---------- Forwarded message ----------



*Ahok yang Mulai Bangkit Pasca Demonstrasi*

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/lahagu/ahok-yang-mulai-
bangkit-pasca-demonstrasi_583a7bc452f9fd551a28e0fd
Pasca terpuruk di dasar jurang, Ahok secara perlahan mulai bangkit. Sejak
menyerempet Surat Al-Maidah akhir September 2016 lalu, Ahok diserang dari
segala penjuru. Serangan Buni Yani, Habib Rizieg, Amin Rais, Munarman,
Ahmad Dhani, Fadli Zon, Fahri Hamzah, SBY, Ratna Sarumpaet, MUI, ILC TV
One, survei LSI Denny JA dan seterusnya datang bertubi-tubi bak Tsunami.
Hasilnya Ahok terlihat hancur-lebur berkeping-keping.
Puncaknya ketika dua serangan rudal meluluh-lantahkannya. Demo 4 November
2016 adalah serangan rudal paling mematikan bagi Ahok. Lalu penetapan
dirinya sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri 16 November 2016 adalah
serangan rudal pencabut nyawa. Saat dirinya ditetapkan tersangka, Ahok
dinyatakan sudah tamat. Akan tetapi hanya beberapa detik pasca penetapan
itu, Ahok ternyata bangkit lagi. Dukungan kepadanya lewat sosial media
dengan tagar “Kami Ahok”, berhari-hari menjadi trending topik di Twitter.
Berbagai polling di sosial media menempatkan Ahok di urutan paling atas.
Sejak Ahok ditetapkan sebagai tersangka, namanya justru semakin berkibar
bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Tak kurang
Amnesty Internasional meminta Polri menghentikan penyelidikan kasus Ahok.
Sebelumnya ditenggarai bahwa demo 4 November 2016, membuat Donald Trump
menang atas Hilary Clinton pada Pilpres Amerika. Negara-negara Barat pun
akan terus menyorot Indonesia.
Di rumah pemenangan Ahok di Lembang, dukungan deras datang dari berbagai
pihak, termasuk dukungan dari PPP Djan Faridz. Setiap hari ratusan orang
silih berganti menyatakan dukungan atau menerima beragam pengaduan.
Diperkirakan bahwa label tersangka yang disandang Ahok tidak terpengaruh.
Walaupun Polri mencoba berpacu dengan waktu agar kasus Ahok cepat tuntas,
namun mendapatkan vonis di pengadilan tidak secepat yang diharapkan. Butuh
waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk mendapat label ikrah atau
berkekuatan hukum tetap.
Para pendukung Ahok yakin bahwa Ahok mampu memenangkan Pilkada DKI satu
putaran. Keyakinan itu terlihat dari warga Jakarta yang tidak banyak turun
ke jalan saat demo 4 November lalu. Pun saat parade Bhinneka Tunggal Ika,
masyarakat Jakarta tidak banyak yang turun ke jalan. Warga Jakarta terlihat
wait and see.
Sepintas ada keanehan yang melanda warga Jakarta saat ini. Hasil Survei
Indikator misalnya menyatakan bahwa warga Jakarta puas atas kinerja Ahok
namun tidak mau memilihnya. Namun bila dianalisis lebih lanjut keanehan itu
bisa dipahami. Jika hasil survei elektabilitas Ahok beberapa pekan terakhir
cenderung turun, itu bisa jadi karena status Ahok yang saat ini telah
ditetapkan tersangka atas dugaan penistaan agama yang membuat dukungan
kepadanya semakin tergerus. Itu kemungkinan pertama.
Akan tetapi kemungkinan keduanya dan ini yang ditakuti para lawan Ahok,
adalah orang yang disurvei enggan menjawab pertanyaaan karena faktor
memanasnya suhu politik dan sosial di masyarakat. Kondisi itu membuat orang
yang ditanya dalam survei tak mau mengambil risiko politik. Dari dukungan
kepada Ahok di Lembang, terlihat bahwa warga Jakarta yang punya suara malah
simpatik kepada Ahok yang dikepung dari segala sudut.
