http://sp.beritasatu.com/home/tiap-6-menit-satu-umat-nasrani-dibunuh/117843

Tiap 6 Menit, Satu Umat Nasrani Dibunuh
U-5 | Jumat, 30 Desember 2016 | 11:51



Seorang biarawati menyaksikan lokasi pemboman di gereja, Kairo, Mesir, 11 
Desember 2016. [Istimewa] [ROMA] Sepanjang tahun 2016, sebanyak 90.000 umat 
Nasrani dibunuh karena keyakinannya sepanjang tahun 2016. Jika dirata-rata, 
berarti setiap enam menit, ada satu penganut Kristen dibunuh di seluruh belahan 
dunia.

Laporan mengejutkan ini disampaikan lembaga kajian agama Pusat Kajian Studi 
Agama-agama Baru CESNUR yang berbasis di Italia. Kepada Radio Vatikan, Kamis 
(29/12), Direktur CESNUR Massimo Introvigne mengatakan umat Kristiani sekarang 
menjadi kelompok agama yang paling teraniaya di dunia.

Menurut statistik CESNUR, sekitar 500.000 umat Kristen di seluruh dunia tidak 
dapat melaksanakan keyakinan dalam kondisi benar-benar bebas. Sekitar 70% dari 
pembunuhan umat Kristen pada tahun 2016 terjadi selama konflik kesukuan di 
Afrika.

Seperti dikutip RT, pernyataan Introvigne itu merujuk pada data dari Pusat 
Studi Kekristenan Global. Sejumlah besar kasus kematian yang terjadi dapat 
dijelaskan dengan fakta bahwa banyak umat Kristen menolak untuk mengangkat 
senjata.

Introvigne mengatakan sekitar 30% dari kasus pembunuhan umat Kristen, atau 
27.000 orang telah kehilangan nyawa dalam serangan teroris, penghancuran 
desa-desa Kristen, atau penganiayaan oleh pihak-pihak yang berwenang.

Meskipun demikian, Introvigne mengatakan bahwa jumlah pembunuhan penganut 
Kristen telah menurun, jika dibandingkan dengan kematian pada tahun 2015.

Data dalam laporan CESNUR tersebut mungkin tidak lengkap karena tidak termasuk 
India dan Tiongkok. Di negara tersebut, umat Kristen hidup dalam 
sembunyi-sembunyi.

Kelompok Kajian Agama CESNUR dijadwalkan merilis angka statistik secara lengkap 
soal penganiayaan umat Kristen pada Januari 2017.

Introvigne juga mengatakan bahwa Gereja Katolik saat ini sedang 
mempertimbangkan untuk pengudusan umat Kristen yang dibunuh oleh kelompok 
teroris Negara Islam (sebelumnya bernama ISIS/ISIL) di Suriah dan Irak.

Pada awal tahun 2016, Uskup di Aleppo, Suriah, Antoine Audo mengatakan 
mengatakan bahwa selama lima tahun dari konflik Suriah, penduduk Kristen di 
negara tersebut yang telah turun dari 1,5 juta untuk 500.000 jiwa.

Kebanyakan umat Kristen yang tersisa saat ini berada di area yang dikendalikan 
oleh pemerintah Suriah setelah melarikan diri penindasan dari kelompok ekstrem.

Pada Kamis (29/12), Presiden Rusia Vladimir Putin mengkonfirmasi bahwa sebuah 
perjanjian telah tercapai pada sebuah gencatan senjata di Suriah dan memulai 
pembicaraan damai. Putin menambahkan bahwa kesepakatan tersebut sangat 
"sensitif" dan memerlukan pendekatan berhati-hati.

Kirim email ke