Makin cepat MUI dibubarkan, akan makin selamat persatuan rakyat Indonesia. MUI
sumber perpecahan bangsa.
Pada Senin, 19 Desember 2016 17:32, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Perdebatan Sinterklas, dari fatwa MUI hingga strategi dagang
ADDRESS:
Oleh : Muammar Fikrie @fikrie
| 16:00 WIB - Senin , 19 Desember 2016
Perajin menyelesaikan pembuatan patung Sinterklas di kawasan Jalan Arjuna, Kota
Denpasar, Bali, Selasa (13/12). Menjelang Natal, patung Sinterklas yang dijual
Rp2-4 juta itu ramai dipesan oleh Gereja, Hotel dan pusat perbelanjaan.
Jelang akhir tahun, atribut Natal --macam topi Sinterklas-- lazim menghiasi
pusat-pusat perbelanjaan. Nyaris tiap tahun pula soal atribut Natal ini jadi
kontroversi di Indonesia.Tahun ini, kontroversi kembali mencuat, beriring fatwa
Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam surat bernomor 56 tahun 2016 (14 Desember
2016), MUI berfatwa, "Menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah
haram".Meski tak spesifik menyinggung atribut Natal, tetapi momen rilisnya
fatwa menyiratkan tendensi untuk menyasar pernak-pernik di sekitar hari besar
umat Kristiani itu.Sejumlah daerah turut menggenapi perkara ini dengan
mengeluarkan imbauan agar perusahaan-perusahaan tidak memaksa karyawan
menggunakan atribut natal. Misal yang terjadi di Bandung, dan Padang.Fatwa MUI
juga memicu razia sejumlah organisasi masyarakat (ormas).Seperti yang terjadi
di Surabaya, Jawa Timur, saat massa Front Pembela Islam (FPI) mendatangi
pusat-pusat perbelanjaan dengan dalih menyiarkan fatwa MUI, Minggu (18/12).
Bahkan, pihak kepolisian ikut mengawal aksi itu, seperti ditulis Merdeka.com.Di
Bekasi, polisi malah melangkah lebih jauh. Kepolisian Resor Bekasi ikut
mengimbau pengusaha agar tidak memaksa pengenaan atribut keagamaan non-Muslim
kepada pegawai beragama Islam.Hal itu tertuang dalam surat bernomor
B/4240/XII/2016/Resort Bekasi Kota (15 Desember 2016), yang diteken Kapolres,
Komisaris Besar Umar Surya Fana. Surat tersebut turut menyertakan fatwa MUI
sebagai dasar pertimbangan --seolah memosisikan organisasi para ulama itu
sebagai lembaga negara.Hal yang sama juga dilakukan Polres Kulon Progo, DI
Yogyakarta.Alhasil, muncul kekhawatiran bila surat macam itu bisa jadi jalan
masuk bagi ormas intoleran melakukan razia. "Saya justru khawatir imbauan
semacam ini bisa disalahgunakan oleh kelompok tertentu untuk razia," kata
Komisioner Komisi Kepolisian Nasional, Poengky Indarti, dikutip Berita
Satu.Edaran atribut natal itu juga bikin berang Kepala Polri, Jenderal Tito
Karnavian. Tito langsung menegur Polres-Polres yang mengeluarkan edaran
--sekaligus mencabutnya."Fatwa MUI bukan rujukan hukum positif, (tapi) itu
sifatnya koordinasi, bukan rujukan kemudian ditegakkan. Jadi langkah-langkahnya
koordinasi, bukan mengeluarkan surat edaran yang bisa menjadi produk hukum bagi
semua pihak," kata Tito, dikutip Kompas.com.
Mendebat fatwa MUI
Di media sosial, sejumlah akun berpengaruh bereaksi atas fatwa MUI soal atribut
natal.Pegiat Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, menyebut bahwa fatwa MUI bukan
sesuatu yang mengikat umat Muslim.
Putri mendiang Gus Dur itu mengibaratkan posisi MUI sama dengan ormas Islam
lain macam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah."Fatwa Muhammadiyah: rokok
haram. Di NU fatwa itu tidak diikuti. Fatwa MUI ya setara itu. Tidak mengikat
semua umat," tulis @AlissaWahid (205 ribu pengikut), memberi contoh.Tokoh NU,
Mustofa Bisri (Gus Mus, 824 ribu pengikut) pun mengingatkan bahwa MUI bukan
lembaga negara. Karena ketidak-tahuan, kata Gus Mus, banyak orang yang
menganggap fatwa dari MUI sebagai sesuatu yang mengikat.Pengurus cabang
istimewa NU Amerika Serikat, Akhmad Sahal (@sahal_as, 104 ribu pengikut),
menyebar kembali 40 seri kicauannya ihwal topi Sinterklas. Serial kicauan itu
masih relevan, meski sebenarnya telah dibagikan sejak setahun silam, saat topik
rutin ini mengemuka.Dalam serial kicauannya, Sahal membenarkan bahwa ada hadis
yang menyoal perkara tasyabbuh (penyerupaan). "Sesiapa menyerupai suatu kaum,
ia adalah bagian dari mereka," demikian terjemahannya.Akan tetapi, Sahal
menolak menggunakan hadis itu sebagai dalil untuk mengharamkan penggunaan
atribut Natal, macam topi Sinterklas. Menurutnya, untuk melihat sebuah laku
penyerupaan, harus pula dilihat motif di baliknya.Kata dia, seseorang yang
menggunakan topi Sinterklas tanpa tujuan mengimani sesuatu di luar Islam, tak
bisa disalahkan --apalagi sampai menyebut perilaku itu haram.Lebih lanjut,
Sahal menyebut topi Sinterklas tak bisa pula diidentikkan dengan Kristen.
