*Hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) !!!*

*Hidup Bineka Tunggal Ika !!!*



*Motto : **Strong chains may not have  weak links in between*  (mrc)

Dengan kata lain:
[ Mata2 Rantai yang lemah ( Mutu dan Bahannya) tidak akan bisa membentuk
IKATAN RANTRAI yang Kuat dan Kukuh  ]

2016-11-19 17:48 GMT+01:00 roeslan <[email protected]>:

> Sambutan untuk Pawai NKRI di Jakarta 19.11.2016, yang bertujuan untuk
> mempertahankan NKRI, Pancasila 1 Juni 1945, dan Kebinekaan.
>
>
>
>
>
> *KRISIS PERSEPSI DALAM MENERIMA DAN MENANGGAPI NKRI, PANCASILA 1 JUNI
> 1945,*
>
> *UUD 45 NASKAH ASLI, DAN BINEKA TUNGGAL IKA, ADALAH SEBAGAI *
>
> *SUMBER PERPECAHAN NKRI.*
>
>
>
> Seiring dengan jatuhnya presiden Soekarno, yang disebabkan oleh adanya
> kudeta merangkak yang dilakukan oleh jendral TNI AD Soeharto, yang di
> dukung sepenuhnya oleh imperialisme A.S; yang kini di lanjutkan oleh
> rezim-rezim neoliberal di era ``reformasi``, ternyata telah menjadi masalah
> nasional yang sangat membahayakan kesatuan Negara dan bangsa Indonesia,
> dalam bentuk yang mengejutkan, yang dalam waktu dekat akan segera mengantar
> kekehancuran bangsa dan Negara kesatuan Rebublik Indonesia, yang tak akan
> dapat kembalikan lagi. Kita mempunyai dokumentasi yang cukup tentang
> jangkauan dan pentingnya masalah ini.
>
> Semakin dalam kita mempelajari masalah-masalah utama tentang bagaimana
> terbentunya Bangsa dan Tanah-air Indonesia, maka kita akan menyadari bahwa
> ia tak dapat dimengerti secara terepisah, dari jutaan manusia-manusia yang
> menempati ribuan pulau-pulau, yang berderet-deret dari Sabang sampai
> Maraoke, yang bersatu padu dalam berjuang bersama-sama melawan penjajahan
> kolonialisme Belanda, adalah merupakan satu kesatuan. Masalah–masalah itu
> adalah merupakan masalah sistemik, artinya  semuanya itu saling terkait dan
> tergantung satu sama lain.
>
> Sebagai contoh misalnya:
>
> 1. Menstabilkan populasi NKRI, hanya mungkin bila *kemiskinan* *diseluruh
> NKRI dituntaskan*.
>
> 2. Kepunahan binatang dan spesis tumbuh-tumbuhan (hutan) dalam slaka
> besar-besaran akan berlanjut, selama NKRI terjerat utang luar negeri, yang
> bertmpuk-tumpuk.
>
> 3. Kelangkaan sumber daya alam (kekayaan alam bumi Indonesia), karena
> telah tergadaikan dan terjual kepada pihak asing, dan degrdasi lingkungan,
> ditambah dengan pertambahan pesat populasi, akan menimbulkan kerusakan
> komunitas-komunitas lokal, dalam bentuk kekerasan etnis, suku, agama, yang
> sudah menjadi ciri utama era orde baru dan era ``reformasi``sekarang ini.
>
> 4. Konflik keagamaan, kepercayaan, ideologi dll, hanya mungkin
> distabilkan jika masalah *pluralisme* di NKRI bisa di laksanakan sesuai
> dengan Pancasila 1 Juni 1945.
>
> 5. Menstabilkan keadaan sosial, ekonomi dan politik di NKRI hanya mungkin
> jika di negegeri ini bisa menegakkan supermasi hukum, dan TNI sudah
> benar-benar bisa bersifat profesional, sehingga tidak lagi melakukan
> keterlibatannya dalam politik, ekonomi, administrasi dan dunia usaha, dan
> keterlibatannya dalam partai-partai politik, terutama partai-partai politik
> yang beraliran Islam garis keras (MUI,FPI, wahabi, Ihwanul  Muslimin dll).
