Albania: negeri tempat para pemeluk agama saling bergandengan tangan 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-tra-38032621 21 November 2016
Kirim http://www.bbc.com/indonesia/vert-tra-38032621#share-tools
 
 Image copyrightJILL CONWAYImage captionDi Albania, sudah menjadi pemandangan 
umum melihat gereja dan masjid berada di satu jalan yang sama. Paus Fransiskus 
memuji negeri kecil yang terletak di semenanjung Balkan atas toleransi agamanya 
yang patut diperhatikan. Paus mengatakan toleransi agama ini semestinya menjadi 
contoh untuk seluruh orang di dunia.
 Meskipun ini adalah pertama kalinya saya bertemu Hasib Buba, saya sudah 
mendengar suaranya beberapa kali menggema di jalanan yang berkelok-kelok dan di 
gang-gang di Berat, sebuah kota kecil di sebelah selatan Albania.
 Dengan rambut hitam dibelah rapi, jenggot yang terpelihara dengan baik dan 
berkemeja panjang, pemimpin agama berusia 25 tahun tersebut menjelaskan bahwa 
sebagai seorang muazin, salah satu kewajibannya adalah untuk mengumandangkan 
azan, panggilan untuk salat yang diserukan dari menara masjid, lima kali setiap 
hari.
 Dia merupakan gambaran seorang Muslim yang taat, tapi saya terkejut setelah 
mengetahui ini tidaklah selalu seperti itu.
 "Saya sebenarnya dibesarkan dengan ajaran Kristiani," Buba menjelaskan, "dan 
selama bertahun-tahun saya menjalani ajaran tersebut. Saat saya lebih dewasa, 
saya berdebat dengan salah satu teman saya, yang seorang Muslim. Debat tersebut 
berlangsung berbulan-bulan, dan untuk mempersiapkan diskusi kami dengan lebih 
baik, saya mulai membaca-baca tentang Islam, saya berusaha belajar semuanya 
tentang agama tersebut."
 "Akhirnya, saya memenangkan debat, tapi proses tersebut membawa saya 
menanyakan tentang keyakinan yang saya anut. Jawaban-jawaban yang disediakan 
oleh Islam lebih masuk akal bagi saya, jadi saya masuk Islam," ujarnya.
Image copyrightTHINKSTOCKImage captionSalah satu masjid yang ada di Albania. 
Walaupun pilihan untuk masuk Islam mungkin terlihat mengejutkan bagi beberapa 
orang, kenyataannya Albania telah lama dipandang sebagai tempat yang 
mencerminkan toleransi agama dan keharmonisan.
 Perahu Pustaka yang berlayar untuk anak-anak di Sulawesi 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-tra-37847425 Tradisi Mongolia berumur 6.000 
tahun yang hampir hilang http://www.bbc.com/indonesia/vert-tra-37790069 Agama 
yang paling banyak dianut adalah Islam dan Kristen, dengan jumlah Muslim lebih 
dari setengah jumlah total penduduk. Tapi, masih ada persatuan di antara 
orang-orang di negeri tersebut. Gereja-gereja dan masjid-masjid sering kali 
berada di jalanan yang sama, dan pernikahan antar agama diterima secara luas 
dalam budayanya.
 Kota Berat khususnya, adalah penting sebagaimana Museum Onufri di sana yang 
melambangkan kerukunan. Karya seni Albania abad ke-18 ini melukiskan suatu 
adegan Kristiani dengan menara-menara masjid terlihat menjulang sebagai latar 
belakangnya dan lukisan ini disanjung-sanjung sebagai simbol keharmonisan agama 
yang terkenal di negara tersebut.
Image copyrightGENT SHKULLAKU/GETTYImage captionPaus Fransiskus memuji 
tingginya toleransi beragama di Albania. Pada kunjungannya tahun 2014, Paus 
Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik, memuji negeri di semenanjung Balkan 
tersebut http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/09/140921_paus_albania atas 
toleransi beragama mereka yang terkenal.
 Selama pidatonya di Tirana, Albania, Paus Fransiskus memuji "hidup 
berdampingan secara damai" atas agama-agama yang ada di negeri tersebut, dengan 
menambahkan, "ini khususnya pada saat-saat seperti sekarang di mana semangat 
agama yang murni dirusak oleh kelompok ekstrem, dan di mana perbedaan agama 
diputarbalikkan."
 Dengan didorong oleh rasa ingin tahu bagaimana penduduk Albania tetap bersatu, 
saya bertanya kepada Buba mengenai hal ini.
 "Albania selalu ada keterbukaan dalam menerima orang lain. Jika Anda 
menelusuri sejarah negara ini, Anda melihat keharmonisan di setiap abad. Bahkan 
pada waktu zaman Kesultanan Utsmaniyah. Banyak orang menghubungkannya dengan 
komunisme, tapi saya tidak mempercayainya. Jika Anda menengok pada sejarah 
sebelumnya, hal itu tidak masuk akal."
 Buba mengacu pada periode antara tahun 1944 sampai 1992 ketika Albania di 
bawah rezim komunis ketat yang dimulai oleh diktator Enver Hoxha.
 Selama periode rezim tersebut, Albania menjadi negara yang terisolasi penuh 
dengan hampir tanpa ikatan dengan dunia luar.
Image copyrightTHINKSTOCKImage captionDahulu, Albania diduduki oleh rezim 
komunis dan menghapus seluruh agama di sana. Pada 1967, Hoxha memperketat 
