*Pilpres AS2016:** Virus Manipulasi Hasil Suara ? Investigasi !*


*Salam teman-teman,*


Menjelang Pilpres Amerika, saya menyiapkan suatu analisa  untuk mendukung
Hillary Clinton. Karena masalah teknis laptop dan harus mengetik ulang,
draft itu tidak sempat saya posting sebelum pilpres. Setelah proses pilpres
selesai, saya mengubah memambahkan perspektif mengenai Donald Trump serta
mengungkap kelemahan sistim electronic voting machine. Topik itu saya
siapkan karena merasa  curiga terjadi manipulasi atas proses perhitungan
suara.  Hasil pilpres menunjukkan, bukan hanya suara Trump melebihi
Hillary, tapi selisih perbedaan yang dihasilkan tampak sangat jauh dan
mencolok.

Namun setelah  NSA Chief Admiral Michael Rogers mengumumkan kecurigaan
adanya hacking yang menyimpangkan hasil voting, saya putuskan mempersingkat
waktu agar pandangan saya segera bisa diterima oleh pemerintah Obama, Dewan
Senat, KPU, institusi resmi dan media massa Amerika dan internsional. Untuk
itu, dari draft analisa kompleks yang 80% selesai, saya putuskan melompat
dahulu pada topic yang diperlukan  Amerika saat ini: “ Bagaimana Menyikapi
Hasil Pilpres dengan Hasil Terkesan Janggal“.

A.     *Bertolak Belakang Hasil Polling  = Indikasi Perhitungan Suara Tidak
Wajar *

Dari 2 kandidat yang bersaing, Hillary adalah kandidat dengan karakter dan
kecerdasan yang baik serta mampu mengkomunikasikan program-program berpihak
bagi keluarga, kesamaan hak, kesejahteraan, aliran ekonomi dari bawah ke
atas, dukungan sosial, medis, pendidikan taktis yang murah. Popularitas
Hillary pada masa kampanye lebih unggul dibanding Donald Trump. Apalagi
pasca final debat oleh moderator Chris Wallace, saya dan banyak media massa
semakin memahami jelas kandidat mana yang lebih popular dan  lebih baik.

Saya menilai Donald Trump memiliki tempramen Chlorelis yang didukung
kekuatan uang serta terbiasa memanfaatkan para hax (hacker) asing untuk
mencapai tujuannya. Sifat dan kebiasaan itu bisa menjadi pengaruh yang
mendominasi kebijakan kekuasaan, politik dan ekonomi bangsa lain. Dengan
karakternya sebagai seorang yang memiliki money oriented terlalu kuat serta
beberapa indikasi kejanggalan di Indonesia, saya sempat khawatir jika
kepemimpinan Donald Trump bisa mengancam pertambangan, obyek ekonomi dan
kekuasaan pemerintah negara kami, Indonesia.

Ketika media massa menayangkan hasil voting, seperti banyak pengamat media,
saya merasa heran karena suara Trump unggul jauh dan mengalahkan Hillary
dengan jumlah suara sangat besar. Saat itu saya curiga bahwa terjadinya
 manipulasi suara dalam voting saat itu. Dan keyakinan itu terkonfirmasi
setelah NSA Chief, Laksamana Michael Rogers  menyatakan kecurigaan yang
sama dengan saya. Dari perannya sebagai kepala lembaga pertahanan keamanan
di bidang cyber, saya menduga bahwa NSA telah mendeteksi adanya suatu
perangkat jahat yang telah mempenetrasi (menyusupkan mal-ware/ virus)
melalui intervensi sinyal-sinyal digital yang mempengaruhi dan membelokkan
kinerja program arus informasi dan pengolahan data jaringan computer yang
digunakan saat pilpres.

Tentu, apa yang menurut saya dan para pengamat adalah janggal tidak boleh
dianggap sebagai dasar untuk membatalkan hasil pilpres AS.  Namun
kejanggalan itu adalah suatu indikasi yang merupaan tanggung jawab
pemerintah Obama, Kongres, KPU, FBI, Media Massa, rakyat Amerika untuk
kerja bersama dalam tindakan investigasi sehingga suara rakyat yang baik
dan benar bisa dipastikan sesegera mungkin.

*B.     **Mahalnya Proses Pilpres = Syarat Vital Demokrasi AS*

Electronic  Voting adalah teknologi informasi digital yang diterapkan dalam
pilpres di AS. Perbedaan dengan Indonesia, Pilpres AS tidak menggunakan
kertas suara sama sekali. Semua proses pemungutan suara melalui mesin
voting yang menggunakan layar sentuh (touch screen) sehingga proses
penghitungan hasil  voting oleh jaringan computer berlangsung sangat cepat
dibanding cara manual. Jadi kecepatan serta  kepraktisan merupakan
keunggulan dari e-voting.

