From: 'K. Prawira' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, December 9, 2016 7:47 AM



Bahan Kajian masalah Politik - HAM 
Diunduh dari Fesbuk 09 Desember 2016 0:43
https://ahmadsamantho.wordpress.com/2016/06/03/siapa-sebenarnya-kivlan-zein-mayjen-kunyuk-dalang-kerusuhan-sara-di-ambon/

Siapa Sebenarnya Kivlan Zein, 
MayJen Kunyuk Dalang Kerusuhan SARA di Ambon   
Posted by Ahmad Yanuana Samantho  on Juni 3, 2016  in Politik 


http://www.minihub.org/siarlist/msg04368.html ……….
tuduhan Gus Dur pada seseorang bukannya tanpa dasar, dan seringkali dinyatakan 
dalam inisial. Misalnya, ketika belum menjadi presiden, ia pernah mengatakan 
Mayjen “K”, adalah dalang kerusuhan Ambon. Lalu, Mayjen Kivlan Zen, kawan 
Letjen Prabowo, merasa dituduh dan ia mengunjungi Gus Dur. Gus Dur pun 
membantah yang ia maksud adalah Kivlan. “Yang saya maksud adalah Mayjen 
Kunyuk,” kata Gus Dur kala itu.

Bahwa, Kivlan merasa tertuduh, sebenarnya itulah tujuan Gus Dur. Orang akan 
bertanya mengapa Kivlan merasa tersinggung Ada Jenderal orde baru mantan tangan 
kanan prabowo yang belakangan ini hidup dari jualan isu hantu PKI dan ideologi 
komunisme.

Banyak yang belum mengerti bahwa jenderal ini adalah dalang adu domba antara 
mahasiswa pengusung agenda reformasi melawan kubu islamis yang tergabung dalam 
satuan bayaran bernama Pamswakarsa pada tragedi semanggi. Setelah mahasiswa 
menggagalkan dan mengalahkan Pamswakarsa dengan korban beberapa jiwa di kubu 
Pamswakarsa, maka agenda untuk melanjutkan reformasi bisa berlanjut dalam SU 
MPR 1999.

Tetapi Jenderal orde baru ini tidak berhenti sampai disini. Tatkala bossnya 
Prabowo dicopot dari jabatan Pangkostrad oleh Presiden BJ Habibie, Ia 
melaksanakan order baru untuk membuat kerusuhan SARA di Ambon. Kerusuhan SARA 
yang berlangsung bertahun-tahun itu punya misi khusus untuk mengagalkan 
peradilan terhadap Mantan Presiden Soeharto.

Pemerintahan Gus Dur dan Megawati dipusingkan oleh kerusuhan SARA Ambon 
sehingga tidak punya kesempatan mengadili Soeharto secara tuntas sebelum 
sakit-sakitan dan meregang nyawa beberapa waktu kemudian. Sudah menjadi rahasia 
umum, menjelang akhir kejatuhannya, Soeharto berpaling dari kubu CSIS ke kubu 
ICMI. Dari kubu Jenderal LB Moerdani ke kubu feisal tanjung-hartono-prabowo. 
Yang tidak diketahui Soeharto adalah,  jenderal jenderal yang pro kubu islamis 
itu semua menggunting dalam lipatan. Soeharto sempat merasa tenang dengan 
semakin merapat ke ICMI dan jenderal-jenderal islamis, maka kekuasaan akan 
langgeng. Tutut sebagai putri sulung bisa masuk kabinet. Bisnis mobil Timornya 
Tommy mendapatkan status mobnas. Bisnis Bambang Tri juga menggurita lewat 
Bimantara yang menguasai stasiun RCTI. Belum lagi bisnis Ari Sigit cucu 
kesayangan yang hanya dengan jualan sticker miras bisa ongkang-ongkang kaki 
sambil dikaraoke.  Kemudian saat krismon tak dapat diatasi, hasil SU MPR Maret 
1998 yang mengukuhkannya jadi presiden ke 6 kali mendadak rentan. Organisasi 
ICMI beserta kubu islamis yang diharapkan menjadi penopang saat terakhir, 
ternyata berpaling mendukung BJ Habibie.