Sebab, dalam praktiknya, atribut itu lebih dekat dengan strategi perdagangan.
"Topi Santa saat ini tak lebih dari aksesori komodifikasi kapitalisme.
Munculnya hanya saat natal, karena itu strategi dagang kaum kapitalis," kata
dia.Pandangan Sahal tiada berlebihan, bila menengok sejarah Sinterklas. Tokoh
itu tak pernah disebut dalam injil. Legenda tentangnya bermula dari pendeta
Santo Nikolas dari Myra (sekarang masuk wilayah Turki), yang suka memberikan
sumbangan pada warga miskin.Adapun karakter Sinterklas modern yang kita kenal
saat ini, berpangkal dari kartun karya seniman Amerika Serikat, Thomas Nast
pada tahun 1800-an. Nast membuat kartun itu untuk majalah Harper's Weekly, guna
menyambut Natal.Karakter Sinterklas lantas dipakai dalam banyak iklan, satu
yang paling menonjol iklan Coca-Cola pada era 1930-an. Sejak itu, sosok
berjanggut, berjubah merah, dan tambun itu jadi ikon tiap kali Natal dan tahun
baru datang.Di pusat perbelanjaan, Sinterklas hadir beriring dengan riuh
promosi dan diskon pelbagai produk. Penulis kawakan, Goenawan Mohamad, pernah
menulis soal itu lewat kolom "Catatan Pinggir" di Tempo (15 Desember
2014).Menyikapi rentetan kasus teranyar, Goenawan (@gm_gm, 789 ribu pengikut)
ikut mengingatkan agar FPI --dan polisi yang mengizinkan razia atribut Natal di
pusat perbelanjaan-- segera kembali ke akal sehat.Pun kata dia, "iman yang
kuat, tak akan terusik oleh roti dan topi".
#yiv3599108184 #yiv3599108184 -- #yiv3599108184ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-mkp #yiv3599108184hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mkp #yiv3599108184ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mkp .yiv3599108184ad
{padding:0 0;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mkp .yiv3599108184ad p
{margin:0;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mkp .yiv3599108184ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-sponsor
#yiv3599108184ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-sponsor #yiv3599108184ygrp-lc #yiv3599108184hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-sponsor #yiv3599108184ygrp-lc .yiv3599108184ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3599108184 #yiv3599108184actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3599108184
#yiv3599108184activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3599108184
#yiv3599108184activity span {font-weight:700;}#yiv3599108184
#yiv3599108184activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3599108184 #yiv3599108184activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3599108184 #yiv3599108184activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3599108184 #yiv3599108184activity span
.yiv3599108184underline {text-decoration:underline;}#yiv3599108184
.yiv3599108184attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3599108184 .yiv3599108184attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3599108184 .yiv3599108184attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3599108184 .yiv3599108184attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3599108184 .yiv3599108184attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3599108184 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3599108184 .yiv3599108184bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3599108184
.yiv3599108184bold a {text-decoration:none;}#yiv3599108184 dd.yiv3599108184last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3599108184 dd.yiv3599108184last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3599108184
dd.yiv3599108184last p span.yiv3599108184yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3599108184 div.yiv3599108184attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3599108184 div.yiv3599108184attach-table
{width:400px;}#yiv3599108184 div.yiv3599108184file-title a, #yiv3599108184
div.yiv3599108184file-title a:active, #yiv3599108184
div.yiv3599108184file-title a:hover, #yiv3599108184 div.yiv3599108184file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3599108184 div.yiv3599108184photo-title a,
#yiv3599108184 div.yiv3599108184photo-title a:active, #yiv3599108184
div.yiv3599108184photo-title a:hover, #yiv3599108184
div.yiv3599108184photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3599108184
div#yiv3599108184ygrp-mlmsg #yiv3599108184ygrp-msg p a
span.yiv3599108184yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3599108184
.yiv3599108184green {color:#628c2a;}#yiv3599108184 .yiv3599108184MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3599108184 o {font-size:0;}#yiv3599108184
#yiv3599108184photos div {float:left;width:72px;}#yiv3599108184
#yiv3599108184photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3599108184
#yiv3599108184photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3599108184
#yiv3599108184reco-category {font-size:77%;}#yiv3599108184
#yiv3599108184reco-desc {font-size:77%;}#yiv3599108184 .yiv3599108184replbq
{margin:4px;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-mlmsg select, #yiv3599108184 input, #yiv3599108184 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-mlmsg pre, #yiv3599108184 code {font:115%
monospace;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-mlmsg #yiv3599108184logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-msg
p#yiv3599108184attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-reco #yiv3599108184reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-sponsor
#yiv3599108184ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-sponsor #yiv3599108184ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-sponsor #yiv3599108184ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3599108184 #yiv3599108184ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3599108184
#yiv3599108184ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3599108184