*Hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) !!!* *Hidup Bineka Tunggal Ika !!!*
*Motto : **Strong chains may not have weak links in between* (mrc) Dengan kata lain: [ Mata2 Rantai yang lemah ( Mutu dan Bahannya) tidak akan bisa membentuk IKATAN RANTRAI yang Kuat dan Kukuh ] 2016-11-19 17:48 GMT+01:00 roeslan <[email protected]>: > Sambutan untuk Pawai NKRI di Jakarta 19.11.2016, yang bertujuan untuk > mempertahankan NKRI, Pancasila 1 Juni 1945, dan Kebinekaan. > > > > > > *KRISIS PERSEPSI DALAM MENERIMA DAN MENANGGAPI NKRI, PANCASILA 1 JUNI > 1945,* > > *UUD 45 NASKAH ASLI, DAN BINEKA TUNGGAL IKA, ADALAH SEBAGAI * > > *SUMBER PERPECAHAN NKRI.* > > > > Seiring dengan jatuhnya presiden Soekarno, yang disebabkan oleh adanya > kudeta merangkak yang dilakukan oleh jendral TNI AD Soeharto, yang di > dukung sepenuhnya oleh imperialisme A.S; yang kini di lanjutkan oleh > rezim-rezim neoliberal di era ``reformasi``, ternyata telah menjadi masalah > nasional yang sangat membahayakan kesatuan Negara dan bangsa Indonesia, > dalam bentuk yang mengejutkan, yang dalam waktu dekat akan segera mengantar > kekehancuran bangsa dan Negara kesatuan Rebublik Indonesia, yang tak akan > dapat kembalikan lagi. Kita mempunyai dokumentasi yang cukup tentang > jangkauan dan pentingnya masalah ini. > > Semakin dalam kita mempelajari masalah-masalah utama tentang bagaimana > terbentunya Bangsa dan Tanah-air Indonesia, maka kita akan menyadari bahwa > ia tak dapat dimengerti secara terepisah, dari jutaan manusia-manusia yang > menempati ribuan pulau-pulau, yang berderet-deret dari Sabang sampai > Maraoke, yang bersatu padu dalam berjuang bersama-sama melawan penjajahan > kolonialisme Belanda, adalah merupakan satu kesatuan. Masalah–masalah itu > adalah merupakan masalah sistemik, artinya semuanya itu saling terkait dan > tergantung satu sama lain. > > Sebagai contoh misalnya: > > 1. Menstabilkan populasi NKRI, hanya mungkin bila *kemiskinan* *diseluruh > NKRI dituntaskan*. > > 2. Kepunahan binatang dan spesis tumbuh-tumbuhan (hutan) dalam slaka > besar-besaran akan berlanjut, selama NKRI terjerat utang luar negeri, yang > bertmpuk-tumpuk. > > 3. Kelangkaan sumber daya alam (kekayaan alam bumi Indonesia), karena > telah tergadaikan dan terjual kepada pihak asing, dan degrdasi lingkungan, > ditambah dengan pertambahan pesat populasi, akan menimbulkan kerusakan > komunitas-komunitas lokal, dalam bentuk kekerasan etnis, suku, agama, yang > sudah menjadi ciri utama era orde baru dan era ``reformasi``sekarang ini. > > 4. Konflik keagamaan, kepercayaan, ideologi dll, hanya mungkin > distabilkan jika masalah *pluralisme* di NKRI bisa di laksanakan sesuai > dengan Pancasila 1 Juni 1945. > > 5. Menstabilkan keadaan sosial, ekonomi dan politik di NKRI hanya mungkin > jika di negegeri ini bisa menegakkan supermasi hukum, dan TNI sudah > benar-benar bisa bersifat profesional, sehingga tidak lagi melakukan > keterlibatannya dalam politik, ekonomi, administrasi dan dunia usaha, dan > keterlibatannya dalam partai-partai politik, terutama partai-partai politik > yang beraliran Islam garis keras (MUI,FPI, wahabi, Ihwanul Muslimin dll). > > 6. Gagasan-gagasan untuk memisahkan diri dari NKRI akan terus berlanjut > jika staknasi dan demokrasi yang ambruladul, terus berkelanjutan, dan > ditambah dengan semakin memaraknya budaya KKN di kalangan lembanga-lembanag > legislatif, eksekutif, judikatif