Pemilu Inadonesia masih menggunakan cara manual, yaitu dengan kertas
suara.  Metode kertas itu sering dianggap merepotkan  dalam pengadaan,
penyimpanan, dan penghitungan. Selain itu pemilu dengan kertas suara sering
memperlihatkan banyak praktek kecurangan. Laporan kecurangan dimana jumlah
DPT (Pemilih) jauh melebihi banyak KTP (Penduduk) , pencoblosan illegal
yang dilakukan oleh petugas penyelanggara dan pengawas KPU, bahkan Ketua
KPU pernah memerintahkan bawahannya untuk merusak segel dan membongkar
kotak kertas berisi bukti suara tanpa wewenang Mahkamah Konstitusi.

Sementara dalam e-voting di luar negri, belum pernah terdengar terjadinya
kecurangan. Lalu apakah itu berarti e-voting yang belum pernah diberitakan
kecurangannya bisa disebut lebih baik dibanding dengan  seperti pencoblosan
yang dilakukan oleh petugas KPU?

Tidak teridentifikasi, bisa menyebabkan laporan manipulasi e-voting tidak
pernah dilaporkan. Kecurangan dari e-voting dan manual (paper) voting
selalu pasti bisa terjadi. Bagaimanapun tingkat keamanan diterapkan, pasti
bisa ditemukan celah kelemahannya. Perbedaannya, dengan sistim manual,
kecurangan akan lebih mudah diketahui karena keberadaan kertas suara adalah
kasat indera. Sementara data-data digital dari e-voting yang tidak kasat
indera, sangat mudah dan cepat dimanipulasi tanpa meninggalkan jejak fisik.

Hacking atau pembajakan cyber, merupakan suatu kejahatan informatika yang
mampu merusak sistim informasi data digital seperti masuknya spy-ware,
virus, cracking, perusak dan manipulator program dan data. Hal seperti ini
merupakan suatu pekerjaan mudah bagi mereka yang memilik ketrampilan di
bidang itu. Namun sebagai seorang awam dan sebagai pengamat dari luar
Amerika, saya coba pemisalan adanya  seseorang/ suatu tim yang mampu
membuat program yang bisa disampaikan dengan virus yang di program hanya
akan bekerja selama beberapa jam selama proses voting  dan pengolahan data
berlangsung pada tanggal 8 November 2016.  Untuk menghilangkan jejak,
setelah selesai melaksanakan tugas, semua virus akan memusnahkan diri  dan
akan melakukan self-recycling. Misalkan pada jam kerja yang sudah
diprogram,  virus itu akan mengambil 1 suara dari setiap 4 suara bagi
Hillary untuk diubah menjadi 1 suara bagi Trump. Jika ini terjadi, maka
akan terjadi pencurian 25% suara hak Hillary yang dimanipulasi dan
diberikan untuk menambahkan  suara  bagi kemenangan Trump. Jika ini
terjadi, maka Hillary hanya akan menerima 75% dari vote yang sebenarnya
haknya, sementara Trump akan menerima tambahan suara ‘siluman’ sebanyak 25%
vote Hillary yang dicuri oleh Virus Manipulator.

Saya melihat ketidak wajaran hasil pilpres bisa diuraikan dalam kalkulasi
angka. Menjelang pilpres polling sudah menunjukkan Hillary sudah unggul
tipis. Sementara pada final debate yang saya yakin mencelikkan mata bangsa,
media dan pengamat Amerika, seharusnya akan memperlebar perbedaan antara
kedua kandidat. Yang sangat aneh, setelah bangsa Amerika bisa mengenali
mana yang baik dan yang tidak, bagaimana mungkin hasil voting menunjukkan
hasil kebalikan yang demikian telak. Presidential result menunjukkan Trump
memperoleh 290 (56% suara) sementara Hillary hanya 232 (44% suara).
Perbedaan yang sangat mencolok tidak wajar yang sulit dipercaya (istilah
umumnya= diluar dugaan). Namun dengan perhitungan kinerja virus yang saya
misalkan tadi, kebingunan itu kita bisa pahami dengan penjelasan sebagai
berikut.

Misalnya pada polling pasca final debate, dukungan bagi Trump=40% ,
sementara Hillary=60%.

Tingkat kepercayaan yang demikian signifikan dari bangsa AS kepada Hillary
tetap dipertahankan bahkan terus meningkat pada hari Pilpres. Dengan
dukungan sepenuh hati dari Michelle Obama, seperti kepercayaan para
pengamat, posisi Hillary seperti yang dinyatakan polling adalah kuat yang
semakin kuat dan dipercaya akan menang mutlak atas Trump. Namun perhitungan
suara menunjukkan suara Trump=290 dan Hillary= 232, saya dan banyak
pengamat menganggap sebagai kemenangan itu terasa janggal dan tidak wajar.
Tanda tanya itu akan terjawab seandainya dugaan serupa yang saya sampaikan
tadi terjadi. Misalnya benar, Virus Manipulator mencuri 25% suara Hillary
untuk dirubah menjadi suara yang memenangkan Trump. Itu berarti suara bagi
Hillary yang ditampilkan di TV akan berkurang 25% dari  60% suara  menjadi
= 45% suara.

