http://www.suara-islam.com/read/index/20925/Surat-Terbuka-untuk-Presiden--Kenapa-Umat-Islam-Pendukung-Aksi-212-Terus-Dipanggil-Polisi--
Surat Terbuka untuk Presiden: Kenapa Umat Islam Pendukung Aksi 212 Terus 
Dipanggil Polisi?

Senin, 26/12/2016 11:41:51 | Dibaca : 5462
Ilustrasi aksi 212 


Jakarta (SI Online) - Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Andre 
Rosiade menyayangkan sikap represif kepolisian yang terus memeriksa peserta dan 
pendukung Aksi Bela Islam 2 Desember 2016. Ia menduga kepolisian salah 
menafsirkan arahan Presiden Jokowi agar semua pihak menjaga kesejukan.

Melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Jokowi, Senin (26/12), 
Andre menyayangkan pemanggilan beberapa tokoh umat Islam asal Sumatera Barat 
oleh Polda Metro Jaya. Salah satunya adalah Angga Vircansa Chairul yang 
dipanggil 28 Desember mendatang.

Angga merupakan Pengelola bus legendaris dari Ranah Minang, PO NPM Mananti. Ia 
dipanggil terkait kasus dugaan makar sebagaimana tertuang dalam Surat Panggilan 
Nomor S.Pgl./23174/XII/Ditreskrimum.

Berikut surat terbuka Andre yang juga tokoh muda Minang tersebut:

Pak Presiden yang kami hormati,


Ijinkanlah kami kembali menyampaikan surat terbuka kepada Presiden. Surat yang 
menjadi aspirasi dan keluhan sebagian rakyat dan umat Islam khususnya yang 
merasakan perlakuan sepihak kepolisian. Kenapa umat Islam yang mengikuti dan 
mendukung Aksi 212 terus dipanggil polisi? Dihubung-hubungkan dengan isu makar?


Semua tahu, Aksi Bela Islam III atau Aksi 212 berjalan damai, sejuk, 
sebagaimana harapan seluruh rakyat Indonesia. Umat Islam menyampaikan aspirasi 
agar penegakan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama dilakukan secara 
berkeadilan. Kenapa tiba-tiba Polri begitu aktif memanggil peserta dan 
pendukung Aksi 212?


Pak Presiden yang kami hormati,


Apa yang dilakukan polisi ini berbeda sekali dengan pernyataan dan arahan yang 
bapak sampaikan. Yang menghimbau semua pihak menjaga kesejukan, menahan diri 
dan menghormati sesama meski berbeda pendapat. Umat Islam sudah berlaku santun, 
itu dibuktikan dengan 7 juta orang yang tumpah dalam Aksi Super Damai. Umat 
Islam menunjukkan diri taat konstitusi.


Kepada Presiden sekalipun. Meski dianggap atau terkesan membela Pak Ahok, umat 
Islam tetap memberikan kesempatan Bapak untuk menyampaikan orasinya dalam Aksi 
212. Tidak ada sedikitpun niat umat Islam melakukan makar terhadap Presiden.


Pak Presiden yang kami hormati,


Tercatat dalam tinta emas sejarah, umat Islam berada di garda terdepan merebut 
kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Mustahil umat 
Islam menggadaikan semua itu, melainkan semata menyampaikan aspirasi agar 
keadilan senantiasa ditegakkan. Tidak perlu diragukan komitmen umat Islam.


Umat Islam menyadari sepenuhnya, makar atau penggulingan pemerintahan yang sah 
adalah inkonstitusional. Presiden tidak perlu khawatir, asalkan Bapak bekerja 
sungguh-sungguh bekerja, membangun dan mensejahterakan, rakyat pasti berada 
dibelakang. Sikap represif polisi dengan menangkap aktivis, tokoh dan mereka 
yang ikut dan mendukung Aksi 212, justru mencoreng pemerintahan Bapak.


Pak Presiden yang kami hormati,


Sikap represif kepolisian yang terus dan terus memanggil umat Islam hanya akan 
membangkitkan perlawanan rakyat, perlawanan umat Islam. Sikap represif ini 
mengingatkan kegelapan rezim Orde Baru. Jangan sampai rezim sekarang dicap 
sebagai rezim Neo Orba karena ulah kepolisian. Hentikanlah sikap represif 
kepolisian. 

Kembalilah Pak Presiden, fokus bekerja memperbaiki ekonomi, membangun dan 
mensejahterakan rakyat.


Pak Presiden yang kami hormari,


Kami berharap Bapak sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan memberikan 
teguran ke Polri agar menghentikan aksi pemanggilan peserta dan pendukung Aksi 
212. Tanpa bermaksud menggurui, tapi ini juga demi kebaikan pemerintah dan 
kebaikan bangsa Indonesia yang kami cintai.


Senin, 26 Desember 2016


Salam
Wasekjen Gerindra
Andre Rosiade


red: adhila
sumber: tribunnews

Kirim email ke