Cerita dibalik Pengasingan Eks TAPOL di Zaman PKI ’65 

Oleh : Joanny Pesulima (Jurnalis Freelance) 

Harian Mimbar Rakyat 16 Oktober 2016



KANDI PARGONO: ’’Saya Siap Ungkapkan Kebenaran Penyiksaan dan Kekerasan Seksual 
Bagi Tahanan’’ 

Banyak orang yang dituding sebagai simpatisan dan anggota Partai Komunis 
Indonesia (PKI) , dibuang dan diasingkan di Maluku, tepatnya di Pulau Buru dan 
di Jazirah Leihitu kabupaten Maluku Tengah oleh pemerintah Orde Baru secara 
bertahap, yang dimulai dari tahun 1969 sampai 1976. Mereka yang di tahan tanpa 
sebab itu tidak pernah menjalani proses pengadilan, bahkan status mereka pun 
tidak jelas hingga kini. Hal ini sempat menimbulkan diskriminasi terhadap 
mereka termasuk di dalamnya anak-anak mereka yang menjadi korban ketidakadilan 
di birokrasi. 

Kandi Pargono, begitu nama lengkapnya, asal pulau Jawa, lahir dan dibesarkan 
dari keluarga yang berlatar belakang Guru adalah salah satu eks tahanan politik 
PKI di Maluku, mempunyai banyak cerita dan pengalaman terkait kisah ditahannya 
beliau dan para tahanan saat itu. Beliau juga saksi penyiksaan yang terjadi 
saat itu. Ia pun tidak berkeberatan , kisahnya ini ditulis dan diungkapkan 
untuk semua orang, dengan maksud supaya semua orang bisa mengetahui kebenaran 
yang terjadi saat itu. Mau tau kisahnya ? berikut petikan wawancara Joanny 
Pesulima dengan Kandi Pargono di kediamannya , Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, 
beberapa waktu lalu . 

Apakah anda bisa menyebutkan identitas dan latar belakang anda ? 

Saya bernama lengkap Kandi Pargono, lahir di Tulung Agung 18 November 1940, 
orangtua saya bernama Supangat, dan berlatar belakang sebagai guru SD, sekitar 
tahun 1950. Saat itu, saya sudah duduk di kelas IV SD. Tahun 1954 saya mulai 
ujian SD, kemudian masuk SMP sampai di tahun 1957. Saya sekolah seni rupa di 
Jogya sampai Tahun 1959. Tahun 1962 tamat dari akademi seni rupa, Ganefo (Games 
of the new Emerging Force). Selama 1 Tahun 3 bulan saya berdomisili di kartini 
IV dan bekerja di Tata Kota, Seksi penerimaan Kapal-Kapal Negara asing, juga 
membantu pembuatan Patung pembebasan irian. Saya sekarang berumur 76 tahun, 
bahkan dalam usia ini banyak pahit manis yang saya alami kala peristiwa ‘1965. 
Saya mempunyai seorang isteri bernama Bintarati Samal, 2 orang anak, dan 6 
orang cucu. 

Bisakah anda menceritakan apa saja yang anda alami terkait hal ini? 

Saya waktu itu belum aktif, saat saya kuliah tahun 1959. Saya adalah anggota 
CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) masuk organisasi Lembaga 
Kebudayaan Rakyat (LEKRA), prinsipnya bagaimana generasi ini ikut 
berpartisipasi dan berjuang, bahwasannya kita harus mengenal politik, bebas 
bukan bebas satu paham. Kita tidak terikat oleh satu haluan. Di sini saya 
belajar mengenal politik dan terkait bidang yang saya gunakan, materinya 
bagaimana seni rupa mengabdi kepada perjuangan rakyat, jangan sampai bangsa 
kita dijajah oleh unsur budaya. 

Yang saya rasakan, ketika terjadi peristiwa 1965, dari surabaya berangkat bulan 
Mei Tahun 1963, sampai di Ambon, saya diberi tugas mengajar di SMA Poltek 
Negeri 1 (Lokasinya sekarang menjadi Perpustakaan Negara) sebagai pegawai dan 
guru tetap, dan saat itu peristiwa belum terjadi. Ketika saya sedang bekerja di 
Sekolah Komunitas Thionghoa, di situ saya membuat dekorasi ulang tahun sekolah 
itu. Ada beberapa rekan saya yakni saudara Samuel Marpey, Jakob Siwabessy asal 
Ambon, yang sementara bekerja, mendengar info di Jakarta terjadi peristiwa itu. 

Sesudah 1 Oktober, mulai di Sekolah kami, desas desus pemberontakan tersebar, 
tapi kami tidak tahu. Tiap malam saya lalu mendatangi Christofol Latuputy, yang 
bekerja di Kantor Gubernur sebagai BPH (Badan Pelaksana Harian) dalam 
organisasi politik karena dia orang Parpol, untuk menanyakan peristiwa 
sebenarnya, karena setiap malam suara radio menyatakan ada pemberontakan PKI. 
Suasana Oktober 1965 itu membuat saya waspada, sebab sudah tahu apa yang akan 
terjadi, apalagi mulai dari Tanggal 1,2,3 dan selanjutnya semakin terdengar di 
siaran radio, bahwa ada pemberontakan di Jakarta. 

Apakah anda merasa ketakutan saat mendengar berita tentang peristiwa yang 
terjadi ? selanjutnya apa yang terjadi setelah itu ? 

