From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, January 3, 2017 3:15 AM

  




NASIONAL
Desa di Sulawesi Mendadak jadi Kampung Orang Tiongkok
ByAriyani ArifinPosted on 2 Jan 17 15:29


KENDARIPOS.CO.ID KENDARI-  – Suasana jalan Desa Morosi, Kecamatan Morosi, 
Konawe, Sulawesi Tenggara tampak lengang Jumat (30/12) siang itu. Hanya satu 
dua kendaraan truk dan mobil operasional proyek yang terlihat hilir mudik di 
jalan tanah (pengerasan) tersebut. 




Mereka keluar masuk kawasan megaindustri Morosi. Di situ ada pembangunan pabrik 
besar pengolahan mineral (smelter) nikel dan PLTU yang dimulai tiga tahun lalu. 
Kelengangan itu berubah pukul 15.00 Wita. Satu per satu pekerja semburat dari 
lokasi proyek. Baik pekerja lokal maupun TKA. Pekerja pribumi langsung pulang 
ke rumah masing-masing.

Sementara itu, para TKA menuju deretan kios semipermanen yang berjarak 100 
meter dari pintu masuk proyek. Mayoritas beratap seng, asbes, dan daun sagu 
kering serta berdinding papan. Deretan kios yang lebih mirip pasar templok itu 
dihuni warga setempat yang berjualan di sana. Barang yang dijual cukup lengkap. 
Ada perkakas rumah tangga seperti baskom, ember, gayung, gantungan baju, dan 
bak air. Beberapa kios juga menjual pulsa telepon, pulsa listrik, kartu 
perdana, sampai aksesori handphone. Namun, kios paling banyak digunakan sebagai 
warung.

Ada juga toko buah dan toko kelontong yang menjual galon air mineral isi ulang, 
mi instan, biskuit, dan kopi saset. Bukan hanya itu, penjual batu akik juga 
menghiasi deretan kios tersebut. Jasa rental mobil pun bisa ditemukan di area 
yang terletak satu jam perjalanan darat dari Kota Kendari itu. Ada pula kios 
yang khusus menjual minuman keras jenis bir.

Pasar dadakan tersebut ramai menjelang petang. Pantauan Jawa Pos, pukul 
17.00–18.00 Wita, tidak banyak warga lokal yang mengunjungi kios-kios itu. 
Pembelinya mayoritas pekerja asing asal Tiongkok. Lebih dari 20 pekerja asing 
menuju kios-kios tersebut setiap menit. Artinya, sekitar 1.200 orang dalam satu 
jam saja.

Jumlah itu meningkat dua kali lipat setelah petang. Setiap menit ada puluhan 
pekerja asing yang keluar dari kawasan industri. Mereka berjalan bergerombol 
lima sampai sepuluh orang. Dari dandanannya, mayoritas identik dengan pekerja 
kasar atau unskilled worker. Penampilan mereka sangat sederhana. Bahkan bisa 
disebut kucel.

Sebagian besar mengenakan kaus oblong dan celana training. Ada pula yang 
memakai kemeja lusuh serta celana kain warna gelap. Sebagian besar pakai sandal 
jepit. Hanya sedikit pekerja yang mengenakan seragam proyek warna biru dan 
abu-abu serta bersepatu.

Semua pekerja asing itu menggunakan bahasa Mandarin saat berinteraksi satu sama 
lain. Tidak ada satu pun yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau 
Inggris. ”Mayoritas yang bekerja di pabrik itu (smelter) memang orang Tiongkok. 
Orang Indonesianya sedikit,” ujar Fahrudin, warga Desa Morosi.

Nah, kios-kios tadi sengaja didirikan seiring dengan makin banyaknya pekerja 
Tiongkok di kawasan tersebut. Bahkan, tidak jarang nama kios yang menggunakan 
tulisan aksara Latin dan aksara Han. Rumah Makan (RM) Berkah misalnya. Di bawah 
tulisan RM Berkah terdapat aksara Han yang artinya sama dengan nama RM.