Di akhir hayatnya Soeharto menyesali keputusannya menghindar dari lubang buaya 
malah dimangsa singa. Ia saat berkunjung ke makam LB Moerdani berkata “kowe 
pancen sing bener Ben…”  dan disertai penyesalan mengapa menyisihkan loyalis 
sejatinya itu dan berpaling ke Jenderal-jenderal ‘brutus’ seperti feisal 
tanjung-hartono-prabowo. Setelah soeharto jatuh, agenda kelompok islamis itu 
hanya berhasil dengan membentuk FPI ormas pengacau yang bercita-cita mendirikan 
negara islam. Selain itu cita-cita mereka menaikkan prabowo sebagai Panglima 
ABRI gagal oleh perlawanan Kubu BJ Habibie-Wiranto. BJ Habibie sendiri kendati 
dibesarkan oleh didikan Soeharto, namun punya sikap politik yang waras; tidak 
haus mempertahankan kekuasaan dan Propinsi Timor Timur diijinkan mengadakan 
referendum sehingga menghilangkan beban politik luar negri sebagai penjajah.

Kembali ke mayjen kunyuk, setelah berhasi mengacak-acak Ambon dan merembet ke 
Poso dan lain-lain wilayah, misinya untuk menggagalkan peradilan atas mantan 
presiden Soeharto berhasil tuntas. Kini, jenderal kunyuk sedang melakukan 
rencana tahap berikutnya; mengagalkan rekonsiliasi sesama anak bangsa.

Jenderal kunyuk ini sepertinya sedang melakukan adu domba, suatu strategi yang 
berhasil menjaga kelanggengan orde baru selama 32 tahun. Padahal misi 
rekonsiliasi yang digagas oleh Presiden Jokowi adalah menegakkan kebenaran 
sejarah pada peristiwa pasca 1965. Bila ada ‘korban-korban sampingan’ yang 
jatuh tanpa peradilan dan merupakan pelanggaran HAM maka sudah menjadi 
kewajiban bagi negara untuk meminta maaf kepada korban dan merehabilitasi nama 
korban beserta keluarga, kemudian memberi kompensasi yang sepadan.

Sebagai jenderal kunyuk memang wajar sekali ia tak rela negara menjadi satu 
padu demi masa depan yang lebih baik. Ia lebih suka menyembunyikan dosa kubu 
islamis dan membesar-besarkan dosa kubu komunis. Jika mau jujur dan membuka 
mata hati, momen rekonsiliasi juga bisa menjadi cermin bagi kubu islamis bahwa 
yang membela agama dan negara juga berbuat keliru dengan menyasar korban yang 
tidak nyata-nyata bersalah.

Eksekusi mati terhadap siapapun yang dituding PKI saat itu benar-benar tindakan 
barbar. Tanpa lewat pengadilan, semua korban dijemput untuk dihilangkan. Ada 
yang dikubur massal tanpa identitas, ada pula yang dibuang ke jurang. Kubu 
islamis mustinya malu terhadap penjajah belanda yang tidak pernah main bunuh 
seenaknya. Para pemimpin pergerakan dari jaman kerajaan sampai dengan RI 
berdiri hanya diasingkan tidak pernah dieksekusi. Pangeran Diponegoro sampai 
Bung Karno saat ditangkap hanya untuk diasingkan.

Namun tindakan kubu islamis yang disokong oleh jenderal-jenderal orde baru yang 
haus darah malah tega membunuh sesama anak bangsa, bahkan yang belum atau tidak 
terbukti terlibat langsung penculikan terhadap Pahlawan Revolusi. Situasi 
kekinian global yang sudah tidak memberi ruang bagi ideologi komunisme tidak 
berarti apa-apa bagi jenderal kunyuk yang punya agenda sampingan mensyariatkan 
Indonesia.

Tak heran Ia kini kembali meminta dukungan ormas pengacau FPI yang jelas-jelas 
anti Pancasila dan anti Bhinneka Tunggal Ika untuk bersama-sama meniupkan isu 
hantu PKI. Besok tanggal 3 Juni rencananya ormas pengacau FPI yang anti 
Pancasila dan hendak mendirikan kekhalifahan  berdasarkan syariat islam akan 
mengepung Istana. Apakah bisa dibiarkan jenderal kunyuk dan ormas pengacau FPI 
yang dipimpin oleh Habib arab anti NKRI hendak membuat NKRI menjadi ISIS?

Selengkapnya : 
http://www.kompasiana.com/immortalunbeliever/siapa-sebenarnya-kivlan-zein-mayjen-kunyuk-dalang-kerusuhan-sara-di-ambon_574f9a62137f61be04525a97









Kirim email ke