http://www.jakartaasoy.com/2016/11/16/surat-terbuka-ketua-fpi-kepri-hajarullah-aswad-untuk-habib-rizieq-shihab/

Surat Terbuka Ketua FPI Kepri Hajarullah Aswad untuk Habib Rizieq Shihab
BERITAon NOVEMBER 16, 2016  ADD COMMENT   FPI RIZIEQ SHIHAB  89404 VIEWS
Sumber Foto: Republika.Co.IdAssalamu’alaikum. Yang Ana Muliakan dan Hormati 
Imam Besar FPI Jakarta.

Bib, Ana yg sdh sekian lama antum tunjuk sebagai Imam Daerah DPD FPI Provinsi 
Kepri, pada kesempatan ini ingin menyampaikan permohonan maaf sedalam2nya, 
karena tanpa ana sadari “Surat Terbuka” 8 Nopember 2016 sdh menjadi viral 
medsos seantero Indonesia. Sehingga menyebabkan polemik opini khususnya di 
internal FPI. Polemik ini pun oleh beberapa oknum FPI dijadikan dasar untuk 
melancarkan tuduhan2 yang amat naif kpd ana; seperti pengkhianat, pengikut 
buya, pro Gub. A, munafik, musuh dalam selimut, kasar tdk memiliki rasa hormat 
kpd pimpinan sampai dikatakan ana sdh lama bukan lagi sbg pengurus FPI. Lebih 
dahsyat lagi, di Tanjungpinang sdh dijadikan sbg alat untuk melakukan kudeta 
terhadap kepengurusan FPI Kepri. Padahal kalau sdh nafsu banget menguasai FPI 
Kepri sebenarnya tidak perlu susah2 mintalah secara baik2, bismillah dgn ikhlas 
pasti ana serahkan dan langsung sujud syukur.

Bib, secara organisasi ana tdk pernah menolak Gerakan Demo Damai 4-11 sami’na 
wa atho’na dan juga kebijakan2 DPP FPI sejak tahun2 yang lalu, bahkan ana turut 
akfif melaksanakan Demo Damai 4-11 di Tanjungpinang dan Batam, dari perencanaan 
sampai realisasi di lapangan. Namun anapun mohon keikhlasannya agar dapat 
diberi ruang untuk menyampaikan saran/pendapat sbg autho critic yg sifatnya 
membangun menuju kesempurnaan tujuan jihad kita. Jadi, surat Terbuka tersebut 
hanyalah merupakan sebuah kerisauan dan sekedar mengingatkan supaya perjuangan 
ini sukses di dunia wal akherat. Mungkin oleh beberapa orang di FPI kerisauan 
ana dianggap berlebihan dan tidak mendasar. Namun ana punya pengalaman selama 
16 tahun berdakwah dan berjuang di organisasi FPI dan selalu mengalaminya, tdk 
perlu dijelaskan di sini. Hal2 yang ana khawatir tsb di atas bukanlah isapan 
jempol belaka. Dan ana yakin seluruh pengurus FPI dari pusat sampai daerah sdh 
pernah mengalami diperalat, diancam, dikhianati, dihina, dimaki dan sampai 
masuk penjara. Sehingga ana merasakan selama di FPI selama itu juga kita akan 
merasa betapa pahit dan tertekannya hidup berorganisasi. Atas kesabaran dan 
istiqomah ini, semoga berbuah amal soleh menuju surga Allah tanpa hisab pada 
yaumil qiyamah nantinya. Amin

Bib, ana sangat berharap setiap jihad2 yg kita lakukan berbuah kesempurnaan dan 
kemuliaan dunia wal akherat, tentu inipun harapan bagi semuanya. Menurut hemat 
ana yang fakir ilmu ini, 2 syarat suatu ibadah dapat dikatakan afdhol di sisi 
Allah; ikhlas dan mengikuti sunnah/manhaj Rasulullah Saw. juga di samping itu 
ta’at kepada peraturan ulil amri selama tdk berlawanan dgn syari’at. Maaf Bib, 
ana bukan mau menggurui apalagi merasa lebih faham. Astaghfirullah wa 
na’uzubillahi min zalik.

