Saya baru mau kasih komentar atas reaksinya Sunny, tapi kok tulisannya 
hilang??? Dalam hal kaum pekerja yang didatangkan bersamaan dengan modal dan 
proyek yang dibiayai, tak diragukan soalnya terletak pada kebijakan Pemerintah 
Jokowi dalam persetujuan dengan negara/multinasional/pemodal pembawa tenaga 
kerja itu. Kita tidak mau mengadu domba pekerja Indonesia dengan pekerja Tkk. 
Yang kita tentang adalah kebijakan pemerintah yang begitu "hausnya" dengan 
modal asing, sehingga bersedia mengorbankan segalanya (upah muruh buruh, 
pengurasan sumber daya alam, perampasan tanah, penerimaan tenaga kerja asing 
yang sebetulnya dapat dikerjakan buruh Indonesia sendiri) demi masuknya modal 
asing.Jadi Tkk "sosialis" bukan saja mengeksport kapital, tapi juga mengeksport 
tenaga kerjanya sendiri. Bukan hanya produknya yang ber-made in China, tapi 
juga buruhnya yang pada hakekatnya adalah juga "barang dagangan" ber-made in 
China. Pada jaman Mao justru watak 'barang dagangan' pada tenaga kerja inilah 
yang sedang dalam proses penghapusan. Dan inilah yang ditentang kaum revisionis 
yang menginginkan tenaga kerja tetap sebagai barang dagangan sehingga dapat 
diperjual-belikan. 

    On Tuesday, January 3, 2017 1:24 PM, Sunny <[email protected]> wrote:
 

 Tergantung perjajian yang dibuat oleh tuan rumah dan penanam modal atau 
kontraktor, kalau tidak ada perjanjian bahwa jumlah x tenaga kerja harus dari 
buruh lokal maka patut diterapkan, tetapi kalau tidak ada  maka tentu saja 
mereka datangkan buruh mereka. Pernah terjadi kasus buruh lokal (orang Papua) 
tidak dipakai atau sedikit sekali untuk tambang emas dan tembang Freeport. 
Dengan bantuan LSM maka masalahnya dibawa ke pengadilan. Tetapi bukan 
pengadilan di Jakarta, karena Jakarta tidak mau, maka dengan bantuan LSM 
Amerika dibawa kasusnya ke pengadilan di Lousiana (USA). Menang tuntutan LSM 
untuk kepentingan orang Papua dan Freeport diwajibkan mempekerjakan buruh orang 
Papua dan sejumlah uang kepada suku Amungme.  From: 
mailto:[email protected] Sent: Tuesday, January 3, 2017 11:48 AMTo: 
[email protected] ; Yahoo! Inc. ; Jaringan Kerja Indonesia ; Sastra 
Pembebasan ; Yahoo! Inc. Cc: Yahoogroups ; Lusi.D ; Daeng ; Roeslan ; Mitri ; 
Rachmat Hadi-Soetjipto ; Gol ; Harry Singgih ; Jonathan Goeij ; Lingkar 
Sitompul ; Ronggo A. ; Mang Broto ; Ajeg ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja 
; [email protected] ; Billy Gunadi ; GELORA_In ; [email protected] ; 
Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; 
[email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman 
Romana ; Kristian Ginting ; Wuting301 ; Ratih Subject: Re: Trs: [wahana-news] 
Fw: [GELORA45] Desa di Sulawesi Mendadak jadi Kampung Orang Tiongkok   ”Itu 
(jalan kaki) kebanyakan pekerja kasar. Kalau yang jabatannya level atas naik 
motor dan mobil, belanjanya ke Kendari,” jelas Fahrudin.
Jokowi bilang para pekerja Tkk adalah tenaga ahli, selesai mengalihkan 
keahlian, terus pulang! Jokowi atau Fahrudin yang bohong ? Sepanjang 
pengetahuan saya, di Tkk maupun di Kuba dulu, yang namanya "tenaga ahli" tidak 
punya penampilan seperti buruh kasar Tkk yang digambarkan itu (pakai sandal 
jepit, pakaian lusuh!!!). Paling sedikit "tenaga ahli" itu seperti yang 
digambarkan Fahrudin "naik motor dan mobil", tempat belanjanya pun lain. Kapan 
Jokowi akan mengakui kenyataan dan berhenti menutupi-nutupinya alias berbohong? 
Dan ingat pengalaman penanaman modal Tkk di Afrika, di mana sudah banyak 
pekerja Tkk yang tidak kembali ke negerinya. Mereka  menetap dan perlahan-lahan 
membangun ekonomi keluarganya.  Tidak akan mengherankan kalau nantinya akan 
sampai ke jenjang konglomerat....

