Berarti tiap malam ada judi dikeluarga ini, jika pol… tahu wah… kena pasal 
perjudian dong


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, November 24, 2016 11:24 AM
To: [email protected]; ajeg
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Hubungan Intim Berbayar, Suami Pilih 
Cerai Saja


Hehehee, ... menarik juga kisah hubungan intim dikaitkan dengan Amnesti Pajak, 
... yang terjadi di Indonesia ini!

Jadi menurut bung Ajeg, ... masalah utama ada pada Dept. Perpajakan dinegeri 
ini!? Bukan disebabkan sistem pajak dinegeri ini belum belum berjalan baik, 
atau SISTEM yang berlaku itu bermasalah! Sehingga masih buuaaanyaak terjadi 
lolos bahkan bocor! Yang wajib bayar pajak bisa menunggak tanpa batas waktu, 
bahkan kalau ketemu pejabat macam Gayus boleh bayar pajak hanya 1/2 bahkan 1/3 
dari keharusan! Dan, ... kemarin ini dengar kasus macam Gayus itu masih terjadi!

Tapi dari kisah Danarto sampai nuntut cerai, ... tentu berada dipihak yang 
KALAH, Ya! Agustin pemenangnya.Hehehee, ...

Salam,
ChanCT


From: ajeg [email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45]
Sent: Thursday, November 24, 2016 9:36 AM
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: [GELORA45] Hubungan Intim Berbayar, Suami Pilih Cerai Saja


Kisah karikatural tentang kerja institusi pajak yang membuat

obrolan di warung-warung kopi jadi pecah berderai ini (dimuat

harian Poskota, 29/10/16) ternyata tidak sampai sebulan

langsung menjadi kisah nyata dengan ditangkap-tangannya

petinggi pajak oleh KPK, Senin lalu (21/11/16).


Kesimpulan, masyarakat tidak pernah takut membayar pajak.

Terbukti, dengan digelarnya program pengampunan pajak, orang

berduyun-duyun menyetor uang demi kemaslahatan bersama.



Pertanyaan usangnya, masihkah institusi pajak boleh dipercaya?

Sekurangnya, seriuskah pemerintah memikirkan kepentingan bersama

melalui program andalannya: pengampunan pajak?


rintihan kekecewaan Sri 
Mulyani<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/11/23/090855626/surat.sri.mulyani.pasca-ott.pejabat.pajak.berdiri.tegar.lawan.korupsi>


[https://s.yimg.com/vv/api/res/1.2/On6bmlDSrOCW4O.NJdjRzQ--/YXBwaWQ9bWFpbDtmaT1maWxsO2g9ODA7dz04MA--/http:/assets.kompas.com/data/photo/2016/11/23/09015082-WhatsApp-Image-2016-11-23-at-06.03-.04-780x390.jpg.cf.jpg]

Surat Sri Mulyani Pasca-OTT Pejabat Paj...


-


Hubungan Intim Berbayar, Suami Pilih Cerai Saja

Sabtu, 29 Oktober 2016 - 7:10 WIB

MANA Ada kencani istri harus bayar? Oo, ada di Surabaya! Pelakunya Ny. Agustin, 
40, istri Danarto, 47, pengusaha keramik. Alasannya, suami terlalu pelit 
memberi uang belanja. Karena Agustin punya bakat petugas pajak, maka sekali 
kencan minta bayaran Rp 200.000,- Suami “kecapekan” dana sehingga pilih talak.

Tahu kerja petugas pajak? Dia harus pintar menggali pos-pos pajak baru, yang 
bisa meningkatkan pemasukan negara dan pemasukan kantong bagi oknum-oknumnya. 
Maka kadang penetapan WP (Wajib Pajak) itu tak masuk akal. Masak di Indonesia 
ini orang bergaji Rp 5 juta kena pajak, padahal untuk belanja sebulan 
pas-pasan. Paling konyol, penulis buku dan artikel juga dipajaki 15 %, padahal 
di Indonesia ini belum ada sejarahnya orang bisa kaya hanya jadi 
pengarang/penulis.

Ibu rumahtangga bermental pegawai pajak itu di antaranya Ny. Agustin, warga 
Kupang, Surabaya. Memberikan nafkah batin bagi suami itu kan merupakan 
kuwajiban, tapi manakala dia tidak mood (baca: tak puas), langsung dicash Rp 
200.000,- Tapi kata Agustin, hal itu terpaksa dilakukan karena Danarto sebagai 
suami terlalu pelit memberi uang belanja. Jaman sekarang diberi belanja Rp 1 
juta sebulan, mana cukup?

Menikah 15 tahun lalu dengan Danarto, Agustin hanya mengandalkan kecintaan 
Danarto pada dirinya. Dia anak keluarga mapan, sedangkan suaminya itu hanya 
petugas pemasaran pabrik keramik. Soal tampang sih, Danarto memang jenis KW-1. 
Siku dan tak ada yang gumpil (cacat), sehingga bila dipasang oleh tukang yang 
ahli, natnya akan nampak bagus dan rata.

Ketika penghasilan Danarto masih minim, Agustin mau saja diberi uang belanja 
pas-pasan. Toh masih ada subisidi dari orangtuanya. Lagi pula soal tempat 
tinggal juga tidak bayar, karena Danarto selama ini memang tinggal di Mertua 
Permai tipe 200/300 yang bebas cicilan ke BTN.


Tapi ketika orangtuanya sudah meninggal, subsidi mertua itu dengan sendirinya 
terhenti. Bersamaan dengan itu, rejeki Danarto juga membaik. Bila dulu hanya 
tenaga pemasaran, kini sudah punya toko keramik sendiri. Tapi anehnya, dana 
APBN keluarga tak pernah ada perubahan, tetap saja Rp 1 juta dalam sebulan. 
Agustin berulang kali mengajukan APBN-P, tapi selalu ditolak. Lagaknya Danarto 
ini sudah seperti DPR saja.

Untungnya Agustin ini punya bakat terpendam sebagai petugas pajak. Untuk 
menggali uang untuk mendanai rumahtangganya, dia menciptakan terobosan baru. 
Bila suami mengajak hubungan intim, harus ada “tax amnesty”-nya. Bila Agustin 
merasa puas, tak ada pungutan. Tapi bilamana Danarto “selesai” duluan, dia 
harus bayar tunai Rp 200.000,- Prinsip Agustin, silakan singkap, tembus, lega; 
tapi bayar Rp 200.000,-

Karena sering kecapekan, pengusaha keramik ini sering KO duluan, sehingga dalam 
sebulan dia bisa kena cash sampai Rp 1,6 jutaan. Awalnya sih dia rela-rela saja 
dijadikan WP urusan ranjang, tapi karena semakin keseringan, “legrek” (bosan) 
juga sebagai suami. Maka Danarto pun menggugat cerai ke Pengadilan Agama 
Surabaya, sekalian minta pembagian harta gono-gini.

Ternyata Agustin santai-santai saja menghadapi manufer Danarto, yang 
“manuk”-nya tak lagi menjanjikan itu. Silakan saja harta dibagi, wong mayoritas 
sudah atas nama anak-anaknya. “Lelaki pelit model Danarto memang harus diberi 
pelajaran,” ujarnya.


Habisnya, benggol dan bonggol tak berbanding lurus. (JPNN/Gunarso TS)



Kirim email ke