Kalau di Maroko di Rabat ada synago (gereja orang yahudi) yang diurus oleh 
orang beragama Islam, karea orang Yahudi disitu sudah sangat sedikit sekali dan 
kebanyakan sudah tua.

Kalau di Maluku khususnya ada itu yang dinamakan “pela” yaitu persekutuan desa. 
Bisanya persekutuan desa ini terdiri antara dua  desa atau lebih dimana 
penduduk salah satu desa beragama Islam. Persekutuan ini adalah persekutuan 
dalam suka dan duka, yaitu jika salah satu desa mengalami atau membutuhkan 
sesuatu maka desa-desa dalam persekutuan ini wajib membantu. Mereka membantu 
dalam mendirikan sekolah, mesjid atau gereja. Semua kumpul duit, tenaga atau 
bahan untuk keperluan tsb. Kalau ada malapetaka pun saling bantu.  Persekutan 
desa ini tidak perlu desa berdekatan tetapi biasanya di tempat lain atau di 
pulau lain.

Zaman merdeka NKRI, adalah zaman usaha penghacuran dengan dikirm berbagai macam 
laskar berbendera agama yang disponsor antara lain oleh SBY cs. 
https://www.youtube.com/watch?v=5L-9HcTb1es




From: mailto:[email protected] 
Sent: Tuesday, December 27, 2016 6:01 AM
To: [email protected] 
Subject: [GELORA45] Kisah dua keluarga muslim penjaga pintu gereja di Yerusalem

  




Kisah dua keluarga muslim penjaga pintu gereja di Yerusalem
Sara Toth StubBBC Travel
  a.. 26 Desember 2016
Kirim

Image copyrightAFP/GETTYImage captionGereja Makam Kudus di Yerusalem 
Adeeb Jawad Joudeh Al Husseini ditemui ketika dia sedang duduk di kursi yang 
terletak di pintu masuk pengunjung Gereja Makam Kudus, Yerusalem, pada suatu 
Minggu pagi. Di gerbang gereja yang didirikan pada abad ke-4 itulah pria muslim 
berusia 53 tahun tersebut menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Ayah Al Husseini, kakeknya, dan belasan generasi di atasnya juga menjalani 
hidup mereka seperti itu, duduk di kursi seraya menjaga gereja yang diyakini 
merupakan makam Yesus Kristus.

Saat sedang berbicara, Al Husseini menarik kunci besi sepanjang 20 sentimeter 
dari dalam kantung jaket kulitnya. Kunci itu adalah satu-satunya benda yang 
dapat membuka gerbang gereja.

  a.. Albania: negeri tempat para pemeluk agama saling bergandengan tangan 
  b.. Kisah orang-orang Spanyol yang pindah agama Islam
Menurut Al Husseini, keluarganya diberi tugas menjaga gereja itu oleh Saladin, 
sultan yang merebut Yerusalem dari tentara Salib pada 1187 lampau.

Saladin ingin memastikan gereja itu tidak dirusak oleh umat muslim seperti pada 
1009—ketika pemimpin kekhalifahan Fatimiyah, Al Hakim, memerintahkan sejumlah 
gereja di Yerusalem dibakar, termasuk Gereja Makam Kudus (belakangan, putra Al 
Hakim mengizinkan pembangunan kembali Gereja Makam Kudus pada 1128).

Image copyrightSARA TOTH STUBImage captionKunci besi sepanjang 20 sentimeter 
adalah satu-satunya benda yang dapat membuka gerbang Gereja Makam Kudus 
"Sehingga Saladin memberi keluarga kami kunci ini untuk melindungi gereja. Bagi 
keluarga kami, ini adalah suatu kehormatan. Namun, kehormatan itu bukan hanya 
untuk keluarga kami, melainkan juga untuk semua umat muslim di dunia," kata Al 
Husseini.

Karena itu, bersama keluarga muslim Nuseibeh, keluarga Al Husseini menjadi 
bagian dari pengurus Gereja Makam Kudus dalam struktur yang rumit.

