Dari Bali Tidak Menari Tapi Perang oleh Martin Aleida Ketut Rahendra. Seharusnya saya bertemu dengannya di kampung halamannya di Singaraja. Apa mau dikata, nasib yang tidak pernah datang dengan netral, telah mendamparkannya ke Negeri Belanda. Tidak sebagai penari janger tari tenun, tetapi sebagai seorang veteran perang. Dia menjemput saya di stasiun kereta-api Woerden, setelah saya menempuh perjalanan sekitar setengah jam dari Bijlmer Arena, Amsterdam. Keluar dari stasiun, di tengah penumpang yang baru turun, tak sulit mengenali sosok yang berusia 74 tahun itu. Tingginya tipikal Indonesia, apalagi warna kulitnya yang tidak pernah luntur walau diguyur seribu musim dingin: sawo Bali yang matang. Dari situ saya dibawanya dengan mengemudikan sendiri mobil buatan Jepang; kalau tak salah Suzuki yang katanya dia beli bekas. Tak sampai 15 menit kami sudah sampai di rumahnya. Dia mendiami rumah kopel dengan dua lantai, yang diapit rumah tetangga di kiri-kanan, bukan flat sebagaimana di kota-koota besar. Di kebun kecil di belakang rumah, dia menanam pohon peer yang sudah mulai berputik. Di ruang tamu menggantung foto keluarga, istri dan anak-anak putrinya dalam pakaian Bali. “Tak terhitung sudah berapa kali saya pulang ke Indonesia. Pertama kali tahun 1992, ketika Suharto masih gagah-gahanya,” katanya memulai. “Perasaan waktu itu? Wah.. takut. Saya datang dengan sembunyi-sembunyi, tidak langsung ke Singaraja, kampung saya. Ketika itu ada orang yang berpengaruh di Jakarta, anaknya di sini, dan dia bilang, kalau takut, mampir dulu ke rumahnya di Jakarta. Dari Amsterdam saya naik pesawat Cathay Pacific. Dari Jakarta, beberapa hari kemudian saya baru ke Denpasar. Dari Denpasar saya ke Tabanan lebih dulu. Ketika mendarat di Jakarta tak ada apa-apa. Mungkin karena saya membawa anak dua. Yang paling kecil dua tahun, yang besar menjelang tiga tahun. Istri juga ikut, kami berempat. Begitu antre untuk pemeriksaan di imigrasi Jakarta, istri saya yang di depan, kemudian anak-anak, saya menyusul di belakang. Begitu keluar dari imigrasi kami sudah diawe-awe oleh Ibu yang menunggu saya. Ibu itu orang yang disegani di Jakarta. Begitu keluar dari imigrasi, ‘Uhhh.. selamat saya,’ kata saya memekik di dalam hati. Sebelum pulang, banyak teman yang mengatakan saya masuk les hitam. Orang yang pulang sebelum saya ditahan dan dipulangkan. Dia tidak ditahan begitu turun dari pesawat dan lewat pemeriksaan imigrasi. Tetapi, begitu dia pulang ke kampungnya, ditahan oleh komando rayon militer di bawah Kopkamtib, di Jawa Tengah, bersama seorang anaknya. Kemudian dia dibawa ke Jakarta dan dinaikkan ke pesawat di Cengkareng, dipulangkan ke Belanda. Dia lebih dulu pulang sekitar setahun dari saya. Seperti saya, dia juga memegang paspor Belanda. Belakangan, kawan itu kembali lagi ke Indonesia dan tinggal dekat Borobudur. Dia mengurus pensiunnya di sini, sekitar tiga tahun lalu dia dapat izin menetap di Indonesia. Waktu sampai di Tababan untuk pertama sekali, saya takut sekali. Rumah saya di Singaraja. Tapi, saya hanya sampai ke rumah keponakan di Tabanan. Saya nggak berani ke Singaraja. Tabanan-Singaraja tak sampai 