Soal hasil survei yang mencap elektabilitas Ahok jatuh, ada kemungkina
bahwa masyarakat yang disurvei saat ini cenderung tidak terbuka dan jujur
mengutarakan apa yang ada di benaknya. Alasannya untuk menghindari risiko
politik dan sosial. Bisa saja warga Jakarta tidak mengatakan mendukung Ahok
tapi di bilik suara berbalik mendukung.
Masyarakat Jakarta sangat rasional dalam memilih. Namun mereka tidak mau
menghadapi resiko politik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menghindari
risiko politik itu, warga Jakarta cenderung menyatakan dukungan kepada Anis
atau Agus atau bahkan tidak menjawab sama sekali.
Warga Jakarta yang rasional dalam memilih paham sekali bahwa Ahok saat ini
terus dikepung oleh kasus SARA. Alasannya, hanya itu yang bisa
menghentikannya. Ahok yang memiliki elektabiltas tinggi, jelas susah
dikalahkan. Namun warga Jakarta sendiri tidak mudah digerakkan. Oleh karena
itu orang dari luar Jakarta dikerahkan untuk menjegal Ahok.
Saat ini mayoritas masyarakat Jakarta terlihat mencari aman. Mereka
cenderung menjaga risiko politik dan sosial di masyarakat. Masyarakat
Jakarta dari berbagai survei terkesan berpura-pura tidak memilih Ahok.
Tujuannya adalah agar orang luar Jakarta tidak perlu mencampuri urusan
politik di Jakarta. Di daerah lain juga banyak penistaan agama tetapi sama
sekali tidak diangkat ke permukaan. Mengapa? Karena memang tidak menarik.
Kekuatan silent majority inilah yang menakutkan para lawan Ahok. Siapa yang
berani menjamin bahwa masyarakat Jakarta tidak lagi memilih Ahok di bilik
suara? Jika ternyata Ahok menang satu putaran, maka kiamat bagi para lawan
Ahok untuk bertahun-tahun ke depan. Nah, oleh karena itu tidak ada jalan
lain selain mematikan dan mengubur Ahok untuk selama-lamanya. Penetapan
Ahok sebagai tersangka belumlah memuaskan para lawan Ahok. Mereka meminta
Ahok ditahan agar tidak lagi berkoak-koak mengkampanyekan dirinya.
Jika kemudian pun Ahok sudah ditahan atau dipenjara, maka lawan Ahok akan
demo lagi agar Ahok secepatnya divonis di atas lima tahun sebelum Pilkada
15 Februari 2017 mendatang. Dan jika sudah divonis, maka para lawan Ahok
akan demo lagi agar MA secepat kilat membuat hukuman Ahok inkrah atau
berkekuatan hukum tetap.
Apakah demo dan tuntutan demo itu masih waras atau mengedepankan proses
hukum yang adil? Untuk sementara sama sekali tidak dipedulikan. Demi
mematikan Ahok dan menguburnya untuk selama-lamanya, Habieb Rizieq tanpa
membaca benar undang-undang, terus melontarkan logika dungu bahwa ia akan
memasukkan Presiden dan Kapolri ke penjara jika menghalangi demo 2 Desember
2016.
Logika-logika dungu memang banyak diperlihatkan dalam Pilkada DKI Jakarta
kali ini. Sebagai contoh misalnya, Agus mengatakan bahwa program calon
gubernur sama sekali tidak penting asalkan orangnya baik. Belum lagi cara
Anis Baswedan mengatasi perumahan kumuh di DKI yang katanya tidak akan
digusur tetapi cukup dilukis, membuat hati geli mendengarnya.
Apakah demo 2 Desember 2016 mendatang yang tujuannya agar Ahok ditahan oleh
Polri sukses? Apakah demo itu semakin membuat semakin banyak logika dungu
terlihat? Entahlah. Yang jelas kolaborasi membahana antara TNI-Polri
beserta masyarakat yang mencintai NKRI semakin terlihat kokoh dan tak mudah
digoyahkan. Dan satu lagi yang perlu dicamkan, yakni bahwa Ahok masih hidup
dan bahkan ia mulai bangkit lagi.
Salam Kompasiana,
Asaaro Lahagu

Kirim email ke