Sebuah perlawanan yang wajar dan berpandangan kritis. Orag-oramg seperti ini
masih banyak di Indonesia.
Pada Minggu, 20 November 2016 2:46, "'Chan CT' [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
http://www.jakartaasoy.com/2016/11/16/surat-terbuka-ketua-fpi-kepri-hajarullah-aswad-untuk-habib-rizieq-shihab/
Surat Terbuka Ketua FPI Kepri Hajarullah Aswad untuk Habib Rizieq Shihab
BERITAon NOVEMBER 16, 2016 ADD COMMENT FPI RIZIEQ SHIHAB 89404 VIEWSSumber
Foto: Republika.Co.Id
Assalamu’alaikum. Yang Ana Muliakan dan Hormati Imam Besar FPI Jakarta.
Bib, Ana yg sdh sekian lama antum tunjuk sebagai Imam Daerah DPD FPI Provinsi
Kepri, pada kesempatan ini ingin menyampaikan permohonan maaf sedalam2nya,
karena tanpa ana sadari “Surat Terbuka” 8 Nopember 2016 sdh menjadi viral
medsos seantero Indonesia. Sehingga menyebabkan polemik opini khususnya di
internal FPI. Polemik ini pun oleh beberapa oknum FPI dijadikan dasar untuk
melancarkan tuduhan2 yang amat naif kpd ana; seperti pengkhianat, pengikut
buya, pro Gub. A, munafik, musuh dalam selimut, kasar tdk memiliki rasa hormat
kpd pimpinan sampai dikatakan ana sdh lama bukan lagi sbg pengurus FPI. Lebih
dahsyat lagi, di Tanjungpinang sdh dijadikan sbg alat untuk melakukan kudeta
terhadap kepengurusan FPI Kepri. Padahal kalau sdh nafsu banget menguasai FPI
Kepri sebenarnya tidak perlu susah2 mintalah secara baik2, bismillah dgn ikhlas
pasti ana serahkan dan langsung sujud syukur.Bib, secara organisasi ana tdk
pernah menolak Gerakan Demo Damai 4-11 sami’na wa atho’na dan juga kebijakan2
DPP FPI sejak tahun2 yang lalu, bahkan ana turut akfif melaksanakan Demo Damai
4-11 di Tanjungpinang dan Batam, dari perencanaan sampai realisasi di lapangan.
Namun anapun mohon keikhlasannya agar dapat diberi ruang untuk menyampaikan
saran/pendapat sbg autho critic yg sifatnya membangun menuju kesempurnaan
tujuan jihad kita. Jadi, surat Terbuka tersebut hanyalah merupakan sebuah
kerisauan dan sekedar mengingatkan supaya perjuangan ini sukses di dunia wal
akherat. Mungkin oleh beberapa orang di FPI kerisauan ana dianggap berlebihan
dan tidak mendasar. Namun ana punya pengalaman selama 16 tahun berdakwah dan
berjuang di organisasi FPI dan selalu mengalaminya, tdk perlu dijelaskan di
sini. Hal2 yang ana khawatir tsb di atas bukanlah isapan jempol belaka. Dan ana
yakin seluruh pengurus FPI dari pusat sampai daerah sdh pernah mengalami
diperalat, diancam, dikhianati, dihina, dimaki dan sampai masuk penjara.
Sehingga ana merasakan selama di FPI selama itu juga kita akan merasa betapa
pahit dan tertekannya hidup berorganisasi. Atas kesabaran dan istiqomah ini,
semoga berbuah amal soleh menuju surga Allah tanpa hisab pada yaumil qiyamah
nantinya. AminBib, ana sangat berharap setiap jihad2 yg kita lakukan berbuah
kesempurnaan dan kemuliaan dunia wal akherat, tentu inipun harapan bagi
semuanya. Menurut hemat ana yang fakir ilmu ini, 2 syarat suatu ibadah dapat
dikatakan afdhol di sisi Allah; ikhlas dan mengikuti sunnah/manhaj Rasulullah
Saw. juga di samping itu ta’at kepada peraturan ulil amri selama tdk berlawanan
dgn syari’at. Maaf Bib, ana bukan mau menggurui apalagi merasa lebih faham.
