Dari Maklumat, Penculikan, sampai Pembunuhan

7 Desember 2016

http://koransulindo.com/dari-maklumat-penculikan-sampai-pembunuhan/ 

Pelantikan Kabinet Sjahrir

Koran Sulindo – Istilah makar atau kudeta kembali menjadi populer belakangan 
ini di Tanah Air. Dalam buku Political Order in Changing Societies (1968), 
Samuel P. Huntington memilah kudeta menjadi tiga: kudeta sempalan, kudeta wali, 
dan kudeta veto.



Kudeta sempalan dilakukan oleh sekelompok bersenjata yang dapat terdiri dari 
militer atau tentara yang tidak puas dengan kebijakan pemerintahan tradisional 
saat itu. Kemudian, mereka melakukan gerakan yang bertujuan menggulingkan 
pemerintah tradisional dan kemudian menciptakan elite birokrasi baru.



Sementara itu, kudeta wali dilakukan sekelompok orang dengan mengumumkan diri 
sebagai perwalian guna meningkatkan ketertiban umum, efisiensi, dan mengakhiri 
korupsi tapi pada kenyataan tidak akan ada perubahan yang mendasar pada 
struktur kekuasaan umumnya. Para pemimpin kudeta akan menggambarkan diri dan 
tindakan mereka bersifat sementara dan akan menyesuaikan dengan kebutuhan.



Yang ketiga adalah kudeta veto. Kudeta ini dilakukan melalui partisipasi dan 
mobilisasi sosial sekelompok massa rakyat dalam melakukan penekanan skala besar 
berbasis luas pada oposisi sipil.



Dalam perjalanan sejarah Indonesia, berbagai percobaan makar terhadap 
pemerintahan yang sah pernah terjadi. Tercatat percobaan makar atau kudeta 
pertama kali terjadi bahkan ketika negara ini baru setahun berdiri, yakni pada 
3 Juli 1946. Ketika itu, Mayor Jendral R.P. Sudarsono, pelaku utama penculikan 
Perdana Menteri Sjahrir yang sehaluan dengan kelompok Persatuan Perjuangan, 
menghadap Soekarno bersama beberapa rekannya dan menyodorkan empat maklumat 
untuk ditandatangani presiden.



Pertama: Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir II. Kedua: Presiden 
menyerahkan pemimpin politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan Pimpinan 
Politik. Ketiga: Presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik yang 
diketuai Tan Malaka dan beranggotakan Muhammad Yamin, Ahmad Subarjo, Dokter 
Boentaran Martoatmodjo, Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, Sukarni, Chaerul 
Saleh, Sudiro, Gatot, dan Iwa Kusuma Sumantri. Keempat: Presiden mengangkat 13 
menteri negara yang nama-namanya dicantumkan dalam maklumat tersebut.



Presiden Soekarno, pihak pemerintah yang sudah jauh hari siap menghadapi pihak 
Soedarsono, tidak menerima maklumat tersebut dan memerintahkan penangkapan para 
pengantar maklumat. Akhirnya, percobaan pemebrontakan itu pun gagal karena 
partai-partai seperti Masyumi, PNI, dan PBI yang diharapkan mengerahkan 
mendukung dengan massa ke jalan-jalan untuk berpawai tidak menjalankan hal 
tersebut.



Pihak militer pun tidak memberikan dukungan. Terbukti dengan munculnya Soeharto 
yang ditugaskan langsung oleh Presiden Soekarno untuk menangkap Soedarsono dan 
yang terlibat dari pihak tentara dan polisi.



Pada akhirnya, Sjahrir berhasil dibebaskan dan Tan Malaka beserta kelompoknya 
masuk jeruji besi di Penjara Wirogunan, Yogyakarta. Sementara itu, 14 orang 
yang diduga terlibat dalam upaya kudeta diajukan ke Mahkamah Tentara Agung. 
Tujuh orang dibebaskan, 5 orang dihukum 2 sampai 3 tahun, sedangkan R.P. 
Sudarsono dan Muhammad Yamin dijatuhi hukuman selama 4 tahun penjara. Dua tahun 
kemudian, pada 17 Agustus 1948, seluruh tahanan Peristiwa 3 Juli 1946 
dibebaskan melalui pemberian grasi presiden.