dan dikalangan birokrat-birokrat > pemerintahan. > > Akhirnya masalah–masalah tersebut diatas harus dilihat sebagai *aspek-aspek > yang berbeda* dari *krisis tunggal*, yakni terutama adalah suatu *krisis > persepsi* *dalam menerima dan menanggapi hakekat* *Proklamasi Kemerdekaan > NKRI 17 Agustus 1945, yaitu kemerdekaan penuh, demokrasi sejati, harga diri > dan jati diri sebagai bangsa yang mandiri dalam NKRI, UUD 45 khususnya > amanah Pasal 33 Ayat 1,2,dan3 UUD 45 naskah asli, dan Pancasila 1 Juni > 1945.* > > *Menurut pengamatan saya, krisis itu berasal dari fakta bahwa sebagian > besar kita, dan khususnya lembaga-lembaga sosial kita yang besar, yaitu > lembaga-lembaga politik (partai-partai politik), lembaga pemerinthan yaitu > legislatif, eksekutif dan judikatif, kebudayaan, keagamaan, kemiliteran, > kepolisian, kelompok–kelompok etnis, dan lembaga-lembaga sosial yang > lainnya (ormas-ormas),* *masih mendukung konsep-konsep feodalisme, > konservativisme, liberalisme, federalisme, kapitalisme,dan neoliberalisme, > yang berakar dari pandangan dunia yang sudah kedalu warso, yaitu pandangan > dunia mekanistik (cartesian), dalam menerima dan menanggapi persoalan > terbentuknya bangsa dan tanah air Indonesia, yaitu:* *Motto Bineka **T**unggal > Ika*, *Pancasila 1 Juni 1945, dan UUD 45 naskah asli.* > > Sebagai contoh misalnya : > > Pandangan kuno itu tercermin dalam menerima dan menaggapi terjadinya suatu > bangsa, yang megatakan bahwa : Syarat terjadinya suatu bangsa adalah *``le > désir d`etre ensamble´´* yaitu *kehendak akan bersatu; *Jadi bangsa, > adalah gerombolan anusia-manusia yang mau bersatu, dan merasa dirinya > bersatu demikialah pandangan *Ernes Renan ( 1823-1892). *Atau *Bangsa > adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persamaan nasib.* > Demikian menurut pandangan *Otto Bauer (1881-1892), *yang dikemukakan dalam > bukunya yang berjudul *„Die Nationalitätenfrage“,* dikatakan bahwa *Ein > Nation ist eine aus Schiksals gemeinschaft erwachsene > Charaktergemeinschaft“ (*suatu bangsa adaalah persatuan perangai yang > mengutamakan persamaam nasib dan perasaan hidup beresama („gemeinschaft“ ). > > Dua pandangan tersebut adalah merupakan sebuah *persepsi realis*, yang > tidak memperhatikan *tempat, *yang di diami oleh manusia-manusia, karena > pada saat itu belum muncul paradigma baru, yaitu padaigma *Geopolitik* > (yang baru muncul padatahuan 1899 dari Rudoft Kjellen), yang memberikan > divinisi tentang adanya *saling hubungan secara fundamental** antara**,* > *orang > dan* *tempat tinggalnya*. > > Selain dari pada itu pandangan *Ernes Renan, maupun Otto van Bauer, > *dua-duanya > tidak memadai untuk menangani hakekat kultural Proklamasi Kemerdekaan 17 > Agustus 1945, yaitu Pembebasan, kemerdekaan penuh, Demokrasi sejati, > emansipasi, jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam suatu negara yang > didiami oleh beraneka ragam manusia-manusia, yang menganut bermacam-macam > budaya, etnis, kepercayaan, agama, keyakinan, adat dll; yang mendiami > deretran ribuan pulau-pulau dari Sabang sampai Maraoke. > > Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Geolpolitik, maka dalam pidato > lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 Bung Karno mengatakan bahwa terjadinya suatu > bangsa itu adalah : *Persatuan antara orang dan tempat, artinya ada > hubungan yang saling tergantung antara orang dan tempatnya secara > fundamental.