Gereja tersebut digunakan oleh enam denominasi kuno, Katolik Roma, Ortodoks 
Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks 
Koptik. Setiap mazhab memiliki biarawan yang bermukim di kompleks gereja.

  a.. Anak-anak di Myanmar yang menjalani hidup sebagai biksu 
  b.. Kegunaan baru bekas istana Saddam Hussein di Irak
Sepanjang sejarah, hubungan antara komunitas keagamaan di kompleks itu 
mengalami pasang-surut, bahkan pernah muncul aksi kekerasan manakala menentukan 
denominasi mana yang menguasai bagian tertentu dari gedung gereja.

Agar ketegangan tidak meluap, ada sebuah perjanjian yang dibuat pada 1853 
berisi pembagian ruangan dalam gereja untuk setiap denominasi.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionUskup Agung Kristen Ortodoks Suriah, salah 
satu denominasi dalam Gereja Makam Kudus, berdoa di atas Batu Urapan yang 
diyakini sebagai tempat jenazah Yesus disiapkan untuk dimakamkan. 
Setiap pagi, tatkala gerbang gereja dibuka pada pukul 04.00, anggota keluarga 
Nuseibeh dan Al Husseini, atau perwakilan yang ditunjuk kedua keluarga itu, 
muncul untuk melakoni sebuah upacara.

Perwakilan keluarga muslim membuka kunci dan mendorong salah satu daun pintu. 
Kemudian pemuka agama Katolik Roma, Ortodoks Yunani atau Ortodoks Armenia 
(tergantung dari siapa yang bertugas menurut jadwal), masuk ke dalam gereja dan 
menarik daun pintu lainnya.

Adapun pemuka agama dari denominasi lainnya bertugas mengawasi. Upacara serupa 
akan dilakukan saat gereja ditutup pada pukul 19.00.

  a.. Sebuah desa tua di Maroko yang berwarna biru 
  b.. Bir dan peraturan ketatnya yang dibanggakan warga Jerman
Para turis dan peziarah datang ke gereja ini untuk mencium bongkahan batu yang 
dipercaya sebagai tempat jenazah Yesus dimandikan sebelum dimakamkan.

Mereka juga bisa memasuki ruang bawah tanah yang diyakini pernah menampung 
jenazahnya. Semua kegiatan ini harus melewati penjagaan keluarga muslim, yang 
duduk di bangku sembari menangani urusan bisnis dan keluarga.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionPemimpin Kristen Koptik memimpin prosesi 
ibadah Minggu Palem di Gereja Makam Kudus. 
Para ahli sejarah tidak bisa menentukan secara pasti sudah berapa lama para 
keluarga muslim ini berperan sebagai penjaga gerbang gereja.

Sebaliknya, para ahli sejarah tidak pernah meneliti apakah keluarga muslim itu 
memang benar diberi tugas oleh Sultan Saladin untuk menjaga Gereja makam Kudus. 
Kedua keluarga muslim sudah dianggap sebagai tokoh penting dalam operasional 
rutin gereja tersebut.

"Pada dasarnya peran mereka seperti banyak hal lainnya di gereja, sebuah 
tradisi. Dan saya pikir hal seperti itu benar-benar merupakan salah satu yang 
berharga di Yerusalem," kata Raymond Cohen, profesor emeritus Universitas 
Ibrani Yerusalem di bidang hubungan internasional, yang telah mengkaji Gereja 
Makam Kudus dan menulis buku bertajuk Saving the Holy Sepulchre.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionPara pemuka agama Kristen Ortodoks Yunani 
menggelar prosesi ibadah Paskah di luar gedung Gereja Makam Kudus. 
Pembagian tugas dua keluarga muslim telah diatur sejak lama. Keluarga Al 
Husseini memegang kunci gerbang gereja, sedangkan keluarga Nuseibeh bertugas 
membuka dan menutup pintu gereja.

Tugas itu, menurut Wajeeh Y Nuseibeh, diberikan pada 637 manakala khalifah Umar 
membawa agama Islam ke Yerusalem.

"Keluarga kami datang pertama kali di Yerusalem bersama Umar," kata pria 
berusia 67 tahun itu.

Sejak saat itu, menurutnya, keluarga Nuseibeh diberi kepercayaan melindungi 
Gereja Makam Kudus dari orang-orang yang ingin merusak gereja.

