Mulyadi: Mungkin teman menganggap bahwa analisa perhitungan saya adalah hanya 
hayalan kosong belaka.

Nesare: awalnya memang saya mau mengatakan bung berkhayal tetapi setelah bung 
menulis “Perbedaan dengan Indonesia, Pilpres AS tidak menggunakan kertas suara 
sama sekali. Semua proses pemungutan suara melalui mesin voting yang 
menggunakan layar sentuh (touch screen) sehingga proses penghitungan hasil  
voting oleh jaringan computer berlangsung sangat cepat dibanding cara manual”, 
saya jadi tahu bahwa dasarnya bung tidak mengerti cara orang voting di USA. 
Setiap state punya cara sendiri2 termasuk tusuk kertas, touch screen, form 
dikirim lewat kantor pos dll. Ini ada peraturannya dan berbeda disetiap state. 
Jadi tidak benar kalau voting di USA itu semuanya online. Coba google gampang 
sekali. Yang harus diperhatikan itu adalah system perhitungan suaranya. Di USA 
orang/warganegara itu jelas. Walaupun ada yang KTP nya palu tapi jarang. Di 
Indonesia akan lebih susah karena sistemnya banyak loopholes nya.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, November 19, 2016 4:27 AM
To: undisclosed-recipients:
Subject: [GELORA45] Pilpres AS2016: Virus Manipulasi Hasil Suara ? Investigasi !

 

  

Pilpres AS2016: Virus Manipulasi Hasil Suara ? Investigasi !

 

Salam teman-teman,

 

Menjelang Pilpres Amerika, saya menyiapkan suatu analisa  untuk mendukung 
Hillary Clinton. Karena masalah teknis laptop dan harus mengetik ulang, draft 
itu tidak sempat saya posting sebelum pilpres. Setelah proses pilpres selesai, 
saya mengubah memambahkan perspektif mengenai Donald Trump serta mengungkap 
kelemahan sistim electronic voting machine. Topik itu saya siapkan karena 
merasa  curiga terjadi manipulasi atas proses perhitungan suara.  Hasil pilpres 
menunjukkan, bukan hanya suara Trump melebihi Hillary, tapi selisih perbedaan 
yang dihasilkan tampak sangat jauh dan mencolok.  

Namun setelah  NSA Chief Admiral Michael Rogers mengumumkan kecurigaan adanya 
hacking yang menyimpangkan hasil voting, saya putuskan mempersingkat waktu agar 
pandangan saya segera bisa diterima oleh pemerintah Obama, Dewan Senat, KPU, 
institusi resmi dan media massa Amerika dan internsional. Untuk itu, dari draft 
analisa kompleks yang 80% selesai, saya putuskan melompat dahulu pada topic 
yang diperlukan  Amerika saat ini: “ Bagaimana Menyikapi Hasil Pilpres dengan 
Hasil Terkesan Janggal“.

A.     Bertolak Belakang Hasil Polling  = Indikasi Perhitungan Suara Tidak 
Wajar 

Dari 2 kandidat yang bersaing, Hillary adalah kandidat dengan karakter dan 
kecerdasan yang baik serta mampu mengkomunikasikan program-program berpihak 
bagi keluarga, kesamaan hak, kesejahteraan, aliran ekonomi dari bawah ke atas, 
dukungan sosial, medis, pendidikan taktis yang murah. Popularitas Hillary pada 
masa kampanye lebih unggul dibanding Donald Trump. Apalagi pasca final debat 
oleh moderator Chris Wallace, saya dan banyak media massa semakin memahami 
jelas kandidat mana yang lebih popular dan  lebih baik.

Saya menilai Donald Trump memiliki tempramen Chlorelis yang didukung kekuatan 
uang serta terbiasa memanfaatkan para hax (hacker) asing untuk mencapai 
tujuannya. Sifat dan kebiasaan itu bisa menjadi pengaruh yang mendominasi 
kebijakan kekuasaan, politik dan ekonomi bangsa lain. Dengan karakternya 
sebagai seorang yang memiliki money oriented terlalu kuat serta beberapa 
indikasi kejanggalan di Indonesia, saya sempat khawatir jika kepemimpinan 
Donald Trump bisa mengancam pertambangan, obyek ekonomi dan kekuasaan 
pemerintah negara kami, Indonesia.  

