Disaat institusimu dan agamamu kemungkinan mendapatkan ancaman, kalian cepat 
dan tanggap sekali bereaksi. Namun ketika kaum-kaum yang dikasihi Tuhanmu terus 
menerus tergusur dan mengalami kekerasan, kamu diam.
...
Surat Protes Terhadap Uskup Agung Jakarta Tentang Parade Bhinneka Tunggal Ika



Menanggapi keterlibatan Keuskupan Agung Jakarta pada Parade tanggal 19 November 
2016.Tanggal 28 September 2016, setelah penggusuran Bukit Duri, saya menuliskan 
seruan domba kepada gembala saya, yaitu Uskup Agung Jakarta (KAJ). Bagi yang 
mengetahui bahwa saya menulis surat tersebut kerap meminta saya agar membuatnya 
juga menjadi surat terbuka, terlebih setelah tidak ada tanggapan sama sekali 
dari KAJ.Kemarin saya membaca tanggapan KAJ terhadap aksi tanggal 19 November 
(hari ini) dan keterlibatan romo-romo. Karena itu akhirnya saya memutuskan 
membuka surat ini kepada umum.
Disaat institusimu dan agamamu kemungkinan mendapatkan ancaman, kalian cepat 
dan tanggap sekali bereaksi. Namun ketika kaum-kaum yang dikasihi Tuhanmu terus 
menerus tergusur dan mengalami kekerasan, kamu diam.Jakarta, 28 September 2016
Kepada Yth.
Uskup Agung Jakarta
Mgr. Ignatius Suharyo
Keuskupan Agung JakartaSalam damai,Perkenalkan nama saya Cornelia Elisa 
Sutanudjaja. Saya menuliskan seruan ini untuk disampaikan kepada Uskup Agung 
Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, selaku gembala umat Katolik dan perwakilan Paus 
Fransiskus I di Keuskupan Agung Jakarta.Saya memaparkan kejadian biadab yang 
terus terulang di Jakarta yang berlawanan dengan prinsip cinta kasih dan 
kemanusian. Dalam 13 bulan ke belakang, saya menyaksikan 4 penggusuran dengan 
mata saya sendiri. Saya menyaksikan penggusuran Kampung Pulo, dengan ribuan 
aparat dan belasan alat berat meratakan rumah-rumah warga. Saya menyaksikan 
puluhan truk-truk berisikan ribuan aparat gabungan meninggalkan Kalijodo paska 
meratakan Kalijodo yang telah berusia lebih dari 2 abad. April 2016, saya 
menyaksikan aparat dan alat berat meratakan Kampung Pasar Ikan dan Aquarium 
sambil diiringi tangisan dan gema Allahuakbar para ibu.Dan hari ini, saya 
kembali menyaksikan penggusuran di Bukit Duri dengan ratusan aparat melawan 
100an keluarga. Saya hanya berjarak 5 meter dari alat berat, dan menyaksikan 
menghancurkan rumah satu-persatu tanpa mempedulikan sejarah panjang, kehidupan 
sosial ekonomi dan budaya yang sudah mengakar lebih dari 1 abad di Bukit Duri. 
Di saat bersamaan, warga-warga Bukit Duri berusaha mendapatkan keadilan dengan 
berproses di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara pada saat 
penggusuran terjadi.
Saya menyaksikan bagaimana alat berat menghancurkan pelan-pelan Sanggar 
Ciliwung Merdeka yang didirikan Bapak Sandyawan Sumardi, yang adalah bagian 
dari keluarga Katolik, seperti saya dan anda.Selama 13 bulan ini, sama sekali 
saya tidak mendengar suara Keuskupan Agung Jakarta terhadap penggusuran yang 
terjadi di Jakarta. Dalam tahun 2015, menurut data LBH Jakarta, telah terjadi 
113 kasus penggusuran paksa, yang melibatkan aparat Satpol PP, Kepolisian 
hingga Militer. Penggusuran Pasar Ikan sendiri membawa 4000 aparat gabungan. 