Bib, ana sangat cinta dengan FPI dan teramat sayang dengan antum, tanpa terasa 
16 tahun kita bersama. Pada sa’at itu organisasi kita msh kecil dan mayoritas 
saudara2 kita masih takut bergabung. Setiap ceramah dan gerakan dakwah selalu 
dicurigai dan dihalang2i. Diberikan stigma sbg Islam radikal, teroris, premen 
berjubah dan intoleransi. Sehingga setiap antum ke Kepri utk Tabligh Akbar yg 
mendengar kebanyakan hanyalah orang2 kampung/masyarakat biasa dan polisi 
(pengamanan alias show of force), sedangkan para pejabat negara pada ngacir 
cari alibi. Tapi Al-hamdulillah kita sukses melewati semua rintangan itu 
mudah2an seterusnya. Berbagai cerita suka dan pahit menghiasi perjalanan dakwah 
kita, antum pasti msh ingat ketika kita berdakwah keliling pulau di Kepri. Naik 
pompong bersama, makan dan nyantap durian bersama, tidur di rumah nelayan. Di 
kampung Pancur Daek Lingga antum memberikan kuliah tentang Bahaya Syi’ah kepada 
kami2 dan orang kampung, kamipun terkagum2 dgn begitu luasnya wawasan antum ttg 
materi itu.

Ingatlah Bib, belasan tahun yang lalu antum pernah berkenalan dan bersaudara 
dgn orang tua pejuang dakwah di daerah terpencil ustadz Abdul Djalil, sekarang 
beliau sudah meninggal dunia/tiada. Bahkan Bib, bukan utk riak di FPI juga kita 
sdh sama2 merasakan nikmatnya hidup di penjara karena sebuah keyakinan yg kita 
perjuangkan. Oleh sebab itu, sa’at antum berwasiat “seandainya ana ditangkap 
atau terbunuh teruskan jihad ini”, bagi ana kalimat itu bagaikan halilintar yg 
terus terang rasanya ana belum siap menerimanya. Allahu Akbar… Ya Allah 
kumpulkan kami semuanya di surgaMu bersama Rasulullah yang selalu kami 
rindukan….

Bib, sangatlah mustahil persaudaraan perjuangan yang sudah belasan tahun, kalau 
hari ini masih ada orang yang menganggap bahwa ana tdk setia/tdk tho’at, telah 
berkhianat kepada garis perjuangan organisasi dan pro/membela Gub. A yg sdh 
divonis berdasarkan opini bahwa ybs sdh menistakan Al-Qur’an dan halal darahnya 
ditumpahkan. Sekalipun pernyataan ana ini masih dapat diperdebatkan dgn 
menggunakan kata “siapa tahu”. Ana memberikan masukan/kritik agar kita dapat 
menghargai kelebihan dan keunggulan orang lain, bermakna nilai2 keadilan supaya 
jgn lenyap di dalam diri kita karena terlampau bersemangat untuk menegakkan 
hukum. Keadilan merupakan pilar2 jihad dalam Islam dan tidak terpisahkan. Adil 
itu bukan hanya menegakkan hukum kepada yang bersalah, akan tetapi menjatuhkan 
hukuman berlebihan di atas kesalahan orang lain adalah kezholiman, atau 
kezholiman itu juga adalah memvonis seseorang yg belum tentu bersalah walaupun 
hanya berupa kata-kata.

Bib, secara jujur sekalipun ana setuju dan teramat setuju terduga penista 
Al-Qur’an harus dipenjara. Namun maaf beribu maaf, ana juga secara sportif hrs 
menghormati jasa dan kebaikan yang sudah seseorang lakukan untuk masyarakat yg 
mayoritas umat Islam. Menurut info yg ana terima, al-hamdulillah anak2 DKI 
sekarang tdk khawatir lagi tidak sekolah karena tdk mampu dari SD sampai dengan 
SMA karena sdh ditanggung Pemda DKI, ana yakin anak2 tersebut mayoritas muslim 
dan mungkin juga termasuk anak2 FPI. Mahasiswa sbg rakyat DKI yg kuliah di 
Univ. Negeri mendapat bantuan bea siswa pertahun Rp. 25 jt sampai dgn Rp. 30 
jt, ana yakin mayoritas mahasiswa tsb muslim dan mungkin termasuk mahasiswa 
dari anak2 FPI. Rakyat DKI sa’at ini sdh tidak khawatir lagi sakit lantaran 
miskin tdk mampu berobat karena sdh dijamin Pemda. DKI, ana yakin mayoritas 
muslim dan mungkin termasuk anggota2 FPI. Korupsi di DKI yg dulunya merajalela 
sekarang sdh jauh berkurang seandainya terlalu berlebihan kalau dikatakan sdh 
bersih. Memang ada yg mendebat dgn mengatakan banyak juga para bupati, walikota 
dan gubernur muslim yg bersih tdk korupsi tapi tdk diekspos karena media sa’at 
ini dikuasai kapitalis. Namun menurut ana sa’at ini tdk cukup bersih tdk 
korupsi, yg lebih dibutuhkan adalah keberanian kepala daerah memberantas 
korupsi tanpa kompromi walaupun hrs berhadapan dengan bawahannya, keluarganya, 
koleganya, tim suksesnya dan DPRD-nya sekalian.