Sementara Trump yang sebenarnya  hanya berhak 40% suara, dengan menerima
suara ‘siluman’ yang dicuri dari Hillary, maka Trump secara tidak diduga
dinyatakan unggul mencolok dengan perolehan suara sebesar 40%+15% suara.

Jadi seandainya pemisalan perhitungan tadi benar (25% suara Hillary dicuri
Trump), maka suara  Trump : Hillary = 290 : 232 itu tercapai berkat Virus
Manipulator sudah mencuri dan memanipulasi sekitar 77 suara milik Hillary
untuk kemenangan Trump, dan itu berarti angka yang wajar dan sebenarnya
adalah 213: 309 bagi kemenangan Hillary Rodham Clinton !

*C.     **Demisioner Obama,Kongres, KPU dan bangsa AS : Harus Investigasi*

Mungkin teman menganggap bahwa analisa perhitungan saya adalah hanya
hayalan kosong belaka. Namun jika teman perhatikan posting sebelumnya,
menunjukkan bahwa kalkulasi saya sering menunjukkan akurasi yang baik.
Seperti proyeksi saya mengenai prestasi Obama saat ini, sangatlah mirip
dengan proyeksi saya tahun 2012.
https://sites.google.com/site/yohanesmulyadiliu/pilpres-as

Namun sebagai kesimpulan saat ini, saya ingin menyampaikan pandangan dan
saran sebagai berikut…

1.      Kecurigaan atas janggalnya hasil suara Pilpres AS 2016 , bukan
bukti kecurangan ataupun  tidak absahnya pilpres 8Nov2016, namun merupakan
indikasi yang menjadi alasan untuk segera dilakukannya investigasi dugaan
kecurangan dalam proses dan pengolahan data yang terjadi dalam sistem
electronic voting. Itu adalah indikasi yang bisa menjadi alasan untuk
tindakan investigasi.

2.      Pemerintah Obama harus mengumumkan secara resmi dan minta dukungan
rakyat dan segenap pihak atas akan dilakukannya investigasi yang mendeteksi
adanya manipulasi suara dalam pilpres AS saat ini. Sementara proses
penyidikan belum selesai, KPU belum boleh menyatakan pengumuman resmi
pemenang pilpres. Seandainya belum selesai diperlukan perpanjangan waktu,
pemerintah Obama akan melakukan Demisioner  (perpanjangan kekuasaan/ masa
kerja) selama maksimum 2x 3bulan.

3.      Seandainya tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan (seperti
virus, malware, celah akses yang mungkin ditembus hacker untuk menularkan
virus), maka penyidikan dilakukan dengan menggunakan data base yang
tersedia pada data computer yang digunakan pada pilpres (Mr. A pilih Trump
atau Hillary) yang diperkuat rekaman cctv saat voting. Seandainya informasi
tidak ada/ tidak memadai, investigasi bisa dilakukan dengan memilih
beberapa wilayah sampel populasinya sedikit dan mudah diidentifikasi.
Seandainya tidak terdapat bukti data  pemilih & vote , investigator bisa
meminta peserta pilpres memberi pengakuan (rahasia namun direkam) atas
siapa yang telah dipilihnya saat voting  pilpres 8 November2016. Seandainya
tingkat kesalahan melebihi dari 1%, kemungkinan akan dilakukan penghitungan
ulang  lebih luas untuk membuktikan bahwa memang telah terjadi kecurangan
atau penyimpangan hasil penghitungan suara.

4.      Setelah proses  penyidikan berhasil mendapatkan kesimpulan,  KPU,
pemerintah Obama dan Menhan akan umumkan investigasi.  A: Kecurangan jelas
dan signifikan terbukti=  Kemenangan Trump= Dianulir, Hillary = Pemenang
Pilpres 2016. B: Kemenangan Trump adalah murni dan benar;  Kemenangan Trump
= Dikukuhkan KPU secara resmi. C: Hasil Penyidikan Meragukan (Hasil
‘abu-abu’;  Sulit diidentifikasi tingkat penyimpangan), Kongres &
pemerintah Obama/  mendagri/ menhan harus mempertimbangkan dilakukannya
pilpres ulang sebagai penggantinya.

5.      Seandainya terbukti ada pihak asing yang melakukan intervensi,
sedapat mungkin pemerintah Obama tidak melakukan konfrontasi ataupun
menyebutkan secara spesifik. Namun pemerintah Obama hanya boleh melakukan
perbaikan dalam ranah kekuasaan dalam negri pemerintah Amerika Serikat saja.