* > > Paradigma Geopolitik dapat dikategorikan sebagai suatu pandangan dunia > *holistik*, ia memandang dunia sebagai suatu keseluruhan yang terpadu, > ketimbang suatu kumpulan bagian-bagian yang terpisah-pisah. Ia dapat juga > disebut suatu pandangan ekologis, jika istilah `ekologis` dipakai dalam > arti yang luas dan lebih dalam dari biasanya. Ada dua macam kesadaran > ekologi, yaitu *ekologi dangkal* dan *ekologi dalam.* > > Ekologi dangkal bersifat antroposentris, atau berpusat pada manusia. > Memandang manusia berada di atas atau diluar alam, sebagi sumber nilai, dan > alam dianggap bersifat instrumental atau hanya memiliki nilai `guna`. > Pandangan ekologi dangkal tercermin dalam pandangan Ernes Renan, dan Otto > Bauer, yang hanya berpusat pada manusianya saja. Ini tercermin dalam > definisinya Ernes Renan, yang hanya mengutamakan perasaan manusianya saja > „l`ame et le desir“, dan difinisi Otto Bauer yang mengutamakan > „gemeinschaft“ (hidup bersama) dan perasaannya. Mereka hanya mengingat > karakter tidak memikirkan tempat, tidak memikirkan bumi, yaitu bumi yang > di diami oleh manusia-manusia itu. Karena mereka memandang manusia berada > di atas atau diluar alam. > > *Geopolitik, *dapat juga digolongkan dalam kesadaran *ekologi dalam. > *Ekologi-dalam > tidak memisahkan manusia- atau apapun- dari lingkungan alamiah. Benar-benar > melihat *bumi* bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi > sebagai suatau jaringan yang saling berhubungan dan saling tergantung satu > sama lain secara fundamental. > > Dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno telah > mendivinisikan apa yang disebut bangsa menurut pandamgan dunia modern > yaitu Geopolitik, yang senafas dengan pandangan ekologi dalam. Dalam > konteks ini Bung Karno mengatakan: *Terjadinya suatau bangsa adalah* : > *Persatuan > antara orang dan tempat, artinya ada hubungan yang saling tergantung antara > orang dan tempatnya secara fundamental.* > > Yang dimaksud oleh Bung Karno dengan *tempat* adalah *Tanah-air*, dan > tanah air itu adalah bumi yang didiami oleh manusia, yang dalam konteks ini > adalah bangsa Indonesia. Bumi yang ditempati oleh bangsa Indonesia yang > beraneka ragam etnisnya, budayannya, agamanya, kepercayaanna, dll; yang > menempati kumpulan pulau-pulau yang terpisah-pisah, yang terbentang dari > Sabang sampai ke Maraoke, adalah merupakan jaringan fenomeana yang saling > berhubungan dan salaing tergantung satu sama lain secara fundametal, > sehingga merupakan suatu *kesatuan* yaitu *satu* *untaian* dalam jaringan > hehidupan bangsa Indonesia, yang berjuang serentak bersama-sama melawan > penjajahan kolonialisme Belanda. Kesatuan seperti itu tercermin dalam *Sumpah > pemuda 28 Oktober 1928*, yang medeklarasikan *Satu bangsa, satu bahasa > dan satu tanah air yaitu tanah air Indonesia**.* > > Geopolitik mengakui adanya nilai intrinsik semua manusia yang hidup > tersebar dideretan ribuan pulau-pulau, tak lebih dari *satu untaian* > dalam jaringan kehidupan, artinya manusia-manusia dan bumi yang > ditempatinya (tanah air), yang bebentuk deretan ribuan pulau dari Sabang > sampai Maraoke adalah merupakan suatu *kesatuan, yang disebut Bineka > Tunggal Ika.* > > Dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno menekankan bahwa > Nasion Inonesia bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan *``le > désir d`etre ensamble´´* diatas daerah yang kecil seperti Minagkabau, > atau Madura, atau Jogya, atau Sunda, atau Bugis, tapi bangsa Indonesia > ialah *seluruh *manusia-manusia yang menurut Geopolitik, yang telah > ditentukan oleh Allah s.w.t. tinggal dikesatuannya semua pulau-pulau > Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! *S e l u r u h n y > a!,* karena antara manusia yang lebih dari 70.000.000 ini sudah ada *``le > désir d`etre ensamble´´,** sudah terjadi* *„Charaktergemeinschaft“!* Nation > Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah > 70.000.000 , tetapi 70.000.000, ini *sudah menjadi satu*, *satu, > sekalilagi satu!* (tepuk tangan hebat). [cuplikan dari pidato lahirnya > Pancasila 1 Juni 1945, yang diucapkan oleh Bung Karno, Presiden Pertama > dari NKRI]. *Jadi apa yang dinamakam Bineka tunggal ika itu sudah menjadi > suatu kenyataan!!! *(catatan dari saya 70.000.000 adalah jumlah bangsa > Indonesia pada saat itu, yang sekarang ini sudah berkembang menjadi > sekitar 255.000.000) > > > > Memang dalam menerima dan memahami Bineka Tunggal Ika itu, ada orang-orang > yang pola pikirnya keblinger, karena dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, > sikap-sikap politik, dan faktor-faktor psikologis lainnya, sehingga > terjadilah kesalahan persepsi, dalam menerima dan menaggapi Motto Bineka > Tunggal Ika. Persepsi disini didifinisikan sebagai proses yang kita gunakan > untuk menginterprestasikan data-data sensoris. Data sensoris itu sampai > kepada kita melalui lima indra kita. Hasil penelitian telah > mengidentifisikan dua jenis pengaruh dalam persepsi, yaitu pengaruh > *struktural* dan pengaruh *fungsional**.* > > Pengaruh *struktural* pada persepsi berasal dari aspek-aspek rangsangan, > yang terpapar pada kita; sedangkan pengaruh *fungsional *merupakan > faktor-faktor *psikologis* yang mempengaruhi persepsi, dan oleh karena > itu membawa subjektivitas ke dalam proses. Kecenderungan adanya persepsi > manusia yang dipengaruhi oleh *keinginan-keinginan, siksp-siksp politik, > dan faktor-faktor psikologi lainnya, *seperti yang sudah disinggung > diatas, secara umum disebut *Persepsi selektif.* > > Persepsi selektif dalam konteks ini tercermin dalam bermacam-macam > pandangan, misalnya ada pandangan yang mengatakan, bahwa Indonesia pada > 2015 diperkirakan bisa pecah menjadi sedikit-dikitnya 17 negara bagian, dan > sebagai induknya, Negara Republik Jamali yang terdiri atas Jawa-Madura dan > Bali, sebagai cermin imperium Majapahit zaman dulu (Kamis, 27 Desember 2007 > 14:44 WIB | 4511 Views Jakarta ANTARA News). > > Persepsi selektif juga nampak dalam pandangan yang *menolak kebinekaan*, > yang tercermin dalam bukunya May jen TNI (Pur) Kivlan Zein, yang berjudul *`` > Konflik dan Integrasi`` TNI-AD*. Yang pada halaman 142-143, disitu > dinyatakan bahwa perlunya diadakan *penafsiran ulang* terhadap motto *``Bineka > Tunggal Ika``, *dan Pasal 1 UUD 45, yakni Negara berbentuk *kesatuan* > menjadi *persatuan;* Pembukaan UUD 45 dan lagu *tanah airku*, yang > berbunyi *``tanah tumpah darahku´´ *agar diubah menjadi* ``tanahku yang > tercinta``. *Sungguh luar biasa sikap politik reaksioner, yang di inginan > Mayjen TNI (Pur) Kivlan Zen ini!!! > > Bisa dipercaya bahwa persepsi Mayjen TNI (pur) Kivlan Zen, dalam menerina > dan menanggapi motto Bineka Tunggal Ika, jelas berlatar belakang politik > yang didasari pada *keinginannya