Selanjutnya, banjir yang dulunya berhari2 sekarang sdh begitu cepat 
surut/kering. Pasar grosir Tanah Abang yang dulunya kumuh, jorok, macet dan 
premanisme sekarang sdh sangat rapih, bersih, lancar dan aman. Sdh ribuan 
pengurus masjid dan surau di-hajikan dan di-umrohkan. Sa’at ini di balai kota 
DKI sdh berdiri masjid yg besar dan megah yg belum sempat dibangun oleh 
gubernur2 zaman dahulu. Sekarang Al-hamdulillah Pemda. DKI sdg mendirikan 
Masjid Raya. Taman2 bermain di bangun, waduk2 jorok dan kotor dibuat cantik dan 
rapi, sistem transportasi terus ditingkatkan seperti pemb. MRT/LRT, tempat 
maksiat seperti Kali Jodoh dibongkar dan diganti dgn ruang hijau yg sangat 
sejalan kiprah FPI selama ini, sampai2 makam Islam yg pernah heboh kuburan 
fiktifpun tdk luput dari pembenahan dan seterusnya seterusnya. Lantaran 
program2 pembangunan Pemda. DKI tsb konsumennya mayoritas muslim dibandingkan 
non muslim, boleh jadi taqdir Allah atas Gubernur Non Muslim memimpin DKI 
Jakarta adalah sebuah sarkasme untuk kita sbg umat dan juga pemimpin2 Islam. 
Sejarah kota metropolitan ini dapat menjadi saksi nyata bagaimana wajah ibu 
kota pada tahun2 sebelumnya yg dipimpin para Gubernur muslim. Maaf, tdk ada 
niat untuk mengkerdilkan kontribusi yg sdh mereka perbuat untuk warga ibu kota. 
Kita juga boleh menolak hypotesa yang kita anggap sesat bahwa “pemimpin kafir 
yag adil dan amanah lebih baik dari pemimpin muslim yg zholim”. Namun 
setidaknya phenomena gaya kepemimpinan Ahok yg “bersih dan anti korupsi” 
otomatis sdh dapat membuktikan kebenaran hypotesa di atas. Maka menurut hemat 
ana, selayaknya kita khususnya warga DKI wajib bersyukur mendapatkan Gubernur 
yg anti dan berani melawan korupsi. Inilah pemimpin langka yg sulit dicari 
sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini pasca kemerdekaan. Dan prestasi2 yg sdh 
ditoreh oleh Gub. A berdampak nyata terhadap penampilan Jakarta sa’at ini. 
Allah punya cara sendiri untuk mencurahkan rezki/karuniaNya dan Allah juga 
punya rencana sendiri untuk mengukur sampai dimana kadar syukur hamba2Nya. Dan 
Kitapun sama2 paham bgm kesudahan umat2 terdahulu yang kufur nikmat. 
Na’uzubillah min zalik.

Sekedar mempertegas, ana paparkan semua ini berdasarkan pengamatan dan 
penelitian berdasarkan komparasi dgn gubernur2 sebelumnya. Ana juga tdk 
bermaksud membuka ruang debat publik, karena ana juga mafhum tentu ada yg tdk 
sependapat sembari memaparkan keburukan dan kelemahan Pemda DKI yg mungkin 
jumlahnya lebih banyak dibandingkan prestasi2 di atas, karena kita sama2 tahu 
salah satu kelebihan kita sbg manusia adalah paling lihai meneropong kelemahan 
orang lain. Inilah realitas yg terjadi selama ini, hanya yg terpenting adalah 
tergantung kejujuran di hati kita masing2. Sbgmana kata2 bijak orang kampung; 
“kalau mau seribu jalan kalau enggan berjuta dalih”. Namun sekali lagi yg ana 
paparkan bedasarkan level kejujuran diri ana sendiri yg masih tahap mau belajar 
jujur. Anapun tdk ada kepentingan, anak tidak kenal Ahok sebaliknya Ahok apa 
lagi. Program Pemda. DKI secara langsung tdk kena mengena dgn ana, karena ana 
warga Kepri bukan warga DKI, yg pasti tdk dpt ikut berpartisipasi dalam Pilkada 
Jakarta. Dalam hingar bingar polemik ini ada baiknya kita renungkan sebuah 
sabda Rosulullah Saw. ” orang yg terbaik di antara kamu adalah yang paling 
banyak mendatangkan manfaat untuk orang lain”. (Hadits).

