Kisah karikatural tentang kerja institusi pajak yang membuat 
obrolan di warung-warung kopi jadi pecah berderai ini (dimuat 
harian Poskota, 29/10/16) ternyata tidak sampai sebulan 
langsung menjadi kisah nyata dengan ditangkap-tangannya 
petinggi pajak oleh KPK, Senin lalu (21/11/16).
Kesimpulan, masyarakat tidak pernah takut membayar pajak. 
Terbukti, dengan digelarnya program pengampunan pajak, orang 
berduyun-duyun menyetor uang demi kemaslahatan bersama. 

Pertanyaan usangnya, masihkah institusi pajak boleh dipercaya? 
Sekurangnya, seriuskah pemerintah memikirkan kepentingan bersama 
melalui program andalannya: pengampunan pajak?
rintihan kekecewaan Sri Mulyani

  
|    |  
Surat Sri Mulyani Pasca-OTT Pejabat Paj...
  |  |

 
-
Hubungan IntimBerbayar, Suami Pilih Cerai Saja Sabtu, 29 Oktober2016 - 7:10 WIB 
MANA Ada kencani istri harus bayar? Oo, ada di Surabaya!Pelakunya Ny. Agustin, 
40, istri Danarto, 47, pengusaha keramik. Alasannya,suami terlalu pelit memberi 
uang belanja. Karena Agustin punya bakat petugaspajak, maka sekali kencan minta 
bayaran Rp 200.000,- Suami “kecapekan” danasehingga pilih talak. Tahu kerja 
petugas pajak? Dia haruspintar menggali pos-pos pajak baru, yang bisa 
meningkatkan pemasukan negara danpemasukan kantong bagi oknum-oknumnya. Maka 
kadang penetapan WP (Wajib Pajak)itu tak masuk akal. Masak di Indonesia ini 
orang bergaji Rp 5 juta kena pajak,padahal untuk belanja sebulan pas-pasan. 
Paling konyol, penulis buku danartikel juga dipajaki 15 %, padahal di Indonesia 
ini belum ada sejarahnya orangbisa kaya hanya jadi pengarang/penulis. Ibu 
rumahtangga bermental pegawaipajak itu di antaranya Ny. Agustin, warga Kupang, 
Surabaya. Memberikan nafkahbatin bagi suami itu kan merupakan kuwajiban, tapi 
manakala dia tidak mood(baca: tak puas), langsung dicash Rp 200.000,- Tapi kata 
Agustin, hal ituterpaksa dilakukan karena Danarto sebagai suami terlalu pelit 
memberi uangbelanja. Jaman sekarang diberi belanja Rp 1 juta sebulan, mana 
cukup? Menikah 15 tahun lalu denganDanarto, Agustin hanya mengandalkan 
kecintaan Danarto pada dirinya. Dia anakkeluarga mapan, sedangkan suaminya itu 
hanya petugas pemasaran pabrik keramik.Soal tampang sih, Danarto memang jenis 
KW-1. Siku dan tak ada yang gumpil(cacat), sehingga bila dipasang oleh tukang 
yang ahli, natnya akan nampak bagusdan rata. Ketika penghasilan Danarto 
masihminim, Agustin mau saja diberi uang belanja pas-pasan. Toh masih ada 
subisididari orangtuanya. Lagi pula soal tempat tinggal juga tidak bayar, 
karena Danartoselama ini memang tinggal di Mertua Permai tipe 200/300 yang 
bebas cicilan keBTN.
Tapi ketika orangtuanya sudahmeninggal, subsidi mertua itu dengan sendirinya 
terhenti. Bersamaan dengan itu, rejeki Danartojuga membaik. Bila dulu hanya 
tenaga pemasaran, kini sudah punya toko keramiksendiri. Tapi anehnya, dana APBN 
keluarga tak pernah ada perubahan, tetap sajaRp 1 juta dalam sebulan. Agustin 
berulang kali mengajukan APBN-P, tapi selaluditolak. Lagaknya Danarto ini sudah 
seperti DPR saja. Untungnya Agustin ini punya bakatterpendam sebagai petugas 
pajak. Untuk menggali uang untuk mendanairumahtangganya, dia menciptakan 
terobosan baru. Bila suami mengajak hubunganintim, harus ada “tax amnesty”-nya. 
Bila Agustin merasa puas, tak ada pungutan.Tapi bilamana Danarto “selesai” 
duluan, dia harus bayar tunai Rp 200.000,-Prinsip Agustin, silakan singkap, 
tembus, lega; tapi bayar Rp 200.000,- Karena sering kecapekan, pengusahakeramik 
ini sering KO duluan, sehingga dalam sebulan dia bisa kena cash sampaiRp 1,6 
jutaan. Awalnya sih dia rela-rela saja dijadikan WP urusan ranjang, tapikarena 
semakin keseringan, “legrek” (bosan) juga sebagai suami. Maka Danartopun 
menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya, sekalian minta pembagianharta 
gono-gini. Ternyata Agustin santai-santai sajamenghadapi manufer Danarto, yang 
“manuk”-nya tak lagi menjanjikan itu. Silakansaja harta dibagi, wong mayoritas 
sudah atas nama anak-anaknya. “Lelaki pelitmodel Danarto memang harus diberi 
pelajaran,” ujarnya.
Habisnya, benggol dan bonggol takberbanding lurus. (JPNN/Gunarso TS)

Kirim email ke