Latar belakang peristiwa pemberontakan itu berawal dari, perbedaan pemikiran 
yang frontal antara Perdana Menteri Soetan Sjahrir  dengan kelompok oposisi 
Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka. Terjadi insiden penculikan 
hingga upaya kudeta Kabinet Sjahrir II pada medio 1946. Pemicunya adalah 
ketidakpuasan pihak oposisi terhadap politik diplomasi yang dilakukan oleh 
pemerintah Indonesia terhadap Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan 
kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan 
kedaulatan atas Jawa dan Madura.



Ide penculikan Sjahrir berawal dari A.K Joesoef, Kepala Tentara Pendjagaan Kota 
(Jogjakarta), karena Sjahrir dianggap telah merugikan bangsa dengan hasil 
perundingannya. Karena Sjahrir pada waktu itu sedang ada di Solo, yang berarti 
di luar wilayah kekuasaan Joesoef, dia meminta surat perintah kepada 
Soedarsono, Komandan Batalyon 63 dan juga disetujui Panglima Divisi IV Kolonel 
Sutarto, yang merupakan tangan kanan Jendral Soedirman. Akhirnya, dari 
Soedarsono, ide itu merembet sampai ke penasihat- penasihat politik Soedirman 
dan sampai pada Yamin. Berbekal surat itulah A.K. Joesoef tak menemui halangan 
berarti dari Kepolisian Solo untuk melakukan penangkapan terhadap Sjahrir.

Kudeta Militer 17 Oktober 1952

Peristiwa 17 Oktober 1952 berakar dari pertentangan sipil-militer 
pascakemerdekaan. Pada masa Kabinet Wilopo, pemimpin TNI berniat mereorganisasi 
dan merasionalisasi militer untuk menanggalkan mentalitas tentara gerilya 
menjadi tentara profesional. Proses ini akan diikuti pemberhentian hampir 40% 
personel TNI sebagai konsekuensi dari pemangkasan anggaran.

Para pemimpin militer, seperti KSAD Kolonel AH Nasution dan Kepala Staf 
Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang, mengusulkan untuk mendatangkan Misi 
Militer Belanda (MMB) yang ditugaskan membantu dalam segi teknis—bukan 
doktrin—untuk menyediakan kader bagi lembaga-lembaga pendidikan militer. Hanya 
saja, ide ini ditentang keras golongan lain di dalam Angkatan Darat. Kolonel 
Bambang Supeno melaporkan ketidaksukaannya terhadap rencana itu kepada Presiden 
Soekarno secara langsung tanpa mengindahkan alur komando.

Sejak pukul 04.00 WIB, militer mengamankan tempat-tempat strategis: kantor RRI, 
gedung DPRS-MPRS, dan stasiun-stasiun kereta api. Pukul 08.00 WIB, kerumuman 
massa menjalar. Mereka diangkut dari pabrik-pabrik di luar kota, sisanya dari 
Jakarta yang dikoordinasi jagoan-jagoan Betawi. Tentara mengorganisasi 
demonstrasi itu dengan dukungan tank dan artileri, bergerak ke istana presiden, 
menuntut pembubaran parlemen.

Soekarno mencoba menengahi, bahkan cenderung tak setuju dengan usulan 
Nasution-Simatupang. Musyawarah ketiganya, yang juga dihadiri Menteri 
Pertahanan Hamengkubuwono IX, tak berjalan mulus. “Pembicaraan itu meningkat 
panas dan hampir berkembang menjadi adu teriak antara Sukarno dan Simatupang,” 
tulis John D. Legge dalam buku Sukarno: Sebuah Biografi Politik.

Nasution kemudian memecat Bambang Supeno. Parlemen mengecam tindakan tersebut 
dan mengeluarkan mosi untuk menghentikan MMB, karena dianggap pro-Barat dan 
menyudutkan golongan personel eks- Pembela Tanah Air, seperti Bambang Supeno.