Kalau dikatakan rasa takut, tidak ada, biasa saja, karena kita tidak mengerti 
persistiwa persisnya seperti apa. Pada tanggal 27 Oktober 1965 itu, terjadi 
penangkapan. Saya tidak tahu siapa-siapa saja, bukan hanya saya saja, tapi ada 
beberapa orang yang tidak saya kenal, saya tidak mengerti apa ini. Kita di 
kumpulkan di markas POM KODAM XVI Pattimura. Saya dan rekan-rekan yang ada, 
kita saling bertanya. Namun kita akhirnya harus tutup mulut karena kita ditekan 
tidak boleh saling bertanya, hanya kita yakin kita tidak mungin begini, pasti 
ada sesuatu di balik ini semua. 

Siapa yang menahan anda ? Apakah ada alasan mereka menahan anda ? bagaimana 
cara atau proses penahanan mereka terhadap anda dan bagaimana perlakuan mereka 
saat itu ? 

Kalau melihat proses penangkapan, waktu itu saya sempat bertanya tentang surat 
penahanan dari mana, mereka menjawab suratnya dari tim pelaksana penguasa 
daerah namanya PEPERADA (Penguasa Pemeriksa Daerah), ditambah Komkamtib 
(Komando Operasi Ketertiban), yang ditanda tangani oleh kepala POM lewat 
Panglima Kodam. Itu terjadi Tahun 1965, kita dikumpulkan di ruang tunggu POM, 
masing-masing tidak ada pemberitahuan dan tidak ada persiapan apa-apa, kita 
ditahan dengan pakaian yang ada di badan saja, tidak disuruh membawa baju. Saat 
mereka menahan kami itu, mereka geledah rumah, semua gambar dan buku, mereka 
katakan itu buku PKI, padahal yang saya punya itu adalah buku seni rupa, berkas 
ijazah dari SD sampai perguruan tinggi, pengangkatan guru tetap, piagam dari 
Jakarta. 

Saya bilang ini tidak ada artiya, namun petugas POM mengatakan kalau semua 
disuruh bawa, karena katanya itu semua bukti. Kita melawan sudah tidak bisa 
karena mereka datang dengan senjata, ya namanya POM. Sesudah itu persis tanggal 
28 Oktober 1965, kita dipindahkan ke kompleks militer, yang di Ambon terkenal 
dengan nama lapangan Tapal Kuda, kompleks perumahan perwira-perwira Angkatan 
Darat, di daerah Airsalobar. Kita ditaruh saja di situ seperti kambing, diberi 
makan ala kadar, apa yang ada saja, nasi satu takaran, besarnya seperti tapisan 
teh, satu sendok sayur kangkung, ikan puri garam, airnya masing-masing cari 
sendiri. Nah kadang-kadang di kali, ada yang cari kaleng mentega, kaleng susu, 
kaleng sarden, untuk kita cuci dan dipakai menadah dan menyimpan air. 
Sehari-harinya kita diberikan pelayanan seperti itu. 

Sesudah anda di tahan dan di bawa ke kawasan Airsalobar, apa yang mereka 
lakukan lagi ? 

Sesudah kita ditaruh di tapal kuda, kompleks militer, ada instruksi bagi-bagi 
(pembagian personil dalam kelompok), untuk dipekerjakan, namanya dipanggil per 
kelompok, kemudian di kelompok itu, ada yang dipekerjakan di perkebunan di 
Liang Awaia Pulau Seram. Ada yang dipekerjakan di Laha membuat landasan 
lapangan udara, ada yang diisolasi ke Halmahera, ke Taliabu, pindah ke Obi, 
yang dipekerjakan oleh perusahan militer yang namanya KOPRIDAM (Komando Operasi 
Berdikari), koperasi Angkatan darat, dan kita sendiri sebagai budak yang tidak 
ada apa-apanya. Tahun demi tahun mengalami perubahan sedikit demi sedikit. Di 
satu sisi bukan kebebasan, tapi diberikan semacam iming-iming tapi tetap di 
bawah ancaman tidak boleh berbicara dengan masyarakat di sekeliling kita. 

Pada saat anda di tahan, apakah anda sempat diinterogasi atau kah tidak ? 

Selama di tempat penahanan itu, ada tim khusus yang menginterogasi beberapa 
orang, yang bertempat di sebuah rumah di kompleks militer juga, tapi tidak 
tergabung dengan para tahanan, nama tempatnya adalah Wisma Manise. Di situ tiap 
malam di panggilkan, baik wanita maupun laki-laki ditanyakan hal-hal yang 
kadang-kadang tidak masuk akal. Kadang kita merasa lucu, karena yang 
dipertanyakan itu, seperti mengapa kamu masuk partai? Sudah berumah tangga atau 
belum? 

Di sini ada juga terjadi pelanggaran-pelanggaran prostitusi, yang membuat 
cidera, bahkan ketika itu masih panas-panasnya tahun 1965-1966 itu terjadi 
suatu peristiwa dalam kompleks itu, yakni pelanggaran seksual. Salah satu 
isteri tahanan saat itu berteriak-teriak bahwa dirinya diperkosa oleh Kapten 
Sakur, yang bagi kita sendiri merasa kasihan, melihat seorang ibu yang suaminya 
ditahan sama-sama di situ, suami diperdaya atau dipekerjakan di komandan KAM, 
yakni Kapten Sakur itu sendiri. Ia dipukul di dalam ruangan itu, akhirnya 
isterinya kena sakit jiwa dan membongkar kasus pemerkosaan itu. 

Terjadi keributan namun tidak menimbulkan malapetaka kematian, tetapi para 
tahanan cukup merasa ngeri, jangan-jangan terjadi pemukulan, lagi namun itu 
semua tidak terjadi, cukup dilerai oleh Komandam Kam tadi, dan akhirnya, tak 
lama kemudian isteri tahanan itu meninggal. Di tahanan itu ada kurungan 
perkutut pakai tali, ia menarik tali itu dan sempat dimarahi oleh Kapten Sukur, 
sehingga ia disiksa, keduanya suami isteri itu sudah meninggal. 

Bisa anda ceritakan lagi selama menjadi tahanan, apa saja yang dikerjakan, dan 
bagaimana suka duka saat berada di tempat itu ? 

Saya mau katakan, kalau yang tadi-tadinya kita dikumpulkan itu, sebetulnya kita 
dijadikan budak. Saya masuk ke Taliabu barat di Limbu, masih bagian dari Maluku 
Utara bagian selatan, di situ, rombongan berjumlah 68 orang. Ke 68 orang ini 
ditaruh di Taliabu Barat yang dulunya masih penuh dengan rawa-rawa, sumber 
nyamuk malaria yang namanya Bobong. Di sini ada dua kelompok, yang satu 
kelompok dari Halmahera berjumlah 30 orang dan satu kelompok lagi dari Ambon 
berjumlah 103 orang. 

Selama 7 bulan tidak diberikan makanan satu butir beras atau jagung pun di 
sini, sehingga yang meninggal ada lima orang. Di sini, dibebaskan untuk mencari 
makanan sendiri, para tahanan pun diajak merampok, seperti misalkan dari 
Taliabu Barat ada kole-kole di dayung oleh 6 orang tahanan lalu militer membawa 
senjata, menghadang perahu dari Limbu yang perahu itu mati angin, pendayung 
dari arah Taliabu Barat ke arah pulau yang tidak dapat angin, sehingga perahu 
layar yang tidak dapat angin akan mati dan militer itu mengadakan tembakan, 
pulangnya itu tahanan yang jadi pendayung itu mendapat kemeja per orang. Jadi 
memang sudah susah, diajak merampok lagi. 

Kita di sini masing-masing cari makanan, apa saja, yang mau pukul sagu, cari 
ikan pun silahkan. Jadi kita tiap hari mengikis alat untuk mengebom ikan, dan 
makan ikan non sto. Tapi yang namanya makanan karbohidrat, nasi dan lain 
sebagainya itu tidak ada. Di sini juga kita rata-rata menjual pakaian kepada 
orang-orang Buton, kadang menukarkan dengan singkong, atau umbi (baca: Kasbi, 
keladi). Selama 7 bulan kita di Bobong yang sekarang pesawat terbang mendarat, 
di daerah Kecamatan. 

Setelah itu apakah anda juga melakukan perjalanan ke tempat lain ? atau 
bagaimana nasib tahanan yang lain ? 

Dari Ambon juga ada yang dikirim ke Liang Awaia di Seram sekitar Masohi Kilo 12 
ini, mereka menjadi budak kebun kelapa sawit. Di situ ada perkebunan Kopra dan 
Cokelat. Ada pula yang meninggal. 

Sementara yang di Ambon ada juga yang dipekerjakan di Lapangan terbang Laha, 
Menngecor semen (campur semen), dan membuat aspal sepanjang landasan itu, 
sampai ada dua kawan yang meninggal waktu itu. Jadi peristiwa 1965 itu begitu 
tragisnya, karena di samping kita menjadi tahanan politik tetapi ternyata kita 
juga kerja rodi seperti zaman Jepang, kerja Romusha, dipekerjakan dan tidak 
menerima apa-apa. 

Selanjutnya bagaimana ? 

Pada Tahun 1968, kita dari Taliabu pulang, saya sempat melapor kepada komandan 
tahanan di sini, namanya sersan Mayor Umahuk. Saya memberi pendapat lebih baik 
kita membuat pentas drama, karena saya di dalam seni Rupa, dibolehkan, akhirnya 
saya membuat skenario pentas, yang main juga para tahanan. Kita main di pulau 
Limbu sini, satu malam pulang kita dapat makanan satu kole-kole umbian (baca: 
keladi Singkong, petatas), di situ sudah dijamu masyarakat setempat, kita sudah 
seperti rakyat biasa, walaupun kita adalah tahanan. Jadi Tahun 1968 itu 
kelihatannya, kita di sambut oleh masyarakat, tidak ada bicara soal politik 
tapi seperti saudara sendiri. itulah yang kami rasakan saat itu. 

Apakah anda dan teman-teman masih terus diintimidasi ? Apa yang anda rasakan 
lagi ? 

Intimidasi tetap ada, sebab ketika Tahun 1968 kembali ke POM, masing-masing 
tetap dijadikan alat kebersihan Kota Madya. Jadi kita yang kembali dari 
Halmahera, Taliabu, Obi, tetap dijadikan budak lagi. Diantaranya membersihkan 
seluruh pohon–pohon besar di tengah-tengah kota itu, apakah pohon itu berdiri 
di atas listrik tegangan tinggi tidak perduli, yang penting tahanan itu harus 
melenyapkan pohon itu dari kota madya. Kita tahanan, senang diberikan kebebasan 
menghirup udara luar waktu itu, tetapi pengintai strom bahaya listrik itu tidak 
peduli akan bahaya yang bakal menimpa kita kelak, namun demi Tuhan, semua itu 
selamat dengan segala baik, tidak ada seorangpun yang cidera ketika 
dipekerjakan membersihkan seluruh Kota Madya, kemudian membersihkan got dari 
kodam masuk di jalan-jalan raya dibawah tanah sampai ke pantai. Kita merayap ke 
dalam got-got itu. Itulah ujian-ujian yang kita rasakan. 

Apa yang terjadi setelah tahun 1968 ? Kerjaan apa lagi yang dilakukan oleh anda 
dan teman-teman anda ?

 Sesudah Tahun 1968, kita diberi kesempatan lagi oleh POM. Di sisi lain tahanan 
wanita itu dipekerjakan di rumah-rumah anggota militer, terutama yang paling 
banyak perempuan itu dijadikan pembantu rumah tangga, mencuci pakaian, piring, 
menyetrika, menjaga anak di keluarga militer, di kompleks POM. Sementara 
laki-laki, yang punya kemampuan sopir, dijadikan sopir, tugasnya mengantar 
anggota-anggota POM tadi, jaraknya ada seitar 2,3 kilo, dimulai dari Pagi 
mengantar ke kantor dan siang membawa pulang lagi. ironisnya begitu. 

Kemudian, ada yang kerja di kalangan militer yakni di Batalion, fungsinya sama, 
disuruh membersihkan kompleks batalion 733 kota madya. Dulu tahanan infantri 
itu masih 6 orang, masing-masing di berikan kesempatan, bisa dibesuk sama 
isterinya, bisa diberikan kesempatan pulang satu malam, namun semuanya dalam 
pengawasan. Kemudian di Suli, resimen induk militer, pada bagian pembentukan 
calon-calon tamtama itu, di situ ada tahanan yang ditaruh, karena jumlahnya 
besar, di kompleks militer Suli itu ditaruh sekitar 90 tahanan. Ke-90 orang 
tahanan itu dipekerjakan juga di situ dengan pekerjaan macam-macam, sesuai 
dengan kemauan komandan, terserah komandan punya suka. 

Dari batalion ada yang tiap minggu di kirim aplosan kerja di instansi angkatan 
lain. Di Tahun 1969 itu diberikan rutinitas giliran, tiap kelompok itu 10-15 
orang. Minggu ini kerja di Angkatan Laut, besok pagi ganti kelompok lagi di 
Angkatan Laut, fungsinya membersihkan komplek. Jadi kerja itu sesudah kerja di 
Kompleks Angkatan darat, kemudian di drop ke Kompleks Angkatan Laut. Semua 
sama, hanya bedanya kalau di Angkatan Darat tidak dikasih makan, masing-masing 
jatah dari satu cupa itu satu takaran, kalau di angkatan laut itu diberi makan 
jatah dari dapur umum, makannya sebanyak Tamtama yang ada di situ termasuk 
tukang masak itu, semua tahanan. Di Angkatan Laut ada pergaulan yang bebas, 
namun , komandan Lanalnya dulu orangnya agak Streng, maka kita tidak boleh 
mendekati kapal Taiwan yang ditahan, walaupun untuk kerja disekitarnya pun 
tidak boleh, karena dikhawatirkan begitu. 

Selama dalam tahanan, apa yang anda ketahui lagi ? 

Saya sendiri selama dalam tahanan, yang saya rasakan, di samping penyiksaan di 
Taliabu yang mana kita dipekerjakan sebagai penebang kayu, membuat logging, 
kayu glundungan yang harus dikirim ke Jepang. Sesudah dari Taliabu, saya 
diberikan tugas di Kodam, disuruh dalam kemampuan saya di bidang seni Rupa, 
tapi ternyata saya di suruh membuat blangko yang namanya skema tentang operasi, 
jumlah, tetapi tidak boleh diisikan datanya. Jadi saya hanya diberi tugas untuk 
membuat data. 

Setelah itu saya lalu dipindahkan ke Waai. Sebelumnya, di tahun 1969-1972, 
kalau tidak salah ingat , saya dipekerjakan di Kodam, Pom dan Kodim. Di Kodam 
saya di dipekerjakan di ruang As OP II membuat kolom-kolom sebesar ruangan 
operasi itu. 

Di sisi lain, di tahun 1970, saya melihat pemukulan, di tempat saya kerja itu 
bagian belakangnya ada ruangan untuk menyiksa para anggota militer yang 
ditahan, mereka dipaksa mengaku, kemudian dipukuli, saya liat persis, karena di 
ruang data itu belakangnya ada pintu. 

Anggota militer yang ditahan itu sekitar 15- 20 orang, di situ hanya anggota 
militer dari angkatan darat yang ditahan. Saya mendengar bagaimana suara 
pukulan,kadang tidak diperhatikan ketika membuka gorden, ada rotan, ada kayu, 
bambu, cambuknya macam-macam, yang menurut maunya mereka. 

Selama ditahan, apakah anda mengalami penderitaan, dipukul misalnya ? 

Saya mengalami penderitaan yang lain tapi tidak pernah mengalami pukulan, hanya 
satu kali saja di pukul karena keliru bicara. Di situlah yang saya perhatikan 
penyiksaan militer itu ada bermacam-macam cara, akhirnya kembali ke sel-sel 
penahanan, mereka sudah babak belur, bermandikan darah, kulitnya terkupas, 
tidak diperbolehkan memakai baju, harus buka. Jadi ketika kembali bersama kita, 
mereka memang masuk sel bersih, sel kawat duri, ketika kita melayani mereka, 
berikan air panas, belakang mereka pecah-pecah semua, wajahnya babak belur dan 
bengkak. 

Apakah antara para tahanan ada yang dibeda-bedakan ? 

Memang ada perbedaan, orang rakyat biasa, sipil, baik itu yang pegawai atau 
buruh, disiksa tapi tidak sedemikan parah, yang militer itu sampai parah, 
bahkan di situ ada yang bunuh diri. 

Di antara militer yang disiksa, apakah ada di antaranya yang anda kenal ? 

Ya jelas, bahkan ada pangkat Oom (baca: paman) saya yang di situ, dulu anggota, 
namanya Serma Sukaji. Ada yang namanya Letda Saleh, Kapten Marzuki, Kapten 
Rahman, Kapten Rahmat, Kapten Yusuf, Kapten Kartono dan Letda Bagio. Perlu saya 
jelaskan pada saat sebelum peristiwa, para militer itu, rata-rata orang Jawa, 
mereka mengenal Soekarno sebagai Presiden Pertama, dan beliaulah yang membawa 
ke semua angkatan itu ke depan maju. Di sisi angkatan maju itu, paling tidak 
person-person militer itu mengikuti apa yang dikatakan jejak Bung Karno pada 
zaman itu. 

Ketika mereka itu masih aktif dari militer, mereka kepada anak buahnya, baik 
itu di Suli, sebagai komandan pelatih, komandan POM, pasti dalam tiap-tiap 
pertemuan, baik itu dalam bentuk apel atau dalam ruang santi aji, mestinya 
beliau-beliau mengutarakan sesuatu yang progesif, berkata sesuai dengan apa 
yang bung Karno katakan. 

Jelas mayoritas orang yang ditahan Tentara itu adalah orang Jawa. Paling tidak 
itu kalau falsafah Jawa itu ketika menceritakan sesuatu harus pakai etika yang 
baik, begitu peristiwa politik tidak bicara etika, kamu adalah kamu, saya 
adalah saya, maka semua militer tadi ditahan atas dasar kamu pernah ngomong 
(baca: bicara) kalau kamu adalah orang-orang Bung Karno yang kudeta. Itu 
kata-kata yang terakhir di tiap-tiap pemeriksaan begitu. 

Jadi dia bicara dengan anak buahnya saat kumpul sekitar 3 orang, tidak bicara 
apa-apa, hanya bicara sebagai orang tua, komandan, dipertanyakan kamu diskusi 
apa dengan mereka, itu belum peristiwa. Begitu peristiwa, diskusi yang tadi 
seakan sebagai akibat peristiwa, jadi fakta diputarbalikan. 

Penyiksaan yang tadi itu sangat tidak manusiawi, kadang-kadang kursi diangkat, 
ujung jari ditindis (baca: tekan) pada kaki kursi. Yang periksa duduk di kursi, 
tapi kakinya ditekan pakai ujung kursi, yang diperiksa mau menjawab apa, 
diperiksa dengan penyiksaan. Seperti Pa Umar Lestaluhu (Anggota MPR Pusat), Pak 
Cress Latuputty (Anggota BPH Gubernur), memang sudah meninggal. Pa Cress 
Latuputty itu, memang orang BPH dan juga orang partai, orangnya tidak bicara 
banyak, tapi yang namanya orang politik begitu, mendapat penyiksaan yang luar 
biasa. beliau itu dikatakan TOP-nya pimpinan organsasi Partai, beliau di 
bebaskan lebih dulu, bahkan beliau dipekerjakan, di suruh ngapur-ngapur (baca: 
mengecat ) kompleks militer. 

Kita Rakyat biasa yang ditangkap, seperti halnya saya yang terakhir, bung 
Yopie, Bung Edi, Teis Simaela, Poly Tuhumury, Natan Ungirwalu, Merpey, itu kita 
yang dibebaskan dari belakang, seluruh tahanan dibebaskan, kita 9 orang 
dibebaskan tanpa prosedur. 

Terhadap hal ini, bagaimana pendapat anda selama anda di tahan dan selama 
menjadi tahanan, apakah anda juga diperiksa atau diproses dan menanyakan 
masalah penahanan anda ? 

Ini kisahnya kadang-kadang agak ironis, mau menceritakan ini pemerintah model 
bagaimana, kita juga tidak mengerti prosedur ini, tentang penyiksaan sudah 
seperti begitu, prosedur hukum tidak ada. Jadi kita merasakan bahwa apa 
hubungannya dengan politik, sedang kita ditahan selama 14 tahun. Orang Maluku 
yang ditahan itu dibebaskan begitu saja, ada sekian ratus, kira-kira 400-an, 
yang meninggal itu sekitar 30-an, kita tidak bisa mendata karena ada di 
beberapa tempat. 

Yang di Ambon ketika sama-sama dengan saya saja, ketika saya menjadi juru masak 
di dapur, di catat untuk masak 215 orang. Itu di dapur sayalah kokinya. Jadi 
saya masak nasi, sayur-sayur, dengan teman-teman satu kelompok ada 7 orang. 
Ketika kita data saja ada 300. Dalam 300 ini, pembebasan itu tidak ada, yang 
namanya pengadilan itu tidak ada, kami rasakan keganjilan dan ketidakbenaran di 
sini. Yang dikatakan hak asasi manusia ini sudah betul-betul dilanggar, kita 
tidak bisa mengerti bagaimana di tahan 14 tahun tidak ada proses. 

Setelah dibebaskan apa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup ? 
Bagaimana nasib teman-teman setelah dibebaskan? 

Maka itu kawan-kawan, begitu selesai di tahan, karena sudah bebas, maka 
kawan-kawan dalam mengejar kebutuhan hidup itu, katakanlah liberal ingin 
mengejar kehidupan sesuai dengan kondisi orang-orang lain begitu, bukan salah 
semua anak-anak yang tahanan itu sarjana, militer, polisi Pegawai Negeri ada, 
sampai sekarang, tapi kembali kawan-kawan tadi yang kebanyakan sudah meninggal 
dunia. 

Ada rekan-rekan saya yang di Jazirah Leihitu juga. Ini yang masih eksis, tapi 
untuk generasi mereka yang berikut ini, kalau di ajak bercerita tentang hal 
ini, hanya sebatas itu saja, tapi serius mereka itu di dalam meningkatkan 
pendidikan dan menjamin keluarga, tetap kita salut. 

rno menuju kepada perubahan, penghapusan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 
1945, itulah Orde Baru. Tetapi kalau Orde Lama, Soeharto itu jelas kembali 
mundur langkahnya, seperti otorites, Dikatator Militer itu di kembangkan, siapa 
yang jadi lawan Soeharto tetap pukul, buktinya di dalam Era jatuhnya ’98, dulu 
para mahasiswa itu dijadikan antek-anteknya Soeharto, tangan kanannya Soeharto, 
baik itu KAMI, KAPPI dijadikan penggerak untuk anti, ternyata ’98 terbalik. 

Pernahkah anda mendengar tentang kerusuhan atau Meilihat semua ketidak adilan 
yang dilakukan, bagaimana pendapat anda dari sisi hukum? 

Dari sisi hukum, yang saya rasakan secara pribadi itu, betul-betul ketidak 
benaran selama 32 tahun pada pemerintah Soeharto. Kalau kita menyambut orde 
baru itu salah. Orde baru menurut konotasi politik itu kekuatan baru, Soeharto 
adalah feodal, kembali kepada sistem penindasan, salah kaprah disebut Orde 
baru. Sebenarnya Orde Baru itu garis Bung Kau demo mahasiswa di Batu Gajah 18 
November ’98 ? 

Yang saya tahu, Kapuk, bantal guling, bedak dengan sisir, dikirim ke Ambon, 
kepada mahasiswa di Ambon, jadi di lakukan demo besar-besaran seluruh mahasiswa 
di semua perguruan tinggi turun di jalan di kota Ambon, setelah sampai di 
Kodam, jadilah kerusuhan, mahasiswa dikejar, dipukul, bahkan ada yang jatuh 
korban. 

Jadi saya melihat secara langsung, waktu itu ketika ’98 saya sementara kerja di 
seorang anggota militer, kepala Ajudan Jenderal, kantornya di situ adalah 
tempat untuk menerima dan menampung calon-calon Tamtama, kepala Ajen itu 
namanya B. Tuhumena, dulu dari Batalion, karena dia ativitas seni musiknya 
bagus, ia diangkat menjadi pembina musik Band di Kodam, namanya Band Wijaya 
Kusuma, lama-lama reputasinya naik, ia naik pangkat. Begitulah asisten, 
kemudian diangkat menjadi wakil Ka Ajen, kemudian jadi Ka.Ajen. 

Saya kerja di rumahnya, membuat dekorasi taman di Desa Rutong. Peristiwa 
mahasiswa naik ke atas gedung dewan itu, kita lihat, kemudian manyandera semua 
anggota dewan tidak boleh keluar, makanan di drop, itu saya lihat. Saya 
sementara kerja, sudah dalam finishing pekerjaan, tinggal mmbersihkan dekorasi. 
Di dalam rumah itu ada 4 orang calon Tamtama yang nanti dia akan masukkan 
menjadi calon yang akan naiklah begitu. 

Tapi suatu ketika, terjadi peristiwa, sekitar pukul 17.00 Wit (Jam 5 sore) itu, 
aksi mahasiswa itu, kita nonton di TV di dalam rumahnya. Dia mengatakan kalau 
ini terjadi di jakarta begini, tahu-tahu dia menyimpulkan sendiri, termasuk 
saya, dia menyuruh anak-anak itu pulang sendiri-sendiri, tidak boleh pulang 
sama-sama, tidak usah mandi, baju-baju ditaruh saja, naik angkot segera. Nah 
saya yang terakhir, ia katakan kepada saya, untuk pulang saja, nanti uangnya 
dia kirim. 

Saya tidak mengerti hubungannya apa dengan 1998, padahal di Jakarta, para 
mahasiswa demo menurunkan Soeharto yang sudah tidak eksis lagi. Akhirnya kami 
pun pulang namun tetap bertanya-tanya dalam hati. Di penghujung masalah ’98 
ini, namanya Ajen Tuhumena ini hilang, di kantornya tidak ada, di kampungnya 
juga tidak ada, menghilang sampai sekarang ini. 

Menghilangnya itu barangkali dia tahu peristiwanya, sementara dia itu kepala 
Ajen, yang urusannya menerima uang, siapa yang masuk, bayar dan dia mendapat 
premi dari pembayaran itu. Setelah peristiwa itu, saya tanyakan kepada dua 
anaknya yang sarjana itu, tetapi mereka menjawab tidak tahu, bapak sudah lari 
ke Jawa, katanya. 

Bagaimana anda melihat keanehan yang terjadi ? 

Asumsi saya, mengapa mahasiswa di Jakarta demo, sementara Mahasiswa di Ambon 
tidak bergerak, jangankan mahasiswa, kita dalam organisasi yang dikatakan kiri 
itu, masalah komunikasi, transportasi menjadi kendala, yang realisasi, mengenai 
mahasiswa. Di sini yang saya lihat itu mahasiswa mengikuti berita-berita, 
infomasi di TV maupun media cetak, tapi kembali ke antusiasnya, eksisnya 
mahasiswa, kalau di Jawa, Ujung padang , di Ambon serba terlambat, di sinilah 
karakter Maluku yang kita rasakan, ,sebab di sini semua rata-rata yang kita 
katakan tadi imbasnya ke lain, mengurusi yang politik saja, mengapa di Maluku 
lama terjangkau segi hukum, di Maluku ini dalam rangka pemilihan 
pimpinan-pimpinan daerah saja masih dalam sistem kroni. 

Kita masih melihat hal-hal yang visual, di Jawa Gerindra, yang namanya Prabowo 
itu, orang Jawa biar dibayar dengan emas, no coment, hanya orang-orang yang 
tipe penjilat, maka prabowo itu dapat diangkat, tetapi di sisi lain, mereka 
yang sebaya dengan saya, sudah tahu persis, apapun yang Prabowo 
gembor-gemborkan, di sana hanya bilang, silahkan, anjing menggonggong kafilah 
jalan terus. Di sini tidak, seperti Leihitu daerah saya itu, masih membangkang. 

Tetapi sesudah kenyataan yang terakhir, bukti realita yang ada , prabowo belum 
ke tingkat pemilihan Presiden mundur, orang sana yang dulunya hampir tiap 
kampung bertaruh Prabowo nanti menang 100 persen, padahal mengundurkan diri. 
Kalau pun di Maluku ada yang begitu biarkan saja, kita sebagai orang-orang yang 
bebas begini tidak usah terpaut, dia di tv hanya bilang itu pimpinan yang 
perintah, selesai. 

Bagaimana nasib teman-teman seperjuangan yang bertalian dengan peristiwa ’65 
hingga kini ? apa pendapat mereka kepada pemerintah? 

Nah ini kembai kepada kita bertalian dengan peristiwa 1965, rata-rata 
kawan-kawan yang hidup sekarang, yang masih eksis ,masih tetap menginginkan 
bagaimana pemerintah harus ditunjukkan dalam sidang Internasional , kalau boleh 
diadakan di Indonesia, tetapi kenyataan Surya Paloh ngotot di Indonesia, namun 
Indonesia, kondisinya belum memungkinkan, ada ekstrim-ekstrim yang berlandaskan 
agama dari kalangan lain yang membuat saya juga ngeri membayangkan ini. 

Saya sebagai orang Muslim pun tidak setuju terhadap tindakan ekstrim itu. Ambil 
contoh saja, Sidang Aceh saja dilakukan di Norwegia, ini juga perlu ditinjau 
hal-hal yang digaris bawahi, saya pernah menulis ini di Jakarta, saya bertanya 
kepda kawan-kawan di Jakarta, katanya sudah pernah dimasukkan, namun entah 
sudah diperbincangkan atau dibicarakan di forum Nasional atau belum, saya tidak 
tahu persis. 

Waktu itu saya dengan bu edy, menulis peristiwa ini, yang saya saksikan betul 
dengan mata kepala saya sendiri, pemerkosaan yang dilakukan oleh angkatan 
darat, saya ungkapkan semua. Kalau sipil dengan militer tentunya tidak 
dilakukan seberat mereka. Kita hanya minta, mudah-mudahan pemerintah melihat 
dan TAP MPR betul dicabut, sebab kalau dicabut ini, yang sekarang kita 
perbincangkan ini, kroni orde baru ini yang sekarang sudah melewati ketua 
dewan, ini yang kita ironis. 

Kita menuntut pencabutan lewat DPR, tetapi sekarang DPR ini sudah punya 
kelompok 5 orang yang di data, lisan yang disadap ini ketemu dicabutnya TAP 
MPR, berarti kita direhabilitasi dalam artian mencabut konotasi yang bahkan 30 
September baru lalu itu. Ada yang paling fatal itu, diminta diputarkan Film 
G30S-PKI, sementara Film itu sudah dilenyapkan sejak Zaman Gusdur, dilepaskan 
tidak boleh lagi karena akan menimbulkan kontradiksi baru, malah ada salah satu 
lagi yang mau Film di putarkan lagi, sekarang urgensinya Film itu sudah tidak 
ada, anak-anak Tapol saja yang cucu-cucunya sekarang menjadi anggota dewan 
pusat sekian puluh sudah ada. 

Dampak apa yang terjadi pada kondisi tubuh anda setelah sekian lama menjadi 
tahanan dan disuruh bekerja layaknya rodi ? Bagaimana hubungan anda dengan 
teman-teman lain, apakah sering melakukan pertemuan sekadar bicara ? 

Saya sebagai pelakon utama, walaupun saya tidak mendapatkan pukulan secara 
fisik , dampak terakhir yang saya rasakan ketika menjadi budak penebang kayu 
menyebabkan susunan tulang, yang sekarang sudah dalam usia senja ternyata 
pengendapan yang sakit itu ada, rasio saya masih eksis, emosional secara rohani 
masih, tapi fisik sudah mengalami, bukan tidak bisa kerja, tapi betul-betul 
terasa hasil dari dulu mengguling kayu sekian ratus kubik kayu yang dikerjakan 
63 orang tanpa makan, dampak negatifnya pada fisik, di bagian pinggang di 
samping bawasir, yang lainnya itu seperti Bu edy kena jantung, banyak penyakit 
yang muncul setelah di usia senja itu, tapi kita sendiri harus bisa mengatasi 
problem yang bertalian dengan kesehatan. 

Di Jazirah Leihitu itu, dari Mamala Morela, itu tidak ada orang kita. Mulai 
Waimolong di dusun Hitumesen ada 3 orang, yang meninggal 2 orang, yang satunya 
83 Tahun sama seperti saya, masih eksis, hanya saja orangnya tidak mau keluar 
rumah, menunggu hari tua. 

Di Wakal, ada 3 orang, yang satu masih eksis, tapi yang dua orang itu di rumah 
saja, menunggu cucu-cucu, anak-anaknya berikan makan, tidur dan mandi, ke 
Masjid, kalau saya bisa tetap eksis, ke waitomu, jarak 11 Kilo, rekan saya juga 
sudah tidak ada isteri, dia di kebun, dan di rumah, cuma beberapa hari, begitu 
saya ke sana, diskusi mengantisipasi kondisi yang sekarang terpaut dengan Desa, 
masalahnya Tuan Dusun itu tidak bisa bicara karena Kepala Pemerintahan Negeri 
masih kroninya Soeharto. 

Nanti ke Kaitetu ada Bung Kasim. Yang lain sudah tidak mau aktif, ada Haji Iman 
sudah pensiun dan duduk di rumah saja. Yang lain sudah tidak ada, Nubuhali, 
Taher., tinggal Kasim. saya ke Kaloli, tinggal cucu 1 anak saja, yang 5 sudah 
tidak ada. Yang di Negeri Zeit sudah tua, tidak mau bergerak. Di Asilulu, sudah 
tinggal anak-anak saja, mereka tidak mau bicara itu lagi. Kita bersyukur bahwa, 
kita masih diberi kesempatan untuk beraudensi, ya walaupun tdak lengkap, 
mudah-mudahan , yang kita bincangkan itu bisa ditambahkan di redaksionalnya. 

Mendengar kronologis yang anda ceritakan, proses pemilihan umum pun sudah 
diatur saat itu, sehingga menjadikan sebagai bagian dari perintah yang harus 
dijalankan? 

Jadi kalau dilihat dari Kronologis dari tahun 1950, jelas itu sudah sebelum 
peristiwa ‘65 , jadi 15 tahun sebelumnya. Saya ingat, di tahun 1955 itu saya 
sudah aktif pegang tanda gambar Banten (waktu itu Parkai Nasionalis 
Indonesia-PNI, yang sekarang menjadi Partai PDI-Perjuangan). 

Tahun 1955, pemilu pertama, kita sudah 16 tahun, kita sudah lari-lari ikut 
nempel di kepala banten, kadang-kadang sembunyi, walaupun Bapak saya di kepala 
Banten kiri, tapi saya begitu, karena di kampung saya juga ada yang namanya 
Komite suksesi atau comite rakyat (CR) itu. 

Jadi saya sudah mulai, di rumah itu dengan orang tua, saya bukan bicara 
politik, bincang-bincang begitu saja, begitu sudah tahun 1960. Saya kuliah, 
jadi 1958 itu sudah sekolah seni rupa, 1959 kuliah, kemudian masuk ke kancah 
politik yang lingkungannya, mahasiswa konsentrasinya masuk CGMI, karena saya 
masuk di situ dan bidang geraknya seni rupa . Di kampung-kampung itu karikatur, 
jenis tuan tanah, penguasa jahat, komprador, kaki tangan imperalis. Kita 
gambarkan lewat karikatur, 1961 zaman Trikora, kita aktif, ikut demontrasi di 
Jakarta. 

Di kedutaan, menghadapi polisi, ternyata dulu memang dalam kekuatan kita di 
garis kiri itu di tiap angkatan, seperti Tiongkok juga, apapun angkatan, 
suaranya Sekjen, sekjen adalah PKT (Partai Komunis Tionghoa). Jadi angkatan 
geraknya seperti itu, bagaimana, angkatan suruh giling saja mahasiswa yang 
membandel. Kita juga begitu, namun, ketika peristiwa jadi di Ambon, ternyata 
semua militer yang namanya angkatan darat disapu bersih karena di ketahui di 
Fraksi yang dulu di dalam militer. Kita juga dulu tidak tahu ya zamannya 
militer, begitu ditahan yang tadi saya sebutkan tadi, ada Yusuf, Rahman, 
Rahmat, Cris Lady, Sakroni, sayuti, Fahril, Kaslan, Krisno, mereka ada sekitar 
15 orang . 

Apakah Anda bersedia menjadi saksi atau pembicara , ketika dibutuhkan pihak 
pembela HAM di Nasional maupun Peradilan Internasional ? 

Ya saya bersedia, dipanggil kapan dan dimana saja, saya siap mengungkapkan 
semua kebenaran ini, agar semua masyarakat tahu, bahwa kita sebenarnya adalah 
tumbal dan tidak bersalah sama sekali, ditangkap dan disiksa tanpa sebab, 
dibebaskan pun tidak melalui aturan hukum yang sah, yakni tanpa pemeriksaan dan 
diadili di pengadilan, kita yang waktu itu ada berjumlah 9 orang itu hanya 
sampai di teras pengadilan Kodim saja, selesai itu disuruh pulang. 

Saya belajar dari apa yang dipunyai umat Nasrani, dimana kita harus percaya 
pada Tuhan, Ketoklah pintu, maka akan dibukakan jalannya bagi kita, ketika kita 
meminta maka akan diberi, dan ketika kita mencari, kita akan mendapatkannya, 
dan yang tercantum juga dalam Kitab I Korintus 3-6, Aku menanam, Apolos 
Menyiram, Tuhan yang memberi Pertumbuhan, belajar dari perjalanan ke Kapernaum, 
Yudea, Tuhan Maha tahu, siapa yang percaya, pasti akan terbuka jalannya. Kita 
ini Negara Hukum, tapi hukum di Indonesia ini masih rancu. Pada intinya Rakyat 
kecil yang harus dibela, terserah forumnya lewat hukum internasional, bagaimana 
sesuai dengan pembuktian kebenaran ’65. (***) 




Kirim email ke