
tahanan lainnya. Mereka ditangkap 29 Juni 1965, setelah menyanyikan lagu The 
Beatles: “I Saw Her Standing There” di rumah seorang kolonel. Di tahun-tahun 
tersebut, barang siapa yang menggandrungi lagu-lagu Barat, dianggap 
kontra-revolusi dan terindikasi terlibat kegiatan subversif yang merong-rong 
budaya nasional.

Hari itu, karena peringatan ulang tahun kemerdekaan, Koes Bersaudara diberi 
jatah keluar sel dan boleh menerima tamu. Yang datang membesuk adalah sang 
adik, Koestami Koeswojo alias Miyik, ditemani personel grup band Dara Puspita 
yang diawaki Susi Nander, Titiek Hamzah, Titiek AR, dan Lies AR. Dara Puspita 
adalah kelompok musik yang sama-sama menggandrungi The Beatles, meski 
belakangan lebih memilih “taat hukum” dan berhenti memainkan tembang-tembang 
band asal Liverpool itu. 

Sebagai selebritas, Tony, Nomo, Yon, dan Yok memang tak kurang pembesuk. Selain 
empat saudara kandungnya (Jon, Din, Miyik, dan Ninuk), para fans dan pacar juga 
datang silih berganti membawa aneka makanan. Apalagi saat itu mereka sudah tak 
lagi menghuni ruang isolasi seluas 2 x 2 meter. Ukurannya memang sedikit lebih 
besar dibanding sel Bung Karno di penjara Banceuy (Bandung) yang hanya 1 x 1,7 
meter saat menulis “Indonesia Menggugat” pada 1930. Tapi mereka harus 
berdesakan empat orang dan hanya ditemani tikar, dengan jeruji besi ukuran 
besar. Belakangan, keempatnya dipindahkan ke ruangan yang lebih luas, bersama 
tiga tahanan lainnya: Saleh yang ditahan karena korupsi, serta Atun dan Rahin 
yang terlibat kasus pembunuhan. 

Meski begitu, tak seujung rambut pun mereka menyentuh para personel Koes 
Bersaudara. Tony dan adik-adiknya bahkan bersahabat baik dengan Om Yopie, 
seorang tahanan senior yang nama aslinya Tan Sio Gie alias Hartanto. Dibui 
karena membunuh seorang polisi! 

“Ya, kami waktu itu memang selebritis. Waktu Koes Bersaudara dimasukin situ, 
orang-orang pada teriak ‘hidup Koes Bersaudara! Hidup Koes Bersaudara!’ 
hahaha...” kenang Yon Koeswojo, sang vokalis.

Selain statusnya sebagai pesohor, salah satu kunci keselamatan mereka di dalam 
penjara karena hampir setiap malam, mereka menghibur para narapidana dengan 
lagu-lagu merdu, termasuk syair-syair gereja yang menyentuh dan membuat 
trenyuh. Para sipir pun menghargai dan senang dengan keberadaan mereka di sana, 
yang membantu mengurangi ketegangan atmosfir penjara.

“Di dalam tahanan, saya menemui manusia-manusia yang berjiwa paling besar. 
Terhukum yang rata-rata adalah sahabat-sahabat setia. Ketika kami dibebaskan, 
ada beberapa penjahat kaliber berat yang mencucurkan airmata. Sungguh 
mengejutkan. Mereka betul-betul merasa kehilangan kami,” kata almarhum Tony 
Koeswojo dalam sebuah wawancara dengan Ekspres, 4 Oktober 1971.

