Pada Rabu, 14 Desember 2016 3:30, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     
Dari sekian panjangnya nota keberatan yg benar2 berkaitan dgn masalah hanya 
bagian yg ini dan argumen yg sederhana saja. Selebihnya lebih ditujukan 
kemasyarakat dgn "menjual" hubungan yg baik dgn keluarga orang tua angkat yg 
Islam dan terutama ayah angkat yg adik Jend. M. Jusuf.
kutipan:Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, dimana saya diajukan 
di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu,  bukan 
dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama 
Islam, dan juga berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan itu, saya 
maksudkan, untuk para oknum politisi, yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, 
secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan 
Pilkada....Padahal, setelah saya tanyakan kepada teman-teman, ternyata ayat ini 
diturunkan pada saat adanya orang-orang muslim yang ingin membunuh Nabi besar 
Muhammad, dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan Yahudi di 
tempat itu. Jadi, jelas, bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena 
di NKRI, kepala pemerintahan, bukanlah kepala agama/Imam kepala.

---In [email protected], <ambon@...> wrote :

res :  Untuk menuduh seseorangsangat mudah, karena bisa  pakai alasan yang 
dibuat-buat. 
http://news.liputan6.com/read/2676687/isi-lengkap-nota-keberatan-ahok-dalam-persidangan?medium=Headline&campaign=Headline_click_3
  Isi Lengkap NotaKeberatan Ahok dalam Persidangan DelviraChaerani Hutabarat 13 
Des 2016, 10:12 WIB Tersangka dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja 
Purnama(Ahok) bersiap meninggalkan Gedung Kejagung, Jakarta, Kamis (1/12). Ahok 
keluarsetelah satu jam menjalani proses penyerahan berkas, barang bukti dan 
tersangka.(Liputan6.com/Gempur M Surya)   Liputan6.com, Jakarta Basuki Tjahaja 
Purnama atauAhok meneteskan air mata saat membacakan eksepsi atau nota 
keberatan atasdakwaan penistaan agama yang didakwakan Jaksa PenuntutUmum. "Saya 
tidak habis pikir mengapa saya bisa dituduhsebagai penista agama Islam," kata 
Ahok dalam sidang di gedung eks PengadilanNegeri Jakarta Pusat, Selasa 
(13/12/2016). Ahok mulai menangis saat teringat orangtuaangkatnya yang muslim. 
Dia menceritakan tumbuh kembangnya di keluarga muslim.Dia diangkat anak oleh 
Andi Baso Amier, yang tak lain adalah mantan Bupati Bone,tahun 1967 sampai 
tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, almarhumJenderal TNI Purn 
Muhammad Jusuf. "Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpahuntuk menjadi 
saudara sampai akhir hayatnya. Kecintaan kedua orangtua angkatsaya kepada saya, 
sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini,"tutur Ahok. Berikut 
isi lengkap Nota Keberatan Ahok yangdibacakan Ahok dalam persidangan: Bapak 
Ketua Majelis Hakim, dan Anggota MajelisHakim yang saya muliakan, Sdr. Jaksa 
Penuntut Umum yang sayahormati, Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang 
sayahormati, Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasihkepada Majelis 
Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepadaSaya. Berkaitan dengan persoalan 
yang terjadi saat ini,dimana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang 
saya utarakan diKepulauan Seribu,  bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat 
Al-Maidah 51apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk 
menghina para Ulama.Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum 
politisi, yang memanfaatkanSurat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak 
mau bersaing secara sehatdalam persaingan Pilkada. Ada pandangan yang 
mengatakan, bahwa hanya orangtersebut dan Tuhan lah, yang mengetahui apa yang 
menjadi niat pada saat orangtersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam 
kesempatan ini di dalam sidangyang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa 
yang menjadi niat saya padasaat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut. 
Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya, yangbisa memberikan persepsi, atau 
tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang sayaniatkan, atau dengan apa yang 
saya maksudkan pada saat saya berbicara diKepulauan Seribu. Majelis Hakim yang 
sayamuliakan. Ijinkan saya untuk membacakan salah satuSub-judul dari buku saya, 
yang berjudul “Berlindung Dibalik ayat suci” ditulispada tahun 2008. Saya harap 
dengan membaca tulisan di buku tersebut, niat sayayang sesungguhnya bisa 
dipahami dengan lebih jelas, isinya sebagai berikut, sayakutip: Selama karir 
politik saya dari mendaftarkan dirimenjadi anggota partai baru, menjadi ketua 
cabang, melakukan verifikasi, sampaimengikuti Pemilu, kampanye pemilihan 
Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayatyang sama yang saya begitu kenal 
digunakan untuk memecah belah rakyat, dengantujuan memuluskan jalan meraih 
puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan “rohkolonialisme”. Ayat ini sengaja 
disebarkan oleh oknum-oknumelit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi 
program, dan integritaspribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat 
suci itu, agar rakyatdengan konsep “seiman” memilihnya. Dari oknum elit yang 
berlindung dibalik ayat suciagama Islam, mereka menggunakan surat Almaidah 51. 
Isinya, melarang rakyat,menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin 
mereka, dengan tambahan,jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin. Intinya, 
mereka mengajak agarmemilih pemimpin dari kaum yang seiman. Padahal, setelah 
saya tanyakan kepadateman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya 
orang-orang muslimyang ingin membunuh Nabi besar Muhammad, dengan cara membuat 
koalisi dengankelompok Nasrani dan Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas, bukan 
dalam rangkamemilih kepala pemerintahan, karena di NKRI, kepala pemerintahan, 
bukanlahkepala agama/Imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, 
dibalikayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat Galatia 6:10. 
Isinya,selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua 
orang,tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Saya tidak tahu apa yang 
digunakan oknum elit diBali yang beragama Hindu, atau yang beragama Budha. 
Tetapi saya berkeyakinan,intinya, pasti, jangan memilih yang beragama lain atau 
suku lain atau golonganlain, apalagi yang ras nya lain. Intinya, pilihlah yang 
seiman/sesama kita(suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang 
lebih kasar lagi,pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan, karena 
dianggap kafir, ataunajis, atau binatang! Karena kondisi banyaknya oknum elit 
yangpengecut, dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi, dan akhirnya 
mengandalkanhitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya, 
sumber dayamanusia dan ekonomi yang kita sia-siakan. Seorang putra terbaik 
bersuku Padangdan Batak Islam, tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. 
Apalagi di Papua.Hal yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin 
di Aceh atauPadang. Kondisi inilah yang memicu kita, tidakmendapatkan pemimpin 
yang terbaik dari yang terbaik. Melainkan kita mendapatkanyang buruk, dari yang 
terburuk, karena rakyat pemilih memang diarahkan, diajari,dihasut, untuk 
memilih yang se-SARA saja. Singkatnya, hanya memilih yang seiman(kasarnya yang 
sesama manusia). Demikian kutipan dari buku yang saya tulistersebut. Majelis 
Hakim yang sayamuliakan. Dalam kehidupan pribadi, saya banyak 
berinteraksidengan teman-teman saya yang beragama Islam, termasuk dengan 
