Gus Dur dan Kisah Bersama Ahok 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/gus-dur-dan-kisah-bersama-ahok/

 
 
 http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/gus-dur-dan-kisah-bersama-ahok/ 
 
 Gus Dur dan Kisah Bersama Ahok 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/gus-dur-dan-kisah-bersama-ahok/ 
fiqhmenjawab.net ~ Sembilan tahun lalu, paruh pertama tahun 2007, almarhum KH 
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendoakan Basuki Tjahaja Purnama (...
 
 
 
 View on www.fiqhmenjawab.net 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/gus-dur-dan-kisah-bersama-ahok/ 
 Preview by Yahoo 
 
 
  
 GUS DUR DAN KISAH BERSAMA AHOK
 
 fiqhmenjawab.net ~ Sembilan tahun lalu, paruh pertama tahun 2007, almarhum KH 
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendoakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai 
Gubernur. Ketika itu, jalan terjal sedang menghadang Ahok....
 

 21 Maret 2016 


 fiqhmenjawab.net ~  http://www.fiqhmenjawab.net/Sembilan tahun lalu, paruh 
pertama tahun 2007, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendoakan Basuki 
Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur. Ketika itu, jalan terjal sedang 
menghadang Ahok. Tepat ketika ia maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung 
berpasangan dengan Dr. Ir Eko Cahyono. Pada awalnya dalam perhitungan suara 
sementara, 22 Februari 2007, Ahok melesat jauh meninggalkan pesaingnya. Namun, 
di tikungan terakhir, konon ia dicurangi lawan politiknya.

  

 Ahok tidak terima, ia mengadu ke Mahkamah Agung (MA). Usahanya buntu, Ahok 
gagal jadi Gubernur Bangka Belitung. Pada waktu itu, Gus Dur dengan gigih 
membela Ahok. Gus Dur bahkan ikut kampanye dan mendukung Ahok dalam proses 
akhir penyelesaian di pengadilan. Ketika Ahok hampir putus asa, Gus Dur 
mendoakan Ahok jadi gubernur, bahkan presiden.

  

 Baca juga: TUDUHAN-TUDUHAN TERHADAP GUS DUR TERNYATA BENAR 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/06/tuduhan-tuduhan-terhadap-gus-dur-ternyata-benar/

  

 Dukungan Gus Dur ini menjadi kisah menarik, karena belum banyak warga Tionghoa 
yang maju sebagai politisi dan kepala daerah. Meski Ahok tidak berhasil menjadi 
Gubernur Bangka Belitung, akan tetapi ia selalu ingat petuah dari Gus Dur. 
Menurut Ahok, Gus Dur pernah meramalkan dirinya akan menjadi Gubenur bahkan 
pemimpin bangsa.

  

 “Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi Gubernur? Jadi presiden, 
kamu aja bisa!” ungkap Ahok menirukan perkataan Gus Dur. Ahok mengulang ucapan 
ini, dalam testimoni pada Haul ke-4 Gus Dur di Pesantren Ciganjur, Jakarta 
Selatan, Selasa, 28 Desember 2013.

  

 Nyatanya, Joko Widodo (Jokowi) berpasangan dengan Ahok sebagai Gubernur dan 
Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Dua tahun kemudian, Jokowi terpilih 
sebagai presiden pada pemilu 2014, berpasangan dengan Wapres Jusuf Kalla (JK). 
Ahok yang sebelumnya menjadi Wakil Gubernur, ditetapkan sebagai Gubernur DKI 
Jakarta.

  

 Kenapa Dukung Ahok?

  

 Dukungan Gus Dur terhadap kelompok minoritas tidak hanya berhenti pada 
perbicangan dan wilayah konseptual semata. Untuk mendukung warga Tionghoa agar 
mendapat hak politiknya, Gus Dur ‘turun gunung’ melakukan pembelaan. Ketika 
menjabat sebagai presiden, Gus Dur menerapkan kebijakan menghapus diskriminasi 
orang Tionghoa mencabut Inpres No 14/1967 dan meneken Keppres No 6 Tahun 2001. 
Intinya, Gus Dur menjadikan warga Tionghoa mendapatkan hak politik dan 
sosialnya. Orang-orang Tionghoa Indonesia sangat berterima kasih pada Gus Dur, 
dengan menyebutnya sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia”.

  

 Dukungan Gus Dur terhadap Ahok, merupakan konsekuensi dari sikap konsisten Gus 
Dur dalam membela minoritas. Ahok juga sangat berterima kasih kepada Gus Dur, 
karena dukungan Gus Dur tidak hanya dimaknai sebagai dukungan politik, namun 
juga dukungan moral untuk memberi ruang bagi kaum minoritas tampil sebagai 
eksekutif di wilayah politik. Gus Dur lah yang mendukung Ahok agar terus 
berjuang sebagai politisi, yang mampu memberikan kontribusi positif bagi warga 
negeri ini. Dukungan Gus Dur kepada Ahok bukan tanpa alasan.