Ketika media massa menayangkan hasil voting, seperti banyak pengamat media, 
saya merasa heran karena suara Trump unggul jauh dan mengalahkan Hillary dengan 
jumlah suara sangat besar. Saat itu saya curiga bahwa terjadinya  manipulasi 
suara dalam voting saat itu. Dan keyakinan itu terkonfirmasi setelah NSA Chief, 
Laksamana Michael Rogers  menyatakan kecurigaan yang sama dengan saya. Dari 
perannya sebagai kepala lembaga pertahanan keamanan di bidang cyber, saya 
menduga bahwa NSA telah mendeteksi adanya suatu perangkat jahat yang telah 
mempenetrasi (menyusupkan mal-ware/ virus) melalui intervensi sinyal-sinyal 
digital yang mempengaruhi dan membelokkan kinerja program arus informasi dan 
pengolahan data jaringan computer yang digunakan saat pilpres. 

Tentu, apa yang menurut saya dan para pengamat adalah janggal tidak boleh 
dianggap sebagai dasar untuk membatalkan hasil pilpres AS.  Namun kejanggalan 
itu adalah suatu indikasi yang merupaan tanggung jawab pemerintah Obama, 
Kongres, KPU, FBI, Media Massa, rakyat Amerika untuk kerja bersama dalam 
tindakan investigasi sehingga suara rakyat yang baik dan benar bisa dipastikan 
sesegera mungkin.

B.     Mahalnya Proses Pilpres = Syarat Vital Demokrasi AS

Electronic  Voting adalah teknologi informasi digital yang diterapkan dalam 
pilpres di AS. Perbedaan dengan Indonesia, Pilpres AS tidak menggunakan kertas 
suara sama sekali. Semua proses pemungutan suara melalui mesin voting yang 
menggunakan layar sentuh (touch screen) sehingga proses penghitungan hasil  
voting oleh jaringan computer berlangsung sangat cepat dibanding cara manual. 
Jadi kecepatan serta  kepraktisan merupakan keunggulan dari e-voting.

Pemilu Inadonesia masih menggunakan cara manual, yaitu dengan kertas suara.  
Metode kertas itu sering dianggap merepotkan  dalam pengadaan, penyimpanan, dan 
penghitungan. Selain itu pemilu dengan kertas suara sering memperlihatkan 
banyak praktek kecurangan. Laporan kecurangan dimana jumlah DPT (Pemilih) jauh 
melebihi banyak KTP (Penduduk) , pencoblosan illegal yang dilakukan oleh 
petugas penyelanggara dan pengawas KPU, bahkan Ketua KPU pernah memerintahkan 
bawahannya untuk merusak segel dan membongkar kotak kertas berisi bukti suara 
tanpa wewenang Mahkamah Konstitusi. 

Sementara dalam e-voting di luar negri, belum pernah terdengar terjadinya 
kecurangan. Lalu apakah itu berarti e-voting yang belum pernah diberitakan 
kecurangannya bisa disebut lebih baik dibanding dengan  seperti pencoblosan 
yang dilakukan oleh petugas KPU?

Tidak teridentifikasi, bisa menyebabkan laporan manipulasi e-voting tidak 
pernah dilaporkan. Kecurangan dari e-voting dan manual (paper) voting selalu 
pasti bisa terjadi. Bagaimanapun tingkat keamanan diterapkan, pasti bisa 
ditemukan celah kelemahannya. Perbedaannya, dengan sistim manual, kecurangan 
akan lebih mudah diketahui karena keberadaan kertas suara adalah kasat indera. 
Sementara data-data digital dari e-voting yang tidak kasat indera, sangat mudah 
dan cepat dimanipulasi tanpa meninggalkan jejak fisik.