>
> 6. Gagasan-gagasan untuk memisahkan diri dari NKRI akan terus berlanjut
> jika staknasi dan demokrasi yang ambruladul, terus berkelanjutan, dan
> ditambah dengan semakin memaraknya budaya KKN di kalangan lembanga-lembanag
> legislatif, eksekutif, judikatif dan dikalangan birokrat-birokrat
> pemerintahan.
>
> Akhirnya masalah–masalah tersebut diatas harus dilihat sebagai *aspek-aspek
> yang berbeda* dari *krisis tunggal*, yakni terutama adalah suatu *krisis
> persepsi* *dalam menerima dan menanggapi hakekat* *Proklamasi Kemerdekaan
> NKRI 17 Agustus 1945, yaitu kemerdekaan penuh, demokrasi sejati, harga diri
> dan jati diri sebagai bangsa yang mandiri dalam NKRI, UUD 45 khususnya
> amanah Pasal 33 Ayat 1,2,dan3 UUD 45 naskah asli, dan Pancasila 1 Juni
> 1945.*
>
> *Menurut pengamatan saya, krisis itu berasal dari fakta bahwa sebagian
> besar kita, dan khususnya lembaga-lembaga sosial kita yang besar, yaitu
> lembaga-lembaga politik (partai-partai politik), lembaga pemerinthan yaitu
> legislatif, eksekutif dan judikatif, kebudayaan, keagamaan, kemiliteran,
> kepolisian, kelompok–kelompok etnis, dan lembaga-lembaga sosial yang
> lainnya (ormas-ormas),* *masih mendukung konsep-konsep feodalisme,
> konservativisme, liberalisme, federalisme, kapitalisme,dan neoliberalisme,
> yang berakar dari pandangan dunia yang sudah kedalu warso, yaitu pandangan
> dunia mekanistik (cartesian), dalam menerima dan menanggapi persoalan
> terbentuknya bangsa dan tanah air Indonesia, yaitu:* *Motto Bineka **T**unggal
> Ika*, *Pancasila 1 Juni 1945, dan UUD 45 naskah asli.*
>
> Sebagai contoh misalnya :
>
> Pandangan kuno itu tercermin dalam menerima dan menaggapi terjadinya suatu
> bangsa, yang megatakan bahwa : Syarat terjadinya suatu bangsa  adalah *``le
> désir d`etre ensamble´´*  yaitu  *kehendak akan bersatu; *Jadi bangsa,
> adalah gerombolan anusia-manusia yang mau bersatu, dan merasa dirinya
> bersatu demikialah pandangan *Ernes Renan ( 1823-1892). *Atau *Bangsa
> adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persamaan nasib.*
> Demikian menurut pandangan  *Otto Bauer (1881-1892), *yang dikemukakan dalam
> bukunya yang berjudul *„Die Nationalitätenfrage“,* dikatakan bahwa *Ein
> Nation ist eine aus Schiksals gemeinschaft erwachsene
> Charaktergemeinschaft“ (*suatu bangsa adaalah persatuan perangai yang
> mengutamakan persamaam nasib dan perasaan hidup beresama („gemeinschaft“ ).
>
> Dua pandangan tersebut adalah merupakan sebuah *persepsi realis*, yang
> tidak memperhatikan *tempat,  *yang di diami oleh manusia-manusia, karena
> pada saat itu belum muncul paradigma baru, yaitu padaigma *Geopolitik*
> (yang baru muncul padatahuan 1899 dari Rudoft Kjellen), yang memberikan
> divinisi tentang adanya *saling hubungan secara fundamental** antara**,* 
> *orang
> dan* *tempat tinggalnya*.
>
> Selain dari pada itu pandangan *Ernes Renan, maupun Otto van Bauer, 
> *dua-duanya
> tidak memadai untuk menangani hakekat kultural Proklamasi Kemerdekaan 17
> Agustus 1945, yaitu Pembebasan, kemerdekaan penuh, Demokrasi sejati,
> emansipasi, jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam suatu negara yang
> didiami oleh beraneka ragam manusia-manusia, yang menganut bermacam-macam
> budaya, etnis, kepercayaan, agama, keyakinan, adat dll; yang mendiami
> deretran ribuan pulau-pulau dari Sabang sampai Maraoke.