100 kilo. Saya berhubungan dengan abang saya lewat kurir. Mbakyu saya dari Singaraja kemudian datang ke Tabanan naik bus. Dia memberitahukan supaya saya tidak ke Singaraja karena dicari Koramil. Ayah saya sudah meninggal. Ibu saya dan semua keluarga saya datang dari Singaraja ke Tabanan. Kepala desa di Tabanan itu kebetulan baik dengan keponakan saya yang tingga di wilayah itu. Jadi, aman, tidak ada apa-apa. Keponakan saya itu apoteker, jadi punya nama dan disegani. Dia melaporkan bahwa Omnya, maksudnya saya, menginap di rumahnya. Tanpa memberi tahu saya datang dari mana. Saya hanya di Tabanan tidak pergi ke mana-mana. Segala kebutuhan, termasuk belanja, diurus oleh keponakan. Bung sampai dan belajar di Kuba. Bagaimana ceritnya?Saya dikirim ke Kuba oleh Akademi Ilmu Politik “Ali Archam” di Jakarta untuk mempelajari Marxisme-Leninisme. Kan Partai Komunis Kuba adalah partai yang menang, jadi kami ingin mendalami ideologi-politik itu di sana. Kami berlima dan berangkat akhir 1963, lewat Sri Lanka, Pakistan, Uni Soviet (mampir Tashkent dan Moskow), Irlandia, Kanada, barulah sampai di Havana. Perjalanan sehari-semalam. Tiga bulan kami belajar bahasa Spanyol dulu bersama-sama dengan mahasiswa dari Tiongkok, Vietnam, Kongo, Korea Utara, Mongolia, Mozambik. Kami sekelas sekitar 30 orang. Setelah belajar bahasa Spanyol, barulah kami dimasukkan sekolah partai, tetapi tidak bergabung dengan sekolah partai komunis Kuba. Mata pelajarannya meliputi filsafat Marxisme-Leninisme secara umum dan pengalaman revolusi bersenjata Kuba. Juga sejarah Kuba dan tentu saja sejarah partai komunisnya. Ketika di Ali Archam saya juga memberikan pendikan teori kepada mereka yang mau berangkat ke luar negeri. Di Bali saya termasuk anggoa dewan pengajar di Comite Seksi PKI di Singaraja. Saya mengajar di sekolah partai, dan saya mengajar sampai ke gunung-gunung. Kursus itu berlangsung tiga minggu atau satu bulan. Setahun bisa empat atau lima kali. Di Kuba mata pelajaran Marxisme-Leninisme dan yang lain diberikan oleh orang Kuba sendiri. Mereka tidak mengenakan pakaian tentara, pakaian sipil. Pengajar sebagian besar lelaki. Di antara mahasiswa juga ada perempuan, terutama yang dari Tiongkok. Juga yang dari Korea Utara dan Mongolia. Setelah dua tahun pendidikan, G30S pecah di Indonesia. Kapan Bung dengar peristiwa itu?Tanggal 1 Oktober malam sudah saya dengar. Karena kita pernah diberi tahu Jenderal Suharto itu perwira maju, jadi harapan kita bukan Jenderal Nasution yang naik, tetapi Suharto. Tetapi, ternyata keadaannya lebih gelap lagi. Sikap para pengajar?Mereka mengutuk peristiwa itu. Dan pemerintah Kuba menghubungi kedutaannya di Jakarta untuk membantu kawan-kawan Indoneia yang dikejaar-kejar, dan supaya diselamatkan. Sikap tersebut terlihat dengan nyata ketika Ibrahim Isa dan rombongannya diterima oleh Castro dan ditawari paspor semua. Mengapa tidak memutuskan untuk tinggal di Kuba?Saya dipanggil oleh delegasi PKI di Peking. Saya dapat panggilan lewat telegram dari delegasi yang dipimpin oleh Yusuf Ajitorop, yang meminta supaya saya berangkat ke Tiongkok. Ketika itu November 1966. Selama di Havana pernah