Hacking atau pembajakan cyber, merupakan suatu kejahatan informatika yang mampu 
merusak sistim informasi data digital seperti masuknya spy-ware, virus, 
cracking, perusak dan manipulator program dan data. Hal seperti ini merupakan 
suatu pekerjaan mudah bagi mereka yang memilik ketrampilan di bidang itu. Namun 
sebagai seorang awam dan sebagai pengamat dari luar Amerika, saya coba 
pemisalan adanya  seseorang/ suatu tim yang mampu membuat program yang bisa 
disampaikan dengan virus yang di program hanya akan bekerja selama beberapa jam 
selama proses voting  dan pengolahan data berlangsung pada tanggal 8 November 
2016.  Untuk menghilangkan jejak, setelah selesai melaksanakan tugas, semua 
virus akan memusnahkan diri  dan akan melakukan self-recycling. Misalkan pada 
jam kerja yang sudah diprogram,  virus itu akan mengambil 1 suara dari setiap 4 
suara bagi Hillary untuk diubah menjadi 1 suara bagi Trump. Jika ini terjadi, 
maka akan terjadi pencurian 25% suara hak Hillary yang dimanipulasi dan 
diberikan untuk menambahkan  suara  bagi kemenangan Trump. Jika ini terjadi, 
maka Hillary hanya akan menerima 75% dari vote yang sebenarnya haknya, 
sementara Trump akan menerima tambahan suara ‘siluman’ sebanyak 25% vote 
Hillary yang dicuri oleh Virus Manipulator.  

Saya melihat ketidak wajaran hasil pilpres bisa diuraikan dalam kalkulasi 
angka. Menjelang pilpres polling sudah menunjukkan Hillary sudah unggul tipis. 
Sementara pada final debate yang saya yakin mencelikkan mata bangsa, media dan 
pengamat Amerika, seharusnya akan memperlebar perbedaan antara kedua kandidat. 
Yang sangat aneh, setelah bangsa Amerika bisa mengenali mana yang baik dan yang 
tidak, bagaimana mungkin hasil voting menunjukkan hasil kebalikan yang demikian 
telak. Presidential result menunjukkan Trump memperoleh 290 (56% suara) 
sementara Hillary hanya 232 (44% suara). Perbedaan yang sangat mencolok tidak 
wajar yang sulit dipercaya (istilah umumnya= diluar dugaan). Namun dengan 
perhitungan kinerja virus yang saya misalkan tadi, kebingunan itu kita bisa 
pahami dengan penjelasan sebagai berikut.

Misalnya pada polling pasca final debate, dukungan bagi Trump=40% , sementara 
Hillary=60%.

Tingkat kepercayaan yang demikian signifikan dari bangsa AS kepada Hillary 
tetap dipertahankan bahkan terus meningkat pada hari Pilpres. Dengan dukungan 
sepenuh hati dari Michelle Obama, seperti kepercayaan para pengamat, posisi 
Hillary seperti yang dinyatakan polling adalah kuat yang semakin kuat dan 
dipercaya akan menang mutlak atas Trump. Namun perhitungan suara menunjukkan 
suara Trump=290 dan Hillary= 232, saya dan banyak pengamat menganggap sebagai 
kemenangan itu terasa janggal dan tidak wajar. Tanda tanya itu akan terjawab 
seandainya dugaan serupa yang saya sampaikan tadi terjadi. Misalnya benar, 
Virus Manipulator mencuri 25% suara Hillary untuk dirubah menjadi suara yang 
memenangkan Trump. Itu berarti suara bagi Hillary yang ditampilkan di TV akan 
berkurang 25% dari  60% suara  menjadi = 45% suara.

Sementara Trump yang sebenarnya  hanya berhak 40% suara, dengan menerima suara 
‘siluman’ yang dicuri dari Hillary, maka Trump secara tidak diduga dinyatakan 
unggul mencolok dengan perolehan suara sebesar 40%+15% suara.  

Jadi seandainya pemisalan perhitungan tadi benar (25% suara Hillary dicuri 
Trump), maka suara  Trump : Hillary = 290 : 232 itu tercapai berkat Virus 
Manipulator sudah mencuri dan memanipulasi sekitar 77 suara milik Hillary untuk 
kemenangan Trump, dan itu berarti angka yang wajar dan sebenarnya adalah 213: 
309 bagi kemenangan Hillary Rodham Clinton !