>
> Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Geolpolitik, maka dalam pidato
> lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 Bung Karno mengatakan bahwa terjadinya suatu
> bangsa itu adalah : *Persatuan antara orang dan tempat, artinya ada
> hubungan yang saling tergantung antara orang dan tempatnya secara
> fundamental.*
>
> Paradigma Geopolitik dapat dikategorikan  sebagai suatu pandangan dunia
> *holistik*, ia memandang dunia sebagai suatu keseluruhan yang terpadu,
> ketimbang suatu kumpulan bagian-bagian yang terpisah-pisah. Ia dapat juga
> disebut suatu pandangan ekologis, jika istilah `ekologis`  dipakai dalam
> arti yang luas dan lebih dalam dari biasanya. Ada dua macam kesadaran
> ekologi, yaitu *ekologi dangkal* dan *ekologi dalam.*
>
> Ekologi dangkal bersifat antroposentris, atau berpusat pada manusia.
> Memandang manusia berada di atas atau diluar alam, sebagi sumber nilai, dan
> alam dianggap bersifat instrumental atau hanya memiliki nilai `guna`.
> Pandangan ekologi dangkal  tercermin dalam pandangan Ernes Renan, dan Otto
> Bauer, yang hanya berpusat pada manusianya saja. Ini tercermin dalam
> definisinya Ernes Renan, yang hanya mengutamakan perasaan manusianya saja
> „l`ame et le desir“, dan difinisi Otto Bauer yang mengutamakan
> „gemeinschaft“ (hidup bersama) dan perasaannya. Mereka hanya mengingat
> karakter tidak  memikirkan tempat, tidak memikirkan bumi, yaitu bumi yang
> di diami oleh manusia-manusia itu. Karena mereka  memandang manusia berada
> di atas atau diluar alam.
>
> *Geopolitik, *dapat juga digolongkan dalam kesadaran *ekologi dalam. 
> *Ekologi-dalam
> tidak memisahkan manusia- atau apapun- dari lingkungan alamiah. Benar-benar
> melihat *bumi* bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi
> sebagai suatau jaringan yang saling berhubungan dan saling tergantung satu
> sama lain secara fundamental.
>
> Dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno telah
> mendivinisikan apa yang disebut bangsa menurut  pandamgan dunia modern
> yaitu Geopolitik, yang senafas dengan pandangan ekologi dalam. Dalam
> konteks ini Bung Karno mengatakan:  *Terjadinya suatau bangsa adalah* : 
> *Persatuan
> antara orang dan tempat, artinya ada hubungan yang saling tergantung antara
> orang dan tempatnya secara fundamental.*
>
> Yang dimaksud oleh Bung Karno dengan *tempat* adalah *Tanah-air*, dan
> tanah air itu adalah bumi yang didiami oleh manusia, yang dalam konteks ini
> adalah bangsa Indonesia. Bumi yang ditempati oleh bangsa Indonesia yang
> beraneka ragam etnisnya, budayannya, agamanya, kepercayaanna, dll; yang
> menempati kumpulan pulau-pulau yang terpisah-pisah, yang terbentang dari
> Sabang sampai ke Maraoke, adalah merupakan jaringan fenomeana yang saling
> berhubungan dan salaing tergantung satu sama lain secara fundametal,
> sehingga merupakan suatu *kesatuan* yaitu *satu* *untaian* dalam jaringan
> hehidupan bangsa Indonesia,  yang berjuang serentak bersama-sama melawan
> penjajahan kolonialisme Belanda. Kesatuan seperti itu tercermin dalam *Sumpah
> pemuda 28 Oktober 1928*, yang medeklarasikan *Satu bangsa, satu bahasa
> dan satu tanah air yaitu tanah air Indonesia**.*
>
> Geopolitik mengakui adanya nilai intrinsik semua manusia yang hidup
> tersebar  dideretan ribuan pulau-pulau, tak lebih dari *satu untaian*
> dalam jaringan kehidupan, artinya manusia-manusia dan bumi yang
> ditempatinya (tanah air), yang bebentuk deretan ribuan pulau dari Sabang
