Pada 11 Desember 2002, Pendeta Socratez dapat cerita dari Purnawirawan Polisi 
Christofel L. Korua. Ia berkisah: “Orang-orang Papua yang memberikan suara 
dalam PEPERA 1969 itu ditentukan oleh pejabat Indonesia dan sementara 
orang-orang yang dipilih itu semua berada di dalam ruangan dan dijaga ketat 
oleh militer dan polisi Indonesia.” 
...Sementara Carmel Budiarjo punya cerita lain, cerita yang tidak  kalah ngeri. 
Musyarawah tersebut, kata Carmel, “Dilaksanakan di bawah tekanan dari penguasa 
militer Indonesia.” 
...“Pada 1969, akhirnya hanya 1.025 orang dipilih oleh pihak Indonesia untuk 
100 persen mendukung integrasi dengan Indonesia. Mereka diancam dan dipaksa 
memilih Indonesia. Ini secara prinsip bertentangan dengan Perjanjian New York,” 
kata Filep. 
...
Pepera, Cara Indonesia Siasati Potensi Keok Saat Referendum


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Pepera, Cara Indonesia Siasati Potensi Keok Saat Referendum
 By Tirto.id Papua bergabung dengan Indonesia via referendum. Referendum 
bagaimana? Yang jelas bukan one man one vote, metode...  |   |

  |

  |

 

 Reporter: Petrik Matanasi01 Desember, 2016dibaca normal 3:30 menitMusyawarah 
Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Fakfak tahun 1969. Doc. ANRI233 Shares    
   

INTI BERITA
   
   - Jika referendum dilakukan one man one vote, potensi Papua merdeka sangat 
besar.
   - Pepera dilakukan dengan cara Indonesia: voting perwakilan.
Papua bergabung dengan Indonesia via referendum. Referendum bagaimana? Yang 
jelas bukan one man one vote, metode yang berpotensi membuat Indonesia 
kalah.tirto.id - Indonesia adalah bangsa yang suka menghindari voting atau 
pemungutan suara orang per orang. Pernah ada masa di mana voting dianggap 
“kemusyrikan” yang tak cocok dengan budaya bangsa. Jika persoalan diselesaikan 
dengan voting, hal itu akan dianggap sebagai bentuk kemenangan egoisme. Bukan 
macam itu jati diri bangsa Indonesia, segala mesti dimusyarawahkan, pasti bisa 
dimusyarahkan. Mufakat dianggap sebagai keutamaan yang paling premium.

Untuk seluruh rakyat Papua, Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 pun dulu 
berupa musyarawah. Bukan voting orang per orang. Jangankan untuk rakyat Papua 
yang terabaikan nasibnya, selama puluhan tahun di masa Orde Baru, rakyat 
Indonesia di daerah lain pun harus terima dengan pemilihan Presiden ala 
musyarawah mufakat di Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat, bukan pemilihan 
langsung seperti sekarang.  

“Pepera 1969 telah dilaksanakan di Tanah Papua Barat sesuai dengan sistem 
Indonesia, yaitu musyawarah. Pelaksanaan dengan cara Indonesia ini sangat 
berlawanan dengan isi Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang disetujui oleh 
PBB, Amerika, Belanda dan Indonesia bahwa Pepera 1969 dilaksanakan dengan 
sistem dan mekanisme Internasional, yaitu one man one vote,” kata Pendeta 
Socratez Sofyan Yoman dalam artikel berjudul "Ketidakadilan dan Kepalsuan 
Sejarah Integrasi Papua ke Dalam Wilayah Indonesia Melalui Pepera 1969".  

Pada 11 Desember 2002, Pendeta Socratez dapat cerita dari Purnawirawan Polisi 
Christofel L. Korua. Ia berkisah: “Orang-orang Papua yang memberikan suara 
dalam PEPERA 1969 itu ditentukan oleh pejabat Indonesia dan sementara 
orang-orang yang dipilih itu semua berada di dalam ruangan dan dijaga ketat 
oleh militer dan polisi Indonesia.” 

Menurut laporan resmi PBB, Annex1 paragraf 189-200, “Pada 14 Juli 1969, Pepera 
dimulai dengan 175 anggota dewan musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu 
kelompok besar tentara Indonesia hadir.”  

Sementara Carmel Budiarjo punya cerita lain, cerita yang tidak  kalah ngeri. 
Musyarawah tersebut, kata Carmel, “Dilaksanakan di bawah tekanan dari penguasa 
militer Indonesia.” 

Filep Karma, aktivis Papua, pernah bilang, “Indonesia menganggap one man one 
vote tidak cocok untuk Papua. Orang Papua dianggap masih terbelakang, belum 
siap buat referendum, Indonesia ingin pakai sistem musyawarah," kata Filep 
dalam buku Seakan Kitorang Setengah Binatang (2014).

Sebelum banyak bicara soal Papua, Filep juga pembaca buku politik. Buku Jusuf 
Wanandi, Shades of Grey: A Political Memoir of Modern Indonesia 1965-1998, juga 
dibacanya. Di sana, Wanandi mengaku terkejut melihat barang-barang dijarah 
tentara Indonesia. Ketika itu dia menjadi asisten Letnan Jenderal Ali Moertopo, 
salah satu penasehat Presiden Soeharto. 

