Sabtu, 19 November 2016 | 17:00 
http://www.beritasatu.com/nasional/400085-parade-bhinneka-tunggal-ika-saatnya-silent-majority-tampil.html#
   
http://www.beritasatu.com/nasional/400085-parade-bhinneka-tunggal-ika-saatnya-silent-majority-tampil.html#
   
http://www.beritasatu.com/nasional/400085-parade-bhinneka-tunggal-ika-saatnya-silent-majority-tampil.html#
   http://www.addthis.com/tellfriend.php
 

 
 

 Parade Bhinneka Tunggal Ika, Saatnya Silent Majority Tampil 
http://www.beritasatu.com/nasional/400085-parade-bhinneka-tunggal-ika-saatnya-silent-majority-tampil.html


 Ratusan masyarakat membentangkan bendera merah putih raksasa sambil 
menyanyikan lagu nasional saat mengikuti Parede Bhineka Tunggal Ika di Jakarta, 
19 November 2016. Parade tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai acara 
seperti kesenian, musik, orasi, dan doa bersama lintas agama yang ditutup 
dengan longmarch dari Patung Kuda menuju Tugu Tani dan kembali lagi ke Patung 
Kuda. FOTO: BeritaSatu Photo/Danung Arifin



 Jakarta - Parade Bhinneka Tunggal Ika yang berlangsung di Jakarta, Sabtu 
(19/11), menunjukkan sejatinya masih lebih banyak elemen bangsa yang 
menghendaki kebinekaan tumbuh subur dan NKRI tegak berdiri. Golongan tersebut 
yang selama ini berdiam diri menjadi silent majority, kini mulai tampil 
merespons perkembangan situasi politik di Tanah Air.
 Aksi yang mereka lakukan, adalah untuk mengingatkan pentingnya merawat dan 
memberi tempat bagi Bhinneka Tunggal Ika untuk tetap hidup. Hal itu sekaligus 
membangkitkan kesadaran kolektif, bahwa NKRI bisa tetap tegak berdiri, karena 
kesepakatan yang dibangun para founding fathers, dan selama ini bangsa 
Indonesia mampu menjaga kesepakatan itu. Oleh karenanya, setiap tindakan yang 
mengancam kebinekaan, adalah pengingkaran terhadap NKRI.
 Demikian benang merah sejumlah tokoh menanggapi aksi damai Parade Bhinneka 
Tunggal Ika, yang dihubungi di Jakarta, Sabtu (19/11). Koordinator Abdurrahman 
Wahid Centre Universitas Indonesia Ahmad Suaedy berpandangan, pawai kebinekaan 
itu merupakan upaya sebagian masyarakat untuk menunjukkan bahwa Indonesia 
plural dan multikultural. “Masing-masing harus saling menghormati satu dengan 
yang lain,” ucapnya.
 Hal senada disampaikan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia 
(Matakin) Uung Sendana. Dia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang 
ber-Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila. “Pawai itu dimaksudkan untuk 
mengingatkan kita semua bahwa Indonesia dapat berdiri, merdeka, dan membangun, 
karena adanya kesadaran ini. Bila kesadaran bahwa kita bangsa yang ber-Bhinneka 
Tunggal Ika berlandaskan Pancasila itu lenyap, dan lantas diganti ideologi 
lain, Indonesia dipastikan akan lenyap,” jelasnya.
 Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo 
Edy Purwanto mengatakan, pawai kebinekaan menunjukkan bahwa inilah wajah dan 
ciri Indonesia yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan Indonesia bukan mono, 
bukan sejenis, tetapi plural dan majemuk.
 “Maka pawai kebinekaan ini adalah maknanya inilah Indonesia yang majemuk dan 
plural,” katanya.
 Dia yakin, masih lebih banyak elemen bangsa Indonesia yang berada di garis 
yang benar dalam memaknai keindonesiaan. Golongan ini selama ini berdiam diri 
menjadi silent majority, karena tidak peduli atau cuek, tidak mau tahu, ada 
sebagian yang peduli tetapi tidak berani berekspresi, lalu ada sebagian lagi 
terombang-ambing.
 “Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang punya kepedulian pada kebinekaan dan 
keindonesiaan harus benar-benar membawa kelompok silent majority ini untuk 
tampil. Tujuannya untuk membawa kesadaran bersama agar berani mengekspresikan 
keindonesiaan yang majemuk,” tandasnya.