untuk memecah belah* *kesatuan* bangsa > Indonesia; seperti kehendak para penyeleweng-penyeleweng Proklamasi > Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang didukung secara tersembunyi oleh kaum > kolonialisme, neokolonialisme, Imperialisme, dan juga golongan > neoliberalisme (neolib) diera ``reformasi``ini, yang menhendaki adanya > perubahan dari *kesatuan* menjadi *persatuan*, artinya merubah *Negara > Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)* menjadi *Negara Federal a´la van > Mook. * > > Pembentukan negara federal a´la van Mook telah ditentang keras oleh > mayoritas rakyat Indonesia penggerak revolusi Agustus 1945, karena > federalisme hakekatnya adalah memecah belah potensi bangsa Indonesia yang > berkepribadian *„Tunggal Ika“,* dan federalisme itu adalah alat > imperialisme dalam menjalankan politik *„divide et impera“* (politik > pecah belah). > > Meskipun Mayjen TNI Kivlan Zein nampaknya ``kukuh`` untuk mempertahankan > kedaulatan Rebiblik Indonesia, namun ia menghendaki kelompok militer yaitu > *TNI/AD > yang pro kelompok Islamradikal-lah yang memimpin negara ini*. Rencana > ini, kata Kivlan, sudah disusun sejak 1968. Bisa dipercaya bahwa rencana > seperti itu adalah sejajar dengan tujuan Kartosouwiryo, yang hendak > menrubah NKRI menjadi NII (Negara Islam Indonesia), yang sesuai dengan > strategi politik partai Masyumi yang sudah dinyatakan sebagai partai > terlarang, karena keterlibatannya dalah pemberontakan PRRI/Permesta. > > Kivlan menyebut *periode 1993-1998 adalah "ijo royo-royo".* Islamophobia > terhadap Islam mulai berkurang. Panglima ABRI dijabat oleh Feisal Tanjung. > Bersamaan dengan itu orang-orang yang pro terhadap Islam mulai naik > posisinya."Kita menang selama lima tahun," ungkapnya. "Tapi reformasi 1998 > akhirnya menghancurkan semua," lanjutnya. Untuk melanjutkan perjuangannya, > Kivlan mengaku kini menjadi calon anggota legislatif. Partai yang dipilih > adalah PPP. "Partai ini bersejarah," katanya.( *JAKARTA (voa-islam.com > <http://voa-islam.com>) -* Saat menyampaikan sambutannya dalam Pengajian > Politik Islam di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013), > ) > > Nampaknya mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan Zein, mantan Kas Kostrad > (Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat), putera Minangkabau > kelahiran Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam, 24 Desember 1946. Seorang > jenderal yang kontroversial namun ``teguh`` dalam prinsip jika terkait > kedaulatan R.I. Oleh karena itu bisa dipercaya bahwa Jenderal TNI (Purn.) > Kivlan Zein ingin megganti NKRI menjadi *Negara Federal yang berhaluan > Islam, dimana **kelompok militer TNI/AD yaitu kelompok pro Islam > radikal-lah yang memimpin negara ini. * > > Sejarah bangsa Indonesia telah mencatat bahwa Negara Kesatuan Republik > Indonesia *sanggup* dan *mampu* mengatasi berbagai gempuran dari luar, > yaitu gempuran dari kaum kolonialisme, neokolonialisme dan Imeperialaisme: > Pengalaman sejarah ini tercermin dalam gempuran dari kolonialisme Belanda > dalam bentuk aksi militer yang ke dua, kita bangsa Indonesia, yang Bineka > Tunggal Ika *tetap survive**,* dihantam oleh federalisme van Mook, yang > hendak merobek-robek dadakita, kita *tetap survive*. Dihantam oleh krisis > ekonomi sebagai akibat dari pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, > tat kala lautan-lautan kita boleh dikatakan sunyi-senyap karena bersih > ditinggalkan oleh kapal-kapal K.P.M., kita *tetap survive.