Sejak krisis moneter 1997 aksi unjuk rasa biasa dilakukan 
siang hari setelah pukul 12. Baru kali ini ada "kesepakatan" 
antara polisi dan pendemo untuk beracara di pagi hari 
(mulai pk 08:00 hingga pk 13:00 WIB).
Rachmawati ditangkap pada dini hari Jumat 2 Desember.Berita penangkapan beredar 
saat acara di Monas berlangsung.
“Bagaimana Polrisekarang? Bukan rahasia umum lagi dimana 
kedudukan korps Bhayangkara sejakrezim jokowi berkuasa,” 
sindir Rachmawati Soekarnoputri.
- 

Jumat, 2Desember 2016 | 08:44 WIB KenapaRachmawati Ditangkap Polisi Saat Demo 2 
Desember? Ridwan POJOKSATU.id,JAKARTA – Penangkapan Putri Bung Karno, 
Rachmawati Soekarnoputri mengejutkanbanyak pihak. Pasalnya, Rachmawati 
ditangkap dan ditahan polisi bersamaandengan demo 2 Desember yang dikenal 
dengan aksi 212. Informasidari kalangan internal Univeritas Bung Karno (UBK), 
Rachmawati Soekarnoputriditahan di Polda Metro Jaya. Polisi menjemput 
Rachmawati di kediamannya sekitarpukul 05.00 WIB tadi, Jumat (2/12). 
KenapaRachmawati Soekarnoputri ditangkap polisi? Hingga kini belum 
diketahuialasannya. Polda Metro Jaya belum memberikan keterangan pers 
terkaitpenangkapan Rachmawati Soekarnoputri. Namundiduga, penangkapan 
Rachmawati Soekarnoputri terkait dengan sikap politiknyayang cukup keras 
mengkritik Presiden Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama aliasAhok. 
BahkanRachmawati juga beberapa kali melakukan pertemuan yang membahas situasi 
dankondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Pertemuan itu dicurigai oleh 
sebagaipertemuan yang mengarah pada tindakan makar. RachmawatiSoekarnoputri 
dicurigai sebagai dalang makar gara-gara mempolopori konsolidasitokoh nasional 
di Universitas Bung Karno (UBK) pada tanggal 20 November lalu. Rachmawatijuga 
dituduh mendompleng mendompleng agenda demo 2 Desember atau aksi 212 
untukmenggulingkan Presiden Jokowi. Tudingan ituberdasarkan opini sebagian 
tokoh yang hadir di antaranya mantan MenkopolhukamTedjo Edhy yang menyatakan 
menduduki Gedung DPR/MPR sebagai salah satualternatif yang sah dalam 
mengembalikan undang-undang dasar kepada UUD 1945. Konsolidasitokoh nasional di 
Universitas Bung Karno dihadiri sejumlah tokoh seperti KetuaMajelis Syuro PBB 
MS Ka’ban, aktivis pergerakan Syahganda Nainggolan, mantanMenko Polhukam Tedjo 
Edhie Purdijtno, Happy Trenggono, Sri Bintang Pamungkas,Permadi, Ketua Umum PB 
HMI Mulyadi P Tamsir, Ketua Umum KAMMI KartikaNurrakhman, musisi Ahmad Dhani, 
tokoh Tionghoa Lieus Sungkarisma, FuadBawazier, Syarwan Hamid, ekonom 
Ichsanuddin Noorsy. Rachmawatimembantah keras dapa upaya makar dalam pertemuan 
itu. Sebab pertemuan tersebuthanyalah pertemuan biasa dengan topik-topik kritis 
berbagai persoalan bangsadan negara. “Ada apaKapolri Tito dan jajarannya? 
Terhinggap paranoid atau karena utang budi denganpenguasa,” kata Rachmawati 
Soekarnoputri, dalam keteranganya Senin(28/11/2016). Rachmawatimenegaskan bahwa 
UBK seringkali mengadakan beragam kegiatan. UBK juga pernahdijadikan acara 
pemaparan Pangdam Jaya, acara pernikahan, bakti sosial danlai-lain. Tentu saja 
kampus memiliki otoritas untuk mengadakan berbagaikegiatan tersebut. 
Rachmawatimembantah keras dapa upaya makar dalam pertemuan itu. Sebab pertemuan 
tersebuthanyalah pertemuan biasa dengan topik-topik kritis berbagai persoalan 
bangsadan negara. “Ada apaKapolri Tito dan jajarannya? Terhinggap paranoid atau 
karena utang budi denganpenguasa,” kata Rachmawati Soekarnoputri, dalam 
keteranganya Senin(28/11/2016). Rachmawatimenegaskan bahwa UBK seringkali 
mengadakan beragam kegiatan. UBK juga pernahdijadikan acara pemaparan Pangdam 
Jaya, acara pernikahan, bakti sosial danlai-lain. Tentu saja kampus memiliki 
otoritas untuk mengadakan berbagaikegiatan tersebut. Rachmamengingatkan, pada 
era Kapolda Metro Jaya dipegang Sutarman, juga pernahterjadi demonstrasi 
sehingga mahasiswa UBK bentrok dengan polisi. Dalambentrokan itu konon ada 
mahasiswa yang membawa batu dan bambu kayu. Polisi punmenembak mahasiswa dengan 
peluru tajam, dan jelas-jelas tindakan polisi inimelanggar protap. Mahasiswa 
pun mau membalas perlakuan polisi. Namun,sambung Rachma, atas kebijakan 
Sutarman dan pimpinan UBK, keduanya sepakatuntuk cooling down. Bahkan Sutarman 
dan pimpinan UBK sama-sama menjenguk korbandi RSCM. Ini contoh bukti Polisi 
independen mengambil langkah persuasif karenatidak terkooptasi kekuasaan. 
“Bagaimana Polrisekarang? Bukan rahasia umum lagi dimana kedudukan korps 
Bhayangkara sejakrezim jokowi berkuasa,” sindir Rachmawati Soekarnoputri. 
(ysa/sta/pojoksatu)

Kirim email ke