keluarga angkatsaya Almarhum Haji Andi Baso Amier yang merupakan keluarga 
muslim yangtaat. Selain belajar dari keluarga angkat saya, sayajuga belajar 
dari guru-guru saya, yang taat beragama Islam dari kelas 1 SDNegeri, sampai 
dengan kelas 3 SMP Negeri. sehingga sejak kecil sampai saatsekarang, saya tahu 
harus menghormati Ayat-Ayat suciAlquran. Jadi saya tidak habis pikir, mengapa 
saya bisadituduh sebagai penista Agama Islam. Saya lahir dari pasangan keluarga 
non-muslim,Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam 
dan Bun NenCaw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam 
asal Bugis,bernama Bapak Haji Andi Baso Amier , dan Ibu Hajjah Misribu binti 
Acca. Ayahangkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 
sampai tahun1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal 
TNI (Purn.)Muhammad Jusuf. Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpahuntuk 
menjadi saudara sampai akhir hayatnya. Kecintaan kedua orangtua angkat saya 
kepada saya,sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini. Bahkan 
uang pertama masuk kuliah S2 saya diPrasetya Mulya, dibayar oleh kakak angkat 
saya, Haji AnaltaAmir. Saya seperti orang yang tidak tahu berterimakasih, 
apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakakangkat 
saya yang Islamnya sangat taat. Saya sangat sedih, saya dituduh menista 
agamaIslam, karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang 
tuaangkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, 
danjuga sangat sayang kepada saya. Itu sebabnya ketika Ibu angkat saya 
meninggal,saya ikut seperti anak kandung, mengantar dan mengangkat keranda 
beliau, dariambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan 
terakhirnya, diTaman Pemakaman umum Karet Bivak. Sampai sekarang, saya rutin 
berziarah ke makamIbu angkat, di Karet Bivak. Bahkan saya tidak mengenakan 
sepatu atau sendal saatberziarah, untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang 
tua dan saudara angkatsaya itu. Yang membuat saya juga selalu 
mengingatalmarhumah Ibu angkat saya, adalah peristiwa, pada saat saya maju, 
sebagai calonwakil Gubernur  DKI Jakarta tahun 2012. Pada hari pencoblosan, 
walaupun Ibu angkat saya,sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit, 
dengan menggunakan mobilkakak angkat saya Haji Analta, ibu angkat saya, 
sengaja, meminta mendatangitempat pemungutan suara untuk memilih saya. Padahal 
kondisinya sudah begitukritis. Dari tempat pemungutan suara, barulah 
beliaulangsung, menuju ke rumah sakit, untuk perawatan lebih lanjut diICU. 
Setelah dirawat selama 6 (enam) hari, Ibu berdoadan berkata kepada saya dan 
masih terus saya  ingat dan masih akan sayaingat, kata beliau: “Saya tidak rela 
mati sebelum kamu menjadi gubernur. Anakku,jadilan gubernur yang melayani 
rakyat kecil." Ternyata Tuhan mengabulkan doa Ibu angkatsaya. Beliau berpulang 
tanggal 16 Oktober 2014, setelahada kepastian Bapak Jokowi menjadi Presiden, 
dan saya juga sudah dipastikanmenjadi Gubernur, menggantikan Bapak Jokowi. 
Pesan dari Ibu angkat saya selalusaya camkan , dalam menjalankan tugas saya, 
sebagai Gubernur DKIJakarta. Majelis Hakim yang sayamuliakan. Sebelum menjadi 
pejabat, secara pribadi, sayasudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid 
di Belitung Timur, dankebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat 
sebagai Anggota DPRDTingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati 
Belitung Timur. Sayasudah menerapkan banyak program membangun Masjid, Mushollah 
dan Surau, danbahkan merencanakan membangun Pesantren, dengan beberapa Kyai 
dari Jawa Timur.Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat 