bertemu Castro?Pernah. Apa kesan Bung mengenai dia?Dia sederhana sekali. Ketika itu dia datang ke hotel di mana kami sedang menginap. Dan Castro sendiri yang datang ke hotel untuk menemui delegasi yang dipimpin Ibrahim Isa dan Umar Said. Waktu mengikuti pendidikan Bung ditempatkan di mana?Di rumah khusus untuk orang asing. Di apartmenen, juga dengan siswa perempuan dari berbagai negara. Makan di kantin. Dapat uang saku, cukup untuk membeli sesuatu, juga bisa nonton film. Untuk makan sudah ditanggung. Dari apartemen ke sekolah tidak jauh, jalan kaki saja. Kami memegang teguh pesan Oloan Hutapea, anggota CC PKI, tokoh yang mengirim kami ke Kuba, untuk tetap menjaga disiplin. Jangan sampai ada hubungan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dengan perempuan, terutama. Kalau terjadi akan dipanggil pulang. Sebelum berangkat ke Kuba, selain oleh Oloan Hutapea, kami juga diceramahi oleh anggota politbiro CC PKI Sudisman. Apa yang terjadi ketika dipanggil ke Peking?Ada pertentangan batin. Saya tidak mau mengikuti perintah delegasi, karena pihak Kuba sendiri mengatakan, kalau kalian percaya kepada kami, selesaikanlah dulu studi kalian di sini. Pendidikan itu sendiri akan selesai dalam tiga tahun, dan sudah dijalani dua tahun. Pihak Kuba bilang teruskan, tetapi delegasi pada waktu itu kekiri-kirian. Delegasi mengatakan partai yang Marxis-Leninis itu adalah Tiongkok. Keempat teman saya sudah mengurus visa lebih dulu. Saya tidak ikut. Tetapi, saya kemudian diyakinkan oleh ketua tim kami, namanya Edi, yang kemudian meninggal di Hongkong. Ini ‘kan perintah delegasi, katanya, kita harus mengikutinya. Bung harus ikut. Saya berangkat belakangan. Sebenarnya saya sudah tak mau ikut. Lebih baik tingal di Kuba saja. Setelah tiba di Peking saya disuruh berangkat ke Vietnam. Di lapangan terbang saya dijemput oleh seorang kawan. Menginap dua malam di Peking menunggu kawan yang akan datang dari Moskow. Begitu kami bergabung, langsung berangkat ke Vietnam. Tanpa ditanya mau atau tidak. Namun, kebarangkatan ke Vietnam itu saya setuju sekali. Waktu itu tahun 1966. Dari Peking kami berlima langsung naik kereta-api selama tiga jam ke Hanoi. Ditambah empat orang yang sekolah partai di Moskow. Di Hanoi kami ditempatkan di kamp militer di luar kota, di hutan. Tujuh tahun saya di situ. Kalau ke Hanoi cuma dua-tiga hari. Bersama kami ada tiga mahasiswa dari Hanoi. Kamp itu jauh sekali dari Hanloi. Kami dibawa ke sana dengan mengendarai truk. Kami berangkat dari Hanoi malam, sampai di kamp besok paginya. Truk bergerak sambil menghindari pemboman-pemboman. Perasaan Bung?Tidak takut. Saya bertemu dengan seorang perempuan dari Indonesia. Ketika saya tanya mengapa tak ikut rombongan kami. Dia jawab, tidak, dia dipersiapkan untuk menjadi penterjemah bagi rombongan berikutnya. Sementara tiga lelaki temannya di Hanoi ikut kami. Di mana Bung dapat latihan untuk menghadapi perang?Langsung di kamp itu. Bentuk latihannya?Kita mendapat senjata masing-masing. Tidak ada teori seperti di akademi militer. Langsung praktek. Nggak ada belajar teori. Belajar perang di dalam peperangan. Tak ada kelas khusus. Tak ada. Saya