  

 Baca juga: KISAH SEORANG BERNAMA GUS DUR; PERCAYA ATAU TIDAK? TERSERAH 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/kisah-seorang-bernama-gus-dur-percaya-tidak-terserah/

  

 Pada orasi kampanye di Bangka Belitung, Gus Dur menegaskan bahwa bangsa 
Indonesia harus siap menjadi bangsa yang besar, dengan memberi ruang pada 
minoritas. Gus Dur menekankan bahwa mendukung Ahok karena cinta.

  

 Gus Dur menyitir ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan 
manusia berupa laki-laki dan perempuan, untuk berpasang-pasangan. Juga, dengan 
berbangsa dan suku bangsa, agar saling mengetahui, saling mengenal. Kalau sudah 
mengenal, akan menjadi cinta. “Kenapa memilih Ahok? Karena cinta! Kita semua 
akan memilih Ahok karena cinta,” ungkap Gus Dur.

  

 Selain itu, Gus Dur memperjuangkan minoritas karena cita-cita kebangsaan. 
Inilah nilai-nilai keindonesia yang menjadi prinsip dasar, sebagai pencarian 
harmoni. Sejauh yang dipahami Gus Dur, yang paling Indonesia di antara semua 
nilai yang diikuti oleh warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan 
sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau.

  

 “Kita dapat menamainya sebagai pencarian harmoni, walaupun dengan begitu 
bersikap tidak adil pada pencarian besar dengan peranan dinamisnya dalam 
pengembangan cara hidup bangsa dan menyalurkannnya ke jalan baru tanpa 
menghancurkan jalan lama, semuanya dalam proses yang berurutan” (Abdurrahman 
Wahid, 2007: 163).

  

 Pernah suatu kali, ketika sedang berkompetisi sebagai calon Gubernur Bangka, 
tim sukses Ahok menyarankan agar dia berpindah agama menjadi mualaf. Namun, Gus 
Dur mengatakan sebaliknya. “Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar 
dapat suara banyak. Tapi Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau contoh yang tidak 
pernah menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik,” ungkap Ahok, 
sebagaimana arsip media (Kompas, 29/12/2013).

  

 Selain itu, ungkapan-ungkapan Gus Dur juga memotivasi Ahok untuk konsisten 
dalam melayani kepentingan rakyat, meski banyak kritik dan penolakan dari 
mereka yang berpandangan sempit. Hal ini terjadi ketika Ahok ditolak masuk ke 
sebuah mesjid di Jakarta.

  

 Baca juga: TOKOH-TOKOH YANG DIPREDIKSI GUS DUR 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/06/tokoh-tokoh-diprediksi-gus-dur/

  

 “Kalo kata Gus Dur, orang yang menolak itu adalah orang yang pengalaman 
Islamnya sempit. ‘Udah biaran saja, nggak ngerti mereka. Jadi banyak orang 
nggak ngerti ajaran sebetulnya. Karena Islam itu kan rahmatan lil ‘alamin, 
rahmat buat seluruh ummat,” ungkap Ahok menirukan petuah Gus Dur.

  

 Visi Gus Dur, Misi Ahok?

  

 Kini, menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017, karir politik Ahok 
sedang dipertaruhkan. Ia nekad memilih jalur perseorangan dengan menggandeng 
Heru Budi Hartono (Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah DKI Jakarta). 
Relawan #TemanAhok dengan gigih mendukung pasangan ini, dengan menggalang 
simpati dan mengumpulan KTP. Menjelang 2017, Ahok sedang dalam pertaruhan 
politik. Beberapa parpol masih dalam perhitungan antara mendukung Ahok atau 
mengusung calon lain.

  

 Sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok memperjuangkan gagasan-gagasan Sang Kiai? 
Jika menganggap dirinya sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok meneruskan 
perjuangan Gus Dur yang belum tuntas? Bagaimana ramalan Gus Dur tentang Ahok 
sebagai Presiden?

  

 Baca juga: KISAH DIBALIK NAMA MBAH DUR DAN GUS DUR 
http://www.fiqhmenjawab.net/2016/06/kisah-dibalik-nama-mbah-dur-dan-gus-dur/

  

 Saya kira, kelak, sejarah yang akan menjawabnya. []

  

 Oleh: Munawir Aziz, adalah peneliti dan editor penerbitan. Alumnus 
Pascasarjana UGM. Bisa ditemui di @MunawirAziz


 

 

 

 

Kirim email ke