Ketika Bung Karno Digoyang Demo Besar-Besaran

http://www.berdikarionline.com/ketika-bung-karno-digoyang-demonstrasi-besar/ 



Banyak pejabat politik yang alergi dengan aksi massa atau demonstrasi. Aparat 
keamanan, baik polisi maupun TNI, masih sering menganggap demonstrasi sebagai 
gangguan terhadap keamanan dan stabilitas politik.

Kenyataan ini sangat menyedihkan. Kalau kita menengok ke sejarah, tampak sekali 
bahwa gagasan Revolusi Nasional Indonesia, yang telah melahirkan negara bernama 
Republik Indonesia ini, tidak terlepas dari aksi (protes jalanan), mogok, rapat 
akbar (vergadering), rapat massa, berserikat, berpartai, memberontak, dan 
revolusi.

Karena itu, tak mengherangkan, pemimpin-pemimpin awal Republik tidak pernah 
alergi dengan demonstrasi. Bung Karno, yang oleh banyak penulis barat dicap 
“diktator”, tidak punya sejarah pernah menindas aksi demonstrasi. Malahan, bagi 
Bung Karno, aksi demonstrasi bukan sekedar pertanda menguatnya demokrasi, 
tetapi juga nyawa dari revolusi Indonesia itu sendiri.

Di masa kekuasaannya, Bung Karno juga sering terjadi aksi demonstrasi. Termasuk 
yang mengeritik kebijakannya. Bahkan, pernah ada aksi demonstrasi yang 
diboncengi agenda ‘kudeta’ terhadap kekuasaan Bung Karno. Itu terjadi tanggal 
17 Oktober 1952. Sayang, sejarah resmi Indonesia jarang menceritakan kejadian 
tersebut.

Saat itu, di Jakarta, terjadi demonstrasi besar-besaran. Lebih dari 5000-an 
muncul di jalanan Jakarta. Awalnya, mereka menggelar demonstrasi di gedung 
parlemen di Pejambon, Jakarta Pusat-kini Departemen Luar Negeri. Tak hanya 
menyampaikan aspirasi, demonstran menerobos masuk ke dalam ruangan dan 
menjungkir-balikkan semua kursi anggota parlemen.

Menjelang siang hari, mereka menggeser aksinya ke Istana Negara. Di perjalanan, 
kekuatan massa bertambah. Mereka berjumlah hampir 30-an ribu orang. Jakarta 
nyaris lumpuh. Harian Ra’jat edisi 18 Oktober 1952 melaporkan bahwa sejumlah 
kantor dan pabrik tutup karena buruhnya berbelok mengikuti demonstrasi. 
Truk-truk tentara berseliweran mengangkut demonstran.

Namun, situasi menjadi “genting” karena tentara ikut ambil-bagian. Sejumlah 
tank dan panser diparkir dekat Istana dengan moncong menghadap ke dalam istana. 
Tak hanya itu, empat meriam diturunkan di dekat Istana.

Dalam buku otobiografinya, Bung Karno: penyambung lidah rakyat, Bung Karno 
menceritakan singkat kejadian Itu. Ketika itu, 17 Oktober 1952, dua buah tank, 
empat kendaraan lapis baja dan ribuan orang menyerbu pintu gerbang istana. 
Demonstran-demonstran itu membawa poster berisikan tuntutan ‘Bubarkan 
Parlemen’. Satu batalyon artileri, dengan empat buah meriam, menggemuruh 
memasuki lapangan keliling istana. “Meriam-meriam 25 pounder dihadapkan 
kepadaku,” ujar Bung Karno kepada Cindy Adams, sang penulis otobiografinya.

Bayangkan, Bung Karno didemo oleh puluhan ribu orang plus tentara dengan 
perlengkapan perang-nya. Apakah Bung Karno gemetar karena demo bersenjata itu? 
Tidak. Dengan tenang ia berjalan keluar menemui langsung demonstran itu. 
“Hatiku tidak gentar melihat sekitar itu (istana) dikuasai oleh meriam-meriam 
lapangan,” ujar Bung Karno.

Bung Karno tidak gentar. Ia adalah tokoh revolusi. Ia pernah keluar-masuk 
penjara kolonial Belanda. Ia juga pernah ditawan pasukan Belanda yang menduduki 
Ibukota Republik kala itu, Jogjakarta. Bung Karno juga berulang-kali mengalami 
percobaan pembunuhan: ia pernah digranat di Cikino oleh gerombolan DI/TII; ia 
pernah diberondong dari udara oleh pesawat Mig-17 yang dipiloti oleh Maukar; ia 
juga pernah diberondong saat menunaikan sholat Idul Adha; iring-iringan 
kendarannya juga pernah diberondong mortir saat berkunjung ke Sulawesi Selatan. 
Dan banyak sekali kasus serupa. Tetapi Bung Karno tidak pernah gentar.

