Mengapa Rakyat Khawatir dengan “Pembangunan”?
24 November 2016Pemerintahan Jokowi meneruskan meneruskan proyek infrastruktur 
yang telah diletakkan SBY [Foto: istimewa]Koran Sulindo – Penggusuran atas nama 
“pembangunan” dengan menggunakan kekerasan semakin sering terjadi. Alih-alih 
melindungi dan mengayomi, aparat keamanan kini justru menjelma sebagai tukang 
“pukul” dan penggebuk masyarakat.Kekerasan demikian tidak hanya terjadi di 
kota-kota besar seperti Jakarta dan Medan. Juga menimpa warga desa yang sekadar 
ingin mempertahankan tanahnya yang merupakan sumber penghidupan bersama 
keluarganya.Itu dialami warga Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat beberapa 
waktu lalu. Mereka – warga desa – menolak pengukuran tanah sebagai lahan 
pembangunan proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Polisi oleh 
karenanya menyerang warga dengan menembakinya dengan gas air mata.Polisi 
memukuli, menggebuki sebagian warga  dan menangkap delapan orang. Kekerasan ini 
terjadi setelah negosiasi antara warga dengan petugas pengukuran lahan buntu. 
Atas nama “pembangunan” warga desa itu digebuk dan ditembaki. Selanjutnya, 
polisi malah menetapkan tiga warga desa sebagai tersangka.Seperti Sukamulya, 
warga Desa Mekarjaya, Langkat, Sumatera Utara (Sumut) juga mengalami hal 
serupa. Warga mengalami kekerasan dari aparat gabungan kepolisian dan tentara 
ketika mempertahankan tanahnya dari perluasan lahan oleh perusahaan Malaysia 
yaitu PT Langkat Nusantara Kepong (LNK).Lahan sekitar 554 hektare yang menjadi 
sumber konflik itu merupakan lahan pertanian warga dan kini ingin dijadikan 
sebagai perkebunan sawit oleh LNK. Perusahaan ini mengaku lahan tersebut 
termasuk bagian dari hak guna usaha PTPN II. Akibat penggusuran ini lahan 
pertanian dan rumah warga rusak.Baru-baru ini penggusuran dengan menggunakan 
kekerasan juga terjadi di kawasan Glugur, Medan Barat, Sumut pada 23 November 
lalu. Warga yang bermukim sejak lama di bantaran rel digusur secara paksa. 
Aparat dengan menggunakan eskavator merubuhkan bangunan rumah warga.Tentu warga 
tidak tinggal diam. Mereka melawan. Rasa amarah warga memuncak dan siap mati 
agar rumah mereka tidak digusur secara paksa. Sebagian ibu-ibu antara lain 
Melda Simbolon bahkan nekat tidur di depan eskavator yang siap 
melindasnya..Aparat dengan segala kekuatannya dan terutama: lewat kekerasan 
melumpuhkan perlawanan warga Glugur itu. Melda digotong dan dijauhkan dari 
lokasi. Ia tetap meraung dan tidak rela rumahnya digusur. Perlawanan yang 
sungguh mengesankan.Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan Lembaga Bantuan 
Hukum (LBH) Jakarta mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap rakyat. Kedua 
lembaga ini mendesak pemerintah untuk menghentikan segala bentuk kekerasan 
terhadap rakyat dengan mengatasnamakan “pembangunan” itu.Berdasarkan catatan 
LBH penggusuran melalui pendekatan kekerasan di Jakarta meliputi 325 lokasi 
dengan jumlah terdampak mencapai ribuan jiwa pada 2016. Jumlah ini meningkat 
tiga kali lipat jika dibandingkan pada 2015.Sementara itu, AGRA mencatat 
sepanjang pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang meletakkan dasar 
pembangunan infrastruktur telah memenjarakan ribuan (1.180) kaum tani, 
menganiaya 556 kaum tani dan menewaskan 65 petani. Front Perjuangan Rakyat 
menyebutkan kondisi kehidupan kaum tani tidak jauh berbeda dengan masa 
kolonialisme. Organisasi ini hingga Mei 2016 mendata kaum tani yang menjadi 
korban kekerasan mencapai sekitar 256 orang, korban penembakan sekitar 39 
orang, korban penangkapan 581 orang, korban kriminalisasi 82 orang dan korban 
tewas 10 orang.Investasi
Semua kekerasan ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai investasi dan 
proyek infrastruktur yang dirancang pemerintah sebelum hingga masa Joko Widodo. 
Ketika berpidato di Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Tiongkok, 
Jokowi mengundang investor untuk berinvestasi di Indonesia. Jokowi kala itu 
menjamin kemudahan izin dan pembebasan lahan.Pidato Jokowi itu kini menjadi 
kenyataan dan menimpa warga Desa Mekarjaya Langkat itu. Sementara yang menimpa 
warga Desa Sukamulya, Majalengka berkaitan dengan janji Jokowi membangun proyek 
infrastruktur berupa jalan, pelabuhan, bandara, waduk dan irigasi hingga 2020. 
Ini disebut konsep keterhubungan (konektivitas) antar-koridor atau 
wilayah-wilayah.Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) beberapa 
waktu lalu mengatakan, apa yang terjadi saat ini terutama dalam hal pembangunan 
infrastruktur mirip di era Orde Baru. Seperti halnya Soeharto, cara yang 
ditempuh untuk memuluskan “pembangunan” mengerahkan aparat keamanan untuk 
menggebuki rakyat.Pendapat yang sama disampaikan Menteri Perencanaan 
Pembangunan Bambang Brodjonegoro beberapa waktu lalu. Sistem perekonomian 
Indonesia disebut mirip ketika di zaman kolonial. Ia – Menteri PPN itu – benar 
adanya. Selain karena mengandalkan komoditas ekspor, juga karena pembangunan 
menggunakan pendekatan rust en orde(kemanan dan ketertiban). Cara ini dianggap 
ampuh untuk mematikan gerakan rakyat.Soal penggusuran ini penulis India, 
Arundhati Roy lewat sebuah tulisannya menggambarkan pembangunan infrastruktur 
sesungguhnya identik dengan penggusuran dan perampasan tanah rakyat. Di India, 
pemerintah menggunakan kemiskinan untuk menindas rakyat terutama di Bengala 
Barat.Dalam bukunya yang berjudul Walking with the Comrades, ia mengatakan, 
setiap kali pemerintah perlu menggusur penduduk dalam jumlah besar untuk 
membangun waduk, proyek irigasi, dan membuka tambang, mereka bicara tentang 
membawa penduduk ke arah pembangunan serta kehidupan modern.Maka, tidak perlu 
heran jika di India jumlah pengungsi mencapai puluhan juta orang. Sebagian 
besar merupakan korban penggusuran. Itu sebabnya, ketika pemerintah India mulai 
berbicara kesejahteraan rakyat, justru saat itulah warga menjadi khawatir. 
Seperti halnya India, Presiden Jokowi juga menjanjikan suatu kehidupan yang 
lebih baik lewat pembangunan infrastruktur seperti jalan, waduk, pelabuhan, 
irigasi, dan bandara.Jika di India pembangunan infratruktur menciptakan puluhan 
juta pengungsi, Presiden Jokowi memperhalusnya dengan istilah pembebasan lahan 
yang seolah-olah tak menggusur rakyat. Celakanya, itu pula yang dipastikan 
Presiden Jokowi kepada investor.Bila rakyat Bengala Barat, India khawatir 
ketika pemerintah mulai berbicara “kesejahteraan rakyat”, bukankah wajar kaum 
tani dan rakyat miskin perkotaan Indonesia juga demikian? [KRG]

Kirim email ke