On Tuesday, January 3, 2017 6:00 AM, 'Chalik Hamid' via forumdiskusi 
<[email protected]> wrote:




Pada Selasa, 3 Januari 2017 1:49, "'Chan CT' [email protected] 
[wahana-news]" <[email protected]> menulis:


    From: [email protected] [GELORA45] Sent: Tuesday, January 3, 2017 
3:15 AM   
NASIONAL
Desa di Sulawesi Mendadak jadi Kampung Orang Tiongkok
ByAriyani ArifinPosted on 2 Jan 17 15:29
KENDARIPOS.CO.ID KENDARI-  – Suasana jalan Desa Morosi, Kecamatan Morosi, 
Konawe, Sulawesi Tenggara tampak lengang Jumat (30/12) siang itu. Hanya satu 
dua kendaraan truk dan mobil operasional proyek yang terlihat hilir mudik di 
jalan tanah (pengerasan) tersebut. 
Mereka keluar masuk kawasan megaindustri Morosi. Di situ ada pembangunan pabrik 
besar pengolahan mineral (smelter) nikel dan PLTU yang dimulai tiga tahun lalu. 
Kelengangan itu berubah pukul 15.00 Wita. Satu per satu pekerja semburat dari 
lokasi proyek. Baik pekerja lokal maupun TKA. Pekerja pribumi langsung pulang 
ke rumah masing-masing.Sementara itu, para TKA menuju deretan kios semipermanen 
yang berjarak 100 meter dari pintu masuk proyek. Mayoritas beratap seng, asbes, 
dan daun sagu kering serta berdinding papan. Deretan kios yang lebih mirip 
pasar templok itu dihuni warga setempat yang berjualan di sana. Barang yang 
dijual cukup lengkap. Ada perkakas rumah tangga seperti baskom, ember, gayung, 
gantungan baju, dan bak air. Beberapa kios juga menjual pulsa telepon, pulsa 
listrik, kartu perdana, sampai aksesori handphone. Namun, kios paling banyak 
digunakan sebagai warung.Ada juga toko buah dan toko kelontong yang menjual 
galon air mineral isi ulang, mi instan, biskuit, dan kopi saset. Bukan hanya 
itu, penjual batu akik juga menghiasi deretan kios tersebut. Jasa rental mobil 
pun bisa ditemukan di area yang terletak satu jam perjalanan darat dari Kota 
Kendari itu. Ada pula kios yang khusus menjual minuman keras jenis bir.Pasar 
dadakan tersebut ramai menjelang petang. Pantauan Jawa Pos, pukul 17.00–18.00 
Wita, tidak banyak warga lokal yang mengunjungi kios-kios itu. Pembelinya 
mayoritas pekerja asing asal Tiongkok. Lebih dari 20 pekerja asing menuju 
kios-kios tersebut setiap menit. Artinya, sekitar 1.200 orang dalam satu jam 
saja.Jumlah itu meningkat dua kali lipat setelah petang. Setiap menit ada 
puluhan pekerja asing yang keluar dari kawasan industri. Mereka berjalan 
bergerombol lima sampai sepuluh orang. Dari dandanannya, mayoritas identik 
dengan pekerja kasar atau unskilled worker. Penampilan mereka sangat sederhana. 
Bahkan bisa disebut kucel.Sebagian besar mengenakan kaus oblong dan celana 
training. Ada pula yang memakai kemeja lusuh serta celana kain warna gelap. 
Sebagian besar pakai sandal jepit. Hanya sedikit pekerja yang mengenakan 
seragam proyek warna biru dan abu-abu serta bersepatu.Semua pekerja asing itu 
menggunakan bahasa Mandarin saat berinteraksi satu sama lain. Tidak ada satu 
pun yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau Inggris. ”Mayoritas yang 
bekerja di pabrik itu (smelter) memang orang Tiongkok. Orang Indonesianya 
sedikit,” ujar Fahrudin, warga Desa Morosi.Nah, kios-kios tadi sengaja 
didirikan seiring dengan makin banyaknya pekerja Tiongkok di kawasan tersebut. 
