http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/12/05/ohobt3361-kesaksian-peserta-aksi-212-soal-harum-semerbak-di-bawah-hujan

Senin, 05 Desember 2016, 01:39 WIB

Kesaksian Peserta Aksi 212 Soal Harum Semerbak di Bawah Hujan
Red: IlhamRepublika/Yogi ArdhiJutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang 
pelaksanaan Shalat Jumat memadati area Monumen Nasional Jakarta, Jumat (2/12). 
Shaf jamaah meluber hingga ke jalan-jalan di sekitar area Monas dan hingga ke 
Jl MH Thamrin, dan kawasan Patung Tani.


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Postingan sebuah kesaksian seorang yang bernama 
Arik S Wartono soal munculnya harum semerbak yang tercium aksi super damai Bela 
Islam III atau aksi 212, Jumat (2/12), lalu, telah menyebar di media sosial. 
Postingan yang diberi judul 'SEMERBAK HARUM SAAT HUJAN TURUN JAMAAH SHOLAT 
JUM'AT MONAS, kesaksian Arik S. Wartono' itu menceritakan bagaimana harum itu 
muncul saat hujan mengguyur massa aksi. 

Berikut isi lengkap kesaksian Arik S Wartono:

Aku datang longmarch bersama tak kurang 3.000 (tiga ribu) jamaah dari kawasan 
Harmony, memasuki kawasan Monas melalui arah barat Patung Kuda Bundaran HI. 
Mendapat info bahwa Monas sudah penuh. Tapi aku butuh membuat liputan 
kebenarannya.

Maka aku memotret dan membuat video di bundaran HI sebentar, kemudian menerobos 
masuk mendekati panggung utama orasi di Monas, yang sekaligus lokasi panggung 
imam jamaah Shalat Jumat.

Langkahku terhenti sekitar 25 meter dari panggung orasi, sebab lautan umat 
sudah mustahil aku belah lagi untuk lebih dekat. Dari titik itulah aku membuat 
liputan kesaksianku, sambil menggelar sajadah.



Selama tak kurang tiga jam berdiam di titik Barat Monas, tepat kiri imam yang 
sekaligus lokasi panggung utama orasi, cuaca tak sedetikpun panas. Matahari 
muncul sedikit tanpa membakar terik, selebihnya mendung.

Drone terus beterbangan di atasku, hellykopter mengelilingi Monas dalam hawa 
sejuk angin semilir. Saat aku memejamkan mata sambil bersila di atas sajadahku 
sambil mendengarkan orasi Aa Gym, aku bahkan merasa sauasananya seperti sedang 
di pinggir pantai, adem-semilir. Padahal kabarnya ini aksi demonstrasi.

Setelah orasi beberapa tokoh, tiba saatnya Muadzin mengumandangkan adzan 
sebagai tanda dimulainya ibadah Jumat yang merupakan kewajiban bagi setiap 
muslim lelaki akil balikh. Saat itulah hujan mulai turun, seolah Allah sengaja 
mengirim air wudhu untuk kami semua 7,4 juta jamaah.

Untuk orang sebanyak itu, coba pikir berapa ton kubik air yang dibutuhkan untuk 
berwudhu sekalipun dalam situasi paling darurat? Allah memahami kebutuhan kami, 
maka diturunkannya hujan yang tidak deras untuk kami berwudhu. Masya Allah, 
jamaah pun diliputi rasa syukur dan haru. 

Sekitar 5 menit hujan turun, indra penciumanku mengindera bau semerbak harum. 
Aku berpikir sejenak, bau parfum siapakah ini yang sanggup semerbak dalam 
guyuran hujan? 

Bukankah kami berkumpul 7,4 juta orang? Mestinya kan pengab bau keringat di 
bawah hujan? Normalnya kan bau apag (tak sedap) pakaian kotor berkeringat yang 
terbasahi air? Tapi ini malah bau harum semerbak.

Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat Jumat memadati 
area Monumen Nasional Jakarta, Jumat (2/12). Shaf jamaah meluber hingga ke 
jalan-jalan di sekitar area Monas dan hingga ke Jl MH Thamrin, dan kawasan 
Patung Tani.
Umat muslim berdoa ditengah guyuran hujan saat mengikuti aksi damai di kawasan 
Monas, Jakarta, Jumat (2/12).

Aku coba berpikir lain: apakah ada yang sedang membakar dupa? Ah mana mungkin 
ada dupa di bawah guyuran hujan? Lagipula ini bukan bau dupa, dan mana mungkin 
ada jamaah shalat jumat yang membakar dupa? 

Aku coba berpikir lain, dan harum semakin semerbak, lebih dari 5 menit sudah 
harum ini. Apakah ada seseorang yang menyemprotkan parfum mahal dalam jumlah 
besar? Aku lihat sekeliling, nihil. Di sisi kiri belakangku sekitar 50 meter 
memang ada mobil tangki, tapi jelas bertuliskan Air Minum (untuk Wudhu).

Harum semerbak bahkan kian jelas. Maka aku coba bertanya pada orang-orang di 
sekelilingku dengan suara lumayan keras, sebab memang belum Adzan kedua sebagai 
tanda dimulainya khutbah Jumat:

"Bapak-bapak dan Abang di sini semua apakah mencium bau harum yang kuat?"

semua menjawab 

"Ya, benar. Bau harum, wangi."

Aku lihat tadi ada seorang bapak usia 50an yang batuk saat hujan mulai turun. 
Mungkin bapak ini sedang pilek. Aku langsung tanya:

"Apakah bapak juga mencium bau harum?" 

beliau tegas menjawab: "Ya, benar bau harum !"

Aku bertanya sekali lagi dengan suara lebih keras pada semua jamaah di 
sekelilingku: 

"Apakah semua yang di sini mencium bau harum yang kuat?"

Semua serempak menjawab

"Ya", sambil mengangguk. 

Sampai aku mengulagi 3 kali pertanyaanku pada jamaah, jawabnya pun sama: YA. 

Aku melanjutkan pertanyaan:

"Parfum apakah yang bisa berbau harum di tengah guyuran hujan begini?"

Kebetulan saat itu hujan mulai sedikit deras, bersamaan dengan pertanyaanku. 
Tidak ada jawaban. 

Akun lanjutkan: 

"Adakah di sekitar sini tanaman yang sedang berbunga, yang bapak dan abang 
semua kenali dengan bau harum begini?" Semua menggeleng, kembali tak ada 
jawaban.

Aku lanjutkan lagi: 

"Lalu bau harum apa ini, yang kita semua bisa merasakannya dalam guyuran hujan 
begini?" Kali ini pertaanku melemah, bahkan sedikit tersekat. 

Dan beberpa jamaah aku lihat mulai berubah raut mukanya, mereka mulai berlinang 
air mata. Tiba-tiba saja kami para lelaki telah menangis di bawah hujan.

"Masya Allah... Subhanallah.. apakah Kau sedang mengutus malaikatmu untuk kami 
ya Allah, dengan hujan ini?" Seorang bapak berwajah keturunan Arab (tampaknya 
seorang ustsdz, atau mungkin habib) spontan hampir berteriak sambi menangis.

Kami semua pun kian berlinang, tak kurang 100 orang saat itu di dekatku yang 
memberi kesaksian tentang fenomena alam yang tak biasa ini. 

Muadzin pun mengumandangkan adzan kedua, Habib Rieziq mulai berkhutbah sebagai 
khatib shalat Jumat, dan bau harum tak tercium lagi, hujan terus merintik. Kami 
tetap khitmad menyimak khutbah Jumat yang menggetarkan.

Dan aku menjadi saksi di antara 7,4 juta jamaah. Itu jamaah shalat Jumat 
terbesar yang pernah aku ikuti seumur hidup, di bawah guyuran hujan. 
Allahuakbar.

Jakarta, 2 Desember 2016

Penelusuran Republika.co.id,  Arik S Wartono adalah pemilik sanggar seni lukis 
bernama ‘Daun’.

1 2 3

Kirim email ke