res :  Kalau 70% APBD dipakai untuk bayar gaji pegawai, lantas apa yang bisa 
dilakukan dengan sisa 30% ?

http://www.jawapos.com/read/2017/01/06/100270/anggunnya-sri-mulyani-kala-berjilbab-ini-pesannya


Anggunnya Sri Mulyani Kala Berjilbab, Ini Pesannya

JUMAT, 06 JAN 2017 00:26


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat kuliah umum di Gedung AAC, Dayan 
Dawood, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, Kamis (5/1).(ISHAK 
MUTIARA/RAKYAT ACEH)

JawaPos.com BANDA ACEH - Bagi setiap orang yang datang ke Aceh, maka mereka 
harus mengikuti aturan daerah tersebut yang memberlakukan syariah Islam.

Begitu juga dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat berkunjung ke 
Aceh untuk mengisi kuliah umum di Tanah Rencong tersebut, pada Kamis (5/1). Dia 
terlihat anggun ketika mengenakan jilbab.

Dalam paparannya pada kuliah umum yang diselenggarakan di gedung AAC Dayan 
Dawood, Banda Aceh itu, Sri Mulyani banyak memberikan pesan kepada pemerintahan 
Aceh.

Di antaranya soal pengesahan APBD untuk segera disahkan oleh DPRD setempat. 
Lebih dari itu penggunaan uang rakyat itu agar lebih dioptimalkan untuk 
pembangunan yang mensejahterakan masyarakat. Bukan 70 persennya habis untuk 
membayar gaji.

"Saya berharap untuk seluruh daerah agar tidak terlambat karena itu akan 
mempengaruhi pelaksanannya, tentu kita berharap Plt Gubernur Aceh maupun DPRA 
melakukan kesepakatan karena banyak daerah lain yang sudah selesai dan tidak 
mengalami penundaan," ujarnya seperti dilansir Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), 
Jumat (6/1). 

Dia juga meminta tren APBD tidak hanya dihabiskan untuk membayar gaji/tunjangan 
pegawai negeri, tetapi juga untuk mengurangi angka kemiskinan di Aceh.  Bahkan 
awal Januari lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis, Aceh masih menjadi 
peringkat kedua termiskin di Sumatera, padahal dana otsus melimpah 
digelontorkan setiap tahunnya.

"Cekek mencekek anggaran terjadi sehingga ketimpangan ekonomi makin melebar, 
APBD 70 persen untuk bayar gaji saja, ini satu tren yang tidak sehat. Banyak 
instrumen penting untuk kemaslahatan masyarakat. Hal ini perlu kita perbaiki ke 
depan," katanya.

Karena itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meminta dana Otonomi 
Khusus (otsus) yang diberikan pusat setiap tahun untuk Aceh bisa dilakukan 
memperbaiki infrastruktur, membangun air bersih, pendidikan, kesehatan dan 
kesempatan lapangan kerja.

Selain itu, dana tersebut bisa digunakan untuk memperbaiki kemampuan menarik 
investasi lebih banyak lagi, karena tidak mungkin ekonomi hanya dipacu 
pemerintah melalui APBN maupun APBD.

Lulusan dari University of lllinois Urbana-Champaign, USA itu  mengakui saat 
ini baik Aceh hingga nasional secara umum pertumbuhannya mengalami kelemahan 
karena adanya harga komoditas dan perdagangan internasional yang melemah.

Hal ini tidak terlepas karena Aceh masih sangat bergantung terhadap komoditas 
dan perlu diperbaiki sehingga memiliki daya tahan apabila satu sektor ini 
mengalami kelemahan. "Aceh banyak sekali potensi, sisi pendidikan, kesehatan, 
perdagangan dengan provinsi lain dan negara Asia Tenggara," pungkasnya. 
(mag-69/mai/iil/JPG)

Kirim email ke