> sampai Maraoke adalah merupakan suatu *kesatuan, yang  disebut Bineka
> Tunggal Ika.*
>
> Dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno menekankan bahwa
> Nasion Inonesia bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan *``le
> désir d`etre ensamble´´* diatas daerah yang kecil seperti Minagkabau,
> atau Madura, atau Jogya, atau Sunda, atau Bugis, tapi bangsa Indonesia
> ialah *seluruh *manusia-manusia yang menurut Geopolitik, yang telah
> ditentukan oleh Allah s.w.t. tinggal dikesatuannya semua pulau-pulau
> Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! *S e l u r u h n y
> a!,* karena antara manusia yang lebih dari 70.000.000  ini sudah ada  *``le
> désir d`etre ensamble´´,** sudah terjadi* *„Charaktergemeinschaft“!* Nation
> Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah
> 70.000.000 , tetapi 70.000.000,  ini *sudah menjadi satu*, *satu,
> sekalilagi satu!* (tepuk tangan hebat). [cuplikan dari pidato lahirnya
> Pancasila 1 Juni 1945, yang diucapkan oleh Bung Karno, Presiden Pertama
> dari NKRI]. *Jadi apa yang dinamakam Bineka tunggal ika itu sudah menjadi
> suatu kenyataan!!! *(catatan dari saya 70.000.000 adalah jumlah bangsa
> Indonesia pada saat itu, yang sekarang ini sudah berkembang  menjadi
> sekitar 255.000.000)
>
>
>
> Memang dalam menerima dan memahami Bineka Tunggal Ika itu, ada orang-orang
> yang pola pikirnya keblinger, karena dipengaruhi oleh keinginan-keinginan,
> sikap-sikap politik, dan faktor-faktor psikologis lainnya, sehingga
> terjadilah kesalahan persepsi, dalam menerima dan menaggapi Motto Bineka
> Tunggal Ika. Persepsi disini didifinisikan sebagai proses yang kita gunakan
> untuk menginterprestasikan data-data sensoris. Data sensoris itu sampai
> kepada kita melalui lima indra kita. Hasil penelitian telah
> mengidentifisikan dua jenis pengaruh dalam persepsi, yaitu pengaruh
> *struktural* dan pengaruh *fungsional**.*
>
> Pengaruh *struktural* pada persepsi berasal dari aspek-aspek rangsangan,
> yang terpapar pada kita; sedangkan pengaruh *fungsional *merupakan
> faktor-faktor *psikologis* yang mempengaruhi persepsi, dan oleh karena
> itu membawa subjektivitas ke dalam proses.  Kecenderungan adanya persepsi
> manusia yang dipengaruhi oleh *keinginan-keinginan, siksp-siksp politik,
> dan faktor-faktor psikologi lainnya, *seperti yang sudah disinggung
> diatas, secara umum disebut *Persepsi selektif.*
>
> Persepsi selektif dalam konteks ini tercermin dalam bermacam-macam
> pandangan, misalnya ada pandangan yang mengatakan, bahwa Indonesia pada
> 2015 diperkirakan bisa pecah menjadi sedikit-dikitnya 17 negara bagian, dan
> sebagai induknya, Negara Republik Jamali yang terdiri atas Jawa-Madura dan
> Bali, sebagai cermin imperium Majapahit zaman dulu (Kamis, 27 Desember 2007
> 14:44 WIB | 4511 Views Jakarta ANTARA News).
>
> Persepsi selektif juga nampak dalam pandangan yang *menolak kebinekaan*,
> yang tercermin dalam bukunya May jen TNI (Pur) Kivlan Zein, yang berjudul *``
> Konflik dan Integrasi``  TNI-AD*. Yang pada halaman 142-143, disitu
> dinyatakan bahwa perlunya diadakan *penafsiran ulang* terhadap motto *``Bineka
> Tunggal Ika``, *dan Pasal 1 UUD 45, yakni Negara berbentuk *kesatuan*
> menjadi *persatuan;* Pembukaan UUD 45  dan lagu *tanah airku*, yang
> berbunyi *``tanah tumpah darahku´´ *agar diubah menjadi* ``tanahku yang
> tercinta``. *Sungguh luar biasa sikap politik reaksioner, yang di inginan
> Mayjen TNI (Pur) Kivlan Zen ini!!!