publik minimal 2,5%untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai 
pembayaran Zakat,termasuk menyerahkan hewan Qurban atau bantuan daging di Hari 
Raya Idul Fitridan Idul Adha. Saya juga mengeluarkan 
kebijakan-kebijakan,termasuk untuk menggaji guru-guru mengaji, dan menghajikan 
PenjagaMasjid/Musholla (Marbot atau Muadzin) dan Penjaga Makam. Hal-hal yang 
telah saya lakukan di BelitungTimur, saat menjabat sebagai Bupati, saya 
teruskan ketika tidak menjadi Bupatilagi, sampai menjadi anggota DPR RI daerah 
pemilihan (dapil) Bangka Belitung,sebagai Wakil Gubernur dan juga, sebagai 
Gubernur DKI Jakarta saat ini pun tetapsaya lakukan. Ketika menjadi Gubernur 
DKI Jakarta, saya jugamembuat banyak kebijakan, diantaranya kebijakan agar di 
bulan Suci Ramadhan,para PNS dan honorer, bisa pulang lebih awal, dari aturan 
lama jam 15.00 WIBsaya ubah menjadi jam 14.00 WIB, agar umat Muslim dapat 
berbuka puasa bersamakeluarga di rumah, sholat magrib berjamaah, dan bisa 
tarawih bersamakeluarganya. Saya juga ingin melihat Balaikota mempunyaiMasjid 
yang megah untuk PNS, sehingga bisa melaksanakan ibadahnya, ketikabekerja di 
Balaikota. Karena itu, Pemda membangun Masjid Fatahillah diBalaikota. Di semua 
rumah susun (rusun) yang dibangun PEMDA,juga dibangun Masjid. Bahkan di Daan 
Mogot, salah satu rusun yang terbesar, kamitelah membangun Masjid besar, dengan 
bangunan seluas 20.000 m2, agar mampumenampung seluruh umat muslim yang tinggal 
di rusun Daan Mogot. Kami jadikanmasjid tersebut sebagai salah satu Masjid Raya 
di Jakarta. Kami akan terus, membangun Masjid Raya/besar, disetiap rusun, kami 
akan terus membantu perluasan Masjid yang ada, dengan caraPEMDA akan membeli 
lahan yang ada di sekitar Masjid, sebagaimana beberapa kalitelah saya sampaikan 
dalam pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam maupunPengurus Dewan Masjid 
Indonesia di Balaikota. Para Marbot dan penjaga makam juga PEMDAUmrohkan. Kami 
juga membuat kebijakan bagi PNS, menjadi pendamping Haji kloterDKI Jakarta. 
Saya berharap bisa melaksanakan amanah orang tuadan orang tua angkat saya untuk 
melanjutkan tugas saya sebagai Gubernur diperiode yang akan datang, sehingga 
cita-cita saya untuk memakmurkan umat Islamdi Jakarta dapat terwujud. Majelis 
Hakim yang sayamuliakan. Saya berani mencalonkan diri sebagai Gubernur,sesuai 
dengan amanah yang saya terima dari almarhum Gus Dur, bahwa Gubernur itubukan 
pemimpin tetapi pembantu atau pelayan masyarakat. Itu sebabnya, dalam pidato 
saya setelah pidatoalmarhum Gus Dur pada tahun 2007, saya juga mengatakan bahwa 
menjadi calonGubernur, sebetulnya saya melamar untuk menjadi pembantu atau 
pelayanrakyat. Apalagi, saya melihat adanya fakta, bahwa adacukup banyak partai 
berbasis Islam, seperti di Kalimantan Barat, Maluku Utara,dan Solo juga 
mendukung calon Gubernur, Bupati, Walikota non-Islam didaerahnya. Untuk itu, 
saya mohon ijin kepada Majelis Hakim,untuk memutar video Gus Dur yang meminta 
masyarakat memilih Ahok sebagaiGubernur saat Pilkada Bangka Belitung tahun 
2007, yang berdurasi sekitar 9(Sembilan) menit. Majelis Hakim yang 
sayamuliakan. Saya ini hasil didikan orang tua saya, orang tuaangkat saya, 
Ulama Islam di lingkungan saya, termasuk Ulama Besar yang sangatsaya hormati, 
yaitu Almarhum Kyai Haji Abdurahman Wahid. Yang selalu berpesan, menjadi 
pejabat publiksejatinya adalah menjadi pelayan masyarakat. Sebagai pribadi yang 
tumbuh besardi lingkungan umat Islam, tidaklah mungkin saya mempunyai niat 
untuk melakukanpenistaan Agama Islam dan menghina para Ulama, karena sama saja, 
saya tidakmenghargai, orang-orang yang saya hormati dan saya sangatsayangi. 