dapat senapan mesin ringan. Saya bersama seorang kawan. Dia masih hidup sampai sekarang dan tinggal di Jawa Barat. Dia pulang ke Indonesia dan selamat. Kami tidur di dalam kamp. Satu kamar dua orang. Kamp itu dibuat dari bambu dan atapnya rumbia. Makan juga di markas itu. Ada tukang masak. Malam, penerangan pakai lampu minyak tanah. Listrik tak ada, karena akan menarik perhatian pesawat tempur Amerika Serikat. Kamp itu tak pernah diserang. Saya dan kawan itu pernah mengendalikan senjata penangkis serangan udara. Waktu itu kami berada di dekat stasiun kereta-api. Pesawat AS tak berani menyerang karena khawatir kalau diserang balik oleh pesawat terbang Vietnam. Pesawat-pesawat tempur AS cuma melemparkan bom, lantas lari dengan cepat. Siang hari. Pesawat tempur AS tidak berani mendekat, tapi terkadang tiba-tiba melepaskan roket. Persis jatuh di tempat saya dan kawan saya itu berada. Saya cepat-cepat masuk ke dalam lobang yang digali untuk satu orang. Roket itu meledak kira-kira lima puluh meter dari lobang pelindungan saya. Lobang persembunyian ada di sepanjang jalan. Di mana-mana ada. Perlindungan perorangan namanya. Hanya untuk satu orang. Waktu itu, karena terburu-buru kami berdua berlindung di satu lobang. Pecahan roket mendesing di atas kepala. Senjata apa saja yang pernah Bung pegang?Penangkis serangan udara sering saya pegang. Bazooka yang belum pernah. Kalau pesawat AS kena tembak, penerbangnya ‘kan terjun, dan dia kami cari. Mereka bersenjata. Dan sering tertangkap. Bagaimana melucuti penerbang Amerika itu, pakai bahasa apa?Biasanya mereka menulis di kertas dan ditunjukkan kepada kami. “Saya tidak akan melawan,” begitu dalam bahasa Inggris. Banyak juga mereka yang diselamatkan oleh pasukan induknya. Begitu ditembak jatuh, mereka menembakkan peluru hijau. Tak sempat kita tangkap, helikopter AS sudah datang untuk menyelamatkan mereka. Kami berada di wilayah Vietnam Utara tetapi sudah dekat dengan perbatasan Vietnam Selatan. Terkadang jatuhnya pesawat malam hari, dan helikopter AS yang mau menyelamatkan temannya kita tembaki. Hutannya tak begitu berbeda jauh dengan Indonesia, hutam tropis juga. Pohon kelapa, semak-semak, pisang juga ada. Belukar dan pohon-pohon kecil di mana-man. Ke sebelah Utara hutannya sudah gundul, dibom napalm oleh pesawat tempur AS. Maunya mereka supaya Vietcong kelihatan. Hutan mereka habiskan lebih dulu. Berapa lama di kamp itu?Tujuh tahun. Tujuh tahun...?Ya, tujuh tahun dalam Perang Vietnam! Sejak datang ke Vietnam langsung dibawa ke medan perang. Pengalaman apa yang melekat terus dalam ingatan?Paling senang, dan tidak terlupakan ketika menangkap pilot AS yang pesawatnya tertembak jatuh. Ada tiga-empat orang yang tertangkap oleh regu yang saya ikuti. Mereka kami tangkap dalam keadaan bersembunyi. Tidak melawan?Tidak. Begitu kepergok dalam persembunyian, pilot AS itu terus menunjukkan kertas yang bertuliskan penyerahan diri tidak akan melawan. Apa seragam Bung?Hijau loreng. Tak ada yang berpakaian hitam di antara kami. Seragam kami seragam pasukan Vietnam Utara, bukan Vietcong yang hitam di Selatan. Logistiknya bagaimana?Pakai sepeda. Untuk