*D.     **Proses & Investigasi Hasil Pilpres = Hak, Tanggung Jawab dan
Urusan Internal AS*

Desember 1991 adalah masa trauma kedua yang terberat dalam hidup saya.
Saat itu saya begitu tertekan karena tidak berhasil menolong PM Rusia
Gorbachev mencegah Presiden Rusia Yeltsin yang didukung Presiden Bill
Clinton membubarkan Uni Soviet.  Setelah perjuangan, latihan dengan
dukungan teman-teman setia selama 16 tahun,  rasa percaya diri saya
berangsur pulih dan kemampuan komunikasi saya semakin membaik.

Oktober 2002, sejumlah teroris bersenjatan api yang mengenakan rompi bom
bunuh diri menyandera 700 pengunjung teater di Moscow. Mengatasi krisis
itu, saya segera mengirimkan fax pesan berbahasa Indonesia kepada Presiden
Rusia Vladimir Putin melalui kedubes Rusia di Jakarta. Dari surat yang saya
fax (yang saya kira langsung secara 24 jam/ hari diteuskan ke Moscow)
prinsip-prinsip untuk mengatasi krisis penyanderaan itu. Setelah strategi
pertama saya tidak diterapkan (kemungkin kondisi lapangan terlalu sulit),
saya menuliskan strategi ke2 yaitu dengan menggunakan gas tidur. Saya
mengangkat tangan dan berteriak tanpa suara serta bersujud ketika dinihari
itu CNN menayangkan dimana drama penyanderaan 57 jam yang mencekam itu
sudah berhasil diatasi. Saya ikut merasa bangga dan bersyukur karena
walaupun Gorby tidak berhasil mempertahankan keutuhan Uni Soviet, kekuatan
Putin berhasil mempertahankan kewibawaan dan persatuan Rusia.

Pada saat awal Hillary mendapat dukungan masyarakat dan Obama, sebenarnya
saya sempat ragu untuk mendukungnya karena saya menganggap bahwa Hillary
Clinton dan Bill Clinton adalah sama saja. Namun setelah saya pelajari
karakternya, saya pahami walau Hillary menghargai suami dan keluarganya,
saya perlu membedakan antara Hillary dan Bill dan saya harus memutuskan
dukungan bagi Hillary yang saya percaya sebagai capres terbaik saat ini.

Saya percaya semua dari kita mengalami pengalaman dalam berbagai
kesempatan, masa dan dekade. Karena itu agar semua pengalaman (Positif
maupun Negatif) mendatangkan pengaruh yang baik bagi kita harus menerapkan
prinsip APBN dalam menjalani hidup kita. Mari kita: “ Ambil Positif Buang
Negatif” .. (thanks Andy Savero..)

*E.      **Sikap & Tanggung Jawab Kita*

Saya baru mengirim dukungan petisi  untuk investigasi ataupun auditing
hasil pilpres melalui 2 portal berita di internet dan mengirimkan pesan:
”Obama must make an investigation to know if there is a malware that has
manipulated vote counting during the election process “. Bagi saya dan
Amerika, yang terpenting adalah kepastian siapa pemenang pilpres yang
sebenarnya. Seandainya hasil investigasi benar menyatakan bahwa Trump
 adalah pemenang sebenarnya walau meraih selisih suara begitu banyak,
Presiden Obama harus mengumumkan kemenangan itu. Namun seandainya ditemukan
kesalahan yang cukup signifikan, Obama perlu mengambil tindakan lanjutan :
Penghitungan yang lebih meluas untuk menganulir kemenangan Trump  atau
melakukan pemilu ulang. Bagi teman2 di Amerika, khususnya yang memiliki
akses dengan pemerintah Obama, Hillary Clinton, KPU, NSA, atau Kongres AS
mohon menyampaikan pesan ini kepada yang berkepentingan. Kepada pak John
Oei (Kabari News) ataupun pengelola media lainnya, boleh menterjemahkan,
mengutip dan mengedit posting ini untuk dipublikasi .


Teman-teman,

Terkesan bahwa urusan yang dihadapi Amerika memerlukan upaya yang
 membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun dengan ketekunan pemerintah dan
segenap masyarakat serta arah yang jelas, tidak ada soal terlalu rumit
untuk kita selesaikan bersama-sama.


Kita dukung investigasi Pilpres AS. Kita doakan agar Tuhan melepaskan
Amerika dari kekacauan yang kita tidak harapkan. May God bless the United
States of America. May God bless Indonesia as well.  Amen.


Salam Amerika. Salam Indonesia.

Mulyadi Dharmadi

https://sites.google.com/site/yohanesmulyadiliu/pilpres-as

Kirim email ke