Bib, mohon maaf lagi. Dengan kebaikan2 yg begitu banyak yg diberikan seseorang 
kepada umat Islam, hal inilah yang mungkin memberikan perbedaan antara kita, 
ana sangat menghormati ketegasan antum, terus terang level ana belum sampai ke 
maqom antum.
Banyak yg sependapat dgn antum, bahwa kita tdk boleh lemah dlm berjuang untuk 
menegakan hukum kepada seseorang yg diduga mendustakan Al-Qur’an. Di medsos 
bbrp hari yang lalu ana membaca sebuah tulisan bahwa kalau di zaman Rasulullah 
Saw. penghina al-Quran dihukum mati. Pandangan ini boleh2 saja, hanya sbg 
pembanding sepanjang yg ana pelajari kasus penghinaan yg dilakukan oleh 
seseorang terhadap Al-Qur’an zaman Rasulullah Saw. dilakukan oleh seseorang 
secara berulang2 dan diikuti dgn sifat permusuhan. Menebar syair2 propaganda 
palsu utk mempengaruhi orang banyak yang bersifat mengejek dan memperolok2. 
Bahkan dgn penghinaan Al-Qur’an ybs menebar kebencian. Rasulullah Saw. sdh 
beberapa kali menasehati dan memperingatkan untuk berhenti namun tetap saja 
tidak peduli dan bahkan menantang. Maka akhirnya Rasulullah tegakkan hukum 
secara tegas dan penghina Al-Qur’an tsb dieksekusi.

Seandainya kasus penghinaan Al-Qur’an zaman Rasulullah Saw. mau dijadikan sbg 
legalitas fiqh untuk menghakimi Gub. A sbg terduga melakukan hal yang sama, 
maka menurut hemat ana yg fakir ilmu adalah kurang tepat. Mengapa? Karena 
tuduhan kita sbg kelompok yg berkeyakinan bahwa Gub. A sdh melakukan Penistaan 
Al-Qur’an itu dari pemahaman kita terhadap ucapan ybs dan kemudian belakangan 
diketahui sdh ada editan. Namun di kelompok lain juga mengatakan bahwa ucapan 
tsb sama sekali tdk bersifat penghinaan. Dan kitapun sama2 tdk tahu di hadapan 
Allah siapa yang paling benar di antara dua kelompok yg saling berseberangan 
ini. Lain halnya kalau Gub. A memang memiliki niat menghina Al-Qur’an secara 
langsung. Hal ini dapat dilihat dari perbuatan2nya, seperti menginjak2 
Al-Qur’an, merobek-robek Al-Qur’an, memperolok-olok Al-Qur’an, mengejek umat 
Islam yg membaca Al-Qur’an, mencampuradukkan Al-Qur’an dgn musik atau syair2 
yang dilakukan dgn penuh kebencian dan permusuhan secara berulang2, persis 
seperti zaman Rasulullah Saw. Ana yakin, pasti kita sepaham tdk akan ada lagi 
perbedaan pendapat. Dan kitapun tdk keberatan kalau penista Al-Qur’an ini 
dihukum mati sekalipun.
Kesimpulannya, kalau kita saja belum tahu siapa yang paling benar di hadapan 
Allah, maka jgnlah terlalu berlebih2an. Mari kita tegakkan hukum itu secara 
proposional, berbaik sangka dan secara ikhlas menghormati prosedurnya. Berilah 
kepercayaan kepada para penegak hukum untuk bekerja secara professional, 
transparan dan bertanggung jawab. Tugas kita mengawal dan mengawasi supaya 
proses hukum tsb berjalan lancar, on the trakc, adil dan steril intervensi. 
Apalagi sdh ada jaminan berulang kali dari Bpk. Presiden, Wakil Presiden dan 
Kapolri. Jgn mendahului kenerja polisi dgn buruk sangka, fitnah dan 
ketidakpercayaan. Karena hal itu tdk ada manfaatnya sama sekali kecuali membuat 
pahala kita menjadi berkurang dan dosa semakin bertambah. Allahpun tdk suka 
kepada umatnya yg berlebih2an dalam menghadapi suatu masalah. Masak, hanya 
gara2 keceplos ngomong ancamannya kudeta yang dihalunisasi dgn istilah jihad 
konstitusi, sebuah istilah hukum tatanegara yg masih asing di telinga dan tdk 
pernah tercatat dalam kitab hukum manapun. Sedangkan di dalam Al-Qur’an Allah 
mengingatkan kita; “Katakanlah: Setiap orang berbuat menurut keadaannya 
masing2. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa di antara kamu yg paling benar 
jalannya”. (QS. Al-Isro’: 84).

