Walah, walah, pakai bikin kesaksian Banyuwangi pindah ke Monas..... ? Wewe gombel lewat........?
2016-12-04 21:37 GMT+01:00 'Sunny' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/12/05/ > ohobt3361-kesaksian-peserta-aksi-212-soal-harum-semerbak-di-bawah-hujan > > Senin, 05 Desember 2016, 01:39 WIB > > Kesaksian Peserta Aksi 212 Soal Harum Semerbak di Bawah Hujan > Red: Ilham > Republika/Yogi Ardhi > [image: Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat > Jumat memadati area Monumen Nasional Jakarta, Jumat (2/12). Shaf jamaah > meluber hingga ke jalan-jalan di sekitar area Monas dan hingga ke Jl MH > Thamrin, dan kawasan Patung Tani.] > Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat Jumat > memadati area Monumen Nasional Jakarta, Jumat (2/12). Shaf jamaah meluber > hingga ke jalan-jalan di sekitar area Monas dan hingga ke Jl MH Thamrin, > dan kawasan Patung Tani. > > > > REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Postingan sebuah kesaksian seorang yang > bernama Arik S Wartono soal munculnya harum semerbak yang tercium aksi > super damai Bela Islam III atau aksi 212, Jumat (2/12), lalu, telah > menyebar di media sosial. Postingan yang diberi judul 'SEMERBAK HARUM SAAT > HUJAN TURUN JAMAAH SHOLAT JUM'AT MONAS, kesaksian Arik S. Wartono' itu > menceritakan bagaimana harum itu muncul saat hujan mengguyur massa aksi. > > Berikut isi lengkap kesaksian Arik S Wartono: > > Aku datang longmarch bersama tak kurang 3.000 (tiga ribu) jamaah dari > kawasan Harmony, memasuki kawasan Monas melalui arah barat Patung Kuda > Bundaran HI. Mendapat info bahwa Monas sudah penuh. Tapi aku butuh membuat > liputan kebenarannya. > > Maka aku memotret dan membuat video di bundaran HI sebentar, kemudian > menerobos masuk mendekati panggung utama orasi di Monas, yang sekaligus > lokasi panggung imam jamaah Shalat Jumat. > > Langkahku terhenti sekitar 25 meter dari panggung orasi, sebab lautan umat > sudah mustahil aku belah lagi untuk lebih dekat. Dari titik itulah aku > membuat liputan kesaksianku, sambil menggelar sajadah. > > > > Selama tak kurang tiga jam berdiam di titik Barat Monas, tepat kiri imam > yang sekaligus lokasi panggung utama orasi, cuaca tak sedetikpun panas. > Matahari muncul sedikit tanpa membakar terik, selebihnya mendung. > > Drone terus beterbangan di atasku, hellykopter mengelilingi Monas dalam > hawa sejuk angin semilir. Saat aku memejamkan mata sambil bersila di atas > sajadahku sambil mendengarkan orasi Aa Gym, aku bahkan merasa sauasananya > seperti sedang di pinggir pantai, adem-semilir. Padahal kabarnya ini aksi > demonstrasi. > > Setelah orasi beberapa tokoh, tiba saatnya Muadzin mengumandangkan adzan > sebagai tanda dimulainya ibadah Jumat yang merupakan kewajiban bagi setiap > muslim lelaki akil balikh. Saat itulah hujan mulai turun, seolah Allah > sengaja mengirim air wudhu untuk kami semua 7,4 juta jamaah. > > Untuk orang sebanyak itu, coba pikir berapa ton kubik air yang dibutuhkan > untuk berwudhu sekalipun dalam situasi paling darurat? Allah memahami > kebutuhan kami, maka diturunkannya hujan yang tidak deras untuk kami > berwudhu. Masya Allah, jamaah pun diliputi rasa syukur dan haru. > > Sekitar 5 menit hujan turun, indra penciumanku mengindera bau semerbak > harum. Aku berpikir sejenak, bau parfum siapakah ini yang sanggup semerbak > dalam guyuran hujan? > > Bukankah kami berkumpul 7,4 juta orang? Mestinya kan pengab bau keringat > di bawah hujan? Normalnya kan bau apag (tak sedap) pakaian kotor > berkeringat yang terbasahi air? Tapi ini malah bau harum semerbak. > > Jutaan Jamaah Aksi Bela Islam III menjelang pelaksanaan Shalat Jumat > memadati area Monumen Nasional Jakarta, Jumat (2/12). Shaf jamaah meluber > hingga ke jalan-jalan di sekitar area Monas dan hingga ke Jl MH Thamrin, > dan kawasan Patung Tani. > Umat muslim berdoa ditengah guyuran hujan saat mengikuti aksi damai di > kawasan Monas, Jakarta, Jumat (2/12). > > Aku coba berpikir lain: apakah ada yang sedang membakar dupa? Ah mana > mungkin ada dupa di bawah guyuran hujan? Lagipula ini bukan bau dupa, dan > mana mungkin ada jamaah shalat jumat yang membakar dupa? > > Aku coba berpikir lain, dan harum semakin semerbak, lebih dari 5 menit > sudah harum ini. Apakah ada seseorang yang menyemprotkan parfum mahal dalam > jumlah besar? Aku lihat sekeliling, nihil. Di sisi kiri belakangku sekitar > 50 meter memang ada mobil tangki, tapi jelas bertuliskan Air Minum (untuk > Wudhu). > > Harum semerbak bahkan kian jelas. Maka aku coba bertanya pada orang-orang > di sekelilingku dengan suara lumayan keras, sebab memang belum Adzan kedua > sebagai tanda dimulainya khutbah Jumat: > > "Bapak-bapak dan Abang di sini semua apakah mencium bau harum yang kuat?" > > semua menjawab > > "Ya, benar. Bau harum, wangi." > > Aku lihat tadi ada seorang bapak usia 50an yang batuk saat hujan mulai > turun. Mungkin bapak ini sedang pilek. Aku langsung tanya: > > "Apakah bapak juga mencium bau harum?" > > beliau tegas menjawab: "Ya, benar bau harum !" > > Aku bertanya sekali lagi dengan suara lebih keras pada semua jamaah di > sekelilingku: > > "Apakah semua yang di sini mencium bau harum yang kuat?" > > Semua serempak menjawab > > "Ya", sambil mengangguk. > > Sampai aku mengulagi 3 kali pertanyaanku pada jamaah, jawabnya pun sama: > YA. > > Aku melanjutkan pertanyaan: > > "Parfum apakah yang bisa berbau harum di tengah guyuran hujan begini?" > > Kebetulan saat itu hujan mulai sedikit deras, bersamaan dengan > pertanyaanku. Tidak ada jawaban. > > Akun lanjutkan: > > "Adakah di sekitar sini tanaman yang sedang berbunga, yang bapak dan abang > semua kenali dengan bau harum begini?" Semua menggeleng, kembali tak ada > jawaban. > > Aku lanjutkan lagi: > > "Lalu bau harum apa ini, yang kita semua bisa merasakannya dalam guyuran > hujan begini?" Kali ini pertaanku melemah, bahkan sedikit tersekat. > > Dan beberpa jamaah aku lihat mulai berubah raut mukanya, mereka mulai > berlinang air mata. Tiba-tiba saja kami para lelaki telah menangis di bawah > hujan. > > "Masya Allah... Subhanallah.. apakah Kau sedang mengutus malaikatmu untuk > kami ya Allah, dengan hujan ini?" Seorang bapak berwajah keturunan Arab > (tampaknya seorang ustsdz, atau mungkin habib) spontan hampir berteriak > sambi menangis. > > Kami semua pun kian berlinang, tak kurang 100 orang saat itu di dekatku > yang memberi kesaksian tentang fenomena alam yang tak biasa ini. > > Muadzin pun mengumandangkan adzan kedua, Habib Rieziq mulai berkhutbah > sebagai khatib shalat Jumat, dan bau harum tak tercium lagi, hujan terus > merintik. Kami tetap khitmad menyimak khutbah Jumat yang menggetarkan. > > Dan aku menjadi saksi di antara 7,4 juta jamaah. Itu jamaah shalat Jumat > terbesar yang pernah aku ikuti seumur hidup, di bawah guyuran hujan. > Allahuakbar. > > Jakarta, 2 Desember 2016 > > Penelusuran Republika.co.id, Arik S Wartono adalah pemilik sanggar seni > lukis bernama ‘Daun’. > > 1 2 3 > > > > >