Bahkan, tidak jarang nama kios yang menggunakan tulisan aksara Latin dan aksara 
Han. Rumah Makan (RM) Berkah misalnya. Di bawah tulisan RM Berkah terdapat 
aksara Han yang artinya sama dengan nama RM.”Untuk memudahkan saja. Karena 
pekerja yang beli di sini (kios) tidak ada yang bisa bahasa Indonesia,” ujar 
pria yang pernah jadi tukang jasa antar galon untuk pabrik smelter itu.Kompleks 
pasar yang berada di jalan utama Desa Morosi tersebut selalu ramai pukul 17.00 
sampai 21.00. ”Seperti pasar malam, jam segitu pekerja asing keluar dari 
kawasan proyek, cari makan dan belanja,” imbuhnya.Setiap hari ada ribuan 
pekerja asing yang berbelanja di pasar tersebut. Mayoritas berjalan kaki. 
Sebagian membeli makanan instan untuk dibawa ke mes di dalam kawasan proyek. 
Lainnya membeli makanan siap saji di warung makan. ”Itu (jalan kaki) kebanyakan 
pekerja kasar. Kalau yang jabatannya level atas naik motor dan mobil, 
belanjanya ke Kendari,” jelas Fahrudin.Saat berbelanja di pasar itu, para 
pekerja yang baru tiba dari negara asalnya biasanya akan membeli baskom untuk 
wadah air dan makanan. ”Karena mereka tidak mau pakai baskom bekas,” ucap 
Fahrudin yang punya usaha rental kendaraan.Di pasar tersebut transaksi jual 
beli antara penjual dan pekerja Tiongkok lebih dominan menggunakan bahasa 
isyarat. Maklum, tidak semua pemilik kios bisa berbahasa Mandarin. Begitu juga 
sebaliknya, sangat minim pekerja asing yang bisa berbahasa Indonesia.Di RM 
Hikmah milik Suminah, 42, misalnya, pekerja asing langsung menunjuk makanan 
yang akan dipesan. Tidak sedikit pula pekerja asal Tiongkok yang memasak 
sendiri di dapur rumah makan. Selain keterbatasan bahasa, masak sendiri 
dilakukan pekerja asing agar cita rasa makanan yang dimakan sesuai dengan 
selera.Caranya, mereka akan menunjuk bahan masakan dan alat masak yang akan 
diolah sendiri. Memasak biasanya dilakukan lebih dari dua pekerja. Masakan itu 
nanti disajikan untuk kelompok pekerja berjumlah empat hingga lima orang. 
”Kalau ayam potong yang sudah cabut bulu Rp 70 ribu nanti dimasak sendiri sama 
mereka. Kalau satu porsi nasi bungkus Rp 17 ribu,” terang Suminah.Untuk 
menentukan harga, beberapa pemilik kios sudah terbiasa menyebut angka dalam 
bahasa Mandarin. Untuk baskom seharga Rp 5.000, misalnya, penjual akan bilang 
bucet ke pekerja asal Tiongkok. Namun, bila belum bisa berbahasa Mandarin, 
penjual akan menggunakan isyarat jari. Satu jari menunjukkan harga Rp 1.000, 
dua jari Rp 2.000, begitu seterusnya. ”Mereka juga banyak yang nawar kalau 
harganya kemahalan,” ujar Sungkowo, 50, warga setempat.Pekerja asing Tiongkok 
di Morosi selama ini memang dikenal tertutup. Terutama soal pekerjaan dan gaji. 
Saat Jawa Pos (Group Kendaripos.Co.Id)  mencoba berkomunikasi, mereka selalu 
menghindar. Mereka hanya mau menyebut nama dan daerah asal.Selebihnya, mereka 
akan menunjukkan ekspresi menolak dengan bahasa Mandarin. ”Tidak mau, tidak 
mau,” ujar Liu Sandong, warga Tiongkok yang bekerja di proyek pembangunan 
smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).Ribuan pekerja asal 
Tiongkok itu menghidupkan perekonomian Desa Morosi. Namun, di sisi lain, ada 
potensi yang lepas karena seharusnya pekerjaan kasar bisa diisi orang Indonesia 
yang masih banyak yang menganggur. (tyo/c9/ang)