Bib, kita sdh sama2 tahu pemberian maaf itu adalah salah satu keunggulan Islam 
dan merupakan salah satu akhlak mulia. Dosa besar sekalipun dalam kasus 
pembunuhan maka hukumnya di bunuh juga, itulah hukum qishos. Namun Allah masih 
memberikan peluang untuk pembunuh tsb berumur panjang apabila ahli waris 
memaafkannya. Sungguh indah ajaran Islam kita ini, salah satu tujuannya untuk 
menghapus perasaan dendam kusumat di antara umat manusia. Sebaliknya, apakah 
tdk ada sedikit celah untuk memaafkan seseorang yg sdh mengaku salah dan juga 
sdh berkali2 meminta maaf. Apalagi dgn kebijakan dan programnya sdh sangat 
bermanfaat untuk umat Islam DKI dan sdh terbukti jasa baiknya. Mungkin msh ada 
juga yg tetap menolak dgn fakta2 yg sdh terang benderang ini; paling bahasanya; 
ahh !!! itukan bukan program individu kepala daerah tapi sifatnya kolektif, 
nanti penggantinyapun mungkin lebih hebat lagi. Maaf, inilah bahasa orang dungu 
berlagak intelek, bagaimana logikanya kita lebih yakin kepada angan2 yg belum 
mungkin terjadi dari pada fakta yg sdh wujud di depan mata? Ibarat pepatah 
“melepaskan merpati yg sdh di tangan mengharap punai yg sedang terbang”.

Bib, ana selalu ingat pesan antum; di dalam Islam sebuah perjuangan yg dilihat 
prosesnya karena itulah domain kita sebagai abid ladang untuk beramal soleh. 
Sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah Yang Maha Teliti. Namun dalam 
praktek sepertinya sangat sulit dan ketidaksabaran kita yang terkadang lebih 
dominan. Apalagi di dalam baris perjuangan tersebut ada yg mengkritisi dan 
berbeda pendapat dgn arus besar. Padahal perbedaan pendapat di kalangan umat 
Islam itu lumrah dan sudah terjadi sejak era Rasulullah Saw, para sahabat, 
tabi’in dan tabi’it, tergantung bgm kita memanegnya.
Oleh sebab itu, kita tdk perlu berkonfrontasi bila sa’at ini dalam Pilkada 
terjadi perbedaan pendapat boleh tidaknya non muslim menjadi pemimpin. Bagi yg 
berpendapat HARAM TOTAL silakan saja, mungkin argumentasinya berdasarkan tafsir 
ayat secara tekstual. Namun bersamaan itu juga kitapun harus toleran ketika 
sebagian menghalalkan seorang non muslim jadi pemimpin dgn syarat dalam kondisi 
damai, mungkin landasan tafsirnya berdasarkan asbabun nuzul/sebab2 suatu ayat 
diturunkan. Pun, ikhtilaf tentang masalah ini sdh terjadi sejak zaman para 
ulama klasik, bukan sa’at musim pilkada saja. Kita mengetahui para ulama 
terdahulu sangat terkenal dgn keluasan ilmunya, kesederhanaan hidupnya dan juga 
sangat diakui sifat zuhud dan wara’nya. Namun dalam keragaman pendapat, mereka 
tidak pernah saling caci maki, ngotot merasa benar sendiri, menyebar fitnah 
ataupun berdebat kusir. Justru sebaliknya, mereka saling berlomba bersikap 
tawadhu’ dalam keilmuan mereka sangat khawatir/takut kalau2 ijtihad mereka 
keliru. Subhanallah, sebuah warisan intelektual yg sungguh tidak ternilai 
harganya. Sungguh luar biasa, betapa sangat moderat dan demokratisnya para 
ulama terdahulu sekalipun mereka hidup dalam sistem kerajaan/kesultanan.

