Emangnya pertanyaan anak kecil seperti ini perlu dijawab?

Tanya sama cornelia sana!

 

Hehehehehe

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 3:10 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Surat Protes Terhadap Uskup Agung Jakarta Tentang 
Parade Bhinneka Tunggal Ika

 

  

 

kalau begitu, apakah anda akan men-support Cornelia?

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :



Kurang ajar orang satu ini?

Dimana saya bilang cornelia harus bungkam? DIMANA?

 

Saya hanya suruh dia untuk bertanya. Jangan berhenti dengan pertanyaan yang 
ditulis ke gerejanya saja!

Persis dengan ente, ane suruh bertanya kediri ente sendiri.

 

Jangan gampang ambil kesimpulan!

Dia jelas gampang ambil kesimpulan tanpa mengerti permasalahannya.

Inilah sifat orang muda yg belum berpengalaman dan kurang bijaksana.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 2:46 PM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: RE: [GELORA45] Surat Protes Terhadap Uskup Agung Jakarta Tentang 
Parade Bhinneka Tunggal Ika

 

 

 

Konklusi pertanyaan2 anda itu khan sebaiknya Cornelia bungkam saja, apakah 
begitu?

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :




Coba tanya apakah Cornelia Elisa Sutanudjaja ini berani menulis yang sama 
kepada pemimpin agama lain?

Tanya juga apakah dia berani membantu para tergusur secara pribadi?

Tanya juga apakah dia berani minta orang lain untuk menolong para tergusur?

Tanya juga apakah dia berani menulis kepada orang kaya di Indonesia membantu 
para tergusur?

Tanya juga apakah dia berani menulis kepada USA untuk membantu para tergusur?

Tanya juga apakah dia berani menulis kepada PBB untuk membantu para tergusur?

 

Terus tanya dia:

Apakah dia tahu permasalahannya?

Apakah dia tahu perbedaan antara masalah hukum vs masalah moral?

Apakah dia tahu perbedaan antara kehidupan beragama vs kehidupan bernegara?

Apakah dia sudah tahu sejarah gerejanya yang gelap diabad 13-16 karena bermain 
dalam ruang politik aktif?

 

Dan pertanyaan yang terakhir:

Kenapa pemerintah yang dicerca dan kenapa ahok harus ganti rugi?

 

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 23, 2016 2:27 PM
To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]>
Subject: [GELORA45] Surat Protes Terhadap Uskup Agung Jakarta Tentang Parade 
Bhinneka Tunggal Ika

 

 

 

Disaat institusimu dan agamamu kemungkinan mendapatkan ancaman, kalian cepat 
dan tanggap sekali bereaksi. Namun ketika kaum-kaum yang dikasihi Tuhanmu terus 
menerus tergusur dan mengalami kekerasan, kamu diam.

...


 
<http://publik-news.com/surat-protes-terhadap-uskup-agung-jakarta-tentang-parade-bhinneka-tunggal-ika/>
 Surat Protes Terhadap Uskup Agung Jakarta Tentang Parade Bhinneka Tunggal Ika


 

  
<http://publik-news.com/wp-content/uploads/2016/11/Bhinneka-Tunggal-Ika-640x365.jpg>
 

Menanggapi keterlibatan Keuskupan Agung Jakarta pada Parade tanggal 19 November 
2016.

Tanggal 28 September 2016, setelah penggusuran Bukit Duri, saya menuliskan 
seruan domba kepada gembala saya, yaitu Uskup Agung Jakarta (KAJ). Bagi yang 
mengetahui bahwa saya menulis surat tersebut kerap meminta saya agar membuatnya 
juga menjadi surat terbuka, terlebih setelah tidak ada tanggapan sama sekali 
dari KAJ.

Kemarin saya membaca tanggapan KAJ terhadap aksi tanggal 19 November (hari ini) 
dan keterlibatan romo-romo. Karena itu akhirnya saya memutuskan membuka surat 
ini kepada umum.

Disaat institusimu dan agamamu kemungkinan mendapatkan ancaman, kalian cepat 
dan tanggap sekali bereaksi. Namun ketika kaum-kaum yang dikasihi Tuhanmu terus 
menerus tergusur dan mengalami kekerasan, kamu diam.

Jakarta, 28 September 2016
Kepada Yth.
Uskup Agung Jakarta
Mgr. Ignatius Suharyo
Keuskupan Agung Jakarta

Salam damai,

Perkenalkan nama saya Cornelia Elisa Sutanudjaja. Saya menuliskan seruan ini 
untuk disampaikan kepada Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, selaku 
gembala umat Katolik dan perwakilan Paus Fransiskus I di Keuskupan Agung 
Jakarta.

Saya memaparkan kejadian biadab yang terus terulang di Jakarta yang berlawanan 
dengan prinsip cinta kasih dan kemanusian. Dalam 13 bulan ke belakang, saya 
menyaksikan 4 penggusuran dengan mata saya sendiri. Saya menyaksikan 
penggusuran Kampung Pulo, dengan ribuan aparat dan belasan alat berat meratakan 
rumah-rumah warga. Saya menyaksikan puluhan truk-truk berisikan ribuan aparat 
gabungan meninggalkan Kalijodo paska meratakan Kalijodo yang telah berusia 
lebih dari 2 abad. April 2016, saya menyaksikan aparat dan alat berat meratakan 
Kampung Pasar Ikan dan Aquarium sambil diiringi tangisan dan gema Allahuakbar 
para ibu.

