Senin 12 Dec 2016, 17:15 WIB

Federasi Guru Tetap Tolak Pelaksanaan Ujian Nasional Untuk Siswa

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Federasi Guru Tetap Tolak Pelaksanaan Ujian Nasional Untuk Siswa
 Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan pemerintah menolak pembatalan Ujian 
Nasional (UN). Federasi Serikat Guru I...  |   |

  |

  |

 

Ilustrasi siswa mengerjakan UN. Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan pemerintah menolak 
pembatalan Ujian Nasional (UN). Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menolak 
keputusan pemerintah itu.

"UN dianggap terbukti tidak mampu meningkatkan kualitas pendidikan seperti yang 
diklaim Wapres JK," ujar Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia 
(FSGI) Retno Listyarti dalam diskusi di gedung LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, 
Jakarta Pusat, Senin (12/12/2016).

Retno mengatakan kebijakan penilaian sebaiknya diserahkan kepada sekolah. Tidak 
hanya itu, sarana dan prasarana pendidikan belumlah merata di semua sekolah di 
Indonesia.

Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pasal 66 ayat (2), 
penyelenggaraan UN dengan standar soal berindikator sama merupakan perbuatan 
yang tidak berkeadilan.

Retno mengklaim sebagian guru tidak bangga atas hasil UN yang diraih oleh anak 
didiknya. Ada banyak pelanggaran yang dianggap terjadi selama UN seperti 
penyebaran kunci jawaban antar siswa hingga soal bocor.

"Hasil UN yang diharapkan adalah sebuah pemetaan mutu program dan/atau satuan 
pendidikan, tapi kenyataan yang didapat adalah pemetaan ketidakjujuran berbagai 
pihak sehingga ini pun termasuk pada pelanggaran Peraturan Pemerintah Republik 
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 pasal 68 huruf a," terangnya.

Panjangnya mata rantai distribusi soal UN juga berpotensi adanya soal bocor 
sebelum sampai ke tangan siswa. Termasuk penyebaran kunci jawaban melalui 
alat-alat teknologi.

"UN yang dijadikan sebagai penentu kelulusan peserta didik berpotensi dan 
memberi peluang serta menjadi faktor pendorong banyak pihak untuk tidak jujur, 
sehingga dalam masyarakat sudah berkembang pola pikir dan akan menjadi hukum 
kebiasaan berpendapat tentang UN di masyarakat yakni ada dua pilihan 'jujur 
tapi tidak lulus atau tidak jujur tapi lulus'," ucapnya.

Retno juga menyebut pelaksanaan UN tidak obyektif sehingga mutu lulusannya 
diragukan. Anggaran milyaran rupiah yang dikeluarkan pemerintah tidak sebanding 
dengan kepastian ukuran mutu pendidikan.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak menyetujui 
rencana moratorium ujian nasional (UN) yang digagas Mendikbud Muhadjir Effendy. 
Usulan moratorium UN diminta dikaji ulang.

"Ya hasilnya usulan moratorium itu tidak disetujui, tapi disuruh (juga) kaji 
ulang," ungkap Wapres JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta 
Pusat, Rabu (7/12/2016). 
(tfq/elz)

Kirim email ke