>
> Bisa dipercaya bahwa persepsi Mayjen TNI (pur) Kivlan Zen, dalam menerina
> dan menanggapi motto Bineka Tunggal Ika, jelas berlatar belakang politik
> yang didasari pada *keinginannya untuk memecah belah* *kesatuan* bangsa
> Indonesia; seperti kehendak para  penyeleweng-penyeleweng Proklamasi
> Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang didukung secara tersembunyi oleh kaum
> kolonialisme, neokolonialisme, Imperialisme, dan juga golongan
> neoliberalisme (neolib) diera ``reformasi``ini, yang menhendaki adanya
> perubahan dari *kesatuan* menjadi *persatuan*, artinya  merubah *Negara
> Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)* menjadi *Negara Federal a´la van
> Mook. *
>
> Pembentukan negara federal a´la van Mook telah ditentang keras oleh
> mayoritas rakyat Indonesia penggerak revolusi Agustus 1945, karena
> federalisme hakekatnya adalah memecah belah potensi bangsa Indonesia yang
> berkepribadian *„Tunggal Ika“,* dan federalisme itu adalah alat
> imperialisme dalam menjalankan politik *„divide et impera“* (politik
> pecah belah).
>
> Meskipun Mayjen TNI Kivlan Zein nampaknya ``kukuh`` untuk mempertahankan
> kedaulatan Rebiblik Indonesia, namun ia menghendaki kelompok militer yaitu 
> *TNI/AD
> yang  pro kelompok Islamradikal-lah yang memimpin negara ini*. Rencana
> ini, kata Kivlan, sudah disusun sejak 1968. Bisa dipercaya bahwa rencana
> seperti itu adalah sejajar dengan tujuan Kartosouwiryo, yang hendak
> menrubah NKRI menjadi NII (Negara Islam Indonesia), yang sesuai dengan
> strategi politik partai Masyumi yang sudah dinyatakan sebagai partai
> terlarang, karena keterlibatannya dalah pemberontakan PRRI/Permesta.
>
> Kivlan menyebut *periode 1993-1998 adalah "ijo royo-royo".* Islamophobia
> terhadap Islam mulai berkurang. Panglima ABRI dijabat oleh Feisal Tanjung.
> Bersamaan dengan itu orang-orang yang pro terhadap Islam mulai naik
> posisinya."Kita menang selama lima tahun," ungkapnya. "Tapi reformasi 1998
> akhirnya menghancurkan semua," lanjutnya. Untuk melanjutkan perjuangannya,
> Kivlan mengaku kini menjadi calon anggota legislatif. Partai yang dipilih
> adalah PPP. "Partai ini bersejarah," katanya.( *JAKARTA (voa-islam.com
> <http://voa-islam.com>) -* Saat menyampaikan sambutannya dalam Pengajian
> Politik Islam di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013),
>  )
>
> Nampaknya mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan Zein, mantan Kas Kostrad
> (Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat), putera Minangkabau
> kelahiran Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam, 24 Desember 1946. Seorang
> jenderal yang kontroversial namun ``teguh`` dalam prinsip jika terkait
> kedaulatan R.I. Oleh karena itu bisa dipercaya bahwa Jenderal TNI (Purn.)
> Kivlan Zein ingin megganti NKRI menjadi *Negara Federal yang berhaluan
> Islam, dimana **kelompok militer TNI/AD yaitu kelompok pro Islam
> radikal-lah yang memimpin negara ini. *
>
> Sejarah bangsa Indonesia telah mencatat bahwa Negara Kesatuan Republik
> Indonesia *sanggup* dan *mampu* mengatasi berbagai gempuran dari luar,
> yaitu gempuran dari kaum kolonialisme, neokolonialisme dan Imeperialaisme:
> Pengalaman sejarah ini tercermin dalam gempuran dari kolonialisme Belanda
> dalam bentuk aksi militer yang ke dua, kita bangsa Indonesia, yang Bineka
> Tunggal Ika *tetap survive**,* dihantam oleh federalisme van Mook, yang
> hendak merobek-robek dadakita, kita *tetap survive*. Dihantam oleh krisis
> ekonomi sebagai akibat dari pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda,
> tat kala lautan-lautan kita boleh dikatakan sunyi-senyap karena bersih
> ditinggalkan oleh kapal-kapal K.P.M., kita *tetap survive.* Dihantam oleh
> DI-TII, P.R.R.I-Permesta dengan bantuannya dari luar, yaitu Imperialisme
> AS, kita *tetap survive *(culpikan dari pidato Penemuan Kembali Revolusi
> kita,- Pidato Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959).
