Arti ikat kepala/udeng dibali yang muncungnya didepan mengandung arti bahwa pikiran disatukan lalu diikat di kening, supaya memudahkan mengatur jalanya pikiran. Kain di Ikatkan dipinggang atau selendang artinya sama yaitu ikat semua kegiatan tubuh agar focus memuja tuhan, sehingga kentut dan buang besar serta buang air kecil dikendali sehingga sembayang bisa kusuk Memakai bunga di kuping artinya perasaan lewat pendengaran yang sangat dalam akan tuhan, keadaan teman dan keadaan lingkungan Memakai beras di jidat dan di tenggorokan artinya mari kita berpikir bagaikan caranya mencari beras dalam kehidupan yang diimbangi doa
From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Monday, January 09, 2017 1:15 PM To: Gelora45 Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Tanda Cinta Gus Nuril untuk Ahok Kata orang, ikat kepala di Bali pentolnya di depan. Kalau ikat kepala di Jawa pentolnya di belakang. Lalu ada yang lain beri arti : Kalau orang Bali tidak setuju, langsung dikatakan. Kalau orang di Jawa. lihat dulu bicara dengan siapa. Kadang2 tidak setujunya disimpan di belakang. Apa benar ? Ada lagi orang kalau ditanya pendapatnya, hanya jawab : ya, itu juga baik. Kalau yang paham, berarti ada pilihan/cara lain yang lebih baik. Susah benar untuk berkomunikasi yang benar..... Apa ikat kepala dari Bali tidak dikafirkan oleh FPI. Jadi A Hok tambah kafir..... 2017-01-09 6:02 GMT+01:00 [email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]<mailto:[email protected]>>: Tanda Cinta Gus Nuril untuk Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/2017/01/09/tanda-cinta-gus-nuril-untuk-ahok> Senin, 9 Januari 2017 10:55 [Tanda Cinta Gus Nuril untuk Ahok] WARTA KOTA, RAWAMANGUN - Calon petahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama<http://wartakota.tribunnews.com/tag/basuki-tjahaja-purnama> (Ahok) diberikan ikat kepala khas Bali (Udeng) oleh murid Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nuril Arifin Husein<http://wartakota.tribunnews.com/tag/nuril-arifin-husein> alias Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril>. Ahok menyambangi Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal. Pesantren itu diasuh oleh Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril>. Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok> yang mengenakan kemeja kotak-kotak merah tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Setibanya di pesantren, Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok> disambut oleh Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril>. Ia dipakaikan udeng oleh Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril>. Ikat kepala itu didapat Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril> dari Bali, lalu diberikan kepada Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok> sebagai tanda cinta. "Sebagai tanda cinta, ini (ikat kepala) khusus dari Bali," ucap Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril> seraya memakaikan udeng di kepala Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok>, Senin (9/1/2017). Pada kesempatan itu, ucap Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril>, kedatangan Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok> dianggap sebagai silaturahmi. Menurutnya, agama boleh berbeda, tapi silaturahmi tetap harus berjalan. "Sebenarnya ada kerinduan di kalangan Tebu Ireng dan pesantren Indonesia melanggengkan persahabatan," tutur Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril>. Gus Nuril mengaku kerap mengundang Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok> saat masih aktif sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tapi, Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok> tak menyempatkan diri untuk datang. Menurut Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok>, undangan itu tak sampai ke tangannya. Ahok lantas meminta ajudannya untuk mengecek siapa pegawai negeri sipil yang menerima undangan tapi tak disampaikan kepadanya. "Cahyadi (ajudan), coba cek tanda terimanya ke siapa. Orang-orang kayak gitu perlu dihajar juga," ujar Ahok<http://wartakota.tribunnews.com/tag/ahok>. Ahok kepada Gus Nuril<http://wartakota.tribunnews.com/tag/gus-nuril> meminta agar setiap acara yang mengundang dirinya, langsung disampaikan melalui nomor telepon genggam pribadinya. Sehingga, undangan diterima langsung olehnya. (Dennis Destryawan)