Astaghfirullah wa na’uzubillahi min zalik.Bib, ana sangat cinta dengan FPI dan
teramat sayang dengan antum, tanpa terasa 16 tahun kita bersama. Pada sa’at itu
organisasi kita msh kecil dan mayoritas saudara2 kita masih takut bergabung.
Setiap ceramah dan gerakan dakwah selalu dicurigai dan dihalang2i. Diberikan
stigma sbg Islam radikal, teroris, premen berjubah dan intoleransi. Sehingga
setiap antum ke Kepri utk Tabligh Akbar yg mendengar kebanyakan hanyalah orang2
kampung/masyarakat biasa dan polisi (pengamanan alias show of force), sedangkan
para pejabat negara pada ngacir cari alibi. Tapi Al-hamdulillah kita sukses
melewati semua rintangan itu mudah2an seterusnya. Berbagai cerita suka dan
pahit menghiasi perjalanan dakwah kita, antum pasti msh ingat ketika kita
berdakwah keliling pulau di Kepri. Naik pompong bersama, makan dan nyantap
durian bersama, tidur di rumah nelayan. Di kampung Pancur Daek Lingga antum
memberikan kuliah tentang Bahaya Syi’ah kepada kami2 dan orang kampung, kamipun
terkagum2 dgn begitu luasnya wawasan antum ttg materi itu.Ingatlah Bib, belasan
tahun yang lalu antum pernah berkenalan dan bersaudara dgn orang tua pejuang
dakwah di daerah terpencil ustadz Abdul Djalil, sekarang beliau sudah meninggal
dunia/tiada. Bahkan Bib, bukan utk riak di FPI juga kita sdh sama2 merasakan
nikmatnya hidup di penjara karena sebuah keyakinan yg kita perjuangkan. Oleh
sebab itu, sa’at antum berwasiat “seandainya ana ditangkap atau terbunuh
teruskan jihad ini”, bagi ana kalimat itu bagaikan halilintar yg terus terang
rasanya ana belum siap menerimanya. Allahu Akbar… Ya Allah kumpulkan kami
semuanya di surgaMu bersama Rasulullah yang selalu kami rindukan….Bib,
sangatlah mustahil persaudaraan perjuangan yang sudah belasan tahun, kalau hari
ini masih ada orang yang menganggap bahwa ana tdk setia/tdk tho’at, telah
berkhianat kepada garis perjuangan organisasi dan pro/membela Gub. A yg sdh
divonis berdasarkan opini bahwa ybs sdh menistakan Al-Qur’an dan halal darahnya
ditumpahkan. Sekalipun pernyataan ana ini masih dapat diperdebatkan dgn
menggunakan kata “siapa tahu”. Ana memberikan masukan/kritik agar kita dapat
menghargai kelebihan dan keunggulan orang lain, bermakna nilai2 keadilan supaya
jgn lenyap di dalam diri kita karena terlampau bersemangat untuk menegakkan
hukum. Keadilan merupakan pilar2 jihad dalam Islam dan tidak terpisahkan. Adil
itu bukan hanya menegakkan hukum kepada yang bersalah, akan tetapi menjatuhkan
hukuman berlebihan di atas kesalahan orang lain adalah kezholiman, atau
kezholiman itu juga adalah memvonis seseorang yg belum tentu bersalah walaupun
hanya berupa kata-kata.Bib, secara jujur sekalipun ana setuju dan teramat
setuju terduga penista Al-Qur’an harus dipenjara. Namun maaf beribu maaf, ana
juga secara sportif hrs menghormati jasa dan kebaikan yang sudah seseorang
lakukan untuk masyarakat yg mayoritas umat Islam. Menurut info yg ana terima,
al-hamdulillah anak2 DKI sekarang tdk khawatir lagi tidak sekolah karena tdk
mampu dari SD sampai dengan SMA karena sdh ditanggung Pemda DKI, ana yakin
anak2 tersebut mayoritas muslim dan mungkin juga termasuk anak2 FPI. Mahasiswa
sbg rakyat DKI yg kuliah di Univ. Negeri mendapat bantuan bea siswa pertahun
Rp. 25 jt sampai dgn Rp. 30 jt, ana yakin mayoritas mahasiswa tsb muslim dan
mungkin termasuk mahasiswa dari anak2 FPI. Rakyat DKI sa’at ini sdh tidak
khawatir lagi sakit lantaran miskin tdk mampu berobat karena sdh dijamin Pemda.