Dan hari ini, saya kembali menyaksikan penggusuran di Bukit Duri dengan ratusan 
aparat melawan 100an keluarga. Saya hanya berjarak 5 meter dari alat berat, dan 
menyaksikan menghancurkan rumah satu-persatu tanpa mempedulikan sejarah 
panjang, kehidupan sosial ekonomi dan budaya yang sudah mengakar lebih dari 1 
abad di Bukit Duri. Di saat bersamaan, warga-warga Bukit Duri berusaha 
mendapatkan keadilan dengan berproses di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata 
Usaha Negara pada saat penggusuran terjadi.
Saya menyaksikan bagaimana alat berat menghancurkan pelan-pelan Sanggar 
Ciliwung Merdeka yang didirikan Bapak Sandyawan Sumardi, yang adalah bagian 
dari keluarga Katolik, seperti saya dan anda.

Selama 13 bulan ini, sama sekali saya tidak mendengar suara Keuskupan Agung 
Jakarta terhadap penggusuran yang terjadi di Jakarta. Dalam tahun 2015, menurut 
data LBH Jakarta, telah terjadi 113 kasus penggusuran paksa, yang melibatkan 
aparat Satpol PP, Kepolisian hingga Militer. Penggusuran Pasar Ikan sendiri 
membawa 4000 aparat gabungan. Sebagai umat Katolik saya bertanya, dimanakah 
Gereja Katolik? Dimana posisi Gereja Katolik dalam membela hak hidup manusia, 
terutama kaum miskin yang selama ini menjadi prioritas Tuhan Yesus Kristus? 
Sementara di saat bersamaan, ada pastur di salah satu gereja yang alih-alih 
membangun solidaritas terhadap rakyat miskin malah menggunakan jubahnya untuk 
mengkampanyekan Gubernur.

Dalam ensiklik luar biasa yang dikeluarkan oleh Paus kita, Laudato Si, tertulis 
jelas: 152. Lack of housing is a grave problem in many parts of the world, both 
in rural areas and in large cities, since state budgets usually cover only a 
small portion of the demand. Not only the poor, but many other members of 
society as well, find it difficult to own a home. Having a home has much to do 
with a sense of personal dignity and the growth of families. This is a major 
issue for human ecology. In some places, where makeshift shanty towns have 
sprung up, this will mean developing those neighbourhoods rather than razing or 
displacing them. When the poor live in unsanitary slums or in dangerous 
tenements, “in cases where it is necessary to relocate them, in order not to 
heap suffering upon suffering, adequate information needs to be given 
beforehand, with choices of decent housing offered, and the people directly 
involved must be part of the process”.[118] At the same time, creativity should 
be shown in integrating rundown neighbourhoods into a welcoming city: “How 
beautiful those cities which overcome paralyzing mistrust, integrate those who 
are different and make this very integration a new factor of development! How 
attractive are those cities which, even in their architectural design, are full 
of spaces which connect, relate and favour the recognition of others!”[119]
Dalam ensiklik tersebut, total jumlah kata miskin dan kemiskinan adalah 71 
kata, menunjukkan betapa besar prioritas ensiklik dan Paus Fransiskus i 
terhadap kaum miskin.

Selama ini praktek penggusuran yang terjadi di DKI Jakarta sangat berlawanan 
dengan apa yang diharapkan dalam Ensiklik, bahwa seharusnya rumah adalah bagian 
dari martabat manusia. Dan jikapun kondisi permukiman ada pada kondisi yang 
memungkinkan, upaya relokasi harus menjadi alternatif terakhir dengan 
syarat-syarat yang demikian berat. Bahkan tidak ada satu kata penggusuran paksa 
dalam Ensiklik ini.

Sudah begitu banyak penggusuran terjadi, hingga akhirnya hanya seperti 
statistik saja, sementara Gereja Katolik sebagai pembela orang miskin hanya 
diam menyaksikan. Karena itu saya sebagai umat Katolik dan intelektual publik, 
mendesak Uskup Agung Jakarta dan Gereja Katolik untuk bersikap tegas sesuai 
dengan mandatnya untuk melindungi kaum miskin dan terpinggirkan.

Salam hormat,
Elisa Sutanudjaja

—–

Red. Bagi yang bertanya-tanya kenapa saya menghubungkan Parade 19 Nov dengan 
surat saya diatas, maka ada berbagai alasan:
1. Alasan pertama sudah saya ungkapkan diatas
2. Namun bukan berarti saya tidak menyetujui kampanye kebhinnekaan, saya 
menyoroti dan mengkritisi sikap Uskup dan romo2 dlm Parade 19 Nov yang menurut 
saya sangat berpotensi memperlebar polarisasi yg saat ini sudah sangat genting
3. Saya mulai meragukan misi Gereja Katolik (sebagai institusi), dengan 
membandingkan 2 hal, termasuk paska merenungi apa yang terjadi pada Romo Magnis 
seperti komentar Evi Mariani Sofian dibawah
4. Mengapa saya memilih Laudato Si dan bukannya ayat2? Jawabannya sangat mudah, 
Laudato Si sudah gamblang dan berkonteks sekarang, sementara ayat masih penuh 
tafsir. Mari bicara isi dan konteks masa kini.
5. Yang namanya Bhinneka itu bukan cuma SARA saja, golongan dan ekonomi 
termasuk. Tanpa Keadilan Sosial tidak ada Bhinneka Tunggal Ika.



Kirim email ke