Kok berlebaran Kuda, apa bukan berlebaran Kerbau ? 2017-01-04 14:17 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > **(Analisa) Kenapa SBY Malah Memprovokasi?** > > Melihat nada bicara SBY saat memberi keterangan pers pagi ini, saya > melihat adanya kelicikan luar biasa. Sejauh pantauan saya, SBY ini sakit, > mengalami post power syndrome akut. Pernyataan SBY justru semakin > mengkonfirmasi bahwa kecurigaan banyak orang yang bertanya-tanya mengapa > Jokowi hanya mendatangi Prabowo dan mengundang MUI, NU serta Muhammadiyah. > Sementara SBY secara otomatis tersudutkan, seperti yang saya bahas > sebelumnya. Apa yang dilakukan Jokowi benar-benar strategi memukul > semak-semak agar ularnya keluar. > > Sekarang coba saya tanya, SBY berbicara soal demonstrasi 4 November > kapasitasnya sebagai apa? Sebagai mantan Presiden, ketua umum Demokrat, apa > sebagai orang tertuduh? > > Sikap SBY yang baper maksimal ini memang bukan hal baru, dulu saat Jokowi > blusukan ke Hambalang, SBY mendadak sensi. Kemudian curhat macam-macam, > ngalor ngidul, seperti mantan yang tidak terima karena diputus. > > Sebagian orang mungkin sedang kasihan atau prihatin dengan SBY yang kini > tersudut. Namun saya melihat dari sudut pandang yang lain. SBY telah > menjadi provokator yang sangat buruk. Keterangan pers SBY membuat kondisi > yang sudah mereda kini malah memanas lagi. > > “Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dianggap menistakan agama. Ayo > kita kembali ke situ dulu, itu tidak boleh dan dilarang. Kita harus kembali > ke sistem hukum dan KUHP. Kalau negara kita tidak mau terbakar oleh amarah > penuntut keadilan maka pak Ahok yang harus diproses hukum. Jangan sampai > beliau (Ahok) kebal hukum sebab ini bagian dari demokrasi, kita negara > demokrasi,” kata SBY. > > “Ya Pak Ahok harus juga diproses secara hukum, jangan sampai beliau > dianggap kebal hukum. Ingat equality before the law, itu nilai-nilai > keadilan,” ingat SBY. > > SBY mengingatkan lagi jangan sampai ada rumor Ahok tidak bisa disentuh. > “Bayangkan, do not touch Ahok. Nah setelah Pak Ahok diproses hukum semua > pihak menghormati. Ibaratnya jangan gaduh. Apakah Pak Ahok bersalah atau > tidak diserahkan ke penegak hukum,” katanya lagi. > > SBY bukan orang bodoh dalam komunikasi. Dia pasti menyadari betul bahwa > setiap kalimat yang diucapkannya memiliki muatan provokasi yang sangat > buruk. Sekarang coba kita perhatikan dan pertanyakan, siapa yang menganggap > Ahok kebal hukum? SBY. Lalu SBY sendiri yang menyerukan agar jangan ada ada > seperti itu. Kan kampret! Sakit! Sudahlah jangan pura-pura bego, kita semua > pasti menyadari ini sangat disengaja. Provokatif. > > Selanjutnya SBY juga menjelaskan bahwa orang-orang yang datang dari daerah > ke Jakarta tidak hanya ingin jalan-jalan, melainkan ada sesuatu yang > diprotes dan dituntut. > > “Mari kita bertanya apa yang kita hadapi. Di Jakarta dan di wilayah lain > ada protes. Itu semua pasti ada sebabnya. Tidak mungkin tidak ada, ribuan > rakyat berkumpu untuk hepi-hepi, jalan-jalan sudah lama ga lihat jakarta, > misalnya seperti itu. Barang kali merasa yang diprotes itu dan tuntutannya > itu tidak didengar. Nah kalau sama sekali tidak didengar, sampai lebaran > kuda masih akan ada unjuk rasa.” > > Pernyataan ini sangat menarik. Apakah ini menjadi konfirmasi SBY setuju > bahwa demo akan terus berlangsung sampai Februari atau sampai Ahok > ditangkap? dari mana SBY tau? Jangan-jangan tuduhan SBY lah biang kerok > semua ini, atau atas arahan SBY, ternyata memanglah