DKI, ana yakin mayoritas muslim dan mungkin termasuk anggota2 FPI. Korupsi di
DKI yg dulunya merajalela sekarang sdh jauh berkurang seandainya terlalu
berlebihan kalau dikatakan sdh bersih. Memang ada yg mendebat dgn mengatakan
banyak juga para bupati, walikota dan gubernur muslim yg bersih tdk korupsi
tapi tdk diekspos karena media sa’at ini dikuasai kapitalis. Namun menurut ana
sa’at ini tdk cukup bersih tdk korupsi, yg lebih dibutuhkan adalah keberanian
kepala daerah memberantas korupsi tanpa kompromi walaupun hrs berhadapan dengan
bawahannya, keluarganya, koleganya, tim suksesnya dan DPRD-nya
sekalian.Selanjutnya, banjir yang dulunya berhari2 sekarang sdh begitu cepat
surut/kering. Pasar grosir Tanah Abang yang dulunya kumuh, jorok, macet dan
premanisme sekarang sdh sangat rapih, bersih, lancar dan aman. Sdh ribuan
pengurus masjid dan surau di-hajikan dan di-umrohkan. Sa’at ini di balai kota
DKI sdh berdiri masjid yg besar dan megah yg belum sempat dibangun oleh
gubernur2 zaman dahulu. Sekarang Al-hamdulillah Pemda. DKI sdg mendirikan
Masjid Raya. Taman2 bermain di bangun, waduk2 jorok dan kotor dibuat cantik dan
rapi, sistem transportasi terus ditingkatkan seperti pemb. MRT/LRT, tempat
maksiat seperti Kali Jodoh dibongkar dan diganti dgn ruang hijau yg sangat
sejalan kiprah FPI selama ini, sampai2 makam Islam yg pernah heboh kuburan
fiktifpun tdk luput dari pembenahan dan seterusnya seterusnya. Lantaran
program2 pembangunan Pemda. DKI tsb konsumennya mayoritas muslim dibandingkan
non muslim, boleh jadi taqdir Allah atas Gubernur Non Muslim memimpin DKI
Jakarta adalah sebuah sarkasme untuk kita sbg umat dan juga pemimpin2 Islam.
Sejarah kota metropolitan ini dapat menjadi saksi nyata bagaimana wajah ibu
kota pada tahun2 sebelumnya yg dipimpin para Gubernur muslim. Maaf, tdk ada
niat untuk mengkerdilkan kontribusi yg sdh mereka perbuat untuk warga ibu kota.
Kita juga boleh menolak hypotesa yang kita anggap sesat bahwa “pemimpin kafir
yag adil dan amanah lebih baik dari pemimpin muslim yg zholim”. Namun
setidaknya phenomena gaya kepemimpinan Ahok yg “bersih dan anti korupsi”
otomatis sdh dapat membuktikan kebenaran hypotesa di atas. Maka menurut hemat
ana, selayaknya kita khususnya warga DKI wajib bersyukur mendapatkan Gubernur
yg anti dan berani melawan korupsi. Inilah pemimpin langka yg sulit dicari
sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini pasca kemerdekaan. Dan prestasi2 yg sdh
ditoreh oleh Gub. A berdampak nyata terhadap penampilan Jakarta sa’at ini.
Allah punya cara sendiri untuk mencurahkan rezki/karuniaNya dan Allah juga
punya rencana sendiri untuk mengukur sampai dimana kadar syukur hamba2Nya. Dan
Kitapun sama2 paham bgm kesudahan umat2 terdahulu yang kufur nikmat.