-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.


#yiv9251491312 #yiv9251491312 -- #yiv9251491312ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-mkp #yiv9251491312hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mkp #yiv9251491312ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mkp .yiv9251491312ad 
{padding:0 0;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mkp .yiv9251491312ad p 
{margin:0;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mkp .yiv9251491312ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-sponsor 
#yiv9251491312ygrp-lc {font-family:arial;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-sponsor #yiv9251491312ygrp-lc #yiv9251491312hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-sponsor #yiv9251491312ygrp-lc .yiv9251491312ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9251491312 #yiv9251491312actions 
{font-family:verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9251491312
 #yiv9251491312activity span {font-weight:700;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9251491312 #yiv9251491312activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9251491312 #yiv9251491312activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9251491312 #yiv9251491312activity span 
.yiv9251491312underline {text-decoration:underline;}#yiv9251491312 
.yiv9251491312attach 
{clear:both;display:table;font-family:arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9251491312 .yiv9251491312attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9251491312 .yiv9251491312attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9251491312 .yiv9251491312attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9251491312 .yiv9251491312attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9251491312 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9251491312 .yiv9251491312bold 
{font-family:arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9251491312 
.yiv9251491312bold a {text-decoration:none;}#yiv9251491312 dd.yiv9251491312last 
p a {font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv9251491312 dd.yiv9251491312last p 
span {margin-right:10px;font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv9251491312 
dd.yiv9251491312last p span.yiv9251491312yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9251491312 div.yiv9251491312attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9251491312 div.yiv9251491312attach-table 
{width:400px;}#yiv9251491312 div.yiv9251491312file-title a, #yiv9251491312 
div.yiv9251491312file-title a:active, #yiv9251491312 
div.yiv9251491312file-title a:hover, #yiv9251491312 div.yiv9251491312file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9251491312 div.yiv9251491312photo-title a, 
#yiv9251491312 div.yiv9251491312photo-title a:active, #yiv9251491312 
div.yiv9251491312photo-title a:hover, #yiv9251491312 
div.yiv9251491312photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9251491312 
div#yiv9251491312ygrp-mlmsg #yiv9251491312ygrp-msg p a 
span.yiv9251491312yshortcuts 
{font-family:verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9251491312 
.yiv9251491312green {color:#628c2a;}#yiv9251491312 .yiv9251491312msonormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9251491312 o {font-size:0;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312photos div {float:left;width:72px;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9251491312
 #yiv9251491312reco-category {font-size:77%;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312reco-desc {font-size:77%;}#yiv9251491312 .yiv9251491312replbq 
{margin:4px;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-mlmsg select, #yiv9251491312 input, #yiv9251491312 textarea 
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-mlmsg pre, #yiv9251491312 code {font:115% 
monospace;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-mlmsg #yiv9251491312logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-msg p a 
{font-family:verdana;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-msg 
p#yiv9251491312attach-count span {color:#1e66ae;font-weight:700;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-reco #yiv9251491312reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-sponsor 
#yiv9251491312ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-sponsor #yiv9251491312ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-sponsor #yiv9251491312ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-text 
{font-family:georgia;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9251491312 #yiv9251491312ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9251491312 
#yiv9251491312ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9251491312 

   

Kirim email ke