Rabu, 04 Januari 2017 | 00:06 
http://www.beritasatu.com/megapolitan/407661-menyimak-isi-buku-ahok-yang-jadi-bukti-fpi.html#
   
http://www.beritasatu.com/megapolitan/407661-menyimak-isi-buku-ahok-yang-jadi-bukti-fpi.html#
   
http://www.beritasatu.com/megapolitan/407661-menyimak-isi-buku-ahok-yang-jadi-bukti-fpi.html#
   http://www.addthis.com/tellfriend.php
 

 
 

 Menyimak Isi Buku Ahok yang Jadi Bukti FPI 
http://www.beritasatu.com/megapolitan/407661-menyimak-isi-buku-ahok-yang-jadi-bukti-fpi.html


 Buku tulisan Basuki Tjahaja Purnama berjudul "Merubah Indonesia" terbitan 
2008. (Heru Andriyanto/ Beritasatu.com)

 Jakarta - Para petinggi Front Pembela Islam (FPI) mengajukan barang bukti 
berupa buku berjudul "Merubah Indonesia" untuk meyakinkan hakim bahwa Basuki 
Tjahaja Purnama (Ahok) telah menistakan agama Islam sejak 2008 ketika buku itu 
terbit.
 Buku itu, yang ditulis terdakwa sendiri, secara garis besar berisi biografinya 
dari masa kecil di Belitung Timur, dorongan orangtuanya untuk menuntut ilmu 
setinggi mungkin, dan keputusannya yang berani untuk terjun ke dunia politik 
meskipun banyak ditentang orang-orang dekatnya.
 Namun yang menjadi fokus para anggota FPI yang dihadirkan jaksa sebagai saksi 
adalah halaman 40, di mana Ahok menyebut ayat 51 surat Al Maidah dalam Alquran.
 Ahok menjadi terdakwa kasus penistaan agama gara-gara menyebut ayat yang sama 
dalam sebuah pertemuan dengan warga di Kepulauan Seribu akhir September 2016 
dan setelah demonstrasi ratusan ribu orang di ibu kota pada November dan 
Desember lalu.
 Sekretaris Jenderal Dewan Syuro FPI Jakarta Novel Chaidir Hasan mengatakan 
halaman 40 buku itu merupakan bukti bahwa Ahok telah "menyerang Al Maidah", 
usai bersaksi di persidangan, Selasa (3/1).
 Benarkah Ahok menyerang Al Maidah 51, atau menyerang para lawan politiknya 
yang menggunakan ayat itu untuk menyingkirkan dia?
 Berikut kutipan-kutipannya.
 -----
 Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, 
menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti pemilu, kampanye 
pemilihan bupati, bahkan sampai gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu 
kenal digunakan untuk memecah belah rakyat dengan tujuan memuluskan jalan 
meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan "roh kolonialisme".
 Ayat itu sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elite karena tidak bisa bersaing 
dengan visi misi program dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung 
di balik ayat-ayat suci itu agar rakyat dengan konsep "seiman" memilihnya.
 -----

 Ahok memang menyebut Al Maidah 51 sebagai senjata elite politik yang beragama 
Islam, namun juga menyebutkan elite politik yang beragama Kristen menggunakan 
surat Galatia 6:10 untuk tujuan yang sama.
 
 Basuki Tjahaja Purnama bersama mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 
dalam foto tahun 2007.
 -----
 Dari oknum elite yang berlindung di balik ayat suci agama Islam, mereka 
menggunakan surat Al Maidah 51. Isinya, melarang rakyat menjadikan kaum Nasrani 
dan Yahudi menjadi pemimpin mereka. Intinya, mereka mengajak agar memilih 
pemimpin dari kaum yang seiman.
 Padahal, setelah saya tanyakan ke teman-teman saya, ternyata ayat ini 
diturunkan pada saat adanya orang-orang Muslim yang ingin membunuh Nabi Besar 
Muhammad SAW dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan kelompok 
Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas bukan dalam rangka memilih kepala 
pemerintahan karena di NKRI kepala pemerintahan bukanlah kepala agama/imam 
kepala.
 -----

 Dalam sebuah wawancara dengan Beritasatu News Channel, 3 November 2016, Ahok 
mengatakan salah satu teman yang pernah dia tanya pendapatnya soal itu adalah 
mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
 Kutipan lain soal elite politik penganut Kristen yang juga memakai ayat suci 
untuk berpolitik:
 -----
 Bagaimana dengan oknum elite yang berlindung di balik ayat suci agama Kristen. 
Mereka menggunakan ayat di surat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada 
kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama 
kepada kawan-kawan kita seiman.
 Saya tidak tahu apa yang digunakan oleh oknum elite di Bali yang beragama 
Hindu, atau yang beragama Buddha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya pasti, 
jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi 
yang rasnya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, 
dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama 
kita manusia, yang lain bukan karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!
 -----

 Kalau hanya melihat dari tulisan ini, Ahok secara gamblang mengatakan 
"oknum-oknum elite" yang menggunakan ayat-ayat suci dalam agama -- entah Islam, 
Kristen atau yang lainnya -- untuk meraih kekuasaan.
 Dia tidak menuliskan atau mengisyaratkan bahwa Al Maidah 51 atau Galatia 6:10 
jelek atau salah, tetapi bahwa ayat itu disalahgunakan "oknum-oknum elite" 
politik.
 Benar tidaknya tuduhan FPI terkait isi buku ini hanya satu bagian saja dari 
persidangan Ahok yang akan menjadi bahan pertimbangan majelis hakim.
 Secara prosedur, lima anggota majelis hakim kasus Ahok bisa menerima atau 
menolak barang bukti yang diajukan saksi dan jaksa, namun hal itu baru bisa 
diketahui saat pembacaan vonis nanti.
 


 


 




 Heru Andriyanto/HA
 BeritaSatu.com



 

 

 

Kirim email ke