Na’uzubillah min zalik.Sekedar mempertegas, ana paparkan semua ini berdasarkan
pengamatan dan penelitian berdasarkan komparasi dgn gubernur2 sebelumnya. Ana
juga tdk bermaksud membuka ruang debat publik, karena ana juga mafhum tentu ada
yg tdk sependapat sembari memaparkan keburukan dan kelemahan Pemda DKI yg
mungkin jumlahnya lebih banyak dibandingkan prestasi2 di atas, karena kita
sama2 tahu salah satu kelebihan kita sbg manusia adalah paling lihai meneropong
kelemahan orang lain. Inilah realitas yg terjadi selama ini, hanya yg
terpenting adalah tergantung kejujuran di hati kita masing2. Sbgmana kata2
bijak orang kampung; “kalau mau seribu jalan kalau enggan berjuta dalih”. Namun
sekali lagi yg ana paparkan bedasarkan level kejujuran diri ana sendiri yg
masih tahap mau belajar jujur. Anapun tdk ada kepentingan, anak tidak kenal
Ahok sebaliknya Ahok apa lagi. Program Pemda. DKI secara langsung tdk kena
mengena dgn ana, karena ana warga Kepri bukan warga DKI, yg pasti tdk dpt ikut
berpartisipasi dalam Pilkada Jakarta. Dalam hingar bingar polemik ini ada
baiknya kita renungkan sebuah sabda Rosulullah Saw. ” orang yg terbaik di
antara kamu adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat untuk orang lain”.
(Hadits).Bib, mohon maaf lagi. Dengan kebaikan2 yg begitu banyak yg diberikan
seseorang kepada umat Islam, hal inilah yang mungkin memberikan perbedaan
antara kita, ana sangat menghormati ketegasan antum, terus terang level ana
belum sampai ke maqom antum.
Banyak yg sependapat dgn antum, bahwa kita tdk boleh lemah dlm berjuang untuk
menegakan hukum kepada seseorang yg diduga mendustakan Al-Qur’an. Di medsos
bbrp hari yang lalu ana membaca sebuah tulisan bahwa kalau di zaman Rasulullah
Saw. penghina al-Quran dihukum mati. Pandangan ini boleh2 saja, hanya sbg
pembanding sepanjang yg ana pelajari kasus penghinaan yg dilakukan oleh
seseorang terhadap Al-Qur’an zaman Rasulullah Saw. dilakukan oleh seseorang
secara berulang2 dan diikuti dgn sifat permusuhan. Menebar syair2 propaganda
palsu utk mempengaruhi orang banyak yang bersifat mengejek dan memperolok2.
Bahkan dgn penghinaan Al-Qur’an ybs menebar kebencian. Rasulullah Saw. sdh
beberapa kali menasehati dan memperingatkan untuk berhenti namun tetap saja
tidak peduli dan bahkan menantang. Maka akhirnya Rasulullah tegakkan hukum
secara tegas dan penghina Al-Qur’an tsb dieksekusi.Seandainya kasus penghinaan
Al-Qur’an zaman Rasulullah Saw. mau dijadikan sbg legalitas fiqh untuk
menghakimi Gub. A sbg terduga melakukan hal yang sama, maka menurut hemat ana
yg fakir ilmu adalah kurang tepat. Mengapa? Karena tuduhan kita sbg kelompok yg
berkeyakinan bahwa Gub. A sdh melakukan Penistaan Al-Qur’an itu dari pemahaman
kita terhadap ucapan ybs dan kemudian belakangan diketahui sdh ada editan.
Namun di kelompok lain juga mengatakan bahwa ucapan tsb sama sekali tdk
bersifat penghinaan. Dan kitapun sama2 tdk tahu di hadapan Allah siapa yang
paling benar di antara dua kelompok yg saling berseberangan ini. Lain halnya
kalau Gub. A memang memiliki niat menghina Al-Qur’an secara langsung. Hal ini
dapat dilihat dari perbuatan2nya, seperti menginjak2 Al-Qur’an, merobek-robek
Al-Qur’an, memperolok-olok Al-Qur’an, mengejek umat Islam yg membaca Al-Qur’an,
mencampuradukkan Al-Qur’an dgn musik atau syair2 yang dilakukan dgn penuh
kebencian dan permusuhan secara berulang2, persis seperti zaman Rasulullah Saw.