Yang dimaksud Tony sebagai “penjahat kaliber berat” itu tak lain adalah Om 
Yopie yang saat itu berperan sebagai voorman, yakni napi senior (dan biasanya 
paling ditakuti), yang dipercaya menjaga keamanan bui. Tony pun mencipta sebuah 
lagu untuk sang “Voorman” :

Voorman jangan dulu kunci kamarku
Tunggu sebentar permintaanku
Kan kupetik bunga biru

Sebulan sebelum pidato “Elvis-elvisan” Bung Karno yang menyindir Koes 
Bersaudara, surat kabar Harian Rakjat, Minggu 18 Juli 1965, sudah memuat 
karikatur bergambar empat personel The Beatles yang berpakaian Inggris lengkap 
dengan dasi kupu-kupu. Mereka diilustrasikan sedang berjingkrak-jingkrak. Di 
atas karikatur itu, ada gambar piringan hitam bertuliskan “Kabir Manikebu” yang 
retak akibat pukulan tangan yang bertulis “Komdak VII/Djaya”. 

“Kabir Manikebu” adalah akronim dari Kapitalis Birokrat - Manifesto Kebudayaan. 
Istilah pertama adalah julukan yang disematkan kaum Kiri pada lawan-lawan 
ideologis mereka, sementara Manikebu adalah kelompok budayawan, sastrawan, dan 
cendikiawan yang berseberangan paham dengan kelompok komunis. Istilah 
“manikebu” sendiri adalah akronim olok-olok yang diambil dari “mani kebo” alias 
sperma kerbau. Dan karikatur empat personel Beatles itu sepertinya juga 
ditujukan untuk mengolok-olok empat anak lelaki Koeswojo yang meringkuk di 
Glodok. 

Sebulan pertama di tahanan, tak henti-hentinya Tony dan ketiga adiknya 
diinterogasi tentang berbagai hal seputar kenekatannya mendendangkan lagu-lagu 
Beatles di panggung-panggung terbuka. Tapi karena jawaban yang mereka berikan 
tetap sama—karena suka dan diminta para penonton, alias tak ada alasan 
politis—maka interogasi pun dihentikan. 

Aturan hukum yang mereka langgar adalah Penetapan Presiden Nomor 11/1963 yang 
melarang musik-musik cengeng atau berbau Barat, dinyanyikan. Alasannya, 
lagu-lagu seperti milik Elvis Presley atau The Beatles tidak menunjukkan 
karakter budaya Indonesia, mengajarkan hura-hura, kontra-revolusi, dan 
merupakan produk negara Barat seperti Inggris dan Amerika yang dibenci Presiden 
Sukarno karena mendukung terbentuknya negara Malaysia. Padahal, Sukarno sendiri 
sedang menggelorakan Komando Ganjang Malaysia, dan menganggap pembentukan 
negara tersebut adalah proyek perpanjangan tangan kapitalisme dan imperialisme 
global di Asia. Istilah sangarnya neokolim alias neo-kolonialisme.

Dus, judul Penetapan Presiden 11/1963 itu sendiri sebenarnya jauh lebih seram: 
Pemberantasan Kegiatan Subversi, yang juga diteken Sekretaris Negara, Mohammad 
Ichsan pada 16 Oktober 1963. Tentu saja di antara 20 pasal itu tak disebut 
secara gamblang tentang larangan menyanyikan lagu-lagu John Lennon atau Elvis 
Presley. Tapi di bagian Penjelasan, dinyatakan bahwa strategi, taktik, dan 
teknik kegiatan subversi itu “banyak dan beraneka ragam serta berubah dengan 
tipe perkembangan”. 

Lalu muncullah rincian tentang apa-apa saja yang dapat dikategorikan sebagai 
“teknik kegiatan subversi”, seperti: (1) operasi psikologis lewat desas-desus, 
pamflet, surat kabar; (2) pengacauan ekonomi; (3) pengacauan politik; hingga; 
(4) kebudayaan, yaitu memasukkan pengaruh-pengaruh kebudayaan asing untuk 
merusakkan kepribadian bangsa melalui kesenian.

