Korban kemajuan pesat tanpa memperhatikan lingkungan.Bagaimana dengan 
Jakarta?---
Jutaan Warga Tiongkok Hidup dalam Kondisi Sulit Bernapas


  
|  
|   |  
Jutaan Warga Tiongkok Hidup dalam Kondisi Sulit Bernapas - Erabaru
 By Erabaru Oleh Qin Yufei Dengan meningkatnya kabut udara di wilayah utara, 
jutaan warga Tiongkok terpaksa harus belajar hi...  |  |

  |

 

By Erabaru - 09/01/2017
Jutaan warga Tiongkok terpaksa harus belajar hidup dalam kondisi sulit 
bernapas. (Kevin Frayer/Getty Images)

Oleh Qin YufeiDengan meningkatnya kabut udara di wilayah utara, jutaan warga 
Tiongkok terpaksa harus belajar hidup dalam kondisi sulit bernapas.“Dari segi 
fisik, jika saya keluar rumah dengan tanpa menggunakan masker, saya akan merasa 
pusing, sulit bernapas,” tutur seorang mahasiswa berusia 23 tahun bernama Jiang 
Yuwei kepada koresponden NBC.“Dengan menggunakan masker saja saya masih 
marasakan tersendatnya napas. Dan pada hari-hari berkabut, suasana hati saya 
jadi memburuk, tidak ingin keluar rumah dan pergi bekerja,” tambahnya.Dalam 
pekan ini, 32 kota di Tiongkok dinyatakan masuk siaga merah, peringatan paling 
tinggi karena buruknya kualitas udara. Sementara itu, 27 kota lainnya termasuk 
Beijing sudah masuk siaga oranye yang berada diantara warna kuning dengan 
merah.AQI (Air Quality Index) digunakan untuk mengevaluasi 6 jenis polutan 
termasuk sulfur dioksida, karbon monoksida dan ozon yang terkandung dalam 
udara, dinilai dengan menggunakan angka dari 0 – 500.Begitu kualitas udara AQI 
200 berlangsung selama 3 hari, maka siaga oranye dikeluarkan. Begitu pula jika 
AQI 300 sudah berlangsung selama 2 hari atau AQI 500 sudah berlangsung selama 
24 jam, maka peringatan tertinggi, yakni siaga merah dikeluarkan pihak 
berwenang.US EPA (United States Environmental Protection Agency) berpendapat 
bahwa AQI 0 – 50 adalah yang terbaik. Sejak 31 Desember 2016, kualitas udara 
Beijing terus berada di sekitar angka 300, namun melejit ke angka 700 pada 3 
Januari 2017 lalu.Pejabat dari Kedutaan Besar AS untuk Tiongkok pada 6 Januari 
melakukan tes kualitas udara Beijing menemukan angka berada di 298. Ini masuk 
kriteria “kualitas udara buruk untuk kesehatan”. Namun pada hari yang sama, 
kualitas udara di New York menunjukkan AQI 43 yang masuk kriteria “baik untuk 
kesehatan.Bagi kota-kota yang masuk siaga merah, mereka harus melakukan upaya 
untuk meredam memburuknya keadaan dengan misalnya, membatasi jumlah kendaraan 
yang berjalan, menghentikan pekerjaan pembangunan konstruksi dan produksi 
pabrik-pabrik. Pelajaran sekolah dihentikan. Warga diminta untuk bertahan dalam 
rumah dan menghindari olahraga di udara terbuka.Dituturkan oleh seorang ibu 
bernama Li Maiji yang membawa anaknya berusia 5 tahun.“Setiap pagi sejak awal 
2017 ini saya menghadapi masalah bagaimana menghantar anak ke sekolah dengan 
aman?”Kepada koresponden NBC ia mengatakan, “Tidak ada pilihan lain kecuali 
mengenakan masker, tetapi anak saya merasa frustasi karena hampir tidak bisa 
bernapas.”Li mengeluh karena situasi polusi udara dari tahun ke tahun makin 
memburuk.“Saya sudah tinggal selama 40 tahun di Beijing, jadi tidak mudah untuk 
begitu saja meninggalkan kota ini. meskipun saya sangat mendambakan langit biru 
yang mewarnai masa kanak-kanak saya kembali muncul. Anak saya ini hampir tidak 
pernah melihat langit yang berwarna biru.”Warga Beijing bernama Xu Huiren 
kepada koresponden NBC mengatakan, “Saya pikir, kita terpaksa membersihkan 
udara dengan menggunakan paru-paru kita atau menunggu sampai angin bertiup, 
tragis bukan? Kabut polusi itu sudah berada di sini sejak Oktober tahun lalu, 
dan belum ada perbaikan yang nyata. Saya merasakan sepertinya tidak ada pejabat 
yang bertanggungjawab terhadap kondisi lingkungan hidup di negeri ini.”Media 
corong pemerintah pun sampai berkomentar, “Kredibilitas pemerintah sedang 
digerogoti oleh kabut polusi yang terjadi semakin parah.”Meskipun pemerintah 
Tiongkok sejak 3 tahun lalu sudah menggerakkan aksi menanggulangi kabut polusi, 
tetapi laporan Departemen Perlindungan Lingkungan Hidup Tiongkok menunjukkan 
bahwa masih ada 62 % kota di seluruh Tiongkok yang berada dalam penyeliputan 
kabut polusi.Menghadapi kecemasan dan kemarahan warga, pemerintahan kota 
Beijing pada 6 Januari mengeluarkan pengumuman, akan mulai mengeluarkan dana 
buat semua sekolahan dari TK sampai Menengah Atas untuk memasang perangkat 
pembersih udara dalam setiap kelas. Padahal banyak warga yang sudah 
menginvestasi sampai ribuan Dollar AS untuk memasang alat tersebut dalam rumah 
mereka.Jiang Yuwei mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk meninggalkan 
Beijing karena pertimbangan pekerjaan, tetapi bila kondisi tidak membaik dan 
sudah memiliki anak, maka mau tak mau harus berpikir untuk pindah ke kota lain. 
(Sinatra/rmat)

Kirim email ke