Wajeeh Y Nuseibeh kemudian memberikan kartu nama bertuliskan jabatannya sebagai 
'Pelindung dan penjaga gerbang Gereja Makam Kudus'.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionKristen Ortodoks Etiopia merupakan salah 
satu denominasi penghuni Gereja Makam Kudus di Yerusalem. 
Ucapan Wajeeh Y Nuseibeh dibantah Al Husseini, yang duduk di sebelahnya.

"Tidak benar yang (Nuseibeh) katakan," kata Al Husseini, belakangan. 
Menurutnya, keluarga Nuseibeh diminta membuka dan menutup gerbang gereja 
setelah keluarga Al Husseini menerima kunci gerbang gereja dari Sultan Saladin 
pada 1187.

"Bukan sesuatu yang bermartabat bagi keluarga kami untuk menaiki dan menuruni 
tangga (untuk membuka pintu gerbang) karena keluarga kami adalah sheikh," ujar 
Al Husseini.

Al Husseini kemudian memberi kartu nama bertuliskan 'penjaga kunci Gereja makam 
Kudus'.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionPara pemuka agama Kristen Ortodoks Armenia 
turut berpartisipasi dalam ritual pembukaan pintu Gereja Makam Kudus. 
Nuseibeh tersenyum mendengar cerita versi Al Husseini. Dia lalu mengulangi 
versi ceritanya dengan menjabarkan kisah khalifah Umar, yang menguasai 
Yerusalem lebih dari 500 tahun sebelum era Saladin.

Ketika Nuseibeh dan Al Husseini duduk berdampingan, mereka mengatakan dua versi 
cerita ini adalah perdebatan ringan yang kadangkala mereka tertawakan. Hal itu 
diamini Ibrahim Attieh, pensiunan pemandu wisata berusia 75 tahun yang 
merupakan teman keduanya.

"Ya mereka sahabat dan saya adalah teman keduanya," kata Attieh, salah seorang 
dari banyak sahabat, pendeta, turis, dan polisi Israel yang turut duduk dan 
menyaksikan perbincangan di pintu gerbang hari itu.

Image copyrightSARA TOTH STUBImage captionSejumlah peziarah Gereja Makam Kudus 
menyambangi Batu Urapan, yang diyakini sebagai tempat jenazah Yesus 
dipersiapkan sebelum dimakamkan. 
Meski selamat dari kekuatan penguasa Yerusalem, termasuk ratusan tahun 
kekuasaan kekhalifahan yang mengutip uang dari para peziarah, Gereja Makam 
Kudus terbelah akibat konflik internal.

Sejarah menceritakan ketegangan, yang kadangkala berujung pada bentrokan, 
antara berbagai denominasi yang menguasai area tertentu di dalam gereja dan 
penguasa lokal, terutama pada masa Kekaisaran Ottoman yang kerap terlibat dalam 
pembagian hak dan teritori di dalam gereja.

  a.. Pulau Inggris ini terletak di ujung dunia dan dihuni 30 orang saja 
  b.. Masyarakat matrilineal terbesar dunia ada di Sumatra Barat
Beberapa kali, ketegangan ini hampir memicu konflik antar negara adidaya dunia. 
Pada 1853, Rusia mengancam akan menginvasi Turki jika pemerintahan Ottoman, 
yang menguasai Yerusalem, meloloskan permintaan Prancis agar sebagian wilayah 
Ortodoks Yunani di dalam Gereja Makam Kudus diberikan ke Katolik Roma.

Ancaman ini membuat penguasa Ottoman, Sultan Abdulmecid I, mengeluarkan dekrit 
berisi penghentian pengalihan hak dan properti di dalam Gereja Makam Kudus.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionGereja Makam Kudus selamat dari kekuatan 
penguasa Yerusalem selama ratusan tahun dan ketegangan antar denominasi di 
dalam gereja. 
Sampai sekarang, status quo itu masih berlaku dalam setiap sendi kepengurusan 
gereja, mulai dari jadwal misa, bahasa yang digunakan saat misa, hingga rute 
setiap prosesi.

Setiap perubahan dari rutinitas itu berisiko menyebabkan ketegangan dan 
kekerasan. Contoh peristiwa terkini berlangsung pada 2008 manakala baku hantam 
terjadi antara pemuka Ortodoks Yunani dan Ortodoks Armenia gara-gara rute 
prosesi. Akibatnya, beberapa orang ditangkap.