Mosi dari Manai Sophiaan yang disetujui parlemen memaksa militer untuk menurut. 
Namun, pihak Angkatan Darat menganggap itu sebagai usaha ikut campur kalangan 
sipil dalam urusan militer.

Tak lama kemudian, militer melancarkan operasi penangkapan terhadap enam 
anggota parlemen. Manai Sophiaan nyaris diculik di kediamannya, sementara 
sekelompok perwira loyalis Soekarno di Jawa Timur berhasil kabur karena tim 
penyergap pimpinan Mayor Kemal Idris salah menggrebek rumah.

Dini hari, 17 Oktober 1952, para panglima berkumpul di kantor Staf Umum 
Angkatan Darat. Mereka saling melempar ide gerakan dengan kepala panas, sampai 
disela oleh Simatupang. “Setop. Ini sudah berbau kup. Kritik oke, tetapi jangan 
kup,” demikian dikatakan Simatupang, sebagaimana dikutip dari biografi A.E. 
Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih, yang ditulis Ramadhan K.H.

Jakarta pun dipenuhi suara-suara protes. Kepala Intel Biro Informasi Perang 
Zulkifli Lubis sebelumnya sudah menghubungi ajudan Soekarno tentang pengerahan 
massa tersebut. Bahkan, Kolonel Moestopo yang mengorganisasi demonstrasi itu 
sudah diminta membatalkan niatnya. Namun, demonstrasi tetap terjadi. Puncaknya: 
moncong meriam diarahkan ke istana atas arahan Kemal Idris.

Sementara itu, di dalam istana, Soekarno dan para panglima yang dipimpin 
Nasution berunding. Nasution menuntut parlemen dibubarkan. Soekarno menolak 
dengan marah. “Mataku terbakar karena marah. Engkau benar dalam tuntutanmu, 
akan tetapi salah di dalam caranya. Sukarno tidak akan sekali-kali menyerah 
karena paksaan. Tidak kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu 
batalyon Tentara Nasional Indonesia!” kata Bung Karno, sebagaimana tertera 
dalam otobiografinya, Penyambung Lidah Rakyat, sebagaimana diceritakan kepada 
Cindy Adams.

Bung Karno lalu keluar dan menenangkan massa. Setelah menasihati mereka akan 
pentingnya parlemen sebagai sarana demokrasi, layaknya seorang ayah kepada 
anaknya, tensi massa mulai menurun. Massa malah menerikkan yel-yel “Hidup Bung 
Karno!” dan kemudian bubar teratur.

Nasution menamakan gerakan itu sebagai “separo kudeta”. Dan, gerakan  itu gagal 
total. Tak lama kemudian, Nasution dicopot sebagai KSAD, digantikan Bambang 
Sugeng, kawan dekat Bambang Supeno. Namun, Soekarno kelak mengangkat kembali 
Nasution dengan alasan “menjaga persatuan.”

Kudeta 30 September 1965

Kudeta paling terkenal dalam sejarah Indonesia adalah Gerakan 30 September, 
yang sebagian orang menyebutnya sebagai G30S/PKI. Pelaku utama pemberontakan, 
yang dilancarkan sejak 30 September 1965 malam, adalah Letnan Kolonel Untung, 
salah satu komandan batalyon pasukan pengawal Presiden Soekarno, Cakrabirawa. 
Dalam gerakan ini, sejumlah perwira diculik dan dibunuh.

Untung akhirnya tertangkap dan segera dihukum mati. Setelah Surat Perintah 11 
Maret (Supersemar) diberikan kepada Soeharto, kekuasaan Soekarno semakin lemah 
dan Soeharto semakin kuat dan populer. Tak sampai dua tahun setelah kudeta ini, 
Soekarno dilengserkan dari kursi kepresidenan. Majelis Permusyawaratan Rakyat 
Sementara (MPRS) yang dulu mendukung Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup 
justru menolak pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara. Kemudian, MPRS yang 
dipimpin Abdul Haris Nasution mengangkat Letnan Jenderal Soeharto sebagai 
Pejabat Presiden Republik Indonesia pada 1967. [NYT]


Kirim email ke