Ana yakin, pasti kita sepaham tdk akan ada lagi perbedaan pendapat. Dan kitapun
tdk keberatan kalau penista Al-Qur’an ini dihukum mati sekalipun.
Kesimpulannya, kalau kita saja belum tahu siapa yang paling benar di hadapan
Allah, maka jgnlah terlalu berlebih2an. Mari kita tegakkan hukum itu secara
proposional, berbaik sangka dan secara ikhlas menghormati prosedurnya. Berilah
kepercayaan kepada para penegak hukum untuk bekerja secara professional,
transparan dan bertanggung jawab. Tugas kita mengawal dan mengawasi supaya
proses hukum tsb berjalan lancar, on the trakc, adil dan steril intervensi.
Apalagi sdh ada jaminan berulang kali dari Bpk. Presiden, Wakil Presiden dan
Kapolri. Jgn mendahului kenerja polisi dgn buruk sangka, fitnah dan
ketidakpercayaan. Karena hal itu tdk ada manfaatnya sama sekali kecuali membuat
pahala kita menjadi berkurang dan dosa semakin bertambah. Allahpun tdk suka
kepada umatnya yg berlebih2an dalam menghadapi suatu masalah. Masak, hanya
gara2 keceplos ngomong ancamannya kudeta yang dihalunisasi dgn istilah jihad
konstitusi, sebuah istilah hukum tatanegara yg masih asing di telinga dan tdk
pernah tercatat dalam kitab hukum manapun. Sedangkan di dalam Al-Qur’an Allah
mengingatkan kita; “Katakanlah: Setiap orang berbuat menurut keadaannya
masing2. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa di antara kamu yg paling benar
jalannya”. (QS. Al-Isro’: 84).Bib, kita sdh sama2 tahu pemberian maaf itu
adalah salah satu keunggulan Islam dan merupakan salah satu akhlak mulia. Dosa
besar sekalipun dalam kasus pembunuhan maka hukumnya di bunuh juga, itulah
hukum qishos. Namun Allah masih memberikan peluang untuk pembunuh tsb berumur
panjang apabila ahli waris memaafkannya. Sungguh indah ajaran Islam kita ini,
salah satu tujuannya untuk menghapus perasaan dendam kusumat di antara umat
manusia. Sebaliknya, apakah tdk ada sedikit celah untuk memaafkan seseorang yg
sdh mengaku salah dan juga sdh berkali2 meminta maaf. Apalagi dgn kebijakan dan
programnya sdh sangat bermanfaat untuk umat Islam DKI dan sdh terbukti jasa
baiknya. Mungkin msh ada juga yg tetap menolak dgn fakta2 yg sdh terang
benderang ini; paling bahasanya; ahh !!! itukan bukan program individu kepala
daerah tapi sifatnya kolektif, nanti penggantinyapun mungkin lebih hebat lagi.
Maaf, inilah bahasa orang dungu berlagak intelek, bagaimana logikanya kita
lebih yakin kepada angan2 yg belum mungkin terjadi dari pada fakta yg sdh wujud
di depan mata? Ibarat pepatah “melepaskan merpati yg sdh di tangan mengharap
punai yg sedang terbang”.Bib, ana selalu ingat pesan antum; di dalam Islam
sebuah perjuangan yg dilihat prosesnya karena itulah domain kita sebagai abid
ladang untuk beramal soleh. Sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah Yang
Maha Teliti. Namun dalam praktek sepertinya sangat sulit dan ketidaksabaran
kita yang terkadang lebih dominan. Apalagi di dalam baris perjuangan tersebut
ada yg mengkritisi dan berbeda pendapat dgn arus besar. Padahal perbedaan
pendapat di kalangan umat Islam itu lumrah dan sudah terjadi sejak era
Rasulullah Saw, para sahabat, tabi’in dan tabi’it, tergantung bgm kita
memanegnya.