logistik ke Selatan ‘kan ada jalur jalan-tikus yang namanya “Jalan Ho Chi Minh”. Pakai sepeda, alas kaki dibuat dari ban mobil. Pasokan makanan selalu ada. Ada yang membawakan ke front. Tetapi, pada umumnya kalau sudah waktunya makan, kami kembali ke kamp. Tak ada perempuan dalam regu kami. Di kamp, yang memasak juga lelaki. Ada interpreter, seorang perempuan yang sudah agak lanjut usianya. Dia menguasai bahasa Melayu. Ketika menangkap pilot AS, apa ada tentara Vietnam bersama Bung?Ada! Kita dalam satu grup ikut bersama pasukan Vietnam Utara. Kita ‘kan tak tahu seluk-beluk hutan di sana. Dulu, ini tak boleh disampaikan, tetapi sekarang sudah diperbolehkan untuk diceritakan. Selama di Vietnam saya juga pernah ditempatkan di industri persenjataan. Belajar industri senjata, belajar reparasi senjata. Pokoknya dipesiapkan untuk perang gerilya. Pokoknya belajar kemiliteran. Tahun berapa kembali ke Tiongkok?Kembali ke Tiongkok baru pada tahun 1974. Ada acara khusus di Hanoi?Tak ada perpisahan, biasa saja. Tak ada ucapan terima kasih khusus. Waktu itu tahun 1974, setahun sebelum Saigon bebas. Kembali ke Peking naik pesawat. Pulang karena ditarik oleh Yufuf Ajitorop. Tak ada yang luka, teman-teman tak ada yang luka selama di Vietnam. Kita tidak ditempatkan di pasukan yang langsung menghadang bahaya secara langsung. Kita juga tak pernah mendengar ada pasukan Vietnam Utara yang tewas tertembak. Apakah dirahasiakan, kita tak ada yang tahu. Mungkin itu rahasia militer mereka, kita tak tahu. Perang di sana ketika itu tidak hanya berupa serangan udara AS, tetapi juga perang frontal. Yang namanya Vietcong itu ‘kan tentara Vietnam Utara yang pakaiannya diganti dengan pakaian hitam saja, seragam Vietcong. Dari Peking langsung ke Amsterdam?Ketika berada di Tiongkok saya sempat ditempatkan di industri persenjataan, pembuatan pistol, senapan otomatis, seperti itulah. Kemudian saya pindah ke suatu tempat di wilayah Chang-shi. Disuruh kerja di pabrik mesin. Membikin onderdil, mesin bubut, segala macam. Saya juga bekerja di bagian perakitan mesin-mesin, seperti mesin pertanian, sampai mesin-mesin itu siap dikirimkan ke daerah-daerah. Dari Peking saya tidak langsung ke Amsterdam. Ke Zurich dulu. Kan tak ada pesawat dari Peking langsung ke Amsterdam. Kebetulan ada delegasi Tiongkok pada waktun itu, dan delegasi itu yang membawa kami ke hotel. Kemudian kami dibelikan tiket pesawat tidak langsung ke Amsterdam, tapi dialihkan ke Koln. Turun di Koln dan dijemput seorang kawan di situ, Aminoto namanya, sudah meninggal. Dia mengajak jalan kaki ke mana-mana. Dia pintar. Barang-barang dititipkan keretapi-api ke Utrecht. Dari Koln kami ke Aachen. Dari situ kami jalan kaki memasuki Belanda. Kami berempat: Tongki, istrinya, saya, dan Aminoto. Mengapa harus jalan kaki?Kami ‘kan tak punya izin masuk Belanda. Jalan kaki paling aman. Dari Koln naik kereta-api. Sesampainya di Aachen langsung jalan kaki menuju perbatasan tiga negara tak jauh dari kota itu. Dari Aachen jalan kaki mulai sekitar pukul 11 pagi, sampai di perbatasan Jerman, Belgia, Belanda malam. Kalau ditanya mengapa jalan kaki, karena begitulah menurut