http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38141450

Dukungan sekelompok WNI untuk referendum di Papua Barat
Isyana Artharini 
Wartawan BBC Indonesia
  a.. 30 November 2016
Kirim Bagikan artikel ini dengan
  a.. Email
  Bagikan artikel ini dengan Email a.. Facebook
  Bagikan artikel ini dengan Facebook a.. Messenger
  Bagikan artikel ini dengan Messenger a.. Messenger
  Bagikan artikel ini dengan Messenger a.. Twitter
  Bagikan artikel ini dengan Twitter a.. LinkedIn
  Bagikan artikel ini dengan LinkedIn a.. WhatsApp
  Bagikan artikel ini dengan WhatsApp a.. Line
  Bagikan artikel ini dengan Line Kopi tautan ini
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38141450Tentang berbagiTutup layar  
Image caption 
Kelompok FRI-West Papua menganjurkan "kepada rakyat Indonesia yang bermukim di 
tanah West Papua untuk mendukung perjuangan bangsa Papua dalam menentukan 
nasibnya sendiri". 
Sekelompok warga negara Indonesia yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia 
untuk Papua Barat (FRI-West Papua) menyatakan dukungan agar Papua Barat bisa 
menentukan nasib sendiri melalui mekanisme referendum. 

Iklan 
Dukungan itu rencananya akan disampaikan lewat aksi bersama di Jakarta dan 
beberapa kota lain pada Kamis 1 Desember nanti dengan berjalan dari kawasan 
Bundaran Hotel Indonesia ke Istana Negara dan rencananya akan dihadiri 200 
orang.

"Keanggotaan kami orang-orang Indonesia, walaupun kami tetap akan bekerjasama 
dengan orang-orang Papua, dengan organisasi Papua, dari segi mobilisasi massa 
maupun di dalam informasi, komunikasi," kata juru bicara FRI-West Papua, Surya 
Anta, dalam pernyataan pers di kantor LBH Jakarta, Selasa (29/11).

  a.. 'Satu Harga BBM' di Papua bisa jadi beban keuangan 
  b.. Kebakaran hutan di Papua: Korindo Group dituduh sengaja membakar
Menurutnya organisasi yang beranggotakan warga negara Indonesia yang bukan asal 
Papua itu memang sengaja 'menjadi proyek percontohan' bagi warga Indonesia 
dalam menanggapi isu kemerdekaan Papua Barat. 

"Masih banyak (warga Indonesia yang menganggap isu kemerdekaan Papua Barat) 
tabu, banyak yang setuju tapi takut, kami bagian dari yang setuju tapi tidak 
takut."

"Proyek percontohan kami adalah untuk membangkitkan kepercayaan diri dan 
melawan ketakutan supaya orang-orang lain yang bersolidaritas dan masih merasa 
takut atau berhati-hati untuk supaya bisa berani," kata Surya.

Image copyright BBC Indonesia 
Image caption 
Presiden Joko Widodo sedikitnya sudah lima kali mengunjungi Papua. 
Beberapa pejabat pemerintah Indonesia yang dihubungi BBC Indonesia menolak 
memberi komentar, antara juru bicara presiden Johan Budi dan Deputi V Bidang 
Politik, Hukum, Pertahanan Keamanan, dan HAM Kantor Kepresidenan, Jaleswari 
Pramodhawardani.

Sedangkan staf khusus presiden soal Papua, Lenis Kogoya, mengaku belum 
mengetahui tuntutan yang sebenarnya, "Saya tidak tahu masalahnya." 

Solidaritas untuk Papua
Surya memberi contoh bahwa dalam pengepungan asrama mahasiswa Papua di 
Yogyakarta oleh polisi, Juli 2016 lalu, warga setempat bersolidaritas dengan 
memberi makanan dan air minum bagi mahasiswa yang tak bisa keluar dari 
barikade. 

Namun dia menilai aksi solidaritas tersebut masih berupa sebagai inisiatif yang 
'berserak' sementara yang diperlukan adalah konsolidasi.

  a.. Mahasiswa Papua di Yogyakarta 'belum merasa aman' 
  b.. Dukung gerakan pembebasan Papua, ratusan aktivis ditangkap
"Yang kami lakukan dengan membentuk FRI-West Papua adalah aksi konsolidasi 
politik bahwa kami ingin menunjukkan tidak cukup bersolidaritas dengan cara 
yang minimal dan berserak," kata Surya. 

Kelompok ini juga menganjurkan kepada rakyat Indonesia yang bermukim di tanah 
Papua Barat untuk mendukung perjuangan bangsa Papua dalam menentukan nasibnya 
sendiri". 

Dalam dua tahun lebih masa jabatannya, Presiden Joko Widodo sedikitnya sudah 
lima kali mengunjungi Papua dan mengumumkan berbagai proyek infrastruktur besar 
di sana, termasuk pembangunan ruas jalan Nduga-Wamena di Kabupaten Nduga yang 
merupakan bagian dari target menghubungkan semua kabupaten di Provinsi Papua 
dengan jalur darat pada 2018.

Pada Oktober lalu, presiden juga mengeluarkan kebijakan satu harga BBM.

Namun, menurut Surya, pendekatan-pendekatan seperti ini 'tidak bisa menjawab' 
tuntutan atas pelaksanaan referendum di Papua Barat. 

Dalam aksi mereka 1 Desember nanti, menurut Surya, selain mengangkat masalah 
referendum di Papua Barat, mereka juga mendukung keanggotaan Persatuan Gerakan 
Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) 
di Melanesia Spearhead Group (MSG). 

MSG adalah sebuah blok regional yang meliputi Fiji, Vanuatu, Papua Nugini, dan 
Kepulauan Solomon. ULMWP mengajukan diri menjadi anggota penuh, dengan harapan 
gerakan mereka akan mendapat pengakuan lebih tinggi.

Kirim email ke