Oleh sebab itu, kita tdk perlu berkonfrontasi bila sa’at ini dalam Pilkada
terjadi perbedaan pendapat boleh tidaknya non muslim menjadi pemimpin. Bagi yg
berpendapat HARAM TOTAL silakan saja, mungkin argumentasinya berdasarkan tafsir
ayat secara tekstual. Namun bersamaan itu juga kitapun harus toleran ketika
sebagian menghalalkan seorang non muslim jadi pemimpin dgn syarat dalam kondisi
damai, mungkin landasan tafsirnya berdasarkan asbabun nuzul/sebab2 suatu ayat
diturunkan. Pun, ikhtilaf tentang masalah ini sdh terjadi sejak zaman para
ulama klasik, bukan sa’at musim pilkada saja. Kita mengetahui para ulama
terdahulu sangat terkenal dgn keluasan ilmunya, kesederhanaan hidupnya dan juga
sangat diakui sifat zuhud dan wara’nya. Namun dalam keragaman pendapat, mereka
tidak pernah saling caci maki, ngotot merasa benar sendiri, menyebar fitnah
ataupun berdebat kusir. Justru sebaliknya, mereka saling berlomba bersikap
tawadhu’ dalam keilmuan mereka sangat khawatir/takut kalau2 ijtihad mereka
keliru. Subhanallah, sebuah warisan intelektual yg sungguh tidak ternilai
harganya. Sungguh luar biasa, betapa sangat moderat dan demokratisnya para
ulama terdahulu sekalipun mereka hidup dalam sistem kerajaan/kesultanan.Hanya
bagi saudara2 ana yang berpendapat HARAM TOTAL memilih pemimpin kafir,
konsewensinya pendapat itu tdk boleh bersifat parsial alias pilih2 tebu.
Pendapat tsb harus bersifat umum yang pengharamannya berlaku untuk semua
jabatan yg berindikasi sebagai wali/pemimpin/karib/teman akrab atau orang
kepercayaan. Penting untuk diwaspadai, jangan sampai kita mengulangi
kedurhakaan umat2 terdahulu; bila hukum2 Allah sesuai dgn keinginan mereka maka
mereka amalkan, namun kalau hukum2 Allah tdk sesuai dengan selera mereka maka
mereka campakkan kebelakang. Akhirnya mereka menanggung kehinaan di dunia wal
akherat dari Allah Swt. Artinya non muslim harus dilarang/diharamkan utk
dipilih/diangkat untuk menjadi pemimpin semua level, baik dari tingkat Rt, Rw,
lurah, camat sampai presiden. Begitupun tak terkecuali pemimpin militer, para
menteri, para anggota dewan, para kepala dinas dan juga kepala bidang apa saja
yang mengelola hajat hidup umat Islam. Prinsip ini dalam tataran kehidupan
privat syah2 saja diamalkan dgn menggunakan hak pilih dalam Pemilu sesuai dgn
keyakinan kita. Persoalan maha dahsyat akan timbul apabila prinsip ini
diterapkan secara paksa dan sefihak dalam kehidupan publik/bernegara. Bermakna
secara otomatis kita telah membawa bangsa ini mundur ke belakang lagi,
mengkhianati Piagam Jakarta, menyelisihi amanat para founding father (bapak
bangsa) dan terakhir negara Kesatuan Republik Indonesia di ambang kehancuran.
Pertanyaannya, apakah mungkin Allah meridhoi perbuatan kita yg diyakini sbg
amal soleh tapi mendatangkan kemudhoratan yg lebih besar untuk bangsa
Indonesia???Bib, mohon maaf untuk kesekian kalinya. Saya merasa dalam kasus
penistaan agama, memang antara kita terdapat perbedaan. Namun pada hakekatnya
sekali lagi ana hanya mengingatkan dalam berjuang/berjihad kita wajib bersandar
dgn manhaj Rasulullah Saw. dan tetap menganut prinsip2 keadilan. Perjuangan
dalam Islam tidak boleh dilakukan dgn cara2 bathil dan inkonstitusional apapun
alasannya. Ana sebenarnya malu menyampaikan hal ini kepada antum, ibaratnya
mengajar ikan berenang. Dengan kecerewatan ana ini, sangatlah lumrah dikabarkan
dalam sebuah berita bahwa ana adalah pengurus FPI Daerah yg dianggap tidak ada
atau sdh mengundurkan diri. No problem, ana tetap ikhlas menerima konsekwensi
ini dan ana yakin sbg keputusan yg terbaik buat FPI. Oleh sebab itu, ba’da
qiyamul lail dengan mengucapkan bismillah sejak malam ini ana MENGUNDURKAN DIRI
dari Keanggotaan dan Kepungurusan FPI. Insya Allah surat hitam di atas putih
akan ana kirimkan secepatnya, kalau diperlukan. Terakhir Bib, ana merindukan
antum untuk kembali seperti dulu/awalun kita berjuang, hidup penuh
kesederhanaan. Rasulullah Saw. hidupnya tidak lebih mewah dgn Abu Huroiroh ra.