petunjuk kawan yang bawa. Penyeberangan kami lakukan malam. Bagaimana rencana penyebarangan?Satu, mencari rute jangan sampai kesasar. Mengetahui di mana saja ada pos polisi kehutanan. Itu saja. Dan Aminoto sudah tahu itu. Satu kali, di perbatasan segi tiga itu kita disuruh ke kanan. Bablas ke perbatasan Belgia, hampir masuk Belgia … hahaha. Di situ ada benteng Jerman pada waktu Perang Dunia II. Di situlah kami tersasar. Perjalanan sudah lama, sudah capek. Meninggalkan perbatasan sekitar pukul 6 sore. Sampai di benteng itu yang kelihatan cuma hutan. Hutan saja. Dari perbatasan ke benteng itu sekitar satu jam jalan. Salah, kata Aminoto, kita gak boleh belok kanan harus terus saja. Akhirnya sampai ke Herleen, wilayah Belanda. Sampai di situ pukul 10 malam. Kita sempat minum kopi di situ. Mampir di kafe. ‘Ini sudah daerah Belanda. Sudah. Aman…,’ kata Aminoto. Di tangan saya surat pengganti surat jalan, tetapi palsu. Terus naik trem ke Woerden sini. Esoknya baru kami datang ke kantor polisi. Kami bertiga menginap di rumah Bung Aminoto. Yang dibawa ke kantor polisi saya lebih dulu, dioblok-oblok di kantor polisi. Kawan yang dua tinggal di rumah, besoknya mereka baru dibawa ke kantor polisi. Apa yang ditanya?Macam-macam. Kok ke sini? Dari Jerman naik apa? Saya bilang dari Jerman saya naik kereta-api. Nggak percaya dia. Di atas kereta-api diperiksa polisi nggak? Nggak, jawab saya. Ah, gak mungkin, katanya. Baik juga polisinya. Dia bertanya sambil bergurau. Polisi itu memanggil penterjemah bahasa Spanyol. Saya diperiksa dengan menggunakan bahasa Spanyol. Ditanya dokumen. Saya tunjukkan yang saya bawa itu saja. Surat palsu itu. Saya tidak bilang menyeberang lewat gunung di perbatasan. Dia tanya kok kamu bisa masuk Belanda hanya dengan surat ini. Saya bilang saya naik kereta-api. Apa tak diperiksa? Ndak, jawab saya. Ah, gak mungkin, katanya. Masuk perbatasan pasti dipersiksa paspor segala macam, katanya. Bung cemas?Nggak. Polisinya juga ketawa-ketawa saja. Di kantor polisi itu saya sendiri. Aminoto cuma ngantar, lalu pulang. Aminoto cuma bilang kepada polisi itu, ini ada yang mau minta suaka. Lantas dia pulang. Lama saya dioblok-oblok oleh polisi itu. Semantara yang dua lagi, esoknya santai saja… Ditanya beberapa menit terus disuruh pulang. Sudah, selesai, kata polisi kepada mereka. Saya tidak ditanya tentang sekolah di Kuba, ikut perang di Vietnam. Cuma Tiongkok ditanya, mengapa di sana. Saya bilang saya mendengar dan belajar tentang Negeri Belanda ini melalui radio Hilversum. Saya ditanya, kamu sudah menikah? Saya jawab belum. Sudah punya anak? Bagaimana mungkin punya anak, nikah saja belum, jawab saya. Disini, tidak ada apa-apa punya anak tapi tidak menikah. Tidak apa-apa. [Ketika itu budaya kumpul kebo sudah ada di Belanda.] Nggak nikah bisa punya anak tak apa-apa di sini, kata polisi itu, dan kata-kata itu yang selalu saya ingat …hmhmhm Saya hanya menunggu dua minggu untuk mendapat izin tinggal. Begitu dapat izin tinggal berarti sudah dapat suaka. Tetapi golongan A, yaitu sebagai tanggapan kemanusiaan. Demi kemanusiaan, karena mereka, saya kira, mempertimbangkan hubungan dengan Indonesia. Jadi, bantuan kemanusiaan sifatnya. Golongan A itu untuk mereka yang tak bisa pulang ke tanah airnya. Tiga bulan kemudian dapat surat identitas sebagai penduduk Belanda, tapi belum berupa paspor. Cuma sudah berlaku untuk Eropa. “Paspor jambon” istilahnya. Saya bawa dua kali ke Paris. Ditolak. Paspor apa ini, kata petugas di sana. Paspor jambon itu paspor stateless. Tiga bulan setelah paspor jambon itu saya dapat paspor Belanda. Undang-undang Belanda menyebutkan orang Indonesia yang lahir sebelum 1949, sebelum pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia, bisa mendapatkan kewarganegaraannya kembali. Karena pada waktu itu penduduk Indonesia berada di bawah Belanda. Makanya dalam tiga bulan sudah dapat paspor tanpa syarat apa-apa. Bagaimana perasaan Bung?Saya tidak gembira. Tidak punya perasaan apa-apa. Karena terpaksa. Menyesal. Kok saya terpaksa menjadi warganegara Belanda. Dan di Indonesia posisi kewarganegaraan saya itu jadi perkara di dalam keluarga. Menjadi masalah ketika menyangkut warisan. Karena di Bali ‘kan saya masih punya warisan dari orangtua; ada tanah, sawah dan lain-lain. Itu masalahnya! Ponakan saya bilang, ‘Om ‘kan sudah warga negara Belanda, jadi sudah tidak berhak lagi atas warisan.’ Ketika pulang ke Indonesia untuk kesekian kali barulah masalah itu dipersoalkan oleh keluarga. Saya bilang kalian tahu nggak, Om ini mengambil paspor Belanda karena terpaksa. Tahu nggak..? Sedangkan hati Om masih 100% orang Bali. Dan tanah itu pun, warisan itu, tidak pernah Om minta. Bapak memasukkan tanah itu ke bagian Om, dan dimasukkan dalam surat wasiat, tapi Om ‘kan tidak minta. Sekalipun begitu, setiap pulang oleh ipar saya ditawari. Ipar saya bilang, itu padi, itu bagian Ketut, ambillah, katanya. Masak beras sebanyak itu mau dibawa ke Belanda, kata saya. Ambil beras itu, jual, uangnya bawa ke Belanda. Tidak, kata saya. Saya bilang, di Belanda saya sudah cukup, gunakanlah untuk cucu-cucu di sini, kata saya. Dipersoalkan terus, saya jadi marah. Posisi tanah tersebut masih atas nama saya sampai sekarang. Ada niat hendak menghibahkannya?Keluarga saya keluarga besar, kalau dihibahkan bisa perang saudara. Saya bersaudara 12. Saya nomor tiga dari bawah. Kalau diserahkan kepada si A, yang lain pasti menuntut. Abang saya yang tertua, punya dua anak perempuan, menikah. Dalam adat Bali, perempuan itu tak dapat warisan. Jadi, bagian dari bapak mereka itu menjadi hak bersama seluruh anggota kekuarga. Di Balai banyak sekali upacara, jadi biayanya diambilkan dari milik bersama itu. Mungkin juga kalau saya sudah tak ada, warisan itu akan dijadikan hak keluarga. Sampai ke balik dunia, ke Kuba, ikut Vietnam Utara dalam Perang Vietnam, menyerahkan diri pada Belanda, perang lagi di dalam keluarga. Kalau tak teguh tentu menyesali hidup. Tidak. Ini sudah resiko pilihan hidup saya.
[GELORA45] Dari Bali Tidak Menari Tapi Perang
Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] Mon, 28 Nov 2016 22:55:00 -0800
- [GELORA45] Dari Bali Tida... Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]
- Trs: [GELORA45] Dari... Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]