C.     Demisioner Obama,Kongres, KPU dan bangsa AS : Harus Investigasi

Mungkin teman menganggap bahwa analisa perhitungan saya adalah hanya hayalan 
kosong belaka. Namun jika teman perhatikan posting sebelumnya, menunjukkan 
bahwa kalkulasi saya sering menunjukkan akurasi yang baik. Seperti proyeksi 
saya mengenai prestasi Obama saat ini, sangatlah mirip dengan proyeksi saya 
tahun 2012. https://sites.google.com/site/yohanesmulyadiliu/pilpres-as  

Namun sebagai kesimpulan saat ini, saya ingin menyampaikan pandangan dan saran 
sebagai berikut…

1.      Kecurigaan atas janggalnya hasil suara Pilpres AS 2016 , bukan bukti 
kecurangan ataupun  tidak absahnya pilpres 8Nov2016, namun merupakan indikasi 
yang menjadi alasan untuk segera dilakukannya investigasi dugaan kecurangan 
dalam proses dan pengolahan data yang terjadi dalam sistem electronic voting. 
Itu adalah indikasi yang bisa menjadi alasan untuk tindakan investigasi.

2.      Pemerintah Obama harus mengumumkan secara resmi dan minta dukungan 
rakyat dan segenap pihak atas akan dilakukannya investigasi yang mendeteksi 
adanya manipulasi suara dalam pilpres AS saat ini. Sementara proses penyidikan 
belum selesai, KPU belum boleh menyatakan pengumuman resmi pemenang pilpres. 
Seandainya belum selesai diperlukan perpanjangan waktu, pemerintah Obama akan 
melakukan Demisioner  (perpanjangan kekuasaan/ masa kerja) selama maksimum 2x 
3bulan.

3.      Seandainya tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan (seperti virus, 
malware, celah akses yang mungkin ditembus hacker untuk menularkan virus), maka 
penyidikan dilakukan dengan menggunakan data base yang tersedia pada data 
computer yang digunakan pada pilpres (Mr. A pilih Trump atau Hillary) yang 
diperkuat rekaman cctv saat voting. Seandainya informasi tidak ada/ tidak 
memadai, investigasi bisa dilakukan dengan memilih beberapa wilayah sampel 
populasinya sedikit dan mudah diidentifikasi. Seandainya tidak terdapat bukti 
data  pemilih & vote , investigator bisa meminta peserta pilpres memberi 
pengakuan (rahasia namun direkam) atas  siapa yang telah dipilihnya saat voting 
 pilpres 8 November2016. Seandainya tingkat kesalahan melebihi dari 1%, 
kemungkinan akan dilakukan penghitungan ulang  lebih luas untuk membuktikan 
bahwa memang telah terjadi kecurangan atau penyimpangan hasil penghitungan 
suara.  

4.      Setelah proses  penyidikan berhasil mendapatkan kesimpulan,  KPU, 
pemerintah Obama dan Menhan akan umumkan investigasi.  A: Kecurangan jelas dan 
signifikan terbukti=  Kemenangan Trump= Dianulir, Hillary = Pemenang Pilpres 
2016. B: Kemenangan Trump adalah murni dan benar;  Kemenangan Trump = 
Dikukuhkan KPU secara resmi. C: Hasil Penyidikan Meragukan (Hasil ‘abu-abu’;  
Sulit diidentifikasi tingkat penyimpangan), Kongres & pemerintah Obama/  
mendagri/ menhan harus mempertimbangkan dilakukannya pilpres ulang sebagai 
penggantinya.

5.      Seandainya terbukti ada pihak asing yang melakukan intervensi, sedapat 
mungkin pemerintah Obama tidak melakukan konfrontasi ataupun menyebutkan secara 
spesifik. Namun pemerintah Obama hanya boleh melakukan perbaikan dalam ranah 
kekuasaan dalam negri pemerintah Amerika Serikat saja.

 

D.     Proses & Investigasi Hasil Pilpres = Hak, Tanggung Jawab dan Urusan 
Internal AS

Desember 1991 adalah masa trauma kedua yang terberat dalam hidup saya.  Saat 
itu saya begitu tertekan karena tidak berhasil menolong PM Rusia Gorbachev 
mencegah Presiden Rusia Yeltsin yang didukung Presiden Bill Clinton membubarkan 
Uni Soviet.  Setelah perjuangan, latihan dengan dukungan teman-teman setia 
selama 16 tahun,  rasa percaya diri saya berangsur pulih dan kemampuan 
komunikasi saya semakin membaik. 