Sebagai umat Katolik saya bertanya, dimanakah Gereja Katolik? Dimana posisi 
Gereja Katolik dalam membela hak hidup manusia, terutama kaum miskin yang 
selama ini menjadi prioritas Tuhan Yesus Kristus? Sementara di saat bersamaan, 
ada pastur di salah satu gereja yang alih-alih membangun solidaritas terhadap 
rakyat miskin malah menggunakan jubahnya untuk mengkampanyekan Gubernur.Dalam 
ensiklik luar biasa yang dikeluarkan oleh Paus kita, Laudato Si, tertulis 
jelas: 152. Lack of housing is a grave problem in many parts of the world, both 
in rural areas and in large cities, since state budgets usually cover only a 
small portion of the demand. Not only the poor, but many other members of 
society as well, find it difficult to own a home. Having a home has much to do 
with a sense of personal dignity and the growth of families. This is a major 
issue for human ecology. In some places, where makeshift shanty towns have 
sprung up, this will mean developing those neighbourhoods rather than razing or 
displacing them. When the poor live in unsanitary slums or in dangerous 
tenements, “in cases where it is necessary to relocate them, in order not to 
heap suffering upon suffering, adequate information needs to be given 
beforehand, with choices of decent housing offered, and the people directly 
involved must be part of the process”.[118] At the same time, creativity should 
be shown in integrating rundown neighbourhoods into a welcoming city: “How 
beautiful those cities which overcome paralyzing mistrust, integrate those who 
are different and make this very integration a new factor of development! How 
attractive are those cities which, even in their architectural design, are full 
of spaces which connect, relate and favour the recognition of others!”[119]
Dalam ensiklik tersebut, total jumlah kata miskin dan kemiskinan adalah 71 
kata, menunjukkan betapa besar prioritas ensiklik dan Paus Fransiskus i 
terhadap kaum miskin.Selama ini praktek penggusuran yang terjadi di DKI Jakarta 
sangat berlawanan dengan apa yang diharapkan dalam Ensiklik, bahwa seharusnya 
rumah adalah bagian dari martabat manusia. Dan jikapun kondisi permukiman ada 
pada kondisi yang memungkinkan, upaya relokasi harus menjadi alternatif 
terakhir dengan syarat-syarat yang demikian berat. Bahkan tidak ada satu kata 
penggusuran paksa dalam Ensiklik ini.Sudah begitu banyak penggusuran terjadi, 
hingga akhirnya hanya seperti statistik saja, sementara Gereja Katolik sebagai 
pembela orang miskin hanya diam menyaksikan. Karena itu saya sebagai umat 
Katolik dan intelektual publik, mendesak Uskup Agung Jakarta dan Gereja Katolik 
untuk bersikap tegas sesuai dengan mandatnya untuk melindungi kaum miskin dan 
terpinggirkan.Salam hormat,
Elisa Sutanudjaja—–Red. Bagi yang bertanya-tanya kenapa saya menghubungkan 
Parade 19 Nov dengan surat saya diatas, maka ada berbagai alasan:
1. Alasan pertama sudah saya ungkapkan diatas
2. Namun bukan berarti saya tidak menyetujui kampanye kebhinnekaan, saya 
menyoroti dan mengkritisi sikap Uskup dan romo2 dlm Parade 19 Nov yang menurut 
saya sangat berpotensi memperlebar polarisasi yg saat ini sudah sangat genting
3. Saya mulai meragukan misi Gereja Katolik (sebagai institusi), dengan 
membandingkan 2 hal, termasuk paska merenungi apa yang terjadi pada Romo Magnis 
seperti komentar Evi Mariani Sofian dibawah
4. Mengapa saya memilih Laudato Si dan bukannya ayat2? Jawabannya sangat mudah, 
Laudato Si sudah gamblang dan berkonteks sekarang, sementara ayat masih penuh 
tafsir. Mari bicara isi dan konteks masa kini.
5. Yang namanya Bhinneka itu bukan cuma SARA saja, golongan dan ekonomi 
termasuk. Tanpa Keadilan Sosial tidak ada Bhinneka Tunggal Ika.

Kirim email ke