Bulan Mei 1967, Jusuf Wanandi dikirim ke Papua untuk mendalami persiapan 
referendum. Dalam laporannya, Wanandi menyebut jika diadakan pemungutan suara 
di tahun 1968, Indonesia pasti kalah dan harus angkat kaki Papua. Wanandi usul, 
sebaiknya pemungutan suara ditunda sampai 1969. Bisa jadi, laporan Wanandi 
inilah yang membuat Soeharto dan jajarannya panik kehilangan Papua dan segera 
memakai cara “kekeluargaan” yakni musyarawah yang hanya diwakili orang-orang 
tertentu saja. Repos sudah jadinya jika semua orang Papua memilih.

Sebelum Wanandi datang, sebelum 1963, Belanda sudah membangun infrastruktur 
kesehatan, pendidikan, jalan dan lainnya di Papua, meski belum menyeluruh. 
Setelah masuknya Indonesia penjarahan terjadi. Termasuk inventaris peninggalan 
Belanda. 

“Saya pernah lihat rumah sakit di Surabaya memakai lemari baja buatan Belanda 
untuk rumah sakit Dok II Jayapura. Masih ada stempel Dok II di lemari 
tersebut,” aku Filep. 

Filep Karma masih berusia 10 tahun saat Pepera berlangsung. Dia masih SD. Dia 
tidak ikut Pepera, tapi dia juga dapat cerita pilu soal Pepera. 

“Pada 1969, akhirnya hanya 1.025 orang dipilih oleh pihak Indonesia untuk 100 
persen mendukung integrasi dengan Indonesia. Mereka diancam dan dipaksa memilih 
Indonesia. Ini secara prinsip bertentangan dengan Perjanjian New York,” kata 
Filep. 

Banyak orang Papua, seperti yang didengar Filep dari banyak orang-orang tua 
Papua, lebih suka referendum one man one vote.

“Mereka yang ingin referendum ditangkap tentara,” kata Filep. “Ibu teman saya 
lebih suka one man one vote maka dituduh mendukung Papua Merdeka. Ditangkap 
militerlah dia, dipenjara dan diinterogasi.” 

Menurut cerita-cerita yang didengar Filep dari keluarganya, mimpi buruk rakyat 
Papua sudah dimulai setidaknya setelah tahun 1963. Dari abangnya, Sam Karma, 
Filep dapat cerita, “Jika mobil patroli polisi atau militer lewat di jalan dan 
ada dua atau tiga orang Papua berdiri di pinggir jalan, mobil itu berhenti, 
polisi turun dan perintahkan orang Papua bubar. Bila di antara orang tersebut 
ada yang vokal, mereka langsung ditangkap dan dibawa ke pos polisi terdekat 
untuk ditahan.”

Dari tantenya, A. Rumpaisum, yang anggota Dewan Musyawarah Pepera (DMP), Filep 
dapat cerita lagi. Sang tante dikarantina di asrama STM Dok VII Tanjung, 
Jayapura. Doktrin-doktrin untuk ikut Indonesia dari perwira militer adalah 
makanan sehari-hari. Ketika malam tiba, indoktrinasi jalan terus. Mereka dapat 
bir gratis sepuasnya, sambil mengindoktrinasi.

“Waktu Pepera 1969 dilaksanakan, tante saya diancam, kalau memilih opsi Papua 
Merdeka, maka mulutnya akan disobek dan keluarganya akan dibunuh,” kata Filep.

Rasa tenteram orang Papua hilang ketika orang-orang Papua yang bergabung dalam 
Organisasi Papua Merdeka (OPM) jadi buruan. Aparat menggedor rumah tanpa 
pandang bulu. Bahkan ayah Filep, Andreas Karma, yang jadi Wakil Bupati Jayapura 
(1968-1971) saja, pernah digedor dengan kasar di rumahnya yang terletak di 
Kampung Harapan. Aparat itu menggedor rumah dengan menenteng senjata api. 

“Apakah disini menyembunyikan pentolan OPM?” teriak tentara. Kebetulan salah 
satu sanak famili keluarga Filep,  Jan Pieter Karma, juga salah satu pentolan 
OPM di Biak.

share infografik

Tuduhan sebagai OPM sama terkutuknya dengan tuduhan PKI di luar Papua. Begitu 
kena tuduh OPM, seseorang akan jatuh miskin dan ditangkap. Dulu, cerita Filep, 
toko-toko di Jalan Irian dimiliki orang-orang Papua pada  1960an. Toko-toko 
tersebut kemudian pindah tangan dengan paksa. Para pemilik bahkan banyak 
dituduh sebagai anggota OPM dan ditangkap. 

Filep bercerita tentang seorang bernama Herman Wayoi. Sekitar 1961-1962, Herman 
diserahi sebuah pom bensin di Dok V Bawah, Jayapura, dari orang Belanda yang 
hendak pulang ke negerinya. Herman menerimanya lengkap dengan semua surat-surat 
hak kepemilikan dan izin usaha. Sial bagi Herman ketika militer Indonesia 
masuk. Herman dituduh OPM. Pompa bensin itu diambil paksa. Status pom bensin 
itu jadi aset sebuah perusahaan di bawah Angkatan Darat. 

Jadi musyarawah dalam Pepera adalah harus. Kalau pakai voting, su pasti masalah 
to? Itu sudah! 

(tirto.id : pet/zen)
Keyword


Kirim email ke