* Dihantam oleh > DI-TII, P.R.R.I-Permesta dengan bantuannya dari luar, yaitu Imperialisme > AS, kita *tetap survive *(culpikan dari pidato Penemuan Kembali Revolusi > kita,- Pidato Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959). > > Dengan Proklamsi Kemerdekaan, yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 > keadaan masyarakat kita tidak segera berubah dari masyarakat warisan > kolonial menjadi masyarakat seperti yang dicita-citakan oleh Proklamasi > Kemerdekaan itu. Kemerdekaan itu oleh Bung Karno disebut sebagai jembatan > emas untuk memasuki masyarakat yang kita kehendaki, yang sesuai dengan > cita-cita kemerdekaan, yang masih harus terus dibina, oleh karena itu > segala potensi masih harus dikerahkan. Karena tindakan memproklamirkan > kemerdekaan itu ternyata bertentangan dengan kehendak sekutu (Inggris dan > Amerika), sehingga timbul pertentangan yang perlu diselesaikan. Sementara > itu penjajah Belanda tentu juga berusaha memperkuat kedudukannya. > *Nederlandsch > Indië Civil Administratie* atau *Netherlands-Indies Civil Administration* > (disingkat *NICA*), yang dipimpin oleh Dr.H.J.van Mook, sebagai > Lt.Gouverneur General telah berusaha memecah belah kekuatan Rakyat > Indonesia, yaitu dengan cara membentuk ``negera-negara*`` federalisme > a´la van Mook*, yaitu Negara Indonesia Timur, Negara Sumatra Selatan, > Negara Sumatra Utara, dan lain-lain , sebagai kelanjutan konferensi yang > diselenggarakan di Den Pasar dan Malino (Sulawesi Selatan). > > Njatalah bahwa mereka tidak mau mengerti apa yang kita namakan revolusi > Agustus 1945. Modal pokok bagi setiap revolusi nasional adalah *menentang* > imperialisme dan kolonialisme, menentang penjajahan model baru di era > Globalisasi pasar bebas, pimpinan imperialisme AS; artinya kita harus > melakukan *konsentrasi* *kekuatan nasional* bukan perpecahan nasional. > Meskipun kita menyetujui pemberian autonomi-daerah seluas-luasnya sesuai > dengan *Motto Bineka Tunggal Ika,* maka federalisme a´la van Mook, harus > kita kikis-habis selekas-lekasnya, oleh karena federalisme a´la van Mook > itu pada hakekatnya adalah alat pemecah belah kekuatan nasional. Jahatnya > politik pemecah belah ini ternyata sekali pada tahun 1950, dan mencapai > klimaknya dalam pemberontakan P.R.R.I.Permesta. > > Demikianlah dampak –dampak sitemik dari krisis Persepsi, yang > termanifestasi dalam bebtuk persepsi selektif yang kini menguncang > kehidupan NKRI dan persatuan bangsa Indonesia. > > *Hidup Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 !!!* > > *Hidup Konstitusi UUD 45 Naslah Asli !!!* > > *Hidup Pancasila 1 Juni 1945 !!!* > > *Hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) !!!* > > *Hidup Bineka Tunggal Ika !!!* > > > > Roeslan. > > > > > > > > > > > > *Von:* [email protected] [mailto:[email protected]] > > *Gesendet:* Samstag, 19. November 2016 07:31 > *An:* Yahoo! Inc.; Jaringan Kerja Indonesia; Sastra Pembebasan; Yahoo! > Inc.; Yahoo! Inc.; DISKUSI FORUM HLD > *Betreff:* [nasional-list] Trs: [GELORA45] Pawai NKRI di Jakarta > > > > > > > > Pada Sabtu, 19 November 2016 7:09, "kh djie [email protected] [GELORA45]" < > [email protected]> menulis: > > > > > > http://www.bbc.com/indonesia/ live/indonesia-38036629 > <http://www.bbc.com/indonesia/live/indonesia-38036629> > > > > >