”Untuk memudahkan saja. Karena pekerja yang beli di sini (kios) tidak ada yang 
bisa bahasa Indonesia,” ujar pria yang pernah jadi tukang jasa antar galon 
untuk pabrik smelter itu.

Kompleks pasar yang berada di jalan utama Desa Morosi tersebut selalu ramai 
pukul 17.00 sampai 21.00. ”Seperti pasar malam, jam segitu pekerja asing keluar 
dari kawasan proyek, cari makan dan belanja,” imbuhnya.

Setiap hari ada ribuan pekerja asing yang berbelanja di pasar tersebut. 
Mayoritas berjalan kaki. Sebagian membeli makanan instan untuk dibawa ke mes di 
dalam kawasan proyek. Lainnya membeli makanan siap saji di warung makan. ”Itu 
(jalan kaki) kebanyakan pekerja kasar. Kalau yang jabatannya level atas naik 
motor dan mobil, belanjanya ke Kendari,” jelas Fahrudin.

Saat berbelanja di pasar itu, para pekerja yang baru tiba dari negara asalnya 
biasanya akan membeli baskom untuk wadah air dan makanan. ”Karena mereka tidak 
mau pakai baskom bekas,” ucap Fahrudin yang punya usaha rental kendaraan.

Di pasar tersebut transaksi jual beli antara penjual dan pekerja Tiongkok lebih 
dominan menggunakan bahasa isyarat. Maklum, tidak semua pemilik kios bisa 
berbahasa Mandarin. Begitu juga sebaliknya, sangat minim pekerja asing yang 
bisa berbahasa Indonesia.

Di RM Hikmah milik Suminah, 42, misalnya, pekerja asing langsung menunjuk 
makanan yang akan dipesan. Tidak sedikit pula pekerja asal Tiongkok yang 
memasak sendiri di dapur rumah makan. Selain keterbatasan bahasa, masak sendiri 
dilakukan pekerja asing agar cita rasa makanan yang dimakan sesuai dengan 
selera.

Caranya, mereka akan menunjuk bahan masakan dan alat masak yang akan diolah 
sendiri. Memasak biasanya dilakukan lebih dari dua pekerja. Masakan itu nanti 
disajikan untuk kelompok pekerja berjumlah empat hingga lima orang. ”Kalau ayam 
potong yang sudah cabut bulu Rp 70 ribu nanti dimasak sendiri sama mereka. 
Kalau satu porsi nasi bungkus Rp 17 ribu,” terang Suminah.

Untuk menentukan harga, beberapa pemilik kios sudah terbiasa menyebut angka 
dalam bahasa Mandarin. Untuk baskom seharga Rp 5.000, misalnya, penjual akan 
bilang bucet ke pekerja asal Tiongkok. Namun, bila belum bisa berbahasa 
Mandarin, penjual akan menggunakan isyarat jari. Satu jari menunjukkan harga Rp 
1.000, dua jari Rp 2.000, begitu seterusnya. ”Mereka juga banyak yang nawar 
kalau harganya kemahalan,” ujar Sungkowo, 50, warga setempat.

Pekerja asing Tiongkok di Morosi selama ini memang dikenal tertutup. Terutama 
soal pekerjaan dan gaji. Saat Jawa Pos (Group Kendaripos.Co.Id)  mencoba 
berkomunikasi, mereka selalu menghindar. Mereka hanya mau menyebut nama dan 
daerah asal.

Selebihnya, mereka akan menunjukkan ekspresi menolak dengan bahasa Mandarin. 
”Tidak mau, tidak mau,” ujar Liu Sandong, warga Tiongkok yang bekerja di proyek 
pembangunan smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).


Ribuan pekerja asal Tiongkok itu menghidupkan perekonomian Desa Morosi. Namun, 
di sisi lain, ada potensi yang lepas karena seharusnya pekerjaan kasar bisa 
diisi orang Indonesia yang masih banyak yang menganggur. (tyo/c9/ang)







Kirim email ke