yg dikenal sbg salah satu sahabat yg termiskin. Mohon maaf atas segala
kesalahan dan kekhilafan. Jayalah FPI. Amin…
Tanjungpinang, 14 Nopember 2016. Wassalam, dari saudara Antum dunia wal
akherat. Hajarullah Aswad. #yiv7486170450 #yiv7486170450 --
#yiv7486170450ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mkp #yiv7486170450hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mkp #yiv7486170450ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mkp .yiv7486170450ad
{padding:0 0;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mkp .yiv7486170450ad p
{margin:0;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mkp .yiv7486170450ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-sponsor
#yiv7486170450ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-sponsor #yiv7486170450ygrp-lc #yiv7486170450hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-sponsor #yiv7486170450ygrp-lc .yiv7486170450ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7486170450 #yiv7486170450actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7486170450
#yiv7486170450activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7486170450
#yiv7486170450activity span {font-weight:700;}#yiv7486170450
#yiv7486170450activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7486170450 #yiv7486170450activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7486170450 #yiv7486170450activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7486170450 #yiv7486170450activity span
.yiv7486170450underline {text-decoration:underline;}#yiv7486170450
.yiv7486170450attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7486170450 .yiv7486170450attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7486170450 .yiv7486170450attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7486170450 .yiv7486170450attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7486170450 .yiv7486170450attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7486170450 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7486170450 .yiv7486170450bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7486170450
.yiv7486170450bold a {text-decoration:none;}#yiv7486170450 dd.yiv7486170450last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7486170450 dd.yiv7486170450last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7486170450
dd.yiv7486170450last p span.yiv7486170450yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7486170450 div.yiv7486170450attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7486170450 div.yiv7486170450attach-table
{width:400px;}#yiv7486170450 div.yiv7486170450file-title a, #yiv7486170450
div.yiv7486170450file-title a:active, #yiv7486170450
div.yiv7486170450file-title a:hover, #yiv7486170450 div.yiv7486170450file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7486170450 div.yiv7486170450photo-title a,
#yiv7486170450 div.yiv7486170450photo-title a:active, #yiv7486170450
div.yiv7486170450photo-title a:hover, #yiv7486170450
div.yiv7486170450photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7486170450
div#yiv7486170450ygrp-mlmsg #yiv7486170450ygrp-msg p a
span.yiv7486170450yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7486170450
.yiv7486170450green {color:#628c2a;}#yiv7486170450 .yiv7486170450MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7486170450 o {font-size:0;}#yiv7486170450
#yiv7486170450photos div {float:left;width:72px;}#yiv7486170450
#yiv7486170450photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7486170450
#yiv7486170450photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7486170450
#yiv7486170450reco-category {font-size:77%;}#yiv7486170450
#yiv7486170450reco-desc {font-size:77%;}#yiv7486170450 .yiv7486170450replbq
{margin:4px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-mlmsg select, #yiv7486170450 input, #yiv7486170450 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-mlmsg pre, #yiv7486170450 code {font:115%
monospace;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-mlmsg #yiv7486170450logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-msg
p#yiv7486170450attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-reco #yiv7486170450reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-sponsor
#yiv7486170450ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-sponsor #yiv7486170450ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-sponsor #yiv7486170450ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7486170450 #yiv7486170450ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7486170450
#yiv7486170450ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7486170450