Terhadap demonstran hari itu, Bung Karno juga tidak memperlihatkan rasa takut 
sedikitpun. Tak sehelai pun bulu kuduknya berdiri karena perasaan takut akan 
diberondong. “Aku menantang langsung ke dalam mulut senjata itu dan kulepaskan 
kemarahanku kepada mereka yang hendak mencoba mematikan sistim demokrasi dengan 
pasukan bersenjata,” ujar Bung Karno.

Aksi nekat Bung Karno justru membuat demonstran, juga militer di belakangnya, 
mengalami demoralisasi. Akhirnya, para demonstran itu malah meneriakkan “Hidup 
Bung Karno”. Demonstrasi itu pun bubar. Sementara militer, yang dikomandoi 
Nasution, gagal mencapai niatnya menekan Bung Karno guna membubarkan parlemen.

Belakangan, terungkap bahwa peristiwa “17 Oktober 1952” itu adalah sebuah upaya 
kudeta. Bung Karno sendiri menyebut peristiwa itu sebagai “setengah-coup” oleh 
Nasution. Herbert Feith dalam The Decline of Constitutional Democracy in 
Indonesia menyebut keterlibatan pimpinan Angkatan Darat dalam menggerakkan aksi 
tersebut. Kemal Idris, yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel, memimpin 
pasukan yang mengepung istana itu.

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah puncak kegerahan militer, khususnya Angkatan 
Darat, atas kondisi negara yang makin yang makin berada di bawah kendali sipil. 
Hal itu nampak sekali dengan kekuasaan parlemen. Apalagi, setelah parlemen 
dianggap mengurusi urusan internal angkatan perang.

Saat itu muncul kecaman, terutama dari parlemen, terhadap persoalan 
reorganisasi di tubuh tentara dan kerjasama militer dengan Belanda. Di kalangan 
militer sendiri terjadi friksi. Seorang perwira militer di angkatan darat, 
Kolonel Bambang Supeno, mengajukan mosi tidak percaya terhadap pimpinan 
angkatan perang. Sementara dari kubu parlemen, salah satunya Manai Sophiaan, 
muncul mosi agar dilakukan reorganisasi di tubuh angkatan dan penghentian misi 
militer dengan Belanda.

Pada tanggal 16 Oktober 1952, Mosi Manai Sophiaan diterima oleh parlemen. 
Langkah parlemen inilah yang memicu tentara untuk mengorganisasikan kudeta 
terhadap parlemen. Sejarawan Soviet yang menulis Biografi Politik Soekarno, 
Maletin N.P dan Kapitsa M.S, menyebut pimpinan AD (angkatan darat) punya 
keinginan melakukan perebutan kekuasaan negara guna melahirkan “orde yang 
tegas”. Militer kemudian menuntut pembubaran apa yang dicapnya “Warung Kopi”.

Militer sendiri merancang dengan baik demonstrasi itu. Mereka mengorganisir 
preman, yang semasa Revolusi ikut andil membentuk laskar-laskar. Salah satu 
diantaranya: Corps Bambu Runcing (Cobra). Preman-preman itulah yang 
mengorganisir massa untuk dimobilisasi dalam aksi demonstrasi.

Selain menggelar demo dan mengerahkan militer, kelompok kudeta juga memutus 
jalur telpon, melarang pertemuan lebih dari 5 orang, dan memperpanjang jam 
malam. Sejumlah media kritis dibredel: Harian Merdeka, Madjalah Merdeka, Mimbar 
Indonesia, dan Berita Indonesia. Sejumlah anggota parlemen, seperti  Muhammad 
Yamin, Kasman, Sukiman, Sutan Makmur, Bebasa Daeng Lalo, dan A.B. Jusuf, juga 
ditangkap.

Meski demikian, kudeta menemui kegagalan. Bung Karno menolak memenuhi tuntutan 
perwira militer. Jawaban Bung Karno tegas: Saya tidak mau berbuat dan dikatakan 
sebagai diktator. Bung Karno menegaskan, siapa hendak memperkosa demokrasi, 
maka dia memperkosa kemerdekaan itu sendiri. “Siapa hendak diktator, dia akan 
digilas oleh rakyat sendiri. Bila kita tinggalkan demokrasi, negara kita ini 
akan hancur,” tegas Bung Karno.

Begitulah Bung Karno menanggapi aksi demonstrasi. Ia tetap tenang, tidak 
terpancing. Sebab, demonstasi adalah hak politik rakyat yang dijamin oleh 
Konstitusi.

Sigit Budiarto


Kirim email ke