Majelis Hakim yang sayamuliakan. Apa yang saya sampaikan di atas, adalah 
kenyataanyang sungguh-sungguh terjadi. Dan saya juga berharap penjelasan saya 
ini, bisamembuktikan tidak ada niat saya, untuk melakukan penistaan terhadap 
Umat Islam,dan penghinaan terhadap para Ulama. Atas dasar hal tersebut, bersama 
ini sayamohon, agar Majelis Hakim yang Mulia, dapat mempertimbangkan Nota 
Keberatan sayaini, dan selanjutnya memutuskan, menyatakan dakwaan Saudara Jaksa 
Penuntut Umumtidak dapat diterima, atau batal demi hukum. sehingga saya dapat 
kembali,melayani warga Jakarta dan membangun kota Jakarta. Majelis Hakim yang 
Mulia, terima kasih atasperhatiannya. Kepada Jaksa Penuntut Umum, serta 
Penasehat Hukum, saya jugaucapkan terima kasih. Jakarta, 13 Desember 2016 
Hormat saya, Basuki Tjahaja Purnama    #yiv5720255771 #yiv5720255771 -- 
#yiv5720255771ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mkp #yiv5720255771hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mkp #yiv5720255771ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mkp .yiv5720255771ad 
{padding:0 0;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mkp .yiv5720255771ad p 
{margin:0;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mkp .yiv5720255771ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-sponsor 
#yiv5720255771ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-sponsor #yiv5720255771ygrp-lc #yiv5720255771hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-sponsor #yiv5720255771ygrp-lc .yiv5720255771ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5720255771 #yiv5720255771actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5720255771
 #yiv5720255771activity span {font-weight:700;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv5720255771 #yiv5720255771activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5720255771 #yiv5720255771activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv5720255771 #yiv5720255771activity span 
.yiv5720255771underline {text-decoration:underline;}#yiv5720255771 
.yiv5720255771attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv5720255771 .yiv5720255771attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv5720255771 .yiv5720255771attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5720255771 .yiv5720255771attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5720255771 .yiv5720255771attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv5720255771 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv5720255771 .yiv5720255771bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5720255771 
.yiv5720255771bold a {text-decoration:none;}#yiv5720255771 dd.yiv5720255771last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5720255771 dd.yiv5720255771last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5720255771 
dd.yiv5720255771last p span.yiv5720255771yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv5720255771 div.yiv5720255771attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv5720255771 div.yiv5720255771attach-table 
{width:400px;}#yiv5720255771 div.yiv5720255771file-title a, #yiv5720255771 
div.yiv5720255771file-title a:active, #yiv5720255771 
div.yiv5720255771file-title a:hover, #yiv5720255771 div.yiv5720255771file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5720255771 div.yiv5720255771photo-title a, 
#yiv5720255771 div.yiv5720255771photo-title a:active, #yiv5720255771 
div.yiv5720255771photo-title a:hover, #yiv5720255771 
div.yiv5720255771photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5720255771 
div#yiv5720255771ygrp-mlmsg #yiv5720255771ygrp-msg p a 
span.yiv5720255771yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5720255771 
.yiv5720255771green {color:#628c2a;}#yiv5720255771 .yiv5720255771MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv5720255771 o {font-size:0;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771photos div {float:left;width:72px;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5720255771
 #yiv5720255771reco-category {font-size:77%;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771reco-desc {font-size:77%;}#yiv5720255771 .yiv5720255771replbq 
{margin:4px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-mlmsg select, #yiv5720255771 input, #yiv5720255771 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-mlmsg pre, #yiv5720255771 code {font:115% 
monospace;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-mlmsg #yiv5720255771logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-msg 
p#yiv5720255771attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-reco #yiv5720255771reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-sponsor 
#yiv5720255771ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-sponsor #yiv5720255771ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-sponsor #yiv5720255771ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv5720255771 #yiv5720255771ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5720255771 
#yiv5720255771ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv5720255771 

   

Kirim email ke