 Ia berpandangan, pawai kebinekaan ini biarlah sebagai penyeimbang dari aksi 
yang sebelumnya. “Masyarakat juga diajak untuk membuka mata bahwa inilah wajah 
keindonesiaan yang sesungguhnya yakni Indonesia yang majemuk,” jelasnya.
 Bukan Aksi Tandingan
Sejak Sabtu (19/11) pagi, ribuan massa mengikuti Parade Bhinneka Tunggal Ika, 
yang dipusatkan di depan Patung Kuda, Silang Monas, Jakarta. Mereka juga 
melakukan pawai menyurusi Jalan Medan Merdeka Selatan, menuju Tugu Tani dan 
kembali ke Silang Monas.
 Dalam parade tersebut diisi hiburan musik yang menampilkan lagu-lagu 
bernafaskan kebangsaan, serta orasi dari sejumlah tokoh. Para peserta yang 
datang dari wilayah Jabodetabek mengenakan beragam kostum, yang umumnya 
didominasi warna merah dan putih. Sebuah bendera Merah Putih berukuran raksasa 
memayungi massa di bawah terik matahari.
 Penggagas Parade Bhinneka Tunggal Ika, Nong Darol Mahmada menegaskan, parade 
ini bukan aksi tandingan unjuk rasa besar-besaran pada 4 November lalu. 
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menegaskan dan mengingatkan bahwa NKRI adalah 
harga mati. Begitu juga dasar NKRI, Pancasila, tidak bisa digantikan oleh 
ideologi apapun.
 “Dasar NKRI tidak bisa digantikan oleh apa pun dan siapa pun. Karena itu, 
Indonesia menjamin adanya perbedaan dalam kesatuan. Seperti semboyan yang 
selama ini kita junjung tinggi yaitu Bhinneka Tunggal Ika,” kata Nong.
 Bila ada pihak-pihak atau oknum yang ingin menggantikan Pancasila sebagai 
dasar negara dengan dasar yang lain, maka tindakan itu merupakan tindakan 
inkonstitusional yang wajib dicegah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia.
 “Mereka yang ingin menggantikan Pancasila harus ditindak tegas. Dicegah 
secepatnya. Agar niat dan usahanya menggantikan Pancasila tidak terjadi dan 
tidak merusak perdamaian di Indonesia yang sudah terpelihara dan terawat sejak 
lama,” ujarnya.
 Nong pun mengajak semua elemen masyarakat Indonesia agar tak boleh tinggal 
diam dengan segala upaya yang memecah belah NKRI dan berniat mengganti 
Pancasila. “Atas situasi ini, kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus 
mempertahankan kebinekaan di tanah Indonesia ini. Kita harus mempertahankan 
keutuhan negara ini. Kita harus mempertahankan kedamaian di Indonesia. Karena 
kita cinta Indonesia, dengan menjaga sesama meski berbeda,” tukasnya.
 Penggagas aksi lainnya, Nia Sjarifudin mengungkapkan penyelenggaraan Parade 
Bhinneka Tunggal Ika dilaksanakan sebagai bentuk perhatian masyarakat terhadap 
polemik yang tengah terjadi di Indonesia beberapa waktu terakhir ini.
 Kegiatan ini juga dilakukan untuk menyikapi peristiwa yang dapat mengarah pada 
perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, bila didiamkan terlalu lama.
 “Makanya kami bergerak. Acara ini digelar sebagai bentuk menyikapi 
keprihatinan atas situasi belakangan ini yang berpotensi memecah belah 
persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia,” tegas Nia.
 Amos Sugianto, salah satu inisiator kegiatan menyatakan parade tersebut 
sifatnya karnaval untuk memberi suasana damai dan menampilkan kekayaan budaya 
Indonesia. Sebab saat ini, banyak kabar yang beredar di tengah masyarakat 
berbau adu domba yang beredar di media sosial. “Kami enggak ada niat untuk 
menandingi aksi 4 November. Ini sebuah panggilan hati nurani,” tegasnya.
 Selfie Piri, seorang peserta parade menjelaskan, sebagai warga negara, dia 
merasa terpanggil untuk berdoa bagi kesatuan bangsa. Warga Depok asal Manado 
ini mengungkapkan kedatangannya ke parade dengan harapan NKRI dapat terus 
dipertahankan meski ada gelombang keras untuk mematahkannya.
 


 http://www.suarapembaruan.com/home/
 Lenny Tristia Tambun/Ari Supriyanti Rikin/ALD
 
 Suara Pembaruan
 

Kirim email ke