Tak cukup dengan itu, Presiden Sukarno juga mengeluarkan Instruksi Presiden 
yang memerintahkan segenap komponen bangsa untuk kembali ke kepribadian dan 
budaya nasional, menyusul pidatonya yang menggelegar pada 17 Agustus 1964 yang 
tersohor dengan judul Tavip: Tahun Vivere Pericoloso alias nyerempet-nyerempet 
bahaya. Saking seriusnya dengan urusan kebudayaan asing ini, dibentuklah 
panitia khusus yang terdiri dari Oei Tjoe Tat, Adam Malik, dan Mayor Jendral 
Achmadi pada 22 September 1964 (Majalah Pantau, 21 Oktober 2001). Tugasnya 
menyusun rekomendasi langkah-langkah yang perlu diambil Presiden untuk 
mengatasi apa yang dianggap sebagai dekadensi moral dan budaya, terutama di 
kalangan generasi muda. Warga negara yang masih mendengarkan atau memainkan 
musik-musik ngak ngik ngok harus ditindak oleh polisi. 

Ngak ngik ngok?

Sudah pasti itu istilah ciptaan Bung Karno, yang pertama kali diucapkan secara 
resmi dalam pidato kenegaraan peringatan proklamasi 17 Agustus 1959. Setelah 
mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli tahun yang sama, Sukarno mencanangkan tahun 
itu sebagai tahun “penemuan kembali revolusi kita” dan lalu memperkenalkan 
konsep Manipol-USDEK (Manifesto Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, 
Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia).

“Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi; engkau jang tentunja 
anti-imprialisme ekonomi, engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di 
kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di 
kalangan engkau banjak jang masih rock ‘n roll - rock‘n rollan, dansi-dansian 
ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain 
sebagainja lagi? Kenapa di kalangan engkau banjak jang gemar membatja 
tulisan-tulisan dari luaran, jang njata itu adalah imprialisme kebudajaan?”

Tahun itu The Beatles memang belum lahir. John Lennon baru merintis melalui 
sebuah kelompok musik yang ia namakan The Quarrymen, di mana James Paul 
McCartney, George Harrison, atau Ringo Starr belum lagi bergabung. Nama The 
Beatles sendiri baru muncul pada Agustus 1960 atau setahun setelah Sukarno 
berpidato. Jadi yang dirujuk oleh pidato “penemuan kembali revolusi kita” itu 
sepertinya lagu-lagu rock ‘n roll angkatan Elvis Presley, Everly Brothers, 
Tommy Sands, atau aliran musik yang di Inggris kala itu dikenal sebagai 
skiffle. 

Saat pidato ngak ngik ngok tahun 1959 itu, Koes Bersaudara juga belum eksis. 
Baru Tony Koeswojo yang jadi “anak band” di sekolahnya lewat kelompok Gita 
Remaja yang ia dirikan bersama teman-temannya. Sementara adik-adiknya seperti 
Nomo, Yon, dan Yok belum bergabung dan lebih sering menonton sang kakak bermain 
musik di rumah. Tapi seruan Bung Karno itu terlanjur bergulir menjadi gerakan 
kebudayaan yang sangat kental nuansa ideologis. Kelompok komunis menyerang 
produk-produk kesenian Barat sembari menonjolkan apa yang mereka sebut sebagai 
kesenian rakyat, sementara kalangan kelas menengah terdidik menolak mengaitkan 
kesenian dengan sentimen politik dan ideologi. Saat Koes dibui, Juni 1965, 
beberapa seniman mendatangi kejaksaan dan meminta penjelasan tentang batasan 
musik dan irama seperti apa yang dibolehkan dan mana yang dilarang. (*)Yon 
Koeswojo: "Kalau kami tidak dipenjara Bung Karno, mungkin sampai sekarang gak 
bisa ngarang lagu, dan hanya nyanyi lagu-lagu Beatles" Di bekas sel Bung Karno, 
di penjara Banceuy (Bandung). Sel ukuran 1 x 1,7 meter tempat Bung Karno 
menulis pledoi "Indonesia Menggugat" di atas kaleng untuk buang air besar. 
Kertas disuplai oleh Inggit Garnasih, dengan cara menyelundupkannya di bawah 
rantang makanan.


Kirim email ke