Menurut keterangan website Kemendikbud "Hasil UN tidak digunakan untuk penentu 
kelulusan siswa." tetapi kenapa kok berbeda dgn dibawah dikatakan sebagai 
"penentu kelulusan." Heran sekali, mana yang benar?
---Ketujuh, sebut Retno, UN yang dijadikan sebagai penentu kelulusan peserta 
didik akan menjadi faktor pendorong banyak pihak untuk tidak jujur. Walhasil, 
imbuhnya, dalam pola pikir masyarakat sudah terbentuk dua pilihan mengenai UN. 
Jujur tapi tidak lulus atau tidak jujur tapi lulus.
...
Ini Delapan Alasan Tolak Ujian Nasional
EditorHariman Kaimuddin
Posted on December 12, 2016 @23:49

FAJAR.CO.ID,JAKARTA – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendukung usulan 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terkait moratorium ujian 
nasional (UN). Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti mengatakan, ada delapan 
alasan sehingga moratorium UN perlu didukung.Pertama, UN terbukti tidak 
meningkatkan kualitas pendidikan seperti klaim  Wakil Presiden Jusuf Kalla. 
Sebab, kata Retno, UN secara pedagogis membuat pembelajaran dan pengajaran 
menjadi kering.“Kebijakan penilaian pendidikan sebaiknya diserahkan guru dan 
sekolah. Sementara pemerintah punya tanggung jawab mengembangkan kapasitas guru 
dalam mengajar dan menilai, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan 
dan otentik,” katanya, Senin (12/12).Kedua, dengan standar pendidik minimal 
strata satu (S1) dan belum memadainya sarana prasarana pendidikan, tidak 
mungkin soal UN yang dibuat berindikator sama untuk seluruh wilayah 
Indonesia.Ketiga, memaksakan diri menyelenggarakan UN berstandar soal dengan 
indikator yang sama adalah perbuatan tidak berkeadilan. Hal itu sebagaimana 
yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 
2005 pasal 66 ayat dua.“Keempat, sebagian besar guru Indonesia tidak bangga 
dengan hasil UN yang diraih anak didiknya,” katanya pesimistis.Kelima, hasil UN 
yang diharapkan adalah sebuah pemetaan mutu program atau satuan pendidikan. 
Namun, faktanya yang didapat adalah pemetaan ketidakjujuran berbagai 
pihak.Keenam, sepanjang UN dilaksanakan dengan rantaian yang panjang dari pusat 
ke daerah, peluang bocornya soal semakin besar. Karenanya penyebaran kunci 
jawaban antar-siswa sulit dibendung seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan 
dan teknologi belakangan ini.Ketujuh, sebut Retno, UN yang dijadikan sebagai 
penentu kelulusan peserta didik akan menjadi faktor pendorong banyak pihak 
untuk tidak jujur. Walhasil, imbuhnya, dalam pola pikir masyarakat sudah 
terbentuk dua pilihan mengenai UN. Jujur tapi tidak lulus atau tidak jujur tapi 
lulus.“Kedelapan, melalui UN yang pelaksanaannya tidak obyektif dan mutu 
kompetensi lulusan diragukan, maka biaya penyelenggaraannya sebesar ratusan 
miliar yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak sebanding dengan harapan 
kepastian pengukuran mutu dan  pencapaian tujuan pendidikan yaitu, mencerdaskan 
kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat,” 
tandas Retno. (Fajar/JPG)

Kirim email ke