Oktober 2002, sejumlah teroris bersenjatan api yang mengenakan rompi bom bunuh 
diri menyandera 700 pengunjung teater di Moscow. Mengatasi krisis itu, saya 
segera mengirimkan fax pesan berbahasa Indonesia kepada Presiden Rusia Vladimir 
Putin melalui kedubes Rusia di Jakarta. Dari surat yang saya fax (yang saya 
kira langsung secara 24 jam/ hari diteuskan ke Moscow) prinsip-prinsip untuk 
mengatasi krisis penyanderaan itu. Setelah strategi pertama saya tidak 
diterapkan (kemungkin kondisi lapangan terlalu sulit), saya menuliskan strategi 
ke2 yaitu dengan menggunakan gas tidur. Saya mengangkat tangan dan berteriak 
tanpa suara serta bersujud ketika dinihari  itu CNN menayangkan dimana drama 
penyanderaan 57 jam yang mencekam itu sudah berhasil diatasi. Saya ikut merasa 
bangga dan bersyukur karena walaupun Gorby tidak berhasil mempertahankan 
keutuhan Uni Soviet, kekuatan Putin berhasil mempertahankan kewibawaan dan 
persatuan Rusia.

Pada saat awal Hillary mendapat dukungan masyarakat dan Obama, sebenarnya saya 
sempat ragu untuk mendukungnya karena saya menganggap bahwa Hillary Clinton dan 
Bill Clinton adalah sama saja. Namun setelah saya pelajari karakternya, saya 
pahami walau Hillary menghargai suami dan keluarganya, saya perlu membedakan 
antara Hillary dan Bill dan saya harus memutuskan dukungan bagi Hillary yang 
saya percaya sebagai capres terbaik saat ini.

Saya percaya semua dari kita mengalami pengalaman dalam berbagai kesempatan, 
masa dan dekade. Karena itu agar semua pengalaman (Positif maupun Negatif) 
mendatangkan pengaruh yang baik bagi kita harus menerapkan prinsip APBN dalam 
menjalani hidup kita. Mari kita: “ Ambil Positif Buang Negatif” .. (thanks Andy 
Savero..)

E.      Sikap & Tanggung Jawab Kita

Saya baru mengirim dukungan petisi  untuk investigasi ataupun auditing hasil 
pilpres melalui 2 portal berita di internet dan mengirimkan pesan: ”Obama must 
make an investigation to know if there is a malware that has manipulated vote 
counting during the election process “. Bagi saya dan Amerika, yang terpenting 
adalah kepastian siapa pemenang pilpres yang sebenarnya. Seandainya hasil 
investigasi benar menyatakan bahwa Trump  adalah pemenang sebenarnya walau 
meraih selisih suara begitu banyak, Presiden Obama harus mengumumkan kemenangan 
itu. Namun seandainya ditemukan kesalahan yang cukup signifikan, Obama perlu 
mengambil tindakan lanjutan : Penghitungan yang lebih meluas untuk menganulir 
kemenangan Trump  atau melakukan pemilu ulang. Bagi teman2 di Amerika, 
khususnya yang memiliki akses dengan pemerintah Obama, Hillary Clinton, KPU, 
NSA, atau Kongres AS mohon menyampaikan pesan ini kepada yang berkepentingan. 
Kepada pak John Oei (Kabari News) ataupun pengelola media lainnya, boleh 
menterjemahkan, mengutip dan mengedit posting ini untuk dipublikasi . 

 

Teman-teman,

Terkesan bahwa urusan yang dihadapi Amerika memerlukan upaya yang  membutuhkan 
waktu dan kesabaran. Namun dengan ketekunan pemerintah dan  segenap masyarakat 
serta arah yang jelas, tidak ada soal terlalu rumit untuk kita selesaikan 
bersama-sama.

 

Kita dukung investigasi Pilpres AS. Kita doakan agar Tuhan melepaskan Amerika 
dari kekacauan yang kita tidak harapkan. May God bless the United States of 
America. May God bless Indonesia as well.  Amen.

 

Salam Amerika. Salam Indonesia.

Mulyadi Dharmadi

https://sites.google.com/site/yohanesmulyadiliu/pilpres-as



Kirim email ke