Petani Mulai Banyak Digusur, Mahasiswa Pertanian Ngapain?
 Kolumnis: Muhidin M Dahlan23 November, 2016Ketika para petani berjibaku 
mempertahankan sawah dan ladangnya dari eksploitasi tambang dan pembangunan 
infrastruktur pesawat udara, di mana suara mahasiswa pertanian?

Ketika lahan-lahan pertanian makin menyempit dan keluarga petani Indonesia 
makin susut dari tahun ke tahun, di manakah sikap mahasiswa pertanian?

Ketika atas nama pembangunan ketahanan pangan pemerintah membangun industri 
pertanian dengan mengundang fabrikasi bibit multinasional beroperasi di 
dalamnya, di mana pamflet kritis mahasiswa pertanian ditempelkan?

Ketika petani dibunuh dan disiksa demi tanahnya, di mana advokasi dan aksi 
"bela-pati" mahasiswa pertanian?

Kita bertanya kepada mahasiswa pertanian karena posisi mereka adalah marhaen 
terpelajar di mana semestinya yang paling paham sisi-melik dunia tani; mulai 
dari teknologi pembibitan hingga konflik yang menghancurkan kelas petani. 

Sebagai kaum terpelajar petani, mahasiswa pertanian bukanlah calon insinyur 
tani yang menjauh dari keringat si tani, melainkan satu sekutu dalam kelas tani 
yang luar biasa rentannya dalam pembangunan infrastruktur entah untuk tujuan 
apa ini.

Ketika petani menangis, mahasiswa pertanian yang mencari tahu akar mengapa 
petani hidup pilu dan memberitahu akar tunjang masalah dan bagaimana 
menyikapinya. Ketika petani meneriakkan kekurangan lahan tanam, mahasiswa 
pertanian yang mestinya tiap hari menggalang aksi untuk mempercepat pelaksanaan 
reforma agraria. 

Nah, ketika petani berhadap-hadapan dengan serdadu di pematang sawah -- 
sebagaimana kasus di Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat -- mahasiswa pertanian 
mestinya mogok belajar di kelas perkualiahan untuk membela kelas tani di 
lapangan pergerakan.

Jangan sampai lupa, kalian mahasiswa dan mahasiswi pertanian, petani adalah 
soko-guru dari Revolusi Indonesia, sebagaimana Sukarno berkata-kata. Dan, 
ketika Sukarno meletakkan batu-pertama pembangunan Fakultas Pertanian 
Universitas Indonesia (IPB, saat ini) di Bogor, 27 April 1952, Indonesia 
habis-habisan mencari terobosan di segala arah bagaimana kita berdaulat dalam 
pangan.

Kedaulatan pangan mula-mula adalah penghormatan kelas tani, memualiakan 
marhaen. Maka dari itu, Sukarno langsung menempatkan kelas tani ini sebagai 
soko-guru revolusi. Untuk mengejawantahkan prinsip ini, perlu tindakan-tindakan 
objektif, perlu tenaga-tenaga terpelajar yang bertarung di lapangan pertanian 
dengan segala pengetahuan yang dimilikinya untuk memuliakan dunia tani.

Kampus dan fakultas pertanian dibikin dan status mahasiswa pertanian lahir 
karena negara ini menginginkan seluruh lapisan masyarakatnya dapat makan 
kenyang oleh kerja petani-petani dari bangsanya sendiri yang bekerja dengan 
bekal ilmu pengetahuan. Antara lain, kerja-kerja mahasiswa pertanian adalah 
mulai dari ikhtiar tiada henti mencari ilmu pelipatgandaan hasil panen, 
pencarian bibit yang sesuai dengan kontur tanah-tanah di Indonesia, 
keanekaragaman pangan, keseimbangan lahan, pemupukan, antisipasi hama, hingga 
menjaga keseimbangan ekonomi-tani.

Pendek kalimat, kampus dan fakultas pertanian berguna bagi semesta petani bila 
mereka tak mengambil jarak yang keterlaluan atas nasib dunia tani. 

Tak peduli kepada nasib petani menyalahi idealisme awal mengapa Sukarno si 
penemu ajaran ideologi tani (marhaenisme) itu meresmikan pembukaan sekolah tani 
(baca: IPB).

Berseru Sukarno: "Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan 
mengalami tjelaka, bentjana, malapetaka dalam waktu jang dekat kalau soal 
makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan 
rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, -- kenapa dari 
kalangan-kalanganmu begitu ketjil minat untuk studie ilmu pertanian dan ilmu 
perchewanan? Kenapa buat tahun 1951/1952 jang mendaftarkan diri sebagai 
mahasiswa bagi Fakultet Pertanian hanja 120 orang, dan bagi Fakultet Kedokteran 
Chewan hanja ...... 7 orang? Tidak, pemuda-pemudiku, studie ilmu pertanian dan 
ilmu perchewanan tidak kurang penting dari pada studie lain-lain. Tjamkan, 
sekali lagi tjamkan, -- kalau kita tidak 'aanpakken' soal makanan rakjat ini 
setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami 
malapetaka!" (1952: 24)

Belum cukup. Sukarno bahkan meletakkan harapan besar bahwa mahasiswa pertanian 
ini adalah kaum pelopor. Jika di masa pergerakan awal lisensi keterlibatan 
mahasiswa kedokteran (Stovia) cukup menonjol, maka ketika Indonesia membangun 
desa-desanya, membangun untuk kemakmuran rakyatnya, maka lisensi kepahlawanan 
dan kepeloporan mestinya dikantongi mahasiswa pertanian.

Ayo, bung mahasiswa dan nona mahasiswi pertanian, baca separagraf lagi pesan 
Sukarno: "Politik bebas, prijsstop, keamanan, 'masjarakat adil dan makmur', 
'mens sana in corpore sano', -- semua itu mendjadi omong kosong belaka, selama 
kita kekurangan bahan makanan, selama tekort kita ini makin lama makin 
meningkat, selama kita tidak bekerdja keras, memeras keringat mati-matian 
menurut plan jang tepat dan radikal. Revolusi pembangunan harus kita adakan, 
tetapi paling segera diatas lapangan persediaan makanan rakjat. Dan kamu, 
pemuda dan pemudi diseluruh Indonesia, kita harus menjadi pelopor dan pahlawan! 
Dengan utjapan itulah, saja meletakkan batu-pertama dari Gedung Fakultet 
Pertanian ini. Sekian!" (Sukarno, "Soal Hidup dan Mati", 1952: 26)

Jadi, menyitir Sukarno, soal pertanian itu soal hidup dan mati. Jadi, kalau ada 
petani mati-matian mempertahankan tanah pertaniannya, pahamilah bahwa mereka 
sedang memilih dua jalan darurat: hidup atau mati. 

Karena itu, jika menghidupkan petani, bela petani. Jika membiarkan kematian 
petani, bakar saja semua sekolah pertanian dan lemparkan diktat kuliah dan 
togamu di luweng-luweng gelap.

Ayolah, mahasiswa dan sarjana tani! Pahami dan sadari kembali, kalian itu 
pelopor dan bukan si gadungan cilaka dalam kelas tani yang menjadi "soko-guru" 
(pembangunan) revolusi! 

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak 
menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Kirim email ke