Karena menjaga status quo merupakan urusan yang pelik, renovasi dan perbaikan 
gereja sangat jarang dilakukan, kata Raymon Cohen.

"Menjaga perdamaian bukan urusan yang mudah," ucapnya.

  a.. Biksuni-biksuni Nepal jago kungfu 
  b.. 'Stonehenge' Islandia yang menghipnotis
Bagaimanapun, setelah berpuluh tahun berunding, para pemimpin Katolik Roma, 
Ortodoks Armenia, dan Ortodoks Yunani baru-baru ini membuat kesepakatan 
bersejarah untuk memperbaiki konstruksi yang diyakini sebagai makam Yesus. 
Sejumlah arsitek sudah sejak jauh hari mengingatkan konstruksi tersebut rawan 
ambruk.

Konstruksi berbentuk persegi itu dikenal dengan sebutan Edicule. Lokasinya 
berada di bawah bundaran utama gereja, yang kini ditutupi perancah. Beragam 
tangga, bongkahan batu, triplek, dan material bangunan lainnya berceceran di 
sekitar pusat gereja sejak Juni 2016.

Pekerjaan perbaikan pada kapel makam itu adalah yang pertama kali dilakukan 
selama lebih dari 200 tahun dan proyek signifikan pertama di gereja sejak 
bangunan direstorasi pada awal 1960-an.

Image copyrightAFP/GETTYImage captionUmat Katolik Roma mengelilingi Edicule, 
yang diyakini menampung jenazah Yesus. 
Namun, kendati pengurus gereja makin baik bekerja sama ketimbang di masa lalu, 
dan polisi Israel bisa diandalkan untuk menjaga ketertiban, para penjaga pintu 
adalah wujud tradisi dan keterlibatan orang luar menentukan arah sejarah Gereja 
Makam Kudus.

"Kondisi di sini seperti sweater wol. Jika Anda mulai menarik benang, 
seluruhnya berantakan," kata Cohen.

Pada Minggu pukul 18.30, setengah jam sebelum gereja resmi ditutup, bunyi 
hantaman memecah keheningan. Suara itu datang dari Omar Sumren yang menjalankan 
ritual membunyikan pengetok pintu, yang berlanjut dengan menutup salah satu 
dari dua pintu sebagai tanda menutup jam operasional gereja.

Sumren dan adiknya, Ishmael, telah bekerja untuk Al Husseini selama 25 tahun. 
Mereka menjalankan ritual membuka dan menutup pintu gereja ketika Al Hussein 
sedang sibuk.

Image copyrightSARA TOTH STUBImage captionSelama ratusan tahun dua keluarga 
muslim menjaga pintu gerbang Gereja Makam Kudus. 
Sesaat sebelum pukul 19.00, ketika pengunjung terakhir meninggalkan gereja, 
Ishmael menaiki tangga yang direbahkan pada pintu gereja dan memindahkannya ke 
luar.

Berdiri di dekat pintu, dua biara Katolik ordo Fransiskan mengawasi setiap 
gerakan. Seorang polisi Israel, yang memakai tutup kepala Yahudi atau Yarmulke, 
juga hadir mengikuti ritual malam itu.

Ishmael menutup pintu lalu menuruni anak tangga guna menggerakkan kunci 
penutup. Dia melipat tangga dan menyorongkannya ke arah para biarawan melalui 
celah kecil pada pintu.

Selagi para biarawan memulai aktivitas mereka di dalam kompleks gereja pada 
malam hari, Omar, yang mendapat kepercayaan memegang kunci dari Al Husseini, 
beristirahat di dalam ruangan kecil dekat lapangan utama di depan gereja.

Setiap malam salah satu pemegang kunci tidur di sini, siap memulai ritual 
membuka pintu gereja keesokan harinya.

"Bagi saya, ini adalah rumah kedua," kata Al Husseini.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca pada artikel berjudul A 1,000 
Year Old Promise of Peace diHome

     
        Home   
      View on www.bbc.com  Preview by Yahoo  
     









Kirim email ke