kenyataan. > > Jika tuduhan-tuduhan bahwa SBY terlibat dalam aksi demo 4 November itu > salah, seharusnya SBY tidak menjadi provokator dengan mendukung demonstrasi > atas alasan demokrasi. Sebab NU sudah melarang atribut NU digunakan saat > demo. Artinya NU tidak mendukung orang untuk demo. Begitu juga > Muhammadiyah, melarang mengatasnamakan organisasi. Sampai Prabowo pun > mengatakan, kalau Fadli Zon tetap berdemo, berarti dia turun atas nama > pribadi. Lihatlah kondisinya sudah mulai mereda, kemudian SBY menyatakan > mendukung demo 300% dan menganggap memang ada yang salah, ada yang > dituntut, dan ada yang harus diproses hukum. > > Kalau begini kenyataannya, adakah kesimpulan yang lebih masuk akal > ketimbang SBY memang menggunakan isu SARA untuk memenangkan anaknya? SBY > mendukung demo, mendukung Ahok segera dihukum dan ‘MENGANCAM’ negeri ini > akan terbakar kalau proses hukum tidak berjalan. > > Padahal kenyataannya proses hukum sedang berjalan. Bohong kalau SBY tidak > tau. Tapi kalau benar-benar tidak tau, berarti dia memang tak melakukan > apa-apa selama 10 tahun, sebab tak tau apa-apa. Sejauh ini polisi sudah > meminta keterangan sembilan orang saksi termasuk penyebar video ke media > sosial dan staf gubernur. Polisi juga telah menyambangi Kepulauan Seribu > untuk meminta keterangan warga setempat soal video pidato Ahok. Sementara > Ahok sendiri sudah meminta pada Bareskrim agar dirinya segera diperiksa. > Itulah proses hukum. > > Harusnya SBY menjelaskan itu. Bukan malah memprovokasi bahwa Ahok tidak > tersentuh hukum, do not touch dan pernyataan setan “Kalau negara kita tidak > mau terbakar oleh amarah penuntut keadilan maka pak Ahok yang harus > diproses hukum.” Fiuh! > > Banyak yang bertanya-tanya pada saya mengapa SBY tidak besikap seperti > negarawan atau seperti mantan Presiden yang bijak? Jawaban sederhananya > karena memang memiliki sifat kekanak-kanakan. Lihat saja cara SBY menyebut > lebaran kuda, sebenarnya dia iri karena tidak diajak berkuda oleh Prabowo. > Padahal dirinya masih merasa memiliki kekuatan dan harus diperhitungkan > oleh Presiden Jokowi. > > Kenapa bukan lebaran monyet atau lebaran sapi lah yang lebih masuk akal? > Sebab di alam bawah sadarnya sudah penuh dengan kuda kuda kuda. Sebab > Jokowi berkuda dengan Prabowo. > > Tapi jawaban yang lebih ilmiah dan berat, karena sepertinya SBY memang > ingin agar acara demo ini terus berlangsung meriah. Jangan terlalu cepat > berlalu. Minimal sampai Pilgub selesai. Jika diakhiri 4 November, lalu > bubar tanpa ada demo lagi, artinya bencana bagi SBY. > > Anda harus bisa membayangkan bagaimana rumitnya kehidupan SBY sekarang. > Antasari dibebaskan pada 10 November, 34 proyek pembangkit listrik > mangkrak mau dilaporkan ke KPK, dokumen TPF pembunnuhan Munir hilang di > tangannya. Semuanya mengarah pada SBY. Sementara anaknya belum jadi > Gubernur, belum punya kekuasaan. Kekuatan Demokrat menurun. Apa ndak > stress? Bukankah dengan begini tidak perlu menunggu SBY mati dulu untuk > mengusut kasus-kasusnya (seperti yang terjadi pada Supersemarnya Soeharto)? > Sebab sudah tak punya kekuasaan dan kekuatan. > > Tapi ya sudahlah. Sekarang keterangan pers sudah dibuat. Satu Indonesia > jadi tau bahwa kualitas seorang SBY cukup titik-titik. > Sebagai Pakar Mantan, saya ingin mengucapkan permintaan maaf kepada para > kuda-kuda karena telah disinggung-singgung oleh SBY. > Serta ingin mendukung penetapan 4 November sebagai hari raya Lebaran Kuda > menurut Islam versi Cikeas. > > > BY ALIFURRAHMAN ON NOVEMBER 2, 2016 > > >