Hanya bagi saudara2 ana yang berpendapat HARAM TOTAL memilih pemimpin kafir, 
konsewensinya pendapat itu tdk boleh bersifat parsial alias pilih2 tebu. 
Pendapat tsb harus bersifat umum yang pengharamannya berlaku untuk semua 
jabatan yg berindikasi sebagai wali/pemimpin/karib/teman akrab atau orang 
kepercayaan. Penting untuk diwaspadai, jangan sampai kita mengulangi 
kedurhakaan umat2 terdahulu; bila hukum2 Allah sesuai dgn keinginan mereka maka 
mereka amalkan, namun kalau hukum2 Allah tdk sesuai dengan selera mereka maka 
mereka campakkan kebelakang. Akhirnya mereka menanggung kehinaan di dunia wal 
akherat dari Allah Swt. Artinya non muslim harus dilarang/diharamkan utk 
dipilih/diangkat untuk menjadi pemimpin semua level, baik dari tingkat Rt, Rw, 
lurah, camat sampai presiden. Begitupun tak terkecuali pemimpin militer, para 
menteri, para anggota dewan, para kepala dinas dan juga kepala bidang apa saja 
yang mengelola hajat hidup umat Islam. Prinsip ini dalam tataran kehidupan 
privat syah2 saja diamalkan dgn menggunakan hak pilih dalam Pemilu sesuai dgn 
keyakinan kita. Persoalan maha dahsyat akan timbul apabila prinsip ini 
diterapkan secara paksa dan sefihak dalam kehidupan publik/bernegara. Bermakna 
secara otomatis kita telah membawa bangsa ini mundur ke belakang lagi, 
mengkhianati Piagam Jakarta, menyelisihi amanat para founding father (bapak 
bangsa) dan terakhir negara Kesatuan Republik Indonesia di ambang kehancuran. 
Pertanyaannya, apakah mungkin Allah meridhoi perbuatan kita yg diyakini sbg 
amal soleh tapi mendatangkan kemudhoratan yg lebih besar untuk bangsa 
Indonesia???

Bib, mohon maaf untuk kesekian kalinya. Saya merasa dalam kasus penistaan 
agama, memang antara kita terdapat perbedaan. Namun pada hakekatnya sekali lagi 
ana hanya mengingatkan dalam berjuang/berjihad kita wajib bersandar dgn manhaj 
Rasulullah Saw. dan tetap menganut prinsip2 keadilan. Perjuangan dalam Islam 
tidak boleh dilakukan dgn cara2 bathil dan inkonstitusional apapun alasannya. 
Ana sebenarnya malu menyampaikan hal ini kepada antum, ibaratnya mengajar ikan 
berenang. Dengan kecerewatan ana ini, sangatlah lumrah dikabarkan dalam sebuah 
berita bahwa ana adalah pengurus FPI Daerah yg dianggap tidak ada atau sdh 
mengundurkan diri. No problem, ana tetap ikhlas menerima konsekwensi ini dan 
ana yakin sbg keputusan yg terbaik buat FPI. Oleh sebab itu, ba’da qiyamul lail 
dengan mengucapkan bismillah sejak malam ini ana MENGUNDURKAN DIRI dari 
Keanggotaan dan Kepungurusan FPI. Insya Allah surat hitam di atas putih akan 
ana kirimkan secepatnya, kalau diperlukan. Terakhir Bib, ana merindukan antum 
untuk kembali seperti dulu/awalun kita berjuang, hidup penuh kesederhanaan. 
Rasulullah Saw. hidupnya tidak lebih mewah dgn Abu Huroiroh ra. yg dikenal sbg 
salah satu sahabat yg termiskin. Mohon maaf atas segala kesalahan dan 
kekhilafan. Jayalah FPI. Amin…
Tanjungpinang, 14 Nopember 2016. Wassalam, dari saudara Antum dunia wal 
akherat. Hajarullah Aswad.

Kirim email ke