Satu Siswa Korban Pembacokan Kelompok Bercadar Meninggal Rabu, 14 Desember 2016 | 12:41
http://sp.beritasatu.com/home/satu-siswa-korban-pembacokan-kelompok-bercadar-meninggal/117727 Ilustrasi penusukan [google] Berita Terkait § Polsek Cakung Bekuk Pria Cabuli Remaja § Pembina Pramuka SMP Cabuli Anak Didiknya Di Bekasi § Polisi Amankan Artis SJ Dugaan Pencabulan § Paman Cabuli Keponakan yang Masih Bocah Di Bekasi [YOGYAKARTA] Satu dari tujuh korban pembacokan kelompok bercadar, Adnan Wirawan, siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, meninggal dunia, Selasa (13/12) malam akibat luka parah pada punggung. Sedangkan enam lainnya, yang juga siswa di SMA yang sama, masih dalam perawatan. Ketujuh siswa korban pembacokan dari rombongan yang berjumlah 20 orang, diketahui mengalami kejadian naas di kawasan Jalan Imogiri-Panggang, sepulang dari Pantai Ngandong Gunungkidul, Senin (12/12) petang. Kasatreskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo dalam keterangan persnya Selasa (13/12) sore, menjelaskan atas kejadian tersebut, sudah diamankan lima remaja terduga sebagai pelaku, yang juga berstatus sebagai pelajar kelas XI di sejumlah SMA swasta di Yogyakarta. Kelimanya berinisial KM, warga Condongcatur Sleman, DP, warga Kalasan Sleman, MAS warga Danurejan Yogya, MDR warga Kalasan, dan RS warga Gedongtengen Yogya. Pelaku ditangkap di rumah masing-masing tanpa perlawanan. “Ada beberapa yang kami tangkap di luar rumah,” ujar Anggaito. Penangkapan awal, dilakukan terhadap pelaku berinisial KM dan DP. Dari keterangan keduanya, petugas mengamankan tiga pelaku lain. Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan, karena dari penuturan korban, jumlah pelaku mencapai belasan. “Menurut saksi korban, motor pelaku sekitar delapan unit. Jadi jika mereka berboncengan, pelakunya bisa jadi belasan,” ucapnya. Namun, dari penangkapan lima tersangka, Polisi hanya berhasil mengamankan satu senjata tajam, yakni clurit milik KM. Sementara menurut saksi, pelaku penyerangan, menggunakan beberapa senjata tajam, termasuk pedang. Selain itu, pihak kepolisian juga mengamankan tiga unit sepeda motor merk Honda Vario, Honda Scoopy, dan Kawasaki KLX tanpa nomor polisi. Anggaito memastikan, pihaknya masih mengorek keterangan terkait motiv penyerangan, karena antara pelaku dan korban tidak saling kenal. "Korban dan pelaku tidak saling kenal. Tetapi jika melihat persiapan dengan membawa sajam dan tutup muka, bisa kita dianalogikan mereka ingin membuat masalah,” jelas Anggaito. Untuk sementara, kelima pelaku akan dijerat UU Perlindungan Anak dan Pasal 169 Jo 170 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama 7 tahun. Sementara itu, di Kabupaten Sleman, kekerasan terhadap remaja juga terjadi pada Selasa (13/12) siang. Seorang pelajar SMAN 3 Yogyakarta, M Fahri (18) mengalami luka pada bagian hidung setelah dihajar oleh salah satu siswa dari SMA Gadjah Mada berinisial SP (19). Dijelaskan Kapolsek Pakem, Kompol Sudaryanto, aksi penganiayaan itu terjadi saat sepuluh siswa dari SMKN 3 Yogya pulang dari berwisata di Kaliurang. Sesampainya di Jalan Palagan kilometer 15, Pakem, mereka berpapasan dengan enam pelajar dari sekolah lain yang datang dari arah selatan. Menurut keterangan salah satu pelaku, kejadian tersebut berawal dari salah paham. Saat berpapasan pelaku merasa tersinggung karena korban melihat dirinya. Setelah itu para pelaku berputar balik dan langsung mengejar korban dan langsung melakukan penganiayaan. “Pelaku sempat menanyakan kepada korban dari sekolah mana, kemudian saat dijawab pelaku langsung menghajar korban. Dua pelaku berhasil diamankan sementara empat lainnya melarikan diri,” ujar Sudaryanto. Sementara, pada Minggu (11/12) juga terjadi penganiayaan pada empat remaja, yakni yakni Yuda (17), Ahmat (17), dan Imam Sarif (18) warga Trihanggo Gamping Sleman, serta Fajar (19) warga Ngampilan, Yogyakarta. Keempatnya sedang berolah-raga di Jalan Kabupaten Gamping, Sleman, tiba-tiba mendapat serangan dari orang tak dikenal, bahkan ditembaki dengan senjata airsoftgun. Kapolsek Gamping, Kompol Herwinedi membenarkan hal tersebut dan menyatakan, dua korban mengadukan hal tersebut pada Senin (12/12). Pelaku penyerangan terdiri dari tiga orang, satu diantaranya membawa senjata dan satu orang membawa pedang. Saat para korban tengah berkumpul, tiba-tiba pelaku pembawa airsoftgun menembaki korban. Dari informasi yang didapat, korban Yuda tertembak di bagian kaki. Ahmat, tertembak di pipi sebelah kanan dan Imam terkena tembakan di perut. “Korban sempat melakukan perlawanan dan dapat merebut senjata airsoftgun dari tangan pelaku. Pelaku yang membawa pedang sempat akan menyerang para korban,namun langsung melarikan diri,” ujar Herwinadi. Sampai saat ini, Polisi masih memburu pelaku, namun dari keterangan ciri-ciri pelaku yang disampaikan saksi, Polisi sudah bisa memastikan siapa pelakunya. Menanggapi aksi kenakalan remaja yang mengarah pada tindak kriminal tersebut, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol Frans Tjahyono menyatakan, bahwa aksi klithih atau kejahatan jalanan yang dilakukan remaja, kian hari makin sering terjadi. “Ini menjadi perhatian serius bagi jajaran Polda DIY,” ujarnya. Jajaran Ditreskrimum dengan jajaran terkait baik dari reskrim Polres dan Reskrim Polsek sudah melakukan tindakan guna mempersempit ruang gerak pelaku klithih dengan partoli di beberapa pusat yang sering dijadikan lokasi pertemuan remaja klithih. “Namun kalau baru akan berbuat, pelajar-pelajar ini hanya kita kenakan sanksi pembinaan,” katanya. Jika sudah mengarah pada tindak kriminal, Kepolisian akan mengusut sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. [152]
