Ni saya coba share kesini juga soal cara memajukan pendidikan dan mendidik 
tenaga siap pakai yang saya posting di milist sebelah.
Dimana katanya sangat rugi besar mengadakan UN, karena topograpi negara kita 
tidak sama, mending mendidik siswa siap pakai leawt SMK
--------------
Pemerintah mesti harus menambah lebih banyak lagi sekolah SMK, guna bisa 
mendapat nilai Plus pada siswa kususnya dalam bidang pekerjaan serta 
penemuan-penemuan.
Kalau anggaran terbatas minim jumlah siswa ditambah disetiap sekolah, dan 
jangan lupa guru-guru SMK dididik  supaya bisa menemukan sesuatu yang berguna 
untuk kehidupan.
Perlu juga guru gurunya SMK di training diluar negeri, yang tidak kalah 
pentingnya yaitu perlu diberi pelajaran budi pekerti pada siswa agar tidak 
terjadi tawuran setiap saat.
Buat apa pintar kalau kerjanya cuma tawuran saja.


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:44 AM
To: Yahoogroups
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Ujian Nasional Harus Dimoratorium



Selain itu, kata Itje, pelaksanaan UN hanya akan membuat proses belajar 
mengajar menjadi proses latihan soal saja. Kecerdasan anak pun dianggap masih 
di level terendah karena guru hanya mengajari anak menghafal soal agar lulus 
UN. Dampaknya adalah kemampuan anak untuk berpikir di level tertinggi menjadi 
tumpul karena latihan analisa diganti dengan hafalan saja
...
Edisi 13-12-2016
Ujian Nasional Harus 
Dimoratorium<http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=2&date=2016-12-13>

JAKARTA – Penolakan Wapres Jusuf Kalla atas wacana moratorium ujian nasional 
(UN) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) disayangkan 
banyak kalangan.

Mereka menilai pelaksanaan UN selama ini tidak memberikan kontribusi bagi 
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Sekjen Federasi Serikat Guru 
Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menyayangkan pernyataan Wapres dan menyerukan 
Presiden Jokowi mendukung Kemendikbud mematuhi keputusan Mahkamah Agung tentang 
UN yang sudah berketetapan hukum tetap (inkracht) sejak 2009.

”Niat baik Kemendikbud untuk mengusulkan moratorium UN sangat dinantikan banyak 
pihak untuk bisa terwujud. Peserta didik, pendidik, dan orang tua merasakan 
kebijakan UN selama ini tidak memberikan dampak positif bagi pengembangan 
kualitas pendidikan nasional. Hal ini terbukti dari banyaknya kegaduhan yang 
muncul menjelang, saat, dan sesudah pelaksanaan UN,” ujarnya di Jakarta 
kemarin. Dia mengatakan hari ini FSGI akan menyampaikan surat permohonan kepada 
Presiden Jokowi di Istana Negara. FSGI secara tegas mendesak kepada pemerintah 
untuk segera mengesahkan moratorium UN yang diusulkan Kemendikbud.

Menurutnya, ada beberapa alasan kenapa moratorium UN harus segera diberlakukan. 
Di antaranya, klaim JK yang menyatakan UN meningkatkan kualitas pendidikan 
tidak terbukti. Pasalnya, UN menyebabkan pembelajaran dan pengajaran menjadi 
kering karena proses belajar hanya direduksi dalam angka-angka nilai tiga atau 
empat mata pelajaran yang diujikan dalam UN. Pengamat pendidikan Itje Chodijah 
menyampaikan hingga saat ini belum lahir kebijakan komprehensif hasil pemetaan 
pendidikan dari UN. Padahal selama ini UN diselenggarakan setiap tahun.

Logikanya jika UN diselenggarakan tiap tahun, maka pemetaan pendidikan bisa 
dilakukansetiaptahunjuga.” Dengan hasilpemetaanUNyangsudahdikerjakan semestinya 
pemerintah harus fokus pada perbaikan standardanbukanlagi prosespelaksanaan 
UN-nya,” katanya. Itje mengatakan Nawacita Jokowi yang menghendaki pendidikan 
menghasilkan perubahan karakter menuntut adanya perubahan paradigma dalam 
pembangunan pendidikan di Indonesia. ”Jika UN masih ada, perubahan karakter 
tidak bisa tercapai,” tuturnya.

Selain itu, kata Itje, pelaksanaan UN hanya akan membuat proses belajar 
mengajar menjadi proses latihan soal saja. Kecerdasan anak pun dianggap masih 
di level terendah karena guru hanya mengajari anak menghafal soal agar lulus 
UN. Dampaknya adalah kemampuan anak untuk berpikir di level tertinggi menjadi 
tumpul karena latihan analisa diganti dengan hafalan saja. 
WakilKetuaKomisiXDPRSutanAdilHendra berpendapat, UN harus dimoratorium karena 
belum akurat sebagai alat mengukur kecerdasan siswa. Selain itu, amanat 
konstitusi sudah menyebut bahwa evaluator kemampuan siswa adalah guru dan bukan 
pemerintah melalui UN.

”Sia-sia saja apa yang sudah diajari guru karena keputusan lulus tidaknya murid 
itu bukan atas apa yang sudah diajarkan melainkan keputusan UN,” jelasnya. 
Politikus Gerindra ini menyampaikan, UN mengubah watak kerja keras siswa 
menjadi pembohong dan licik hanya untuk mengejar status lulus. Selama ini UN 
juga terlalu mengandalkan nilai kognitif yang tertulis dengan pada lembar 
jawaban. Apalagi, siswa merasa diteror akan suasana ujian yang penuh 
ketegangan. Dia pun setuju jika UN dihapus maka uangnya akan lebih bermanfaat 
untuk penambahan sarana prasarana sekolah.

Neneng zubaidah

Kirim email ke