'cengkeramannya' terhadap negara tersebut bahkan melarang semua agama dengan 
menyatakan Albania adalah negara ateis pertama di dunia. Selama waktu itu, 
gereja-gereja dan masjid-masjid disita oleh militer, dirusak atau dijadikan 
bioskop atau ruang dansa. Para anggota kependetaan dicopot gelarnya, 
dipermalukan dan -dalam beberapa kasus- mereka dikurung.
 Beberapa orang berspekulasi bahwa kekerasan untuk menyingkirkan agama-agama 
mengakibatkan Albania mengadopsi pola pikir sekuler, dan negara tersebut tidak 
mengalami pertentangan agama karena kepercayaan bukanlah unsur penting 
kehidupan bagi banyak orang saat ini.
 Buba mempunyai pendapat berbeda dan menolak spekulasi tersebut, menurutnya itu 
hal yang sinis.
 Untuk mengilustrasikan bagaimana keharmonisan agama ada di Albania, dia 
memberi tahu contoh yang ada baru-baru ini di Malbardh, sebuah desa kecil di 
Albania utara.
 Beberapa tahun lalu, daerah kecil tersebut menjadi berita utama di seluruh 
negeri saat penduduk Muslim lokal menggalang dana dan membangun kembali gereja 
Katolik satu-satunya di sana 
https://www.yahoo.com/news/albanias-lesson-muslim-christian-tolerance-202111598.html?ref=gs
 yang diruntuhkan bersamaan dengan tempat-tempat peribadatan lainnya selama 
rezim Hoxha.
Image copyrightTHINKSTOCKImage captionAlbania, negeri di semenanjung Balkan 
yang bermayoritas penduduk Islam dan Kristen tapi rasa toleransi di antara 
mereka sangat tinggi. Malbardh bukan satu-satunya daerah yang mempunyai 
cerita-cerita seperti ini. Leskovik, sebuah desa dekat perbatasan Yunani, 
dikenal karena tempat peribadatan untuk umum yang dibangun dari reruntuhan 
masjid yang rusak pada waktu Perang Dunia kedua.
 Reruntuhan tersebut tetap tak tersentuh selama era komunisme, tapi sekarang 
tempat peribadatan tersebut, yang terletak di lantai dasar menara masjid 
terdahulu, sering dikunjungi oleh umat Muslim dan Kristen untuk berdoa.
 Cerita-cerita ini khususnya penting saat ini. Dengan rasa ketakutan yang 
ditumbuhkan oleh kelompok-kelompok ekstrem, tampaknya memisah-misahkan agama 
hanya mendorong ketakutan menjadi lebih besar.
 Kisah orang-orang Spanyol yang pindah agama Islam 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161021_vert_tra_sufi_spanyol
 Biksuni-biksuni Nepal jago kungfu 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_tra/2016/10/161007_vert_tra_kungfu_nepal
 "Saya mendengar semua perbincangan tentang orang-orang ingin membangun tembok 
dan melarang penganut kepercayaan-kepercayaan tertentu masuk ke negara-negara 
tertentu," kata Buba. "Ini hanya akan menumbuhkan kebencian dan kesalahpahaman. 
Alasan keharmonisan ada di Albania adalah karena kita saling melibatkan diri 
dengan sesama. Kita berdebat, kita berdiskusi, dan kita mendidik diri sendiri 
dan orang-orang di sekitar kita."
 Selama dua tahun saya di negeri ini, saya menyaksikan apa yang dikatakan Buba 
secara langsung.
 Ada berbagai acara keagamaan Muslim dan Kristiani yang dihadiri oleh kedua 
penganut agama tersebut. The Day of the Blessed Water, contohnya, adalah hari 
libur Kristen yang dirayakan oleh para peserta dengan menyelam ke dalam sungai 
untuk mencari sebuah salib, tapi acara ini terbuka untuk semua dan ada banyak 
orang Muslim sebagai pemenangnya selama beberapa tahun ini.
Image copyrightGENT SHKULLAKU/GETTYImage captionThe Day of the Blessed Water 
adalah hari raya Kristen yang dirayakan oleh para peserta baik orang Kristen 
maupun Muslim dengan menyelam ke dalam sungai untuk mencari sebuah salib. 
Sementara itu, Buba menjelaskan bahwa sudah bukan hal tak lazim bagi orang 
Kristen untuk berpartisipasi ikut pesta selama hari raya Idul Fitri, yang 
mengakhiri bulan puasa Ramadan.
 Dengan keterlibatan dengan sesama begitu seringnya dan dengan cara-cara yang 
berarti, umat Muslim dan Kristen Albania telah menciptakan komunitas kuat yang 
didirikan pada sikap memahami dan menghormati.
 Susah untuk mengatakan apakah dunia akan mengambil contoh dari sikap Buba dan 
Albania dan menerapkannya di hati mereka, tapi ada sesuatu yang bisa dikatakan 
dari negara kecil di semenanjung Balkan tersebut di mana anak-anak tumbuh besar 
mendengar azan dan lonceng gereja dari luar jendela mereka. Bagi mereka, hidup 
berdampingan dan keharmonisan menjadi hal normal selayaknya bernapas.
 Versi bahasa Inggris artikel yang ditulis oleh Quinn Hargitai ini bisa Anda 
baca diThe world's most tolerant country 
http://www.bbc.com/travel/story/20161024-the-worlds-most-tolerant-country di 
laman Home http://www.bbc.com/travel
 
 
 http://www.bbc.com/travel 
 
 Home http://www.bbc.com/travel 
 
 
 View on www.bbc.com http://www.bbc.com/travel 
 Preview by Yahoo 
 
 
  

 

 

Kirim email ke