>
> Dengan Proklamsi Kemerdekaan, yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945
> keadaan masyarakat kita tidak segera berubah dari masyarakat warisan
> kolonial menjadi masyarakat seperti yang dicita-citakan oleh Proklamasi
> Kemerdekaan itu. Kemerdekaan itu oleh Bung Karno disebut sebagai jembatan
> emas untuk memasuki masyarakat yang kita kehendaki, yang sesuai dengan
> cita-cita kemerdekaan, yang masih harus terus dibina, oleh karena itu
> segala potensi masih harus dikerahkan. Karena tindakan memproklamirkan
> kemerdekaan itu ternyata bertentangan dengan kehendak sekutu (Inggris dan
> Amerika), sehingga timbul pertentangan yang perlu diselesaikan. Sementara
> itu penjajah Belanda tentu juga berusaha memperkuat kedudukannya. 
> *Nederlandsch
> Indië Civil Administratie* atau *Netherlands-Indies Civil Administration*
> (disingkat *NICA*), yang dipimpin oleh Dr.H.J.van Mook, sebagai
> Lt.Gouverneur General telah berusaha memecah belah kekuatan Rakyat
> Indonesia, yaitu dengan cara membentuk ``negera-negara*`` federalisme
> a´la van Mook*, yaitu Negara Indonesia Timur, Negara Sumatra Selatan,
> Negara Sumatra Utara, dan lain-lain , sebagai kelanjutan konferensi yang
> diselenggarakan di Den Pasar dan Malino (Sulawesi Selatan).
>
> Njatalah bahwa mereka tidak mau mengerti apa yang kita namakan revolusi
> Agustus 1945. Modal pokok bagi setiap revolusi nasional adalah *menentang*
> imperialisme dan kolonialisme, menentang penjajahan model baru di era
> Globalisasi pasar bebas, pimpinan imperialisme AS; artinya kita harus
> melakukan *konsentrasi* *kekuatan nasional* bukan perpecahan nasional.
> Meskipun kita menyetujui pemberian autonomi-daerah seluas-luasnya sesuai
> dengan *Motto Bineka Tunggal Ika,* maka federalisme a´la van Mook, harus
> kita kikis-habis selekas-lekasnya, oleh karena federalisme a´la van Mook
> itu  pada hakekatnya adalah alat  pemecah belah kekuatan nasional. Jahatnya
> politik pemecah belah ini ternyata sekali pada tahun 1950, dan mencapai
> klimaknya dalam pemberontakan P.R.R.I.Permesta.
>
> Demikianlah dampak –dampak sitemik dari krisis Persepsi, yang
> termanifestasi dalam bebtuk persepsi selektif yang kini menguncang
> kehidupan NKRI dan persatuan bangsa Indonesia.
>
> *Hidup Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 !!!*
>
> *Hidup Konstitusi UUD 45 Naslah Asli !!!*
>
> *Hidup Pancasila 1 Juni 1945 !!!*
>
> *Hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) !!!*
>
> *Hidup Bineka Tunggal Ika !!!*
>
>
>
> Roeslan.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> *Von:* [email protected] [mailto:[email protected]]
>
> *Gesendet:* Samstag, 19. November 2016 07:31
> *An:* Yahoo! Inc.; Jaringan Kerja Indonesia; Sastra Pembebasan; Yahoo!
> Inc.; Yahoo! Inc.; DISKUSI FORUM HLD
> *Betreff:* [nasional-list] Trs: [GELORA45] Pawai NKRI di Jakarta
>
>
>
>
>
>
>
> Pada Sabtu, 19 November 2016 7:09, "kh djie [email protected] [GELORA45]" <
> [email protected]> menulis:
>
>
>
>
>
> http://www.bbc.com/indonesia/ live/indonesia-38036629
> <http://www.bbc.com/indonesia/live/indonesia-38036629>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke