kelihatannya saya berhadapan dgn otak udang
 sudahlah, malas omongnya.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

 Akh goblok gak nyambung.
 Pertanyaan ente itu apa? ane gak mudeng.
 Yang bilang para bilioner itu dictator proletariat atau borguis itu ente.
 Ane ndak bilang apa2.
  
 Ane hanya salahkan ente saja yg bilang proletariat = labor.
  
 Berimaginasi saja! kebanyakan pake’ wangsit dewa dewi!
  
 Hehehe
 Nesare
  
  
 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, November 20, 2016 6:01 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi


  
  
 katakanlah maksud anda bagaimana kok para billioner dan millioner yg menguasai 
politik tiongkok bisa disebut diktaktor proletariat?
  

 The proletariat (/ˌproʊlɪˈtɛəriːət/ 
https://en.wikipedia.org/wiki/Help:IPA_for_English from Latin 
https://en.wikipedia.org/wiki/Latin proletarius) is a term for the class 
https://en.wikipedia.org/wiki/Social_class of wage-earners 
https://en.wikipedia.org/wiki/Wage_labor, in a capitalist 
https://en.wikipedia.org/wiki/Capitalism society, whose only possession of 
significant material value is their labor-power 
https://en.wikipedia.org/wiki/Labor-power (their ability to work);[1] 
https://en.wikipedia.org/wiki/Proletariat#cite_note-1 a member of such a class 
is a proletarian.
  

 proletariat/pro·le·ta·ri·at/ n 1 lapisan sosial yang paling rendah; 2 golongan 
buruh, khususnya golongan buruh industri yang tidak mempunyai alat produksi dan 
hidup dari menjual tenaga

 

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Oh tidak.
 Siapa yg bilang begitu?
 Gimana ceritanya ente bisa tarik kesimpulan begitu?
  
 Hehehehehe
 Nesare
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, November 20, 2016 1:30 PM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi


  
  
  
 oh jadi maksud anda kekuasaan politik ditangan para orang kaya para kapitalis 
itu namanya diktaktor proletariat?

 

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Hehehehe cari referensi yang mendukung nih yeah hehehehe.
 Oh jadi gerakan kiri itu hanya ngurus/bela buruh saja?
 Oh jadi marx itu hanya bela buruh saja?
  
 Kalau dinegara yg sdh maju, semua orang tidak ada yg miskin lagi, teori2 marx 
tidak berlaku ya? Hehehehe.
 Kalau ada bisnis yang buruh2nya sudah tidak ada karena digantikan oleh droid 
dan robot, pemikiran marx tidak berlaku ya? Hehehehe.
  
 Sudah lihat belum definisi lain dari proletariat ini?
 Kalau begini definisinya, gimana? hehehehe
 The proletariat (/ˌproʊlɪˈtɛəriːət/ 
https://en.wikipedia.org/wiki/Help:IPA_for_English from Latin 
https://en.wikipedia.org/wiki/Latin proletarius) is a term for the class 
https://en.wikipedia.org/wiki/Social_class of wage-earners 
https://en.wikipedia.org/wiki/Wage_labor, in a capitalist 
https://en.wikipedia.org/wiki/Capitalism society, whose only possession of 
significant material value is their labor-power 
https://en.wikipedia.org/wiki/Labor-power (their ability to work);[1] 
https://en.wikipedia.org/wiki/Proletariat#cite_note-1 a member of such a class 
is a proletarian.
  
 Sudah tahu belum cupatnya ente itu dimana?
 Kalau belum tahu, nih ane tambahin ya: kalau skilled labornya steve jobs yg 
suka coding lalu bikin dia jadi bosnya apple itu ceritanya gimana? Apakah steve 
jobs bukan labor dulunya ya? Hehehehehe. Mari kita lihat gimana argumennya 
sijonathan ini.
  
 Nesare
  
  
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:GE
 [email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, November 19, 2016 11:35 AM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi


  
  
  
 proletariat/pro·le·ta·ri·at/ n 1 lapisan sosial yang paling rendah; 2 golongan 
buruh, khususnya golongan buruh industri yang tidak mempunyai alat produksi dan 
hidup dari menjual tenaga

 Arti kata proletariat - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online 
http://kbbi.web.id/proletariat
 Arti kata proletariat - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online 
http://kbbi.web.id/proletariat
 Definisi/arti kata 'proletariat' di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 
n 1 lapisan sosial yang paling rendah; 2 golongan buruh, khususnya golongan 
buruh



 View on kbbi.web.id http://kbbi.web.id/proletariat

 Preview by Yahoo 
 
  
 

---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... 
mailto:nesare1@...> wrote :
 Proletair = buruh?
 Hehehehe bikin2 definisi lagi ya?
 Memperkecil artinya proletair atau memang tidak mengerti artinya proletair?
  
 Lalu lihat banyak orang kaya di RRT terus disebut dictator burgois. Gampang 
sekali ya bikin statement.
  
 Jelas ente ini ndak ngerti artinya proletair. Sok pinter. Baca sana, cuplik 
sini, terus pake’ logika umumn lalu bikin statement.
  
 Males ngomong sama orang goblok! sok nya kaya’ tahu semua! Tetapi pikirannya 
cupat. Cupat sekali!
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:[email protected] mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, November 19, 2016 12:26 AM
To: [email protected] mailto:[email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi


  
  
 yg dimaksud dictator proletariat itu kekuasaan politik ada ditangan proletar 
atau buruh, yg terjadi di tiongkok sekarang dgn kekuasaan politik ditangan 
billionaires dan millionaires itu saya rasa lebih tepat disebut dictatorship of 
the bourgeoisie atau mungkin juga gabungan antara dictatorship dengan capital 
imperialism biarpun tentu saja benar juga kalau anda sebut rakyat karena kaya 
ataupun miskin ya rakyat juga.
 

---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... 
mailto:SADAR@...> wrote :
 Tentu bung boleh-boleh saja berpendapat begitu, karena itu masalah penilian 
kwalitas dan warna Diktatur Proletariat yang sekarang dijalankan di RRT saja. 
Yang PASTI PKT tidak sepenuhnya mengikuti Stalin dan Mao (1956-1978), tapi juga 
tidak sepenuhnya jalankan pemikiran Sosial-Demokrat, dan PKT  masih tetap 
menganggap dan memperlakukan dirinya Marxis-Maois dan berusaha keras 
memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak tidak hanya di 
Tiongkok tapi juga didunia, ...! Tidak hanya memperkenankan kapitalis hidup, 
tumbuh dan berkembang, tapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan lebih 
baik! Membuat keseimbangan sebaik munkin dengan TETAP mendorong maju laju 
ekonomi nasionalnya! Biarlah PKT menempuh jalannya yang dianggap BENAR itu, 
siapa SALAH, siapa BENAR sesungguhnya tetap harus dibuktikan dalam PRAKTEK!

  

 Ikut sertanya sementara billiuner dalam pemerintahan bahkan ada juga yang 
anggota PKT, itu karena mereka menganggap kapitalis ditingkat perjuangan 
sekarang ini bukan sasaran Revolusi, tapi masuk dalam kategori RAKYAT. Itulah 
konsekwensinya, jadi siapa saja yang dnyatakan elemen termaju dalam masyarakat 
sudah seharusnya bisa menjadi anggota partai. Dan keterlibatan kapitalis dalam 
PKT dan Pemerintah apakah bisa dikatakan yang dominasi dan TENTU yang lebih 
PENTING harus melihat bagaimana pemikiran politik kapitalis itu sendiri? Kan, 
keberadaan mereka tidak lagi mewakili klas kapitalis lagi, sekalipun mereka 
masih berprofesi sebagai pengusaha.

  

 Yang masih menjadi pertanyaan, bagaimana cara mereka/PKT memperkecil 
kesenjangan sosial, memperkecil lebih lanjut perbedaan kaya dan miskin setelah 
mereka berhasil mengangkat/menyelesaikan kemiskinan di Tiongkok itu. Karena 
kenyataan yang terjadi, kecepatan segelintir kapitalis menjadi lebih kaya jauh 
lebih cepat ketimbang peningkatan kesejahteraan rakyat banyak, ...

  

 Salam,

 ChanCT

  

  

  

 From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45]

 Sent: Friday, November 18, 2016 11:52 PM

 To: Yahoogroups

 Subject: Re: Fw: [GELORA45] Re: Sie Tik ==> Kontradiksi



  


  
 Bung Chan, saya rasa diktator proletariat di Tiongkok yg anda sebut2 itu sudah 
tidak ada lagi. Dengan nyata kita bisa lihat NPC dipenuhi billionaires dan 
millionaires yg jelas bukan kelompok proletariat.

  

 ---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... 
mailto:SADAR@...> wrote :

 Dari diskusi bung Nesare dan Bung Sie Tik terakhir ini, saya mendapatkan 
pengertian EKONOMI sebagai ILMU yang berlaku dan bisa digunakan dalam sistim 
kapitalisme maupun sosialisme, ... dalam banyak tulisan pakar-pakar TIongkok, 
saya juga mendapatkan bahwa sebetulnya ekonomi-pasar itu bukan monopoli sistem 
kapitalisme tapi juga harus berlaku dan terjadi dalam sistem sosialis, yang 
berbeda, dalam sistem kapitalisme pasar dibarkan liberal dan itu akan 
melahirkan kapitalis-monopoli, sedang dalam sistem sosialisme NEGARA ikut 
campur mengendalikan pasar jangan sampai merugikan rakyat banyak!

  

 Sedikit koreksi untuk bung Sie Tik dalam menanggapi pemikiran saya: “bahwa dng 
NEP Lenin mengembangkan kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai 
negara.”  Darimana saya bisa berpendapat begitu? Lha, jelas yang dimaksudkan 
NEP oleh Lenin itu Kapitalisme Negara dibawah diktatur proletariat. Sekalipun 
kenyataan kapitalis diperkenankan hidup, tumbuh dan berkembang dibawah kendali 
diktatur proletariat, ... dan, inipun akibat setelah Rev. Okt. kapitalis 
dibabatin dan ekonomi mengalami kesulitan sampai roti pun tiada, ... saya 
yakin, kalau ekonomi tidak terjepit Lenin tentunya tidak akan mengoreksi 
kesalahan awal dan kembali memperkenankan kapitalis hidup keembali di Sovyet!

  

 Memang cukup menarik, apa yang dikisahkan kapitalis-kapitalis nakal itu dalam 
mensabotase kelancaran distribusi barang dagangan untuk meraih keuntungan lebih 
besar dengan menimbun barang dagangannya. Itu juga terjadi diawal kemerdekaan 
RRT, khususnya kapitalis-kapitalis di Shanghai. Banyak kisah bagaimana Chen Yi 
(Marskal yang kemudian terkenal menjadi Menlu RRT) yang asal klasnya kapitalis 
itu harus TEGAS melawan sabaotase kapitalis-kapitalis Shanghai. Dari pengalaman 
konkrit yang dihadapi RRT itulah, mungkin Deng sampai akhir hidupnya BERKERAS 
mempertahankan Diktatur Proletariat, dibawah pimpinan PKT, bahkan kemudian 
tidak memisahkan kekuasaan Partai dan Pemerintah, ... sampai sekarang ini. 
Justru disinilah perbedaan PKT yang berkuasa sekarang ini dengan pemikiran 
kelompok Sosial-Demokrat yang hendak segera saja membuka lebar DEMOKRASI, 
memperkenankan PARPOL lahir dan bersaing dengan PKT bahkan tidak mementingkan 
kekuasaan Diktatur Proletariat!

  

 Salam,

 ChanCT

  

  

 From: nesare1@...

 Sent: Friday, November 18, 2016 6:03 PM

  



  


 Sie tik: Ekonomi feodal dng sistim kekuasaannya membatasi perkembangan ekonomi 
borjuasi kapitalis, karenanya borjuasi merasa perlu menumbangkan kekuasan kelas 
feodal dan melakukan revolusi borjuis

 Nesare: belum pernah saya mendengar ekonomi feudal. Ekonomi dalam feodalisme 
ada seperti juga ekonomi dalam kapitalisme, sosialisme dll. Jadi tidak ada 
kapitalisme dalam ekonomi. Yang ada capital dalam ekonomi yang artinya modal. 
Kapitalisme, feudalism, sosialisme itu semua adalah isme isme dimana ekonomi 
berada. Jadi borjuis ini bisa ada dimana2 baik difeodalisme, kapitalisme maupun 
sosialisme walaupun artinya berbeda2.

  

 Sie tik: Dlm hal mana bung Tjing menganggap bahwa dng NEP Lenin mengembangkan 
kapitalisme dan Lenin membiarkan kapitalis menguasai negara. Padahal  dlm NEP 
negara yg dimaksud Lenin adalah diktatur proletariat, Karenanya pembubaran 
komune di RRT oleh Deng dianggap Bung Tjing sesuai dng NEP, padahal Lenin 
justru menekankan pentingnya koperasi pada saat itu.

 Nesare: saya tidak pusing  penggunaan kata2: mengembangkan, menggunakan atau 
istilah lain bisa saja dipakai. Saya juga setuju lenin menggunakan NEP dalam 
koridor diktatur proletariatnya. Deng juga masih begitu ada polit bironya 
walaupun semakin kendor dan rapuh tetapi ini saya lihat karena korupsinya. 
Korupsi ini adalah system pemerintahannya. Andaikata Lenin saat itu berhadapan 
dengan diktatur proletariat yang misalnya korupsi, bergajul, ego, mikir 
kelompok sendiri dll, saya lihat dia bisa melakukan apa saja. membunuhpun bisa. 
Begitu juga stalin. Tetapi kalau bung Karno tidak. Ini opini saya. Ini yang 
saya tekankan pentingnya manusianya bukan sistemnya.

  

 Sie tik: Karena jelas sekali bahwa gagasan Lenin adalah untuk memperkuat 
persekutuan buruh-tani dan diktatur proletariat  agar bisa melangkah ke 
sosialisme. Sedangkan Deng memanipulasi gagasan ini demi melaksanakan restorasi 
kapitalisme.

 Nesare: jangan berhenti sampai lenin fokusnya ke buruh. Lenin bilang: goal of 
socialism is communism, bukan buruh.

  

 Sie tik: Jadi  bukan sekadar pemerataan se-mata2. Mungkin bung tidak tau bahwa 
seorang buruh tambang dlm nomenklatur gajinya berada diatas gaji dokter, karena 
buruh tambang dianggap lebih berat tugasnya dan rentan terhadap penyakit2 
professional tertentu  serta kemungkinan aksiden yg berbahaya dlm profesinya. 
Demikian juga distribusi  kebutuhan mereka lebih baik dari sektor2 lain . Suatu 
diskriminasi positif.

 Nesare: mungkin yg bung ingin katakan itu adalah meritokrasi atas perbedaan 
manusia2 itu. Itu bukan diskriminasi. Istilah meritocracy itu adalah: equal 
opportunity dan bertolak belakang dengan diskriminasi yang tidak/bukan equal 
opportunity.

 Positive discrimination bisa dilaksanakan tetapi tetap tidak mencerminkan 
equality karena diskriminasi yg dilakukan adalah berdasarkan gender, agama, 
umur, ras dll. Jadi berbeda kalau skill, tanggung jawab dll dalam pekerjaan itu 
adalah ukuran meritokrasi. Dan meritokrasi ini adalah dasar asumsi dari 
individualism bukan kolektifitas.

  

 Sie tik: Mao dlm karyanya Diktatur Demokrasi Rakyat ( 30 Juni 1949):

 Dalam perjuangan sekarang ini Tiongkok harus kerjasama dengan Borjuis 
nasional. Politik kita sekarang ini mengandung Pembatasan Kapitalisme tetapi 
tidak bermaksud memusnahkan Kapitalisme.

 Nesare: ya maupun tidak akan bisa. Itulah realitasnya. Kenapa perlu 
diberantas? Kenapa perlu dibunuh dan dimusnahkan? Sebaiknya dimanfaatkan. Ini 
yang saya tangkap dari opininya chan dan juga bung. Masalah perdebatan sesama 
orang kiri itu sebetulnya adalah perbedaan letak kirinya saja. semakin kiri 
orang itu semakin kekolektifitas. Semakin kekanan orang itu semakin ke 
individualism. Ini opini saya. Terlalu terpaku sama isme isme ini juga dan 
tanpa mengabaikan aspek lain ya tidak banyak manfaatnya. Misalnya unsur agama. 
Bagaimana disuatu negara kalau kelompok konservatif agama menang dan mendirikan 
negara teokrasi, kan jelas sekali sosialisme maupun kapitalisme akan dibabat 
habis. Tapi ekonomi, hukum, kedokteran dll tidak akan bisa dimusnahkan.

  

 Sie tik: Kedua PM Belanda tsb, juga demikian , karena tanggung jawab menteri2 
kabinet jauh lebih besar dan berat dari  seorang CEO perusahaan, jadi tidak 
fair dlm hal ini, kalau dilihat dari segi pertanggungan jawab sosial.

 Nesare: ya memang tidak ada bedanya mercedez buat anggota politburo dengan 
menteri dan CEO ini karena ini meritokrasi bukan komunal/pemerataan. Saya kira 
masalah ini tergantung penerapannya. System sosialisme apa yang diinginkan. 
Kalau penekanannya semakin ke meritokrasi artinya individualisme lebih 
diperhatikan, ya geraknya kekanan. Begitu juga sebaliknya semakin ke 
pemerataan, semakin kekiri. Orangnya yang menentukan sistemnya. Sistemnya bisa 
dibuat tetapi tergantung orangnya yang mengendalikan akan kemana system itu.

  

 Sie tik: sekali lagi itu adalah hak Bung untuk beranggapan bahwa peranan 
pikiran individu tiap orang terlepas dari  kepentingan ekonomi kelasnya atau 
golongannya

 Nesare: ketika saya menulis manusia itu berbeda ya termasuk perbedaan dalam 
ekonomisnya, status sosialnya, pendidikannya dll.

  

 Sie tik: Tapi kita lihat ketika ada penggusuran di Jakarta toch kepentingan 
perorangan bisa dimobilisasi menjadi kepentingan kolektif?

 Nesare: bisa saja. Tetapi tidak bisa mengatakannya benar atau salah kan. 
Sebaliknya juga bisa bahwa kepentingan kolektif berganti wajah menjadi 
kepentingan individu. Inilah dasar argument saya melihat system apapun akan 
bisa bagus dan jelek tergantung penerapannya.

  

 Sie tik: perjalanan menuju cita2 masyarakat sosialis memang masih jauh dan 
perlu dipikirkan lebih mendalam sebab2 keruntuhan negara sosialis pertama yg 
kemudian menyebabkan runtuhnya kubu sosialis. Mungkin ada orang2 yg kompeten 
mengenai masalah ini.

 Nesare: bukunya sudah banyak sekali dalam mengupas kalahnya sosialisme. Ilmu 
yang mempelajarinya pun banyak dari ilmu  politik, sosiologi, anthropology dll. 
Di comparative study lebih2 lagi dimana setiap negara punya ahli yang 
mempelajari runtuhnya sosialisme dinegaranya masing2. Kekalahan ini fakta. 
Tetapi fakta ini adalah dalam level pelaksanaan. Masalahnya lebih mendasar dari 
sekedar kalah saja, tetapi ada faktor2 diluar control dari sosialisme itu 
sendiri. Maksudnya ada variable2 yang mempengaruhi jalannya sosialisme itu. Di 
RI, soekarno kalah dalam menerapkan system ekonominya dimana inflasi terbang 
sampai pernah menyentuk diatas 230% , economic growth malahan pernah minus 
antara 1962 – 1965. Faktornya apa? pramudya anantatur bilang “kita dikepung”. 
Ekonomi sosialismenya bung Karno itu jelas sekali sejak merdeka program 
pinjaman nasional, konperensi ekonomi, rekonstruksi dan rasionalisasi  angkatan 
perang (Rera) s/d demokrasi terpimpin berakhir 1967 ekonominya sangat 
etatisme/serba pemerintah pusat. Begitu juga jatuhnya negara2 sosialisme juga 
begitu. Ini dalam level aplikasi. Idenya sosialisme sendiri tidak akan mati. 
Sekarang dunia bergerak kekiri seperti green party ada dimana2. Begitu juga 
labor union juga selalu ada. Semakin maju/kaya negara itu semakin akan kekiri 
geraknya. Yang repot adalah negara yang belum maju/masih miskin, kesadaran kiri 
ini terhapuskan oleh urusan perut, agama dll. Inilah fakta dilevel aplikasi. 
Kalau kita lihat sekarang ini divenuzuela yg dulunya program2 kiri bisa 
berjalan krn duitnya dari ada krn harga minyak tinggi. Sekarang berantakan 
karena harga minyak jatuh. Kasihan sekali orang2 venezuela sekarang ini.

  

 Sie tik: yg saya permasalahan disini adalah pengertian istilah kabir  yg 
digunakan bung Tjing untuk pelaku2 kejahatan ekonomi dikalangan pejabat negeri 
sosialis.

 Nesare: ya belum terjadi saja krn negeri sosialisnya runtuh. Apakah bung tidak 
bisa melihat para koruptor itu bisa menjadi kabir? Saya melihatnya bisa. Itulah 
manusia. Inilah penekanan saya ke manusianya bukan sistemnya. Ketika orang 
bisa/berani membunuh, masalah menjadi kabir itu menjadi masalah yg mudah. 
Ketika negara baru merdeka baru melek berdiri, pemimpinnya yang dielu2kan ini 
seperti lenin, stalin, mao dll itu tidak ubahnya seperti Tuhan. Mungkin istilah 
kabir tidak akan ada, tetapi tindakannya bisa saja terjadi karena itu masalah 
melindungi kepentingan. Kalau kita pelajari pengakuan polpot sampai 
meninggalpun dia tidak merasa bersalah telah membunuh segini banyak orang. Dia 
bilang “akan saya lakukan”, “musuh saya juga akan melakukan yang sama”. Inilah 
manusia. Sekali lagi bukan sistemnya.

  

 Salam

 Nesare

  

  

 From: Sie Tik Tan [mailto:sietik.tan@... mailto:sietik.tan@...] 
Sent: Thursday, November 17, 2016 3:33 PM
To: nesare1@...

(Message over 64 KB, truncated)








































Kirim email ke