---------- Forwarded message ----------

http://indonesiana.tempo.co/read/98801/2016/11/15/info.
indonesiana/islam-di-lanskap-politik-jakarta-faisal-kamandobat

*Faisal Kamandobat*

*Sastrawan dan peneliti Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia*

Islam tengah berada di panggung utama lanskap politik Jakarta. Pada 4
November lalu, ratusan ribu umat Islam rela meninggalkan keluarga, kampung
halaman, dan pekerjaan untuk berdemonstrasi karena merasa agamanya
diperlakukan secara tidak hormat oleh calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok.

*BLOG TERKAIT*

   - Simbol Kebhinekaan? Pandangan HAM Ahok Itu Sesuai Pancasila?!
   
<http://indonesiana.tempo.co/read/98551/2016/11/14/Simbol-Kebhinekaan?-Pandangan-HAM-Ahok-Itu-Sesuai-Pancasila?%21>
   - Surat Edaran Kapolri, Proses Hukum Ahok Ditangguhkan?
   
<http://indonesiana.tempo.co/read/98452/2016/11/13/Surat-Edaran-Kapolri--Proses-Hukum-Ahok-Ditangguhkan?>
   - Ahok dan Fanatisme ~ Soe Tjen Marching
   
<http://indonesiana.tempo.co/read/98221/2016/11/11/Ahok-dan-Fanatisme-%7E-Soe-Tjen-Marching>
   - Memahami 411~Yenny Zannuba Wahid
   
<http://indonesiana.tempo.co/read/98201/2016/11/11/Memahami-411%7EYenny-Zannuba-Wahid>
   - Kasus Al Maidah 51: 6 Alasan Ahok Tak Akan Dipenjara
   
<http://indonesiana.tempo.co/read/97742/2016/11/07/Kasus-Al-Maidah-51:-6-Alasan-Ahok-Tak-Akan-Dipenjara>

Demonstrasi adalah aktivitas politik, modern, dan sekuler. Namun mereka
menghayatinya sebagai bagian intrinsik ajaran agama, layaknya ritual yang
sakral. Mereka berpakaian putih-putih seperti di majelis pengajian atau
beribadah ke Tanah Suci serta mengumandangkan doa dan takbir bersama-sama
seakan-akan peristiwa tersebut di Mekah atau Madinah, bukan di Jakarta.

Peristiwa ini menunjukkan sejumlah hal. Pertama, menghayati demonstrasi
sebagai ritual telah menjadikan agama sebagai medium menghadirkan negara ke
dalam struktur kesadaran masyarakat. Agama dan negara dianggap sebagai
kesatuan. Berbuat baik demi agama adalah juga berbuat baik demi negara,
vice versa. Itulah mengapa ketika negara dianggap berseberangan dengan
agama, mereka berdemonstrasi.

Kedua, kehadiran negara melalui agama memiliki problem representasi. Dalam
sistem demokrasi, representasi dilakukan berdasarkan suara pemilih sebagai
warga negara, bukan berdasarkan agama, ras, gender, dan kategori budaya
lain. Di satu sisi, kehadiran negara melalui agama membuat warga merasa
"memiliki negara", tapi di sisi lain agama tidak masuk representasi politik
dalam sistem demokrasi.

Menyiasati masalah ini, demokrasi menyediakan saluran melalui partai
politik. Aspirasi agama lantas disalurkan lewat partai dengan kultur
religius tertentu. Misalnya, PKB dengan basis pemilih warga NU, PAN dengan
basis warga Muhammadiyah, dan PKS dengan basis warga Tarbiyah. Dengan
partai politik berkultur religius, representasi agama dapat disalurkan
kepada negara. Masalahnya adalah kultur, struktur, dan kinerja politik
partai dianggap kurang mampu mengikuti perubahan sosio-kultural umat Islam,
terutama di perkotaan, sehingga mereka mencari alternatif lain sebagai
penghubung agama dengan negara, di antaranya demonstrasi.

Ketiga, Jakarta bukan semata ibu kota politik republik ini, tapi juga ibu
kota ekonomi dan budaya. Tiga status itu terkoneksi secara kompleks melalui
berbagai lembaga, komunitas, jaringan sosial, dan sebaran demografi, dengan
tingkat kepadatan populasi yang tinggi. Kompleksitas tersebut membuat
pembatasan antarsektor sulit dilakukan, sehingga fenomena di satu sektor
dapat dengan cepat menjalar ke sektor lain. Demonstrasi 4 November
menunjukkan bahwa sektor politik dengan mudah menjalar ke sektor agama, dan
dalam berapa hal ikut mempengaruhi sektor ekonomi.

Islam, dalam lanskap di atas, telah menjadi tantangan tersendiri bagi
Jakarta. Ia akan membentuk wajah kota ini secara signifikan hingga
tahun-tahun mendatang, terlebih dengan terus tumbuhnya kelas menengah
Islam. Namun Islam bukan sesuatu yang tunggal, baik doktrin, institusi,
praktek, maupun kulturnya. Islam juga bukan entitas yang independen.
Dinamikanya ikut dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, politik, dan
teknologi.

Secara sosiologis, umat Islam di Jakarta mempelajari agama melalui berbagai
cara. Kelompok NU dan Muhammadiyah melakukannya melalui madrasah,
pesantren, dan majelis pengajian. Mereka diorganisasi melalui ikatan
komunitas yang berpusat pada tokoh suci. Doktrin agama dan negara mereka
relatif terpisah sehingga, kendati doktrin agama mereka sama, sikap politik
mereka bisa berbeda-beda. Hal ini berbeda dengan kelompok Tarbiyah, Salafi,
dan Hizbut Tahrir (HTI), yang mempelajari Islam melalui pengajian di
masjid-masjid dan diorganisasi melalui jaringan sel tertutup. Doktrin agama
dan politik menyatu secara absolut, sehingga sikap keagamaan dengan sikap
politik praktis tak terpisahkan.

Kelompok berikutnya adalah umat Islam yang mempelajari agama tanpa ulama,
institusi, dan doktrin yang dapat dirumuskan dengan jelas. Mereka
mempelajari agama melalui Internet dan buku-buku, mengkonsumsi apa saja
yang berkaitan dengan Islam. Dalam hal doktrin, bagi mereka, agama dan
negara kadang dianggap sebagai kesatuan, tapi kadang terpisah-sesuai dengan
buku, isi media Islam favorit, dan kecenderungan psikologis masing-masing.

Mereka beribadah di berbagai kelompok pengajian secara fleksibel dan
bergerak secara spontan manakala sebuah kegiatan keagamaan dirasa
merefleksikan kesalehan mereka. Ketika demonstrasi dirasa mewakili
kesadaran keagamaan mereka, mereka akan segera melakukan secara spontan dan
sukarela. Di tengah waktu dan tekanan kerja yang tinggi, mempelajari Islam
dengan cara demikian dianggap praktis. Mengingat kondisi sosial-ekonomi
Jakarta, tidak mengherankan jika penganut Islam jenis ini akan terus tumbuh
di kemudian hari.

Dua kelompok Islam pertama telah memiliki saluran partai politik
tradisional masing-masing. Jika mengalami kebuntuan politik, tokoh-tokoh
agama dapat diajak berdialog untuk mencari titik temu. Tantangannya
terletak pada kelompok Islam terakhir. Mereka tidak memiliki tokoh agama,
institusi, komunitas, dan partai politik tertentu, tapi jumlah mereka terus
tumbuh. Strategi aktor dan modal kultural tidak lagi memadai. Jakarta
membutuhkan strategi budaya yang mampu mendefinisikan kota ini dalam
konteks kosmopolitan yang baru-kosmopolitan yang dibentuk oleh teknologi,
bukan oleh tokoh atau interaksi sosial secara langsung. Jika tidak, ibu
kota ini akan mengalami paralisis, ketika perubahan sosial, ekonomi, dan
politik tidak seimbang dengan kemampuan warganya memproduksi nilai dan